Soros, Perintis Industri Pelabuhan

Paulus Soros

Paulus Soros

Ketika Paulus Soros, sebagai insinyur muda, mengamati bahwa kapal kargo besar tidak bisa sampai ke dermaga perairan dangkal untuk memuat dan membongkar, ia datang dengan solusi radikal: mengambil dermaga ke kapal. Gagasan itu muncul dari masa kanak-kanaknya di Hongaria.  Soros pernah melihat pelampung yang digunakan untuk membuat dermaga mengambang di Danube, di mana ia dan adiknya, George Soros (kelak terkenal dan tumbuh menjadi salah satu orang terkaya di dunia), menghabiskan hari-hari damai di rumah musim panas bersama keluarga sebelum perang mengubah segalanya terhadap kehidupan mereka.

Mengaplikasi sistem tersebut di Amerika Serikat, Soros, yang meninggal Sabtu pagi  yang lalu (15/6) di rumahnya di Manhattan pada usia 87 tahun, kemudian mendirikan Soros Associates, yang telah mendominasi industri  bangunan pelabuhan dan menggeser paradigm perdagangan internasional dan pola produksi melalui inovasi perkapalannya.

Perusahaan nasional pertambangan Brazil, misalnya, memanfaatkan desain Soros guna menyusun  pelabuhan di Tubarão dan kemudian meningkatkan produksi bijih besi hampir 5 kali lipat sehingga menobatkan negara tersebut sebagai  produsen  bijih besi terbesar di dunia. Perusahaan  Soros, yang mempunyai proyek di 90 negara, telah merancang maupun memperluas 7 dari 10 pelabuhan curah terbesar di dunia untuk bauksit, alumunium, batubara, dan bijih besi.

Soros meninggal  dunia karena penyakit  kanker, diabetes, Parkinson, dan gagal ginjal. Laki-laki ini  telah kehilangan ginjal sejak saat remaja dan kemudian matanya dalam sebuah saat pelajaran golf. Sebelumnya ia pernah hidup dalam masa mengerikan, terancam oleh Nazi dan ditawan oleh Rusia sebelum berhasil melarikan diri ke Barat. Dan ia selalu di bawah bayang-bayang panjang saudaranya,  yang tenar sebagai investor, filantropis dan promotor politik progresif. Memang,  ia sendiri sering disebut sebagai ” Soros gaib” (the invisible of Soros). Ia lahir dengan nama Paul Schwartz pada tanggal 5 Juni 1926 di Budapest, sebagai putra dari Tivadar Schwartz, seorang pengacara Yahudi, penerbit, investor dan mantan perwira di Angkatan Darat Austro-Hungaria, dan Erzebet Szucz, putri  seorang pemilik toko kain. Selama Perang Dunia I, ayahnya ditangkap oleh tentara Rusia dan dipenjarakan di kamp Siberia sebelum melarikan diri ke Budapest, Hongaria. Keluarga Soros mengalami kehidupan yang nyaman dan berbudaya, dengan liburan ski di Austria dan musim panas di sungai Donau. Paul menjadi pemain  mahir bermain ski  dan atlet  tenis serta mengenyam sekolah di perguruan tinggi teknik di Hongaria.

Namun pada tahun 1936, sejak Hongaria mulai menyelaraskan diri dengan kekuatan-kekuatan fasis dan penyebaran anti-Semitisme, keluarga mengubah nama menjadi Soros. Ketika pasukan Jerman masuk ke Budapest pada tahun 1944 dan mulai mengumpulkan orang-orang Yahudi untuk dilakukan deportasi ke kamp konsentrasi atau menembak mereka langsung di tepi Danube, Tivadar  membuat surat identitas palsu yang mencantumkan nama palsu keluarga dan menerangkan mereka sebagai orang Kristen. Mereka selamat dalam masa teror, tinggal aman di rumah dan Rusia datang dan Nazi dikalahkan.

Akan tetapi Pemerintah Soviet kemudian menuduh Paulus Soros sebagai seorang  tentara rahasia Nazi yang menjadi buron dan memaksanya melakukan perjalanan ke timur bersama-sama tahanan lain dalam  “4 deret,” tulis Soros dalam sebuah memoar yang tidak diterbitkan untuk keluarganya. Saat mereka mendekati sungai di samping desa, dia ingat, “Saya tahu bahwa, setelah jembatan, tidak ada lagi desa, hanya negara terbuka. Dengan salju di tanah tidak ada cara untuk melarikan diri atau bersembunyi.” Para tahanan dan tentara Rusia diperas penjaga perbatasan. Soros berhasil melarikan diri dan bersembunyi di sebuah bekas kawasan pertanian yang terbakar sebelum akhirnya berhasil kembali ke Hongaria.

Setelah itu ia menjadi anggota tim ski nasionaldan akan bermain di Olimpiade 1948, akan tetapi ia kemudian mengalami cidera. Soros segera meninggalkan rumah saat Uni Soviet menduduki Autria. Guna mencari  jalan untuk membelot ke Barat, ia berhasil pergi  ke New York pada tahun 1948 dengan visa pelajar satu tahun. George, yang saat itu berusia 17 tahun, dengan bantuan ayahnya, melarikan diri  dari  Hongaria dengan dalih menghadiri konferensi di Swiss. Ia melakukan perjalanan ke London, di mana ia terdaftar di sekolah teknis dengan bantuan seorang kerabat jauh yang melakukan pekerjaan sambilan untuk membantu dirinya dan kemudian mengikuti perkuliahan di London School of Economics.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s