Stokes, Wakil Rakyat yang Berurusan dengan Skandal dan Pembunuhan

Nampaknya sudah menjadi takdir bahwa Louis Stokes, yang telah menjadi anggota Kongres AS lebih dari 15 masa jabatan, untuk terlibat dalam urusan pembunuhan dan skandal politik. Stokes pertama kali terpilih sebagai anggota DPR pada tahun 1968 untuk mewakili negara bagian Ohio, sekaligus kalangan Afro-American yang pertama kali berhasil meraih posisi ini. Ia akan dikenal sebagai wakil rakyat yang dihormati dan berpengaruh. Setahun sebelumnya, kakaknya, telah terpilih menjadi Walikota Cleveland, Ohio, orang pertama serupa yang berhasil meraih jabatan eksekutif tertinggi tersebut.

Louis Stokes

Stokes kemudian terpilih menjadi Panitia Khusus DPR yang menyelidiki kematian Presiden J.F. Kennedy (tewas tertembak pada 22 Nobember 1963 di Dallas, Texas) dan pejuang gerakan hak-hak sipil Marthin Luther King, Jr., di penghujung tahun 1970an. Dalam kedua kasus itu, Stokes menyakini adanya sebuah konspirasi.

Ia kemudian terlibat dalam penyelidikan lembaga perwakilan atas skandal Iran Contra. Mega skandal Iran Contra yang melibatkan sejumlah pejabat top di Gedung Putih di era 1980-an, termasuk Presiden Ronald Reagan (Partai Republik, menjabat 1981-1989), bisa jadi merupakan pelajaran sangat berharga bagi rezim Geung Putih. Kasus Iran Contra merupakan sebuah kasus penjualan senjata yang dilakukan pemerintah AS ke Iran yang sebagian keuntungannya dialirkan ke kantong Gerilyawan Contra di Nicaragua.

Hal ini berawal dari peristiwa penyanderaan 52 warga AS yang berlangsung sejak 1 November 1979 di Gedung Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran. Pemimpin Iran yang baru saja naik tahta, Ayatollah Khomeini, berada di belakang penyanderaan tersebut.

Saat itu, Presiden AS Jimmy Carter (Partai Demokrat, menjabat 1977-1981) yang tengah berkampanye untuk memenangkan pemilu keduanya, memerintahkan agar diadakan sebuah operasi pembebasan bagi penyanderaan tersebut. Namun operasi pembebasan yang bersandi Eagle Claw yang dilancarkan pada bulan April 1980 gagal total sebelum sampai di Teheran. Helikopter tempur yang penuh berisi pasukan elit Delta Force mengalami kecelakaan di wilayah gurun sebelah timur Iran. Delapan serdadu pasukan elit itu tewas. Jelas, popularitas Jimmy Carter jatuh di mata rakyat AS.

Diam-diam, pesaing utamanya dalam pemilu presiden AS, Ronald Reagan, setelah melihat kegagalan Carter, berinisiatif untuk membentuk satu tim khusus yang akan membebaskan warga AS tersebut secara rahasia. Operasi rahasia ini bukan operasi tempur, melainkan sebuah lobi tingkat tinggi.

Reagan mengontak Iran dan mengatakan bahwa AS akan melakukan barter, jika ke-52 warganya dibebaskan maka AS akan memberi Iran sejumlah senjata antitank untuk menghadapi Irak dan uang tunai sebesar 40 juta dollar AS. Tergiur oleh tawaran serius yang diajukan utusan Reagan, Iran pun melepaskan sandera tersebut.

Simpati rakyat AS beralih penuh kepada Reagan dan memenangi pemilu presiden mengalahkan Carter. Tepat di hari pelantikan Reagan, 20 Januari 1981, ke-52 warga AS yang disandera Iran tiba di AS dengan selamat. Reagan telah menjadi pahlawan bagi rakyat Amerika.

Namun orang-orang yang tidak menyukai Reagan, termasuk Tim Sukses Jimmy Carter, pada akhirnya mencium aroma tak sedap di balik kesuksesan Reagan membebaskan ke-52 sandera tersebut. Secara intensif mereka menggelar pengusutan rahasia yang akhirnya menggelinding bagai bola liar yang menyeret sejumlah petinggi Gedung Putih ke pengadilan.

Salah satu kabar yang berhembus kencang adalah, George H. Bush (bekas Direktur CIA, dan kemudian mendampingi Reagen sebagai Wakil Presiden, 1981-1989 dan terpilih sebagai Presiden AS, 1989-1993) dan William Casey (kemudian menjadi Direktur CIA, 1981-1987) selaku Manager Tim Sukses Reagan menemui PM Iran Bani Sadr di Paris soal negosiasi senjata gelap. Richard Brenneke, anggota tim sukses Reagan yang juga mantan agen CIA yang beroperasi di kawasan Asia Selatan, membantah kabar itu di pengadilan, walau sebenarnya kejadian itu benar-benar terjadi. Setelah melewati banyak sekali tahap pemeriksaan dengan ratusan saksi, pengadilan AS akhirnya berhasil menyingkap skandal itu dan 176 tokoh politik utama di AS dianggap terlibat.

Kasus itu ditutup semasa Presiden Bill Clinton. Dengan alasan nasionalisme, maka ke-176 orang tersebut lalu dibebaskan. Walau demikian, menurut kelaziman hukum yang ada harus tetap ada yang masuk penjara, maka Letkol Oliver North (perwira marinir dan staf Dewan Keamanan Nasional pun dikorbankan dengan dakwaan menjual senjata secara gelap ke Iran dan menyalurkan dana hasil penjualan senjata itu ke Gerilyawan Contra di Nicaragua.

Pemerintah AS belajar banyak dari skandal Iran Contra tersebut. Sejak itu, timbul pemikiran bahwa terlalu beresiko jika pemerintah terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan beresiko tinggi seperti yang telah terjadi dalam Iran Contra. Menggunakan badan intelijen resmi pun resikonya sama. Sebab itu, dibutuhkan pihak ketiga yang bisa menjadi perpanjangan tangan pemerintah tetapi secara institusi terpisah dari pemerintahan.

Publik akan selalu mengingat betapa gigihnya Stokes mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat memeriksa Oliver North. Stokes di masa perang dingin merupakan Ketua Komisi Intelijen DPR dan memimpin kaukus Afro American di Kongres. Publik mengenalnya sebagai sosok yang sabar dan memiliki kemampuan analisis, sementara para koleganya menganggap dirinya sebagai sosok cerdas dan tangguh.

Saat pertama kali menjadi wakil rakyat, diantara 435 anggota, hanya 9 orang dari kalangan Afro American, dan Stokes menjadi salah satu diantaranya. Ia tidak pernah melupakan asal usulnya sebagai warga miskin dan keturunan seorang budak. Stokes pernah menjalani wajib militer pada tahun 1943-1946, yang mengalami perlakuan segregasi rasial, sesuatu yang tidak pernah dilupakan sepanjang hidupnya.

Perjuangan antirasisme menjadi warna dalam hidupnya. Pada tahun 1991, seorang petugas kepolisian melakukan tilang terhadap Stokes. Ia dilarang memarkir kendaraan di Gedung Kongres. Petugas itu sama sekali tidak menyadari bahwa yang dihadapinya adalah anggota DPR.

Pada tahun 1992, Stokes menjadi lawan tanding terhadap William Clinton (kelak Presiden AS, 1992-2001), dalam konvensi Partai Demokrat. Ia memenangkan delegasi dari daerah pemilihannya dan mereka menolak untuk memberikan suara selama konvensi hingga memaksa Clinton turun tangan dengan penuh respek meminta dukungan kepada Stokes.

Stokes yang lahir 23 Februari 1925 kemudian terserang kanker dan meninggal dunia pada 18 Agustus 2015 yang lalu.