Sang Preman

Sang preman bisa ada di mana-mana, muncul dari zaman ke zaman. Pada pertengahan abad ke-19, di Manhattan, New York, ada seorang tokoh yang kemudian dikisahkan kembali hidupnya dalam Gangs of New York, sebuah film Martin Scorsese. Ia Bill “the Butcher” Cutting yang kata-katanya seakan-akan bergaung di Yogya dan Sleman malam itu, dan mungkin juga di Jakarta di hari lain:
“Seseorang mencuri milikku, aku potong tangannya. Ia menghinaku, aku copot lidahnya. Ia bangkit melawanku, aku penggal kepalanya, lalu kucoblos dan kupasang di tonggak, tinggi-tinggi, supaya semua orang bisa lihat. Itu yang bikin tata tertib. Rasa takut.”
Bill “the Butcher” sendiri tewas dalam serbuan tentara yang hendak menegakkan ketertiban. Ia terpelanting jatuh oleh sebuah ledakan. Akhirnya seorang anak muda yang hendak membalas kematian ayahnya menikamnya. Kata-kata terakhirnya: “Thank God, I die a true American.”
Tak jelas apa yang dimaksudkannya. Ia terbunuh karena aparat negara hendak menegakkan kedaulatannya. Ia juga terbunuh karena seseorang merasa punya kedaulatan atas hidup dan matinya. Adakah hidupnya habis sebagai seorang preman, ataukah sebagai seorang warga negara, “a true American”? Ia telah meletakkan dirinya sebagai orang yang merdeka, ia bukan budak, tapi ia tak mengakui bahwa kemerdekaannya, hak-haknya, dijamin dan dijaga sebuah republik yang sebenarnya ia ingkari: republik yang mengakui hak warga negara dan hak asasi manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s