WONG PINTER DAN PENGOBATAN TRADISIONAL

Mbah Cokro, dikenal sebagai wong pinter, memberikan pengobatan kepada masyarakat untuk sakit tertentu dengan memanfaatkan dedaunan jamu (herbal). Mbah Cokro hidup sekitar tahun 1890s sampai 1963, meninggal dalam usia sekitar 73 tahun. Mbah Cokro memang pada jamannya belajar tentang ilmu pengobatan herbal pada seorang teman ayahnya yang tinggal di Kranggan Temanggung (jarak Kemloko dan Kranggan sekitar lima kilometer). Selain belajar tentang pengetahuan herbal, Mbah Cokro melakukan laku dengan melakukan beberapa puasa khusus, yaitu: mutih, ngebleng, ngadhem, dan pati geni. Mbah Cokro melayani pasien sampai akhir hayat tahun 1963. Pada saat itu masih jarang orang melakukan ibadah Islam secara kuat tetapi masyarakat mengenal slametan atau kenduren, sebuah ritual doa dengan makan bersama. Pada saat itu, mantra atau doa penyembuhan merupakan perpaduan antara bahasa Jawa dan bahasa Arab. Misalnya, penggunaan doa pembuka yang seharusnya berlafalkan Arab “Bismillahirohmanirohim”, pada saat itu diucapkan dengan kata “Semillah”.

Penyembuhan yang ditangani pada saat itu lebih banyak pada penyembuhan fisik antara lain yang dikenal dengan istilah “loro adhem” atau demam, terkena racun, terbakar atau anak yang rewel. Mbah Cokro melayani mereka dengan memanfaatkan herbal dengan hitungan tertentu (petungan), yang didasarkan atas hari jatuh sakit. Mbah Cokro menghitung dengan rumus tertentu menggunakan kerikil dan hal tersebut dilakukannya di tanah.

Ukuran dan jamu yang tepat ditentukan dengan hitungan tersebut. Dedaunan jamu yang sering digunakan adalah : kali kadhep, tapak liman, tanganan, singkil, adas kulowaras, lampes, jamur impes, serahan, dheng, dan “mbelek ulo” (kotoran ular). Karena sulit mencari kotoran ular, unsur obat ini sering diganti dengan “enjet” (batu kapur yang dicampur air). Untuk sakit tertentu misalnya digigit serangga beracun atau ular sering digunakan bawang lanang (bawang putih yang tidak beranak). Untuk kasus kulit terbakar, Mbah Cokro bisa menggunakan ramuan khusus yang terdiri dari campuran bayi clurut (bayi dari sejenis tikus) yang dicampur enjet (batu kapur yang dicampur air). Ramuan ini kemudian dicampur dengan minyak kelapa dan dioleskan pada bagian tubuh yang terbakar.

Masyarakat Jawa mengenal istilah wong pinter, kyai, dan dukun. Istilah wong pinter dianggap memiliki pengertian yang khas. Istilah dukun lebih dekat dengan istilah paranormal. Paranormal atau dukun sering berkonotasi dengan penyembuh yang meminta uang dari pasien, sedangkan istilah wong pinter berkonotasi positif, terhindar dari hal-hal yang secara moral negatif. Oleh karenanya, penyembuh yang secara moral berlaku salah tidak dapat diangap sebagai wong pinter, tetapi mereka dapat disebut paranormal atau dukun.

Kyai dan dukun belajar di sekolah atau kepada seseorang. Seorang kyai belajar agama Islam pada sekolah atau seorang tokoh agama dan dukun belajar kepada seorang guru mengenai penyembuhan dan pelayanan bantuan serupa. Oleh karena itu, orang mungkin akan bertanya tentang kemampuan dukun tersebut dengan pertanyaan, “Sopo gurune?”, atau dengan siapa mereka belajar. Pada kenyataannya, nama dan kegiatan mereka sering bertukar. Seorang kyai dapat berlaku sebagai seorang wong pinter, tetapi wong pinter tidak dapat menjadi seorang kyai. Dukun juga tidak dapat menjadi seorang kyai. Secara lebih khusus, wong pinter biasanya lebih banyak belajar sendiri. Ia mengembangkan kemampuannya dari pengetahuan awal yang mungkin didapat dari orang tua atau guru, pelajaran agama, buku-buku dan sumber lain. Ia mengembangkan kemampuannya sesuai dengan layanan yang diharapkan oleh anggota masyarakat yang membutuhkan.

Ada tamsil bahwa “Wong pinter kuwi duwe penemu dhewe”. Artinya, ia akan mengembangkan kemampuannya secara mandiri termasuk dalam meramu persyaratan pelayanan yang diperlukan, misalnya pengobatan. Banyak terjadi perubahan karena adanya perubahan sosial budaya juga perkembangan agama di masyarakat.

Wong pinter diberi predikat oleh masyarakat sebagai orang yang taat beragama. Sebagai Muslim ia menjalankan ibadah termasuk puasa Ramadan, tetapi ia juga mempraktekkan kepercayaan Jawa seperti slametan atau kenduren. Mereka juga mempercayai hal-hal spiritual (spiritual beings). Mereka cenderung melakukan lima tiang agama Islam tetapi tetap memegang pengetahuan lokal tentang kepercayaan pada eksistensi gaib. Ciri-ciri ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh Ricklefs (2007:11) sebagai “a mystic synthesis”, yaitu identitas religius Jawa yang berkembang pada awal abad 19. Karakteristik ini jelas berbeda dengan kyai (yang bukan wong pinter) yang lebih menekankan kegiatan dan pelayanannya pada masyarakat dengan mendasarkan pada kaidah-kaidah agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s