Putin dan Putinisme: Meraih Ambisi Global

Vladimir Putin chairs Government Presidium meeting

Sampai kapan Vladimir Putin akan bertahan? Sulit membayangkan Rusia tanpa sosok bermata baja, bermata besi, dan menjadi politisi populer itu. Secara mendadak ia ditunjuk menjadi kepala pemerintahan oleh Presiden Yeltsin pada tahun 1999. Bekas agen rahasia KGB itu lantas menjadi Presiden dalam 2 periode yaitu 2000-2004 dan 2004-2008. Ia memilih menjadi Perdana Menteri (2008-2012) dan berbagi peran dengan anak didiknya, Meveydev, yang dengan restunya menjadi Presiden. Tahun 2012, setelah masa jabatan presiden diperpanjang dari 4 tahun menjadi 6 tahun, Putin kembali menjadi pengendali Kremlin. Secara hukum Putin berhak menikmati 2 periode masa jabatan, sehingga mungkin akan tetap dalam posisi sebagai kepala negara pada 2024 ketika usianya merangkak menjadi 71 tahun.

Laju kepemimpinan ini dalam ranah politik Rusia nampaknya menjadi lumrah. Leonid Brezhnev menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis, yang artinya menjadi pemimpin Soviet selama 18 tahun lamanya (14 Oktober 1964 hingga kematiannya pada 10 November 1982). Sebelumnya, Nikita Khrushchev dalam posisi serupa selama 11 tahun (14 September 1953 hingga dipaksa mengundurkan diri pada 14 Oktober 1964). Pendahulu Khrushchev, Joseph Stalin bertahan sebagai diktator Soviet selama 31 tahun (sejak 3 April 1922 hingga kematiannya pada 16 Oktober 1952).

Secara fisik, ketagapan Putin dan kemudaan Meyvedev telah membangkitkan wajah Soviet pada negara Rusia. Ada tuduhan pemilu curang, penindasan pers, pembungkaman kebebasan berpendapat, dan korupsi yang meluas. Internet pun dibatasi. Kalangan Barat mengejek dan mengajukan kajian Kremlintologi untuk menguak situasi politik Rusia.

Tetapi ada pula yang menawarkan Putinisme untuk menggambarkan karakter ideologi, prioritas, dan sistem pemerintahan di bawah Putin. Sosiolog, ekonom dan ilmuwan politik menekankan pengertian yang berbeda atas sietem pemerintahan tersebut. Rezim ini ditandai dengan kultus kepribadian yang kuat dari Vladimir Putin.

Cassidy dan Johnson berpendapat bahwa sejak mengambil kekuasaan pada tahun 1999, Putin telah mengilhami ekspresi pujian menurut orang Rusia belum terlihat sejak zaman Stalin.”Ross mengatakan bahwa kultus muncul dengan cepat pada tahun 2002 dan menekankan Putin  sebagai orang yang “berkemauan laksana besi, sehat, muda, tegas, dan temperamental dengan memperoledu dukungan rakyat.” Ross menyimpulkan, Perkembangan kultus terhadap kepribadian Putin  didasarkan pada ketangguhan hatinya.

Sistem politik di bawah Putin memiliki ciri liberalisme ekonomi, kurangnya transparansi dalam pemerintahan, kronisme dan korupsi yang meluas, yang menjadi karakter sistemik dan melembaga. Pada 2000-2008, perekonomian Rusia tumbuh stabil, yang menurut pandangan pakar karena devaluasi tajam rubel pada tahun 1998 (reformasi struktural era Yetlsin), kenaikan harga minyak, dan kredit perumahan yang difasilitasi oleh perbankan barat. Dalam jangka pendek, menurut Michael McFaul (seorang diplomat AS) disertai dengan penghancuran media, ancaman kebebasan sipil, dan korupsi peradilan.

Dalam dua masa jabatan kepresidenan Putin telah mengesahkan paket kebijakan ekonomi liberal seperti kenaikan pajak hingga 13%, menekan pajak penghasilan, membentuk Undang-Undang Pertanahan, dan memperbarui Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Saat itu, angka kemiskinan melorot hingga separuhnya dan GDP tumbuh dengan cepat.

Dalam politik luar negeri, Putin mencoba meniru keagungan, ekspansionisme, dan agresifitas seperti era Soviet. Simon Tisdall dalam sebuah artikel di The Guardian mengatakan bahwa jika dulu Rusia mengekspor revolusi Marxis maka sekarang nampaknya mencoba menciptakan pasar internasional bagi Putinisme.

Apakah para elit Rusia setia kepada Putin karena dia adalah presiden, atau karena dia Putin? Saya pikir kita akan mencari tahu dalam waktu dekat,kata Thomas Graham, direktur senior, Kissinger Associates, dan mantan asisten khusus presiden untuk urusan Rusia di Dewan Keamanan Nasional pada kuliah 3 Maret 2008 yang lalu. Graham melanjutkan. Pertanyaannya adalah apakah Rusia akan memiliki kebijaksanaan, keberanian politik, dan keterampilan untuk bertindak atas pemahaman itu, dan apakah Rusia dapat masa pasca Putin dengan atau tanpa Putin sebagai aktor politik besar.”

Tentu saja, Putin bukanlah pemimpin Rusia proAmerika. Tapi saya berpendapat bahwa dia bukan antiAmerika. Ketika berbicara dengan kalangan dalam negeri, ia menggunakan retorika antiAmerika dan anti-Barat. Tapi sebagai politisi, saya pikir dia jauh lebih berhati-hati, dan saya tidak akan pernah menggambarkan sosok dan pandangan politiknya sebagai anti-Barat. Dia rasional, literal, dalam istilah ekonomi, politisi yang sangat berhati-hati, dan saya mengatakan  bahwa mimpi terbesar adalah membuat Barat menjadi mitra paling penting bagi Rusia.

Rusia adalah bagian dari dunia yang lebih besar saat membahas ekonomi, penyebaran informasi atau pengembangan budaya. Rusia tidak ingin dan tidak bisa mengisolasi diri sendiri. Rusia berharap bahwa keterbukaan  akan mengarah pada pembangunan ekonomi dan budaya di Rusia sekaligus meningkatkan tingkat saling percaya, sumber daya yang semakin langka hari ini.

Putin pernah mengatakan bahwa Rusia hanya akan dihormati dan kepentingannya dipertimbangkan ketika negara tersebut kuat dan berdiri kokoh di atas kaki sendiri. Rusia umumnya menikmati hak istimewa melaksanakan kebijakan luar negeri yang independen dan ini adalah apa yang akan terus dilakukan. Selain itu, Putin yakin bahwa keamanan global hanya dapat dicapai melalui kerjasama dengan Rusia daripada dengan mengucilkan, melemahkan posisi geopolitik atau kompromi pertahanannya.

Ketika sementara pengamat Barat meragukan komitmen Putin mengenai isu-isu Arab, Putin mengatakan, “Rusia selalu memiliki hubungan baik dengan perwakilan Islam moderat, yang pandangan itu dekat dengan tradisi Muslim di Rusia. Kami siap untuk mengembangkan kontak ini lebih lanjut di bawah kondisi saat ini. Kami tertarik untuk meningkatkan hubungan politik, perdagangan danekonomi kami  dengan semua negara-negara Arab, termasuk yang, saya ulangi, telah melalui pergolakan dalam negeri. Selain itu, saya melihat peluang riil yang akan memungkinkan Rusia sepenuhnya melestarikan posisi terdepan di Timur Tengah, di mana kita selalu punya banyak teman.”

Rusia, di bawah Putin, sangat berhati-hati melakukan membangun hubungan dengan China. Rusia ingin melakukan diversifikasi ekspor. Dua inisiatif terkait dengan AS, satu di Asia dan lainnya di Eropa, menjelaskan mengapa China dan Rusia  memulai hubungan yang lebih dekat yang akan mencakup transfer teknologi militer Rusia ke China dan penjualan lebih banyak minyak Rusia ke China.

AS memprakarsai diskusi tentang Kemitraan TransPasifik (TPP), semacam zona perdagangan bebas  yang mengabaikan China. Memang, TPP dirancang untuk membawa negara-negara tetangga China ke dalam hubungan ekonomi yang lebih dekat dengan AS. TPP telah membuat sedikit kemajuan karena Jepang  enggan jika AS mendominasi perundingan. Untuk saat ini, poros AS di Asia telah mencapai  perjanjian kerjasama militer dengan negara-negara yang ditekan oleh China dalam isu perbatasan  dan masalah teritorial.

Dengan China waspada terhadap AS dan Rusia menghadapi intervensi agresifitas AS telah menyediakan panggung bagi Rusia dan China untuk saling melengkapi satu sama lain. Saat poros AS telah berjumlah sedikit, poros Putin membuka era baru dalam politik global.

Image by Wikimedia Commons

Hal itu dapat dikonfirmasi dari peristiwa Putin melakukan kunjungan enam hari ke empat negara di Amerika Latin pada 11-16 Juli 2014 yan glalu. Kunjungan berlangsung pada saat Rusia dan negara-negara yang ia kunjungi Kuba, Nikaragua, Argentina, dan Brasil sedang mencari dukungan diplomatik. Rusia, sedang menghadapi oposisi yang cukup besar dari Barat untuk intervensi di Ukraina. Dengan demikian, Rusia tertarik untuk memperdalam hubungan dengan bagian lain dari dunia dan di Amerika Latin beberapa negara telah memberikan dukungan mereka ke Rusia, dan banyak memiliki hubungan lama dengan Rusia dan sebelum itu dengan Uni Soviet.

Sementara itu, keempat negara Amerika Latinditerpa maslaah yang membuat mereka menyambut terbuka tawaran Rusia. Misalnya, program reformasi ekonomi Kuba masih tersendat-sendat, sedangkan dukungan keuangan yang kuat dari Venezuela tidak bisa diharapkan sebagai akibat dari lemahnya kekuasaan Presiden Nicolas Maduro. Di Argentina, dampak dari penghapuan utang baru-baru ini menyebabkan investasi asing semakin terbatas, sementara di Brasil hubungan dengan AS telah dirusak oleh skandal penyadapan yang melibatkan Presiden Dilma Rousseff. Jadi untuk berbagai alasan, serta pengaruh AS di wilayah tersebut, sekarang mereka memiliki lebih banyak ruang untuk memperdalam hubungan dengan Rusia.

Berbagai kesepakatan dicapai selama kunjungan Putin tersebut. Di Kuba, ada konfirmasi bahwa Rusia telah menghapus sekitar 32 miliar dolar utang Kuba di era Soviet. Selanjutnya, 10 perjanjian bilateral ekonomi dan perdagangan ditandatangani  dalam masalah kesehatan, energi, dan transportasi.

Di Nikaragua, diskusi antara Putin dan Presiden Daniel Ortega difokuskan pada berbagai isu termasuk pengiriman mesin pertanian; impor gandum; transfer senjata; membangun fasilitas Angkatan Laut Rusia baru; dan kemungkinan penempatan  sistem navigasi satelit di wilayah Nikaragua.

Di Argentina, ada perjanjian kerjasama energi nuklir dan bantuan dalam membangun pembangkit listrik tenaga air baru; perjanjian bantuan hukum timbal balik (mutual legal assitance), pemindahan tahanan, dan ekstradisi; dan kerjasama media. Di Brasil, Putin dan Rousseff membahas kerjasama industri dan penjualan senjata.

Namun, bagian yang paling penting dari kunjungan Putin adalah partisipasinya dalam pertemuan puncak  BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) pada 15 Juli 2014. Pada pertemuan ini negara-negara tersebut menandatangani kesepakatan menciptakan Bank Pembangunan BRICS dengan modal awal sebesar US $ 50 miliar untuk membantu anggota dalam kesulitan keuangan. Disarankan bahwa lembaga ini akan lebih bersimpati kepada negara-negara berkembang dibandingkan IMF atau Bank Dunia.

Pertanyaannya adalah apakah kunjungan Putin akan menyebabkan perubahan dalam hubungan dengan Amerika Latin? Jawaban singkatnya adalah tidak mungkin. Kunjungan diplomatik itu memang perlu. Ia merupakan usaha memperluas jangkauan Rusia di luar Eropa ke dalam halaman belakang’ dari AS, dan upaya untuk mendapatkan teman baru dan membangun kembali aliansi lama. Hal ini juga menggambarkan bahwa Rusia memiliki beberapa dukungan untuk kebijakan  atasUkraina. Namun, negara-negara di kawasan Amerika Latin telah lama membela prinsip nonintervensi sehingga ada keengganan untuk mendukung Rusia terlalu mutlak.

Ditinjau dari sisi trategis, perjanjian penting yang ditandatangani antara Rusia dengan negara-negara kawasan Amerika Latin  akan memperkuat hubungan dan meningkatkan pengaruh Rusia di wilayah tersebut. Penjualan senjata dan kerjasama energi menjadi kunci dalam hubungan tersebut. Selain itu, ada peluang yang berkembang bagi negara-negara  Amerika Latin untuk memasok produk-produk pertanian ke Rusia sejak sanksi AS / Uni Eropa diberlakukan.

Namun, keterlibatan Rusia memiliki basis yang terlalu minimal, terutama dalam kaitannya dengan perdagangan dan investasi, dibandingkan dengan hubungan terhadap China, AS, dan Uni Eropa, yang masih jauh lebih penting. Selanjutnya, dengan kemungkinan pengecualian dari Nikaragua, negara-negara di kawasan itu akan berhati-hati  dalam bersekutu terlalu dekat dengan Rusia. Mereka tidak ingin mengambil risiko hubungan mereka dengan Barat. Bahkan Kuba telah mengambil pendekatan yang  hati-hati karena memori mereka yang mengandalkan pada Uni Soviet di masa lalu.

Kesepakatan diantara negara-negara BRICS berpotensi penting dan Putin berbicara tentang menaikkan profil kelompok, meningkatkan kerja sama politik, dan menggunakan kelompok itu  untuk mengimbangi pengaruh Amerika Serikat. Namun, Bank Pembangunan memiliki kapasitas terbatasdan BRICS  pada umumnya tidak selalu memiliki banyak kesamaan. Oleh karena itu terlalu dini untuk mengatakan apakah kelompok negara ini akan menjadi pemain internasional yang koheren dan efektif seperti yang diharapkan oleh Putin.