Demokratisasi dan Intervensi Militer, Pengalaman Amerika Latin

Dalam paruh kedua abad ke-20  ditandai dengan usaha terus menerus untuk membangun kelembagaan demokrasi yang stabil di kawasan Amerika Latin. Pada permulaan tahun 1950-an, Presiden yang mempunyai kekuasaan mutlak—baik karena popularitas atau watak neopatrimonial—mendominasi politik di kawasan ini. Meskipun watak eksekutif semacam itu dianggap lazim, sistem pemerintahan diikuti dengan Konggres atas dasar pemilihan, dan konfrontasi antara eksekutif-legislatif dari kalangan oposisi yang berani menentang Presiden.  Para legislator menyadari kelemahan posisi mereka di hadapan eksekutif, tetapi mereka seringkali direkrut oleh pejabat militer yang tidak puas untuk bersedia mendukung revolusi bersenjata. Pada akhir tahun 1950-an, muncul suatu “senjakala tirani” yang ditandai dengan gelombang demokratisasi: rezim demokratis (atau semidemokratis) berkembang dari 5 rezim pada tahun 1955 menjadi 12 rezim dalam tahun 1958. Kecemasan akan Revolusi Kuba (1959) dan reaksi kalangan konservatif mendorong munculnya kecenderungan jangka pendek ini. Pada tahun 1960-an hingga awal 1970-an, para pejabat militer digantikan oleh pemerintah yang dibentuk dari pemilu dan terjadi di banyak negara. Ketika pada tahun 1977 hanya ada 3 negara (Kolombia, Kosta Rika, dan Venezuela) yang dapat digambarkan mengikuti perubahan ini.

Secara mengejutkan, kecenderungan demokratisasi melesat pada tahun 1970-an, saat suatu perluasan demokrasi dimulai di Republik Dominika dan Ekuador, serta meluas di hampir sudut kawasan ini dalam satu dekade berikutnya. Huntington menggambarkan kejadian tersebut sebagai “gelombang ketiga” demokratisasi (di mana gelombang yang pertama terjadi di sedikit negara Amerika Latin pada awal abad ke-20, dan gelombang yang kedua semakin meluas di akhir tahun 1950-an). Dalam konteks demokratisasi tahun 1980-an dan 1990-an, Presiden secara umum dipilih oleh rakyat, parlemen dibentuk kembali, dan pertempuran eksekutif-legislatif menjadi kenyataan politik sehari-hari.

Saya mengikuti klasifikasi tipe pemerintahan yang dikemukakan oleh Mainwaring, Brinks, dan Perez Linan, yang menyebutkan ada 4 ciri demokratisasi ini: (i) Presiden dan parlemen dipilih secara bebas dan adil; (ii) hak memberikan suara diberikan kepada mayoritas penduduk yang sudah dewasa; (iii) hak-hak sipil dihormati; dan (iv) tentara tidak terlibat dalam politik praktis. Jika salah satu diantara keempat ciri tidak ada dalam suatu negara, maka sistem pemerintahannya dikategorikan sebagai tidak demokratis (otoritarian). Jika hanya ada sebagian ciri yang terpenuhi dan tidak menyelenggarakan pemilu dengan baik, maka kategorinya adalah semidemokratis. Untuk memudahkan, saya akan merujuk kepada kategorisasi negara demokrasi dan nondemokrasi itu dengan istilah “pemerintahan kompetitif.”

Pada tahun 1990, secara tak terduga di kawasan ini terjadi demokratisasi. Pada tahun 1995, 18 negara (Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Kolombia, Kostariga, Dominika, Ekuador, El Savador, Guetamala, Hondurs, Meksiko, Nicaragua, Panama, Paraguay, Peru, Uruguay, dan Venezuela)  termasuk dalam kategori “pemerintahan kompeitif” (competitive regimes), dan hanya Kuba yang sepenuhnya berwatak otoritarian. Meskipun alasan-alasan yang belakangan muncul untuk transformasi historis tidak akan dibahas dalam studi ini, perubahan situasi internasional, demikian juga percobaan secara silih berganti antara kediktatoran sipil dan elit militer pada tahun 1970-an, akan membantu dalam memahami evolusi inmi.

Transformasi yang terjadi di kawasan Amerika Latin pada tahun 1980-an menghasilkan bukan saja kematian rezim otoritarian untuk beberapa lama. Akan tetapi juga menghasilkan kecenderungan kapasitas atau kesediaan pejabat milite runtuk mencampuri masalah politik dalam jangka panjang. Sekali dibentuk, pemerintah demokrasi baru rentan terhadap konspirasi militer dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya.

Ada kecenderungan yang dapat dibandingkan yang mengindikasikan kudeta militer di Amerika Latin pada hampir 50 tahun terakhir (1950-2004). Kembalinya militer ke barak pada tahun 1980-an ditandai dengan terjadinya pemberontakan. Pada tahun 1960-an, 11% diantara pemerintahan kompetitif mengalami kudeta militer, dan 19% diantaranya menghadapi bentuk-bentuk serupa dari aksi bersenjata. Pada tahun 1990-an, tingkat kecenderungan itu menjadi  masing-masing 1% dan 4%. Bagi pakar sejarah, 50 tahun terakhir menunjukkan stabilitas  pemerintahan sepanjang sejarah kemunculan rezim yang kacau. Tetapi bagi para politisi, tahun 1990-an menghadirkan era keterwakilan baru yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s