Rasito, Kreator Karawitan yang Menjadi Profesor di Amerika

Berbicara mengenai perkembangan musik karawitan, khususnya penciptaan gending-gending kreasi baru, umumnya orang berhenti pada nama Ki Nartosabdo. Untuk acuan gaya Surakarta (dan Semarangan), mungkin anggapan itu ada benarnya. Di samping fakta popularitas, juga banyak publikasi yang telah membahas sang maestro dalang itu.

Tetapi, di samping itu, sesungguhnya juga ada genre karawitan, yaitu gaya Banyumasan. Dan untuk ini, nama Rasito Purwopangrawit tidak dapat dilupakan.

Budaya Banyumasan termasuk sub kultur kebudayaan Jawa dengan ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dari budaya induknya. Beberapa ciri khusus budaya Banyumasan5 antara lain: (1) Berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), dibangun dari kehidupan masyarakat yang berpola tradisional-agraris, (2) Secara normatif merupakan perpaduan antara kebudayaan Jawa lama (Jawa kuno dan pertengahan termasuk di dalamnya kebudayaan animisme, dinamisme dan kebudayaan Hindu-Budha) dan lokalitas pola kehidupan masyarakat setempat yang dipengaruhi kultur Islam dan Barat (kolonial), (3) Mendapat pengaruh dari dua kutub budaya besar, yaitu budaya Jawa kraton (Surakarta dan Yogyakarta) dan budaya Sunda, dan (4) Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal atau budaya membingkai agama.

Di wilayah sebaran budaya Banyumasan berkembang seni karawitan gagrag Banyumasan yang lebih dijiwai oleh latar belakang budaya masyarakat setempat. Seni karawitan gagrag Banyumasan secara umum memiliki ciri kesederhanaan dengan gendhing-gendhing yang bernuansa gembira, semangat dan dinamis.

Dalam perkembangannya, keberadaan karawitan gagrag Banyumasan hidup berdampingan dengan karawitan Jawa gaya Surakarta dan Yogyakarta. Dalam pergelaran seni karawitan, seniman di daerah ini biasa menyajikan gendhing-gendhing gaya Surakarta, Yogyakarta dan Banyumas secara bergantian. Hal tersebut justru pada akhirnya telah menjadi kekayaan repertoar gendhing yang menjadikan seni karawitan di Banyumas mampu eksis di tengah terpaan budaya asing yang kian deras seiring dengan perjalanan waktu.

Di masyarakat bertebaran seniman-seniman kreatif yang mengembangkan ragam kesenian tradisional Banyumas, antara lain Rasito, Parta, S. Bono, Kunes, Suryati, Sugino, Sugito, Kampi dan lain-lain. Dari nama-nama tersebut, beberapa di antaranya adalah tokoh seni karawitan, yaitu Rasito, Parta, Kasbi, S. Bono, Kunes dan Suryati.

Rasito, Parta dan S. Bono adalah seniman karawitan yang selain memiliki kemampuan garap, juga memiliki ide-ide kreatif menciptakan pola garap dan juga gendhing-gendhing bernuansa Banyumasan.

Sementara Kunes dan Suryati (yang juga pesiden dalang Ki Nartosabdo) merupakan dua tokoh sindhen Banyumas yang memiliki nama besar di antara sederet nama-nama sindhen Banyumas yang lain. Beberapa tokoh seni karawitan ini telah berhasil membawa seni karawitan gagrag Banyumasan ke panggung yang lebih luas dalam pertumbuhan dan perkembangan jagad kesenian di Banyumas. Mereka berhasil membawa seni karawitan ke produksi rekaman kaset dengan menggunakan perangkat gamelan gedhe dan calung.

Rasito, seniman kelahiran 23 Maret 1948 itu mengajar mahasiswa tingkat doktoral dari Taiwan, Korea, Brasil, Equador, Belgia, dan Prancis. Dia disetarakan dengan profesor muda (baru masuk) dengan gaji sekitar 36.000 dolar AS/tahun. Namun setahun dia bekerja delapan bulan. Profesor paling senior digaji 140.000 dolar AS setahun. Dia juga sering menjadi pembicara dalam seminar dengan honor minimal 1.500 dolar.Rasito selain sebagai seniman penyaji dengan instrumen favorit kendhang, juga hadir sebagai komposer yang telah melahirkan gendhing-gendhing, lagu-lagu gendhing dan garap gendhing yang telah mewarnai kehidupan seni karawitan di daerah Banyumas.

Ayah Rasito, mendiang Rustamaji, juga penabuh gamelan. Dulu sang ayah berpesan agar Rasito tidak mengikuti jejaknya. Namun dia tetap menjadi niyaga. Saat ini pun dia menjadi dosen luar biasa STSI Surakarta.

Pada masa kanak-kanak, Rasito hanya mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), yaitu sekolah kejuruan ekonomi setingkat SLTP di Purwokerto. Diakibatkan kurangnya biaya, proses pendidikan Rasito di SMEP tidak sampai selesai. Dengan demikian Rasito praktis hanya mendapat bekal pendidikan formal setingkat Sekolah Rakyat (SR) yang berhasil diselesaikan pada tahun 1961.

Di belakang ayahnya yang sedang menabuh instrumen gamelan tertentu, Rasito dapat menyimak teknik garap tiap instrumen yang sedang membangun sajian musikal berbagai macam gendhing. Dari situlah rupanya yang menjadi titik awal yang sangat menentukan dalam kehidupan karier kesenimanan Rasito.

Dengan hanya belajar kupingan, Rasito mampu memainkan beberapa instrumen gamelan seperti balungan, bonang dan kendhang. Proses selanjutnya memupuk keberanian di dalam dirinya untuk menerapkan kemampuan menabuh yang dimiliki dengan cara terjun langsung dalam pementasan-pementasan kethoprak tobong dari Yogyakarta yang mengadakan pementasan di daerahnya. Berangsur-angsur kemampuan menabuh Rasito semakin meningkat, sehingga selain ikut serta dalam pementasan kethoprak tobong, ia juga memberanikan diri menjadi pengendhang pada pementasan lengger.

Pada pertengahan tahun 1960-an Rasito mulai bekerja di Komando Resimen (Korem) 071 Wijayakusuma yang memiliki wilayah kerja Karesidenan Banyumas dan Pekalongan. Rasito bekerja sebagai staf URIL (Urusan Moril) dan URHIJAH (Urusan Hiburan dan Kesejahteraan) yang mengurusi kegiatan sosial budaya masyarakat, termasuk di dalamnya kegiatan berkesenian.

Di daerah ini Rasito melaksanakan pementasan-pementasan karawitan, baik untuk keperluan sajian mandiri maupun untuk keperluan iringan kethoprak dan wayang kulit purwa. Di sini Rasito bertemu dengan seniman dari berbagai daerah seperti dari Surakarta, Semarang, Yogyakarta dan daerah lain. Dari sekian banyak seniman yang menjadi koleganya dalam berkiprah dalam dunia seni karawitan, ada seorang yang paling berpengaruh yaitu R.S. Pandiyo, pegawai Kantor Inspeksi Daerah Kebudayaan (IDAKEB) Kabupaten Tegal pada tahun 1966. R.S. Pandiyo yang berasal dari Wonogiri dan alumnus Konservatori Karawitan Surakarta memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang seni karawitan sehingga dapat memberikan kritikan sehat kepada Rasito yang terbukti telah memacu motivasi berprestasi seniman yang satu ini. Pegawai IDAKEB itu mengatakan bahwa Rasito memiliki kebukan (pukulan) kendhang yang bagus, tetapi sayang tidak sesuai dengan notasi tabuhan yang benar. R.S. Pandiyo selanjutnya bahkan memberikan copy kendhangan gaya Surakarta yang kemudian menjadi bahan belajar bagi Rasito.

Pada akhir dekade tahun 1960-an hingga awal dekade tahun 1970-an, Rasito menjadi pengrawit wayang dengan dhalang Ki Sugito Purbocarito. Ia berhenti menjadi pengrawit dhalang Gito (sebutan untuk Ki Sugito Purbocarito) karena diminta oleh dhalang Gino (Ki Sugino Siswocarito) untuk berperan sebagai pengendhang pada setiap pementasannya. Sejak itulah Rasito menjadi pengrawit dhalang Gino. Karawitan iringan wayang yang dilakukan oleh Dhalang Gino pada tahun 1974 ditetapkan dengan nama Perkumpulan Karawitan Purba Kencana dengan pemimpin grup Rasito.

Sebagai seniman yang menggantungkan hidupnya dari seni karawitan, Rasito telah berhasil menjadikan seni musik Jawa ini sebagai sumber mencari penghasilan hidup. Berkat sikap mental dan perilaku profesional yang selalu ditunjukkan di dalam setiap pementasan, Rasito berangsur-angsur mendapat pengakuan dari masyarakat sebagai seorang pengrawit unggulan dengan spesialisasi instrumen kendhang. Kehebatan Rasito bukan saja diakui oleh sesama seniman, melainkan juga oleh masyarakat awam. Pertunjukan dhalang Gino tidaklah lengkap tanpa kehadiran Rasito. Tanpa Rasito, dhalang Gino bukanlah apa-apa. Di setiap pementasan pakeliran wayang kulit purwa yang dilaksanakan oleh Sugino, penonton tidak sekedar menunggu suguhan sajian wayang oleh sang dhalang. Penonton juga sangat menunggu ketrampilan dan kehebatan Rasito dalam memainkan instrumen kendhang pada sajian gendhing-gendhing klenengan maupun iringan wayang.

Rasito pun mulai mengembangkan ide-ide orsinilnya dengan memunculkan warna dan kekuatan sajian melalui garap kendhang dan vokal di dalam iringan wayang kulit dhalang Gino. Rasito mulai memasukkan unsur-usur kendhangan jaipong dan Cirebonan di dalam gendhing-gendhing Banyumasan, memberi warna vokal senggak yang dilakukan oleh sindhen (vokal tunggal putri) pada ibingan (jogetan) buta (raksasa), memasukkan instrumen-instrumen garap untuk menciptakan garap rempeg pada sajian gendhing Banyumasan, dan lain-lain.

Penerapan ide semacam ini terbukti telah menjadikan pakeliran dhalang Gino semakin anget (meriah) dan disukai penonton. Keduanya (Gino dan Rasito) menjadi dwi tunggal kekuatan dalam pergelaran wayang kulit Banyumasan yang sangat terkenal dan disukai penonton di wilayah Banyumas dan sekitarnya.

Pada awal dekade tahun 1970-an, beberapa perusahaan mulai melirik keberadaan sajian wayang kulit oleh dhalang Gino dengan pengendhang Rasito. Sejak awal dekade ini Enggal Jaya Record Semarang mulai dilakukan perekaman sajian wayang kulit oleh dhalang Gino dan dipasarkan meluas di Banyumas dan luar Banyumas. Untuk keperluan rekaman, Rasito mensuplai energi dirinya dengan motivasi berprestasi yang kuat yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk garapan iringan pakeliran yang dinamis, meriah dn enak dinikmati.

Rekaman pertama meledak di pasaran, lalu disusul rekaman berikutnya. Setiap rekaman hampir pasti meledak di pasaran. Pihak perusahaan rekaman yang mulai melihat kapasitas dan kapabilitas Rasito dalam berkesenian kemudian memintanya untuk melaksanakan rekaman gendhing-gendhing Banyumasan. Rasito menerima tawaran tersebut dan memanfaatkan anggota Grup Karawitan Purba Kencana untuk menggarap gendhing-gendhing yang direkam. Tidak tanggung-tanggung, sekali produksi pihak produser meminta 10 kaset. Apabila satu kaset diisi antara enam hingga tujuh gendhing, maka untuk keperluan rekaman 10 kaset dibutuhkan antara 60-70 gendhing.

Paling tidak ada 15 perusahaan rekaman yang sejak awal dekade tahun 1970-an hingga awal dekade tahun 1990-an, antara lain: (1) Enggal Jaya Record Semarang, (2) Borobudur Recording Semarang, (3) Hidup Baru (HIBA) Record Purwokerto, (4) Semi Record Semarang, (5) Nusa Indah Record Semarang, (6) FM Record Jakarta, (7) Dahlia Record Semarang, (8) Fajar Record Semarang, (9) Kusuma Record Klaten, (10) Lokananta Record Surakarta, (11) Cakra Record Semarang, (12) Ira Record Semarang, (13) Wisanda Record Semarang, (14) Pusaka Record Semarang, dan (15) Singo Barong Record Semarang.

Pada awal dekade tahun 1980-an Rasito dipercaya menyusun iringan Sendratari Kamandaka yang menggunakan vokabuler dan idiom garap Banyumasan. Karya ini bahkan dua kali keluar sebagai penyaji terbaik pada Festival Sendratari Tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah pada festival yang dilaksanakan di Surakarta (1985) dan di Purworejo (1986). Dalam penciptaan karya tari garapan baru gagrag Banyumas, Rasito juga telah melakukan aransemen gendhing iringan tari antara lain tari Gambyong Banyumasan, Cepet-cipit, Baladewan, Surung Dayung, Lenggeran, Banceran, Pasihan dan Karonsihan. Penyusunan gendhing-gendhing iringan tari ini dilakukan sejak tahun 1979 sampai dengan 1992.

Berdirinya Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Pemda Banyumas pada tahun 1978 memberikan pengaruh positif bagi Rasito. Sebagai seniman non akademik ia diangkat sebagai guru tetap di sekolah seni itu dan dipercaya mengampu bebeberapa mata pelajaran seperti Praktek Karawitan Bersama (PKB) Gaya Surakarta, Praktek Karawitan Bersama (PKB) Gaya Banyumas, PRAKTEK Individual Instrumen Pokok (PIIP) ricikan kendhang gaya Surakarta, Praktek Karawitan Bersama (PKB) Iringan Wayang, Vokal serta Praktek Pergelaran Karawitan.

Kesenimanan Rasito semakin mencuat ke permukaan dengan diangkat sebagai tenaga pengajar tidak tetap di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang STSI) Surakarta sejak tahun 1980 dan pada tahun 1983 diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Golongan I-a dengan tugas diperbantukan pada SMKI Pemda Banyumas. Atas kerjasama STSI Surakarta dengan Pemerintah Amerika Serikat, sejak tahun 1993 Rasito juga berhasil dipercaya sebagai tenaga pengajar di beberapa perguruan tinggi seperti University of Michigan, University of Wisconsin dan University of Texas at Austin, University of California Riverside.

Selain menggubah gendhing-gendhing yang sudah ada, Rasito juga mulai menciptakan gendhing-gendhing baru. Dalam penciptaan gendhing Rasito lebih berorientasi pada pasar, tidak lagi berorientasi pada bentuk-bentuk gendhing Banyumasan yang menjadi basik kulturalnya. Gendhing-gendhing yang diciptakan umumnya berupa bentuk lancaran dan ketawang yang digarap secara tradisi, kreasi baru dan langgam. Cara demikian dimaksudkan agar gendhing-gendhing ciptaannya dapat dinikmati bukan hanya oleh masyarakat Banyumas saja, melainkan juga oleh unsur masyarakat lain penikmat karawitan Jawa.

Dari sekian banyak gendhing yang berhasil diciptakan, Rasito masih mampu mengingat 20 nama gendhing antara lain: (1) Gunung Tugel, (2) Gunung Slamet, (3) Kuntilanak, (4) Nasib, (5) Ireng Manis, (6) Tlaga Ranjeng, (7) Digunani, (8) Srundeng Toya, (9) Prasetyamu, (10) Dwi Satya Dwi Dharma, (11) Banyumas Satria, (12) Banyumas Koek, (13) Gudel Mele, (14) Suka Balen, (15) Tembang Pangkur Nasib, (16) Sinom Ngudarasa, (17) Pangkur Ndhong Ding, (18) Asmaradana Suka Balen, (19) Celeng Mogok, dan (20) Udang Dhuwit.

Keduapuluh gendhing ini diciptakan sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 1993 (sebelum Rasito menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat). Gendhing-gendhing karya Rasito secara umum bercerita tentang (1) manusia dengan segala permasalahannya, (2) tugas manusia dalam menjalani hidupnya, dan (3) alam semesta beserta keagungannya.

Gendhing-gendhing yang menceritakan manusia dengan segala permasalahannya dapat dijumpai pada gendhing Kuntilanak, Nasib, Ireng Manis, Digunani, Prasetyamu, Gudel Mele, Suka Balen, Tembang Pangkur Nasib, Sinom Ngudarasa, Pangkur Ndhong Ding, Asmaradana Suka Balen dan Udan Duwit. Penggambaran tentang permasalahan hidup manusia ini diungkapkan melalui karakter lagu dan teks syair yang bersifat verbal dan mudah ditangkap oleh segala lapisan masyarakat.

Gendhing-gendhing yang menceritakan tugas manusia dalam menjalani hidupnya dapat dijumpai pada gendhing Dwi Satya Dwi Dharma, Srundeng Toya, dan Banyumas Satria. Melalui ketiga gendhing ini Rasito berusaha mengungkapkan tugas-tugas manusia baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, termasuk dalam kedudukannya sebagai warga negara dalam rangka pencapaian tatanan kehidupan yang harmonis, adil dan sejahtera.

Gendhing-gendhing yang menceritakan alam semesta beserta keagungannya dapat dijumpai pada Gunung Tugel, Gunung Slamet, Tlaga Ranjeng, Banyumas Koek dan Celeng Mogok. Di dalam gendhing-gendhing jenis ini Rasito mengungkapkan perihal alam semesta, alam lingkungan dan kejadian-kejadian spesial yang terjadi di alam semesta. Teknik pengungkapannya tidak jauh berbeda dengan penciptaan gendhing-gendhing lain, yaitu mengemas teks cakepan (syair).

Cerita tentang keindahan alam di Tlaga Ranjeng yang berlokasi di Kaligua, Kabupaten Brebes sangat informatif karena dapat dengan mudah dipahami melalui teks syair gerongan. Kemudahan pemahaman melalui teks ini semakin didukung oleh alur kalimat lagu yang mengalir, dinamis dan prenes. Dengan demikian penikmat lagu ini dapat dengan cepat membayangkan keindahan alam Tlaga Ranjeng yang hening dan sejuk dihuni puluhan atau bahkan ratusan ribu ikan lele lokal yang hidup lestari hingga sekarang.

Rasito selalu berusaha menciptakan lagu atau gendhing yang berbeda atau belum ada di pasaran. Melakukan duplikasi adalah pantangan baginya. Apabila lagu atau gendhing ciptaannya ternyata mirip atau bahkan sama dengan lagu yang lain, maka ia segera melakukan perubahan-perubahan untuk menghindari terjadinya duplikasi. Untuk menciptakan sebuah gendhing, Rasito tidak memiliki perilaku khusus. Kadang-kadang cukup hanya tiduran di balai-balai rumahnya, berjalan di malam hari atau pergi ke tempat tertentu yang menjadi obyek dalam penciptaan. Sebagai contoh ketika menciptakan lagu Tlaga Ranjeng, Rasito menyempatkan diri menginap beberapa hari di Kaligua, desa yang menjadi lokasi keberadaan telaga tersebut. Sebaliknya ketika menciptakan lagu Banyumas Satria, ia cukup tiduran di balai-balai rumah sambil mengembangkan imajinasinya tentang lagu yang sedang disusun.

Dalam diri Rasito tidak terlalu mempermasalahkan persoalan sejauhmana kualitas gendhing hasil kreasinya. Yang terpenting adalah ia sudah mampu memunculkan keberanian untuk memberikan warna yang berbeda bagi pertumbuhan dan perkembangan seni karawitan yang menjadi lahan profesinya. Rasa percaya diri yang terus dipupuk dengan motivasi tinggi, rasa pengabdian dan konsistensi terhadap bidang profesinya terbukti telah menempatkan Rasito dalam jajaran pengrawit unggulan yang sangat diakui eksistensinya.

Sebagai seniman yang hidup bergantung pada profesinya, salah satu hal yang mempengaruhi produktivitas Rasito dalam menciptakan berbagai ragam aransemen musikal permintaan produsen rekaman kaset. Begitu banyak produsen yang tertarik pada sajian karawitan yang dilakukan oleh Rasito dan kelompoknya. Semakin banyak permintaan maka semakin banyak pula kebutuhan ragam gendhing yang akan direkam. Oleh karena itu satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah menciptakan gendhing-gendhing baru dan mengaransir ulang gendhing-gendhing yang sudah ada.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s