Ratu Tukang Cerita

Dalam Majalah Bobo yang saya baca saat masih duduk di bangku sekolah dasar, acapkali ditampilkan iklan tentang terbitnya buku cerita anak yang merupakan bagian dari serial “Lima Sekawan” dan “Sapta Siaga.” Di situ tertulis pengarangnya adalah Enid Blyton. Pada awalnya saya menduga bahwa ia adalah seorang laki-laki, belakangan justru setelah saya mengakses internet sejak mahasiswa di tahun 2000-an ternyata yang bersangkutan adalah perempuan. Pengarang berkebangsaan Inggris ini adalah salah satu penulis terbaik abad ke-20.
Enid Blyton dijuluki sebagai Ratu Tukang Cerita. Ia dilahirkan di London di sebuah flat kecil di atas sebuah toko di bilangan East Dulwich. Dia merupakan anak yang tertua dari 3 bersaudara. Ayahnya bernama Thomas Carey Blyton, seorang pria dengan banyak bakat. Sang ayah mampu melukis dengan menggunakanncat air berwarna, menulis puisi, memberi pelajaran piano, menguasai bahasa asing secara otodidak, dan menguasai fotografi. Sementara itu, Theresa Mary Hamilton, ibu Enid, tidak selalu sejalan dengan ayahnya dan perempuan ini tidak setuju jika anaknya tenggelam membaca buku sepanjang hari.
Pada waktu Theresa mengetahui bahwa suaminya berselingkuh dengan perempuan lain, ia pergi meninggalkan rumah dengan Enid dan adik-adiknya menuju ke Beckenham. Hanya saja selanjutnya Thomas sukses menjadi penjual pakaian di London dan ia kemudian membiayai pendidikan anak-anaknya dan selalu memberikan uang yang cukup unuk biaya kehidupan. Saat ayahnya meninggal dunia di tahun 1920 Enid tidak menghadiri pemakamannya.
Pada waktu mulai sekolah Enid giat belajar dengan semangat bahwa suatu saat kelak dia akan menjadi musisi. Namun sejak itu pula ia mulai gemar menulis cerita pendek dan puisinyang dikirimkan ke bermacam-macam terbitan berkala. Dia kian gigih menulis sekalipun keluarganya mengecam bahwa menulis tidak lain kegiatan yang membuang-buang waktu.
Karya Enid yang terbit untuk pertama kali yaitu sebuah puisi dengan judul “Have You?”‘ Yang muncul di Nash’s Magazine pada tahun 1917. Adapun buku yang terbit pertama merupakan kumpulan prosa dengan judul “Chikd Whisoers” di tahun 1922. Selanjutnya terdapat 24 tulisan Enid yang diterbitkan oleh penerbit Real Fairies yaitu Poems (1923), Responsive Singing Games (1923), The Enid Blyton Book of Fairies (1924), Songs of Gladness (1924), The Zoo Book (1924), dan buku-buku lain yang duterbitkan oleh other penerbit J. Saville and Newnes.
Enid memperoleh pendidikan guru dan pada tahun 1926 membuka sekolah taman kanak-kanak. Kemudian ia menyibukkan diri sebagai editor sebuah majalah anak. Pada tahun 1924 dia menikahndengan Hugh Pollock, seorang laki-laki yang bekerja di toko buku milik penerbit George Newnes. Dalam masa selanjutnya Enid mulai serius menulis cerita anak dan di tahun 1938, The Secret Island, salah satu serial cerita diterbitkan. Seterusnya Enid memproduksi serial anak-anak dengan target pembaca dalam kisaran umur yang lebih bervariasi.
Pada saat berkecamuk Perang Dunia II, kegiatan penerbitan terbatas dan ia mengelola percetakan sendiri yang kemudian menjulangkan namanya. Dengan sebuah mesin ketik portable, Enid mampu mengetik sebanyak 6.000 hingga 10.000 kata per hari. Suatu kali ia pernah berkata,”Saya hanya tidur beberapa menit…saya memejamkan mata dan membiarkan pikiran saya kosong dan sesaat kemudian saat saya berhasil membayangkan seorang anak manusia, maka telah tercipta satu karakter.” Kemudian, 11 judul buku terbit atas namanya waktu itu.
Pada tahun 1942 kehidupan perkawinan Eid berakhir dan ia kemudian menikah lagi dengan seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai tentara, Kenneth Darrell Waters. Akibat bertugas selama Perang Dunia I, Waters mengalami gangguan pendengaran akan tetapi dengan bantuan alat pendengar, dia mampu mendengar percakapan isterinya. Di samping mendukung karir Enid, Waters juga sering berbagi cerita dan senang berkebun. Enid kemudian mengambil karakter suaminya itu unuk peran seorang polisi dalam cerita “Mystery” yang juga merupakan cerita bersambung. Enid kemudian mendirikan majalah pada tahun 1953, namun majalah itu dihentikan penerbitannya pada tahun 1959. Pada awal tahun 1960-an Enid mengalami gangguan memori dan terserang Alzeimer namun penyakitnya itu dirahasiakan. Dalam kondisi memori yang makin payah, ia berhasil menyelesaikan serial Lima Sekawan yang berjudul “Five Are Together Again” di tahun 1963.
Walters, sang suami, meninggal dunia pada tahun 1967. Beberapa bulan kemudian Enid tak kuasa melawan penyakitnya dan kemudian meninggal dunia pada 28 November 1928.
Pengarang cerita anak paling produktif ini telah menulis sekitar 700 buku selama hidupnya. Beberapa hasil karyanya telah diterjemahkan ke dalam 129 bahasa. Namanya dicantumkan dalam daftar UNESCO 1975 sebagai pengarang wanita kedua di dunia yang bukunya paling banyak diterjemahkan yaitu sebanyak 3400 bahasa. Dalam survei yang diadakan di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Eropa, 80% anak-anak memilihnya sebagai pengarang favorit mereka.
Walaupun kini telah tiada, ia meninggalkan kenangan manis bagi seluruh anak di dunia, berupa buku-bukunya yang telah ditulisnya. Salah satu karakternya yang terkenal adalah Noddy(1949), yang ditujukan untuk pembaca yang masih tahap awal, atau anak-anak berumur 4-7 tahun. Bagaimanapun juga, pembaca utama bukunya adalah anak-anak yang tidak memerlukan bimbingan dalam membaca untuk masuk ke petualangan yang diciptakan olehnya. Dalam golongan pembaca yang ini, banyak buku berseri yang sangat popular didunia, di antaranya adalah Lima Sekawan (terdiri dari 21 buku, 1942-1963, cerita berdasarkan empat anak dan seekor anjing), Pasukan Mau Tahu (terdiri dari 15 buku, 1943-1961, di mana lima anak yang sedang berlibur sering bermasalah dengan polisi lokal), begitu juga dengan Sapta Siaga (terdiri dari 15 buku, bercerita tentang tujuh anak yang memecahkan berbagai misteri).
Sampai dengan akhir tahun 1990-an, ternyata buku-buku Enid masih diterbitkan dan dicetak ulang, salah satunya adalah serial Lima Sekawan yang kemudian menjadi serial televisi (1995). Stasiun televisi BBC kemudian membuat dokumentasi kehidupannya dalam sebuah drama yang berjudul “Enid” pada tahun 2009.
Telah lama dipercaya bahwa setelah kematian Enid tidak ada lagi karyanya yang belum diterbitkan sampai kemudian pada tahun 2011 ditemukan sebuah novel yang berjudul “Mr Trumpy’s Caravan” ditemukan di museum nasional dalam koleksi buku-buku anak. Rupanya buku harian Enid, termasuk catatan yang berisi judul-judul yang ditulisnya telah dirusak oleh suaminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s