Thatcher: “Perempuan Besi” yang Mengubah Dunia

Nama Margaret Thatcher dicintai dan dibenci di Inggris. Menjabat Perdana Menteri pada 1979-1990, Thatcher telah membuat kebijakan-kebijakan yang menjadikannya momok bagi kelompok pekerja, namun berkat pendekatannya, Inggris memiliki beberapa sahabat baru di aliansi Barat.Namun di sisi lain, Thatcher bersahabat dengan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev dan menyebutnya pria yang bisa  diandalkan. Pada tahun 1984, tiga bulan sebelum Gorbachev berkuasa, Thatcher menemuinya dan berkata “Saya suka dengan Gorbachev. Kami bisa berbisnis bersama”.

Akan tetapi, penilaiannya tidak selalu benar. Thatcher sempat mengatakan kepada Gorbachev, bahwa dia tidak ingin Jerman Barat dan Timur bersatu. Dua bulan kemudian setelah dia mengatakan itu, Tembok Berlin runtuh pada November 1989, melahirkan satu negara Jerman.

Dia dikecam lantaran menentang sanksi pada Afrika Selatan yang dimaksudkan untuk menghentikan paham apartheid di negara itu. Dia juga mendukung kepemimpinan Augusto Pinocher, diktator Chile.

Selama menjabat 11 tahun -jabatan terlama PM Inggris- Thatcher kerap cekcok dengan Uni Eropa, menyetujui dikembalikannya Hong Kong pada China setelah 156 tahun, dan berperang dengan Argentina memperebutkan  pulau Falkland.

Sikap kerasnya membuat Margaret Thatcher dijuluki “Iron Lady“. Ia menjadi Perdana Menteri Inggris dari tahun 1979 sampai 1990. Ia melakukan perombakan besar dalam sistem ekonomi dan sosial di Inggris. Politiknya disebut ”Thatcherisme”. Ia meninggal hari Senin (08/04/13) pada usia 87 tahun.

Thatcher, satu-satunya perempuan Inggris yang menjadi perdana menteri, seorang perempuan yang keras dan tegas, memimpin partai konservatif Inggris memenangkan tiga pemilu. Antara Mei 1979 sampai November 1990, Margaret Thatcher yang terkenal dengan sebutan Iron Lady menduduki jabatan perdana menteri Inggris. Periode jabatannya ini merupakan yang terpanjang dalam sejarah pemerintahan Inggris sejak awal abad ke 19.

Berbagai kebijakan yang ia adopsi berdampak besar terhadap pemerintah yang menggantikannya, baik pemerintah Partai Konservatif maupun Partai Buruh. Ketika memimpin Inggris, warga bisa membeli rumah pemerintah yang mereka sewa dan membeli saham perusahaan-perusahaan negara yang mengalami swastanisasi, seperti Britsish Gas dan British Telecommunication (BT).

Namun Thatcher juga dikenal keras, menolak konsensus politik, yang membuat munculnya pemberontakan di dalam partainya, Konservatif dan juga aksi unjuk rasa di jalanan.

Saat berkuasa, Thatcher menjalin “hubungan khusus” yang erat dengan presiden Amerika Serikat kala itu, Ronald Reagan, yang turut membantu menurunkan tirai komunisme di Uni Soviet. Ia juga terkenal sebagai penentang keras hubungan Inggris yang lebih erat dengan Eropa.

Meskipun memiliki latar belakang berbeda, Reagan yang mantan bintang film Hollywood dan Thatcher yang merupakan anak penjaga toko, memiliki gagasan yang sama mengenai pasar bebas dan antikomunisme. Bahkan, kebijakan-kebijakan ekonominya yang pro pasar dan neo liberal, sering disebut sebagai Thatcherisme.

Meskipun dia dan Ragan sama-sama tidak mempercayai Moskow dan gagasan mengenai komunisme, Thatcherlah pemimpin barat pertama yang menjalin hubungan dengan pemimpin reformis Soviet Mikhail Gorbachev.

Hubungan antara Thatcher dan Reagan agak merenggang pada masa ini karena Reagan menolak mengirimkan pasukan untuk membantu Inggris. “Kami sudah lelah menjadi bangsa yang mundur,” ujar Thatcher.

Bersama mantan Perdana Menteri Inggris legendaris di era 1940-an, Winston Churchill, Thatcher bahkan dianggap sebagai tokoh paling kharismatik dalam politik Inggris. Dia juga tercatat sebagai Perdana Menteri terlama memerintah dalam sejarah Inggris, sejak 1827.

Margaret Hilda Thatcher (kanan) lahir pada 13 Oktober 1925 di Grantham Lincolnshire, merupakan putri ke dua dari pasangan Alfred Roberts dan Beatrice. Ayah Margaret merupakan seorang anggota dewan kota dan pendeta. Ia memberikan pengaruh besar pada kehidupan dan jalur politik Margaret.

Thatcher lahir 13 Oktober 1925 sebagai Margaret Hilda Roberts di sebuah kota kecil Grantham. Ayahnya Alfred adalah pedagang makanan dan aktif di politik. Margaret mendapat beasiswa untuk kuliah jurusan kimia di Oxford. Di sana ia sudah aktif dalam organisasi mahasiswa. Setelah menamatkan studi, ia sempat bekerja sebagai ahli kimia.

Margaret Thatcher – kala itu masih menyandang nama Roberts – belajar ilmu alam di Sommerville College di Oxford, mengambil spesialisasi kimia. Ia merupakan perempuan ketiga yang menjadi presiden Oxford University Conservative Association, satu organisasi politik mahasiswa. Ini membuka jalan bagi masa depan karir politiknya.

Tahun 1950 dan 1951 Margaret gagal menjadi kandidat kubu konservatif dalam pemilu parlemen. Ia lalu kuliah lagi jurusan hukum. Tahun 1951 ia menikah dengan pengusaha Denis Thatcher. Dua tahun kemudian, mereka mendapat anak kembar.

Pada tahun 1951 ia menikah dengan Denis Thatcher, seorang pengusaha. Denis membiayai kuliah hukum Margaret. Tahun 1953 ia behasil memenuhi syarat untuk mengambil spesialisasi sebagai pengacara pajak. Dan pada tahun yang sama, Margaret melahirkan anak kembar, Carol dan Mark.

Menjadi Perdana Menteri

Tahun 1959, Margaret Thatcher akhirnya terpilih sebagai anggota parlemen. Tahun 1964, Partai Konservatif kehilangan kekuasaan dan menjadi oposisi.

Partai Konservatif menggelar pemilihan ketua baru dan Thatcher masuk ke kubu Ted Heath pada 1965. Ia lantas ditunjuk menjadi juru bicara Konservatif untuk urusan perumahan. Thatcher giat berkampanye agar warga yang selama ini menyewa rumah milik pemerintah mendapat hak untuk membeli rumah tersebut. Ia juga mengecam keras tingginya pajak yang diterapkan pemerintah Partai Buruh.

Enam tahun kemudian, mereka kembali merebut kekuasaan. Perdana Menteri Edward Heath mengangkat Thatcher sebagai menteri pendidikan. Salah satu programnya adalah memangkas anggaran dan dampak yang langsung terasa adalah penghapusan susu gratis di sekolah untuk murid usia 7-11 tahun. Media dan Partai Buruh mengecam program ini dan menyebut Thatcher sebagai ‘sang perampas susu’. Soal susu ini di kemudian hari ia menulis, “Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Dampak negatif di dunia politik sangat besar, sementara manfaat ekonomi yang didapat sebenarnya sangat kecil.”

Kariernya dalam pemerintahan tak bertahan lama karena PM Heath tumbang di tengah krisis minyak dan mogok para pekerja. Ketika pemerintahan Heath goncang, Margaret Thatcher melihat peluang bagi dirinya. Ia mencalonkan diri menjadi ketua partai melawan Heath dan menang.

Konservatif kembali menggelar pemilihan ketua pada 1975 dan kali ini Thatcher berseberangan dengan Heath. Ia menganggap kebijakan ekonomi Heath tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang partai. Di luar dugaan Thatcher menang dan menjadi wanita pertama yang memimpin partai besar dalam sejarah Inggris modern.

Dalam pidato pada 1976 ia mengecam Rusia yang ia sebut represif dan dari ini muncul gelar The Iron Lady atau Wanita Besi dari media di negara tersebut. Bagian yang paling terkenal dari pidatonya adalah: Rusia cenderung bertekad mendominasi dunia, dan mereka dengan cepat memperoleh cara untuk menjadi bangsa kerajaan paling kuat yang pernah dunia lihat. Orang-orang di Politbiro Soviet tidak perlu khawatir tentang pasang surut arus opini publik. Mereka meletakkan senjata sebelum mentega, sementara kita meletakkan apa saja sebelum senjata.

Sebagai pemimpin Konservatif ia mengesankan dirinya sebagai politisi ibu rumah tangga yang bisa menjelaskan soal inflasi kepada keluarga kebanyakan. Di akhir 1970-an ia rajin menyerang pemerintah dan menggelar kampanye dengan slogan “Partai Buruh tak Becus Memimpin”.

Kampanye berjalan efektif dan di pemilu berikutnya, pada Maret 1979, Thatcher yang sekarang dikenal sebagai politisi yang lugas dan blak-blakan pun menang. Sebagai perdana menteri ia menentang konsensus politik, menerapkan kebijakan ekonomi radikal, termasuk privatisasi perusahaan-perusahaan negara dan menekan serikat pekerja, membuatnya menjadi tokoh yang dicinta sekaligus dinista.

Pada tanggal 3 Mei 1979, rakyat Inggris menorehkan sejarah dengan semboyan “British people…voted for a change” ketika memberikan dukungan penuh kepada Thatcher yang menjadi Ketua Umum Partai Konservatif. Dalam setiap kampanye, Thatcher dan partainya meformulasikan “sesuatu yang tidak biasa” dalam sistem politik di Inggris, dengan mengajak pemilih bergerak secara radikal dari status quo.

Sejak Thatcher berkuasa, diktum baru ekonomi memengaruhi Inggris ataupun Britania Raya, bahkan juga ikut mengubah wajah dunia. Thatcher merupakan politikus yang tak mengenal konsesus, berdisiplin, dan keras hati dalam pendirian. Demi melontarkan keyakinan atas semua regulasi ekonominya, Thatcher pernah berseru: “T.I.N.A: There is No Alternative“. 

Thatcher mulai menjalankan tampuk kekuasaan di tengah lapuknya teori ekonomi John Maynard Keynes. Ekonomi Keynesian mendasarkan pentingnya peran negara dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jalan Keynesian itu dipandang berhasil mengentaskan Eropa dan AS dari depresi besar tahun 1930-an dan menjadi model pembangunan pasca-Perang Dunia II. Namun, akhir 1960-an hingga 1970-an ekonomi kembali mengalami stagflasi atau kemandekan. 

Thatcher segera mengeluarkan kebijakan berbeda dari sebelumnya. Demi mengatasi krisis, pemerintah mulai menjalankan pembatasan anggaran belanja pemerintah dan pemotongan subsidi. Saat menjadi menteri pendidikan, Thatcher bahkan telah menghapus susu gratis di sekolah. Partai Buruh menghujatnya sebagai “Si Perampas Susu”. (Ini terasa pahit ketika di awal film Iron Lady yang menceritakan dirinya, Thatcher sepuh mengeluhkan harga susu yang naik sepulang dia belanja sendiri di toko). 

Langkah swastanisasi besar-besaran dan spartan Thatcher itu ditulis oleh John Naisbitt dalam bukunya, Megatrends 2000. Tercatat hanya dalam waktu delapan tahun (1980-1988) lebih dari 40 persen BUMN Inggris diswastanisasi. Termasuk di antaranya British Gas, Saving Bank, Jaguar, dan British Airways. 

Di bidang perburuhan, diberlakukan labour market flexibility atau pasar tenaga kerja yang fleksibel serta pemangkasan kekuasaan dan pengaruh serikat buruh. Sepanjang masa kekuasaannya, Thatcher dituding jadi bidan kelahiran enam UU yang dianggap mengekang serikat buruh dan diprotes aneka pemogokan. Salah satu yang paling terkenal adalah pemogokan buruh tambang 1984-1985 yang ditindak represif

Pada tingkat platform economic, Thatcher menawarkan kontrol ketersediaan anggaran melalui target-target yang diawasi oleh masyarakat, pengurangan bertahap atas defisit anggaran, menghapus kontrol harga barang oleh pemerintah, mengurangi tabungan pemerintah dan tingkat pemungutan pajak, khususnya bagi mereka yang tergolong sebagai masyarakat dengan tingkat pendapatan yang rendah.

Tak kurang, Thatcher juga menawarkan pengurangan skema anggaran bagi the welfare state programme, yang sarat dengan subsidi dan bermacam-macam tunjangan yang menguras anggaran negara. Thatcher juga menawarkan keinginan supaya pemerintah tidak lagi berbisnis melalu perusahaan negara, tetapi negara harus melepas kepemilikan saham-saham tersebut melalui privatisasi.

Di sisi lain, terhadap kebijakan fiskal, tata kelola hutang, dan pengendalian tingkat suku bunga rendah, akan ditawarkan sebagai bentuk pengendalian langsung dalam sistem keuangan domestik dan pasar mata uang asing. Kelak, kebijakan ekonomi itu disebut sebagai Thatcernomics dan berkembang pesat sebagai ideologi baru dunia bersama-sama dengan platform Presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagen.

Margaret Thatcher berjanji untuk memotong pajak penghasilan dan menurunkan pengeluaran pemerintah, mempermudah warga untuk memiliki rumah dan mengendalikan kekuatan serikat buruh. Karena sikap kerasnya mengenai arah politik sosial dan terhadap oposisi, Thatcher dijuluki Iron Lady.

Prioritas pemerintahan Thatcher pada awalnya adalah meredam inflasi. Ia kemudian melakukan privatisasi secara luas. Thatcher menurunkan pajak, menghapus berbagai subsidi dan menekan pengeluaran pemerintah dengan memotong anggaran sosial. Inilah yang kemudian dikenal sebagai ”Thatcherisme”.Pemerintahan Thatcher sukses menampilkan citra “strong government” yang menolak berunding dengan serikat pekerja dan mulai tidak simpatik dengan aksi-aksi solidaritas buruh. Ngototnya Thatcher untuk mengurangi “sumbangan anggaran” ke Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), kelak menjadi Uni Eropa.

Pertengahan tahun 80an, para buruh tambang menggelar aksi mogok luas. Tapi Margaret Thatcher bersikap keras dan pantang menyerah. Ia tetap mempertahankan politiknya.

Sikap tegas Thatcher yang ingin mengontrol sistem keuangan didorong oleh kebijakan untuk mengurangi laju inflasi saat itu karena melonjaknya harga minyak dan depresiasi poundsterling. Inflasi berhasil dikendalikan dalam 4 tahun masa jabatan awal, sekalipun dikritik tidak pernah menjadi kebijakan moneter yang sukses, tetapi cukup untuk menahan Inggris jatuh dalam kubangan krisis yang berkepanjangan.

Bahkan kebijakan itu menjadi boomerang karena kemudian memaksa Thatcher melakukan deregulasi pasar keuangan yang menciptakan ledakan peminat pasar uang yang tidak pernah terprediksikan sebeumnya, yang bahkan menambah laju inflasi tersebut. Saat meninggalkan jabatan, inflasi di Inggris mencapai 8%, sedikit lebih rendah dibandingkan saat Thatcher memulai jabatan tahun 1979 yang mencapai 10%.

Demikian juga kebijakan industrial yang tak pernah memulihkan produktivitas ekonomi dan baru berdampak sekitar tahun 1987. Kebijakan Thatcher dinilai merupakan kemunduran karena justru mengakibatkan hampir 1 juta pekerja kehilangan lapangan kerja.

Thatcher sendiri secara tegas menolak anggapan itu karena pertumbuhan ekonomi dengan basis capaian kondisi sebelumnya merupakan hal yang mustahil dan strategi yang tepat adalah mencapai kemungkinan pertumbuhan ekonomi dengan memperkuat industri dan efisiensi pekerja.

Di sektor politik, Thatcher berambisi untuk mengurangi kekuasaan pemerintahan daerah, suatu kebijakan yang bertahun-tahun sebelum memperoleh tentangan dari para politisi. Pemerintah daerah dipaksa untuk meninggalkan banyak kewenangan, antara lain tuntutan tenaga kebersihan dan pekerjaan umum diadakan dengan tender di bawah aturan pengadaan jasa yang ketat.

Pemerintah Thatcher berharap kebijakan itu akan menciptakan aliran pemikiran baru yang mana memuja kedigdayaan pemerintah pusat dalam mengendalikan kebijakan. Undang-Undang Pemerintahan Daerah 1987 menjadi bukti keseriusan Thatcher dalam mereduksi kewenangan daerah, termasuk memperkenalkan skema pajak baru, subsidi pemerintah pusat, dan sebagainya.

Agenda Thatcher yang populer adalah privatisasi. Inti agenda ini ada 2: nasionalisasi (penjualan saham dan aset negara) dan liberalisasi (mengurangi monopoli negara). Kebijakan ini mempunyai tujuan sekaligus secara ideologis dan pragmatisme.

Secara ideology, kebijakan ini melahirkan kebebasan ekonomi yang lebih luas dan disertai dengan pengurangan kebebasan berpolitik. Secara pragmatis, absennya pemerintah dalam aktivitas komersial akan mengurangi tata kelola yang tidak efisien. Hasil privatisasi kemudian berhasil menghimpun dana sebesar 4400 miliar poundsterling, yang menjadi ikon yang laku dijual untuk meraup suara pemilih dalam pemilu 1987.

Pesona Pribadi

Margareth Thatcher juga piawai menggunakan produk terkenal untuk menaikkan citra politik dan popularitasnya. Dan di akhir kekuasaannya, semua akhirnya mengetahui bahwa pribadi aslinya berbeda dengan sosok yang dimunculkan di media massa. Pribadi asli Thatcher adalah glamor dan bertangan besi.

Di tangan media, Thatcher didaur ulang sehingga nampak benar-benar heroik dan mengikuti jejak Winston Churchill, mantan perdana menteri Inggris pada perang dunia kedua.

Salah satu image penting selama menjadi Perdana Menteri adalah seleranya soal berpakaian. Dalam salah satu wawancara dengan BBC  (1986) silam, ia berkata, “Who do I dress for? I really dress for the occasion and for the job and it is very important.” Tapi, dia juga bisa dikatakan sebagai salah satu ikon di bidang fesyen pada masanya. Apalagi Margaret pernah menuturkan, kalau wanita yang berkuasa tentu harus punya selera busana yang baik.

Selain itu,  Thatcher juga mengakui apa yang dikenakan tentu menjadi gambaran seorang wanita di negaranya. Tak heran jika imej berpenampilan juga menjadi salah satu bagian dari pekerjaannya sebagai seorang penguasa.”Berpakaian tentu saja harus nyaman. Ini juga salah satu kesempatan besar. Ini harus menjadi gaya yang membuat nyaman, termasuk bahannya. Dan paling penting, Anda harus tahu kapan memakainya. Tidak perlu mencolok, tapi cukup sesuai saja,” katanya, seperti dilansir Dailymail.

Pada 2012,  tujuh setel pakaian milik mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dilelang di London, Inggris. Aksi lelang ini berhasil meraup dana hingga 73 ribu poundsterling atau setara dengan Rp 1,1 miliar. Salah satu busana yang dilelang termasuk yang digunakan saat dia dilantik menjadi pemimpin Partai Konservatif.

Setelan wool dengan warna hijau giok yang dikenakan Thatcher saat penobatan dirinya menjadi pemimpin Partai Konservatif pada Februari 1975 lalu berhasil meraup harga tertinggi. Pakaian ini terjual seharga 25 ribu poundsterling atau setara dengan Rp 378 juta dalam lelang yang digelar di rumah lelang Christie, London, pada 3 September 2012.

Seorang penawar online dari Korea Selatan berhasil mendapatkan 6 setel pakaian Thatcher lainnya seharga 48.125 poundsterling atau setara dengan Rp 729 juta. Busana-busana Thatcer tersebut merupakan yang pertama kalinya dilelang secara publik.

Sebelumnya, sebuah tas tangan yang biasa dipakai oleh Thatcher berhasil terjual seharga 25 ribu poundsterling (Rp 378 juta) dalam sebuah acara lelang tahun 2011 lalu.  Tas tangan Asprey warna hitam tersebut biasa dipakai oleh Thatcher dalam sejumlah acara penting, seperti saat pertemuan dengan mantan Presiden AS Ronald Reagan dan mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev selama masa kepemimpinannya pada tahun 1979-1990.

Margareth Thatcher ternyata tak hanya dikenang sebagai “Perempuan Besi”. Gaya rambut Perdana Menteri Inggris  ini dipilih sebagai salah satu gaya rambut yang paling berpengaruh oleh survei yang melibatkan 2.000 perempuan Inggris.  Gaya rambut pirang yang ditata ala Tatcher bahkan mengalahkan rambut panjang Duchess of Cambridge atau Kate Middleton, mengutip Daily Mail, Senin (22/9).Gaya rambut Margaret Thatcher memang selalu mengalami perubahan. Namun setelah menjadi Perdana Menteri, Thatcher setia dengan satu gaya rambut yakni tatanan yang mengembang ke atas. Untuk mendapatkan gaya tersebut, Thatcher bahkan harus menyemprotkan hairspray setiap hari agar bisa bertahan paling tidak sampai empat jam.

Dalam setiap kesempatan, Thatcher tak pernah lupa mengenakan kalung mutiara. Bahkan sejak 1950, perhiasan tersebut tak pernah luput dari perhatiannya. Kalung mutiara itu juga dianggap sebagai simbol tradisionalisme. Mungkin kalau dia mengenakan baju rajut, tidak akan tepat sehingga kalung menjadi pilihannya. Lebih lanjut, kalung mutiara juga menjadi salah satu caranya untuk tampil elegan namun tetap sesuai karakternya yang klasik.

Soal pemilihan warna busana, Thatcher memang tidak terlalu kentara. Namun, dia senang bermain aman dengan pilihannya. Di hari pertama menjadi Perdana Menteri, Thatcher menunjukkan gaya busana yang cukup konservatif. Saat itu, dia mengenakan serbabiru dari kepala hingga ujung kaki. Mungkin banyak yang menganggapnya aneh, tapi kenyataannya itu menjadi gaya favorit Thatcher.

Jika rambut dan jas mewakili sisi lain dari Thatcher, maka atasan model pussybow juga menjadi salah satu ciri khas dari dirinya. Pussybows inilah yang kemudian menunjukkan sisi feminin dari gaya busana seorang Margaret Thatcher.

Perang dengan Argentina

Di bawah kepemimpinan Thatcher juga, Inggris berperang dengan Argentina memperebutkan pulau Falkland pada 1982. Inggris memenangkan perang 74 hari tersebut namun kehilangan 255 tentara dan beberapa kapal perang. Di kubu Argentina, 646 tentara tewas.

Akibat perang yang berhasil mempertahankan Falkland ini, popularitas Thatcher kembali melambung setelah survei tahun 1981 menyebutnya sebagai PM Inggris paling dibenci. Tahun 1987, dia kembali memenangkan pemilu yang membuatnya kembali menjadi PM untuk periode ketiga.

Sebuah koran Rusia tahun 1976 menjuluki Thatcher sebagai “Iron Lady“, karena kritik kerasnya terhadap politik represif Uni Soviet. Ia ternyata senang dengan julukan itu. Selama era perang dingin, ia menjadi mitra terpercaya Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Pada 1979, Thatcher menyetujui penempatan peluru kendali AS di Inggris, sebagai respon terhadap ketegangan dengan Uni Soviet. Langkah ini mendapat protes keras dari warganya yang masih trauma dengan perang dunia II.

2 April 1982, rejim militer Argentina menyerang dan menduduki Kepulauan Falkland yang berada di bawah administrasi Inggris. Margaret Thatcher pantang menyerah dan mengirim angkatan laut Inggris untuk merebut kembali Falkland. Dua bulan kemudian, Argentina menyerah. Kemenangan itu membuat Thatcher makin populer di Inggris. Partai Konservatif memenangkan pemilihan umum tahun 1983.

Penentangan Muncul

Tahun 1987, margaret Thatcher untuk ketiga kalinya terpilih sebagai Perdana Menteri. Tapi makin banyak anggota Partai Konservatif yang mulai menentang politik kerasnya. Mereka khawatir akan kalah dalam pemilu berikutnya.

Kejatuhan Thatcher adalah akibat pesimismenya terhadap penyatuan Eropa. Thatcher menentang keras gagasan unifikasi Eropa. Penolakan tersebut ia tegaskan kepada House of Commons (Majelis Rendah) Inggris pada tahun 1990. Sejak itu, sekutu dekatnya Geoffrey Howe menyatakan mengundurkan diri dan menyalahkan pengunduran dirinya terhadap sifat skeptisisme Uni Eropa Thatcher. Pengunduran diri Howe, diikuti oleh serangkaian kejadian yang berujung pada pengunduran diri Thatcher pada November 1990. Setelah menyadari ia akan kalah dalam pertarungan internal partai, Margaret Thatcher meletakkan jabatan Perdana Menteri. Ia digantikan oleh John Major.

“Menjadi PM bisa membuat Anda sangat kesepian. Memang begitulah semestinya. Anda tak bisa memimpin negara dari satu kerumunan. Untuk ini saya sangat berterima kasih kepada suami saya, Denis. Ia di sana ketika saya kesepian. Ia sungguh sahabat dan suami yang luar biasa,” kata Thatcher.

Legacy Thatcher yang paling penting adalah impresi. Ia telah mempertunjukkan peran yang kompleks. Ia merupakan ahli kimia, isteri, pengacara paten, politisi, dan kemudian menjadi Ketua Umum Partai Konservatif dan perempuan pertama perdana menteri; yang mampu melampaui rintangan kelas, pendidikan, dan gender.

Selama menjadi Perdana Menteri, ia meyakini adanya kebutuhan prinsip kunci politik dan masyarakat Inggris.  Keputusannya terjun ke dunia politik merupakan salah satu keputusan terbaiknya selama hampir 40 tahun perkawinannya dengan Denis Thatcher. Ia sungguh beruntung tetap berhasil menjalankan peran sebagai isteri dan ibu bagi anak-anaknya, Mark dan Carol.

Apa yang tidak diketahui orang adalah dia mempunyai kehidupan perkawinan yang bahagia. Dia tidak pernah menelantarkan perannya sebagai isteri dan ibu. Selalu dia memasak sarapkan untuk kelurganya. Dan makan malam untuk suaminya, Denis Thatcher, seorang pengusaha yang baik dan humoris yang tidak merasa iri akan ketenaran isterinya. Dia merasa hancur hatinya ketika Denis meninggal dunia pada tahun 2003.

Tidak bisa dipungkiri, Margaret Thatcer memberi bukti bahwa sosok perempuan mampu berperan penting dalam politik dan ruang publik lainnya. bukan hanya itu, thatcher memberikan pelajaran bahwa perempuan bisa menjadi sosok yang teguh dan kuat, seperti besi. Ungkapan yang terkenal dari thatcher “There Is No Alternative” (TINA), tidak ada alternatif lain selain kapitalisme, menunjukkan bahwa “keangkuhan” perempuan mampu mempengaruhi dunia dan menjadi dasar perubahan tatanan dunia millennium ketiga.

Meskipun bagi beberapa pengkritiknya, Thatcher dianggap wanita kaku, otoriter dan ambisius, namun kiprahnya dalam politik seakan memberikan legitimasi bahwa ketiga sikap itu boleh jadi sangat dibutuhkan dalam berpolitik. Thatcher ingin mengingatkan kepada dunia bahwa perempuan tidak harus lemah, kalah dan ditindas. Barangkali sosok thatcher merupakan figur politisi luar biasa yang pernah menghiasi lembaran sejarah politik dunia.

Dalam sejarah, Thatcher mungkin tidak sendirian. Banyak tokoh perempuan yang mampu merubah dunia, sesuai dengan konteks zaman dan ruang ia berada. Semua itu menunjukkan bahwa perempuan mampu memberikan kontribusi yang besar dalam sejarah, dengan pemikiran dan kiprah di bidang masing-masing.