Sang Pembelok Arah Partai

Sebelum mengumumkan pencalonannya  menjadi pemimpin Partai Buruh di Inggris, Jeremy Corbyn (66 tahun)  telah lama menjadi anggota parlemen yang mewakili  daerah pemilihan yang sama, Islington Utara, selama 32 tahun. Jeremy Corbyn mungkin seorang sosialis, namun tawaran kepemimpinan Partai Buruh masih tertutup bagi kalangan kiri di Inggris.

Jeremy Corbyn

Aktivitas publiknya mencerminkan sosok sebagai politisi kiri. Ia menjadi bagian dari Kampanye Solidaritas Palestina, Komisi Perlucutan Nuklir, dan Koalisi Hentikan Perang. Namun peluang terbuka lebar baginya untuk memimpin partai yang telah berusia 115 tahun itu. Kandidasi Corbyn terbuka sejak Ed Milliban, sang ketua umum partai, telah mengundurkan diri menyusul perolehan suara yang menurun di Skontlandia dan bahkan di daerah pemilihan lain yang disapu oleh kandidat Partai Konservatif. Partai ini yang sekarang memerintah dengan David Cameron sebagai Perdana Menteri.

Partai Buruh telah mengendalikan pemerintahan sejak Tonny Blair (1997-2007) dan Gordon Brown (2007-2010) dengan dalilnya yang terkenal sebagai “Partai Buruh Baru.” Slogan itu berhasil memikat politisi kanan tengah dan merebut suara dari kantong-kantong Konservatif. Dalam situasi itu, Corbyn acapkali bertentangan pandang dengan pemerintahannya dan berharap dirinya mampu mengembalikan posisi partai yang secara ideologis harus berwatak kiri.

Partai Buruh terbentuk sejak abad ke-19 dan dirinitis oleh serikat buruh dan aktivis sosialis. Berbeda dengan kecenderungan partai serupa di kawasan Eropa, Partai Buruh tidak pernah berhubungan dengan kalangan komunis dan mereka biasa bekerja dengan para aktivis liberal daripada menentang atau bermusuhan. Sebaliknya, partai bergerak ke arah liberal. Partai Buruh telah menjadi partai neoliberal bukan karena kepemimpinan yang buruk, tetapi melalui proses yang telah terjadi di berbagai tingkat di semua negara-negara Barat. Dasar bagi demokrasi sosial telah secara radikal dikurangi dengan globalisasi kapitalis dan perpindahan ekonomi dengan tingkat upah yang rendah, merongrong kekuatan strategis tidak hanya dilakukan oleh serikat buruh, tapi bahkan negara-negara sendiri  yang terombang-ambing di perairan keuangan internasional.

Situasi itu tidak hanya terjadi di Inggris. Kelemahan partai dalam menghadapi mekanisme pasar saat mengendalikan pemerintahan pertama kali menimpa Partai Sosialis yang berkuasa di Prancis pada tahun 1980-an. Dan yang paling aktual adalah yang menimpa Partai Syiriza yang pada awal 2015 memenangkan pemilu dan membentuk pemerintahan di Yunani dipimpin oleh Perdana Menteri Alexis Tsipras. Pemerintah bertekuk lutut kepada tekanan Bank Sentral Eropa dan  IMF.

Di Eropa juga tidak ada partai yang berubah halauan menjadi kiri dalam situasi krisis dewasa ini kecuali menyuarakan pandangan-pandangan kiri untuk menekan pemerintah yang berkuasa. Oleh sebab itu, menjadi amat mengherankan mengapa Corbyn justru ingin mengubah Partai Buruh dalam situasi seperti itu.

Masalahnya bukan merupakan hal yang membuang-buang waktu atau energi, tetapi mengapa Corbyn sedemikian tertarik masuk ke dalam rangkaian kereta permainan itu, padahal di masa lalu terdapat jejak neoliberalisme, batas-batas parlementer, dan kekurangan Partai Buruh itu sendiri.

Untuk pertama kali, pada tahun 1924, Partai Buruh berhasil merebut pemerintahan dengan menghantarkan Ramsey MacDonald sebagai Perdana Menteri. Sejak saat itu, Partai Buruh bergantian memimpin eksekutif bersama Partai Konservatif.

Ketua Umum Partai Buruh dipilih diantara daftar yang terdiri atas anggota parlemen.Para pengamat mengatakan bahwa andaikata Corbyn terpilih pada kandidasi 12 September yang akan datang, maka partai ini tidak akan memiliki calon yang layak untuk menjadi kepala pemerintahan dan akan lebih banyak memberi warna kiri pada partai.

Mantan Perdana Menteri Tony Blar, seperti dikutip oleh the Guardian, mengatakan bahwa seandainya Corbyn menjadi pemimpin partai, maka partai akan berjalan dengan mata tertutup, tangan terentang, di tepi tebing dengan batu-batu bergerigi di bawahnya. Jika Jeremy Corbyn menjadi pemimpin  maka akan terjadi kekalahan seperti 1983 atau 2015 di pemilu berikutnya. Ini bukan berarti kemenangan, mungkin pemusnahan.

Blair seperti dikutip Independent menyebut Corbyn sebagai model kuno (the old fashion) dalam kesempatan segera setelah mengetahui kandidasi Partai Buruh. Apalagi nampaknya golongan kiri garis keras menghendaki kepemimpin yang berbeda.

Tetapi Corbyn sendiri adalah juru bicara terkemuka untuk mennetang Blair. Corbyn terus menerus menyebut Blair sebagai “masalah terbesar kita” dan mengungkit-ungkit kelamabanan pemerintahannya mengeluarkan dokumen penyelidikan soal isu Irak.

Rencana kerja Corbyn nampaknya akan membawa partai dengan gerak perjuangan seperti pada tahun 1950-an, 1960-an, dan 1970-an, saat dasar-dasar negara kesejahteraan (welfare state) diletakkan. Corbyn kerap menyuarakan pembelian kembali (renasionalisasi) perusahaan kereta dan energi sembari mengusulkan kenaikan pajak untuk mempertebal kantong pemerintah. Ia juga berencana menarik diri dari NATO dan mundur dari kesepakatan pelucutan senjata nuklir. Visi tersebut berpotensi merusak hubungan London dengan Washington dan negara-negara lain dan mungkin akan mengucilkan kerajaan itu dari isu-isu internasional.

Berbicara di hadapan pendukungnya bulan lampau, Corbyn mengecam kebijakan ekonomi pasca 2008 yang mendalilkan penghematan akan tetapi di saat yang sama memaksa kalangan yang paling miskin sekalipun untuk membayar pajak guna mempertahankan keselahan-kesalahan yang dibuat oleh ekonom dan bankir. “Kita berbicara mengenai sesuatu yang berbeda. Kekalahan partai bukan hanya karena terlalu condong ke kiri atau membelanjakan anggaran terlalu banyak, akan tetapi lebih karena kita tidak mampu memberikan alternatif kebijakan ekonomi. Kita menghendaki sebuah masyarakat baru yang mana setiap orang akan peduli kepada orang lain, suatu sosialisme,” katanya ketika itu yang kemudian memperoleh sambutan hangat.

Banyak komentator yang mensejajarkan cara Corbyn menarik perhatian serupa dengan cara Senator Vermont dalam memperoleh dukungan kandidasi kepresidenan dari Partai Demokrat. Mereka sama-sama orang yang dipinggirkan oleh partai masing-masing, memperoleh dukungan akar rumput, dan memperoleh liputan media yang kemudian menjadikan mereka sebagai pesaing yang berpeluang.

Corbyn, tidak seperti pesaingnya, Andy Burnham, Yvette Coooper (keduanya anggota kabinet) dan Liz Kendall (anggota parlemen yang menjadi kabinet bayangan), tidak pernah memperoleh pengalaman di pemerintahan maupun menjadi kabinet bayangan. Tetapi, sejak 1997, ia adalah anggota partai yang memperoleh terus menerus dukungan pemilih yang paling banyak. Oleh sebab itu, dia  nampaknya akan menjadi penarik yang jelas antara partai pemerintah dengan partai oposisi.

Tim Bale, profesor politik dari Queen Marry University, telah mengatakan bahwa dibandingkan kandidat lain, Corbyn tampil lebih menjiwa dan lebih otentik. Dengan cara itu, sangat mungkin Corbyn memperoleh dukungan akar rumput yang mayoritas memiliki idealisme tinggi dalam usia yang relatif jauh lebih mudah. Mereka adalah golongan yang tidak menyukai kebijakan penghematan ekonomi dan muak dengan berbagai kompromistis yang dirumuskan oleh Konservatif.

Jika Corbyn menang, ia akan membelokkan arah partai.