Rao: Penghancur Perizinan

 

Akhir tahun 1980, India nyaris bangkrut. Cadangan devisanya tinggal USD 1 miliar. Hanya cukup untuk impor bahan dua minggu. Kemiskinan luar biasa.Maka disadarilah untuk berubah haluan. Sekitar 110 juta rakyat India terlempar ke jurang kemiskinan hanya dalam waktu dua tahun. Inflasi sebesar 17% telah merusak sendi-sendi perekonomian India. Di tahun yang sama, 330 juta atau dua dari lima rakyat India tervonis hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi keuangan pemerintah India terpuruk. India mengalami krisis.

Bank-bank telah memberhentikan pinjamannya kepada India dengan perkiraan mereka tidak akan mampu untuk melunasinya. India’s foreign exchange merosot tajam hingga berada pada kondisi kesanggupan untuk membayar impor minyak bumi selama dua minggu saja. Melihat gejolak yang begitu parahnya, International Monetary Founds (IMF) akhirnya menawarkan bantuan untuk memulihkan keadaan perekonomian India.  

India tidak mempunyai banyak pilihan. Tanpa bantuan pihak luar, lampu kehidupan India tidak akan dapat terus bertahan. Akan tetapi, ternyata India juga melakukan jalan lain yang mengejutkan banyak pihak.

Tahun 1991 Partai Kongres menang pemilu. Narasimha Rao terpilih sebagai perdana menteri.Ia menjadi perdana menteri di luar dinasti Nehru dan Gandi yang mampu menyelesaikan 5 tahun masa  jabatan. Ia menjadi sosok non Hindu dari kawasan India Selatan yang pertama kali meraih jabatan kepala pemerintahan India.

Dia seorang advokat, tapi sejarah mencatatnya sebagai ”Bapak Reformasi Ekonomi India”. Dunia mengenalnya sebagai ”penghancur perizinan”. Segala macam keruwetan perizinan di bidang usaha dia sederhanakan.

Rao berani mengangkat seorang menteri keuangan yang ternyata dia benar: Manmohan Singh. Dia adalah ekonom lulusan dua perguruan tinggi terbaik di dunia sekaligus: Cambridge dan Oxford. Dengan prestasi kelulusan terbaik.

Manmohan Singh

Rao dibilang benar karena kelak terbukti Manmohan Singh berhasil terpilih sebagai perdana menteri India. Bahkan perdana menteri terlama berkat kesuksesannya: sepuluh tahun (2004–2014).

Rao lahir di sebuah desa kecil dekat Karimnagar (sekarang di Telangana, India). Ia belajar di Sekolah Tinggi Fergusson di Pune dan di Universitas Bombay (sekarang Mumbai) dan Nagpur, akhirnya menerima gelar sarjana hukum dari institusi tersebut. Ia memasuki dunia politik sebagai aktivis Partai Kongres yang melakukan upaya pergerakan kemerdekaan dari Inggris. Ia pernah menjadi anggota parlemen lokal Andhra Pradesh 1957-1977, mendukung Indira Gandhi memisahkan diri dari Partai Kongres pada tahun 1969 dan  membentuk Partai Kongres Baru 1978.

Rao memegang aneka jabatan tinggi di pemerintahan negara bagian Andhra Pradesh pada tahun 1962-1973, termasuk dari Menteri (semacam gubernur) pada tahun 1971. Sebagai kepala daerah ia menerapkan kebijakan landreform yang revolusioner dan memberikan jaminan partisipasi untuk penduduk dari kasta yang lebih rendah. Ia terpilih untuk mewakili Andhra Pradesh di Lok Sabha (semacam DPR India) pada tahun 1972 dan, di bawah  kepemimpinan Indira Gandhi dan penggantinya, Rajiv Gandhi, bertugas di berbagai kementerian, terutama sebagai menteri luar negeri (1980-1984, 1988-1989).

Selain menggeluti politik, Rao dikenal sebagai cendekiawan dan pernah menjadi ketua Akademi Telugu di Andhra Pradesh (1968-1974). Rao menguasai 6 bahasa asing, pernah menerjemahkan buku dan kitab-kitab berbahasa Hindi  dan menulis karya-karya fiksi dalam bahasa Hindi, Marathi, dan Telegu.

Setelah pembunuhan Rajiv Gandhi pada bulan Mei 1991, Partai Kongres kemudian memilih Rao sebagai pemimpinnya, dan ia menjadi perdana menteri ke-10 India setelah pemilihan umum pada bulan Juni. Rao segera mulai upaya untuk merestrukturisasi ekonomi India dengan mengubah struktur kuasisosialis yang tidak efisien warisan Jawaharlal Nehru dan Indira Gandhi menjadi sistem pasar bebas.

Gandhi dan Nehru memiliki impian untuk membuat India sebagai negara yang swasembada. Mereka takut bahwa investor asing akan menjadi British East India Company dan penjajah baru. Nehru mempersulit perusahaan-perusahaan asing untuk berinvestasi di India, begitupun sebaliknya sulit bagi perusahaan India untuk mengekspor barang, dan amat mahal bagi India untuk mengimpor barang.

Apa yang disebut dengan rezim inward looking selalu di gembor-gemborkan oleh PM Nehru dan penasihatnya Mahalanobis. Namun cara pandang yang dikenal dengan Nehruvian Vison hanyalah sebuah manifest yang membelengu India hampir selama 40 tahun hingga 1991. Gandhi dan Nehru merupakan guru India, semenjak pasca kolonial ajaran anti industri Mahatmagandhi dan sosialisme Jawaharlal Nehru telah bersama-sama menyebabkan India menarik diri dari ekonomi dunia setelah India memenangkan kemerdekaan dari Inggris 1947.

Pada awal tahun kemerdekaan, kebijakan-kebijakan tersebut membantu berdirinya perusahaan India dengan subur, namun lebih dari puluhan tahun, terlindungi dari tekanan luar, menyebabkan banyak perusahaan India malas dan tidak kompetitif. Pada model ini , perekonomian India sangatlah berbeda jauh dengan negara-negara dikawasan Asia Timur. Pemerintah India merasa tidak membutuhkan barang-barang Impor dan menutup diri dari perekonomian Internasional. Laju perekonomian India yang lambat tersebut baru berakhir pada tahun 1980-an, pada masa pemerintahan Rajiv.

Sistem sosialisme yang dibawa Jawaharlal Nehru saat itu kemudian mengalami pergeseran. India mulai membuka diri dengan pasar internasional, yang memberikan dampak positif pada perekonomian India. Pemerintah pada saat itu mulai membatasi Lisensi Raja dalam hal investasi, industri dan kebijakan impor serta mengakhiri monopoli negara di berbagai sektor ekonomi.

Sektor yang tak luput dari campur tangan pemerintah India adalah di bidang teknologi informasi (IT– Information Technology). Kemajuan IT di India sudah sangat fenomena, bahkan Kota Bangalore telah menjadi pusat IT di dunia. Hampir semua industri IT besar di dunia membuka kantornya di kota ini, seperti Microsoft, IBM, Wipro dll.

Kerangka kerja Rao mencakup reformasi birokrasi dan pemangkasan aturan main yang berbelit-belit, penghapusan subsidi dan kontrol harga, dan privatisasi  perusahaan negara. Upaya untuk meliberalisasi ekonomi telah mendorong pertumbuhan industri dan investasi asing, tetapi juga mengakibatkan meningkatnya anggaran dan defisit perdagangan dan laju inflasi yang tinggi.

Perusahan milik negara di bidang perbankan, penerbangan, dan industri perminyakan dibuka bagi investor mandiri. Dipimpin oleh Manmohan Singh, India melanjutkan reformasi dengan menghilangkan pembatasan antimonopoli yang berlebihan bagi perusahan-perusahaan besar. Singh juga menghapus kebijakan “license raj” yang mengontrol secara ketat perdagangan dan industri India yang mensyaratkan adanya izin untuk setiap transaksinya. Secara garis besar, rangkaian gerbong reformasi ekonomi yang dilakukan oleh India meliputi: (1) fiskal dan administrasi; (2) sektor finansial; (3) perdagangan internasional dan investasi; (4) sektor industri; (5) infrastruktur; (6) tenaga kerja; dan (7) privatisasi.

Reformasi yang dijalankan India ini memberikan dampak positif. Aktivitas perekonomian mengalami peningkatan pesat beberapa dekade sebelumnya. Perusahaan perusahaan mulai mampu memperkerjakan mereka yang sebelumnya justru tidak bekerja. Inflasi dua digit kembali dapat dikembalikan pada posisi semula. Hutang negara segera terlunasi, krisis ekonomi dapat dilalui, kehidupan India mulai menggeliat. India mempunyai kebebasan sipil dan politik selama hampir satu abad, tetapi kebebasan di bidang ekonomi barulah benar-benar tercapai semejak bergulirnya reformasi ekonomi di tahun 1991.
Sejak saat itu, India terus merangkak menjadi salah satu negara maju di antara negara berkembang lainnya. Selama periode tersebut, perekonomian tumbuh secara konstan dan kesuksesan ini dibarengi pula dengan meningkatknya ekspektasi kehidupan, angka melek huruf, dan ketahanan pangan.
Dampak liberalisasi ekonomi India sendiri adalah menciptakan stabilitas pada ekonomi makronya. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari 0.8% pada tahun 1991-1992, meningkat menjadi 5,3% pada tahun 1992-1993 dan stabil pad aangka 5,5% di tahun selanjutnya. Reformasi ekonomi juga memperkuat ekonomi India pada sektor subtansialnya baik secara internal maupun eksternal. Saat ini India merupakan negara perekonomian terbesar ke empat dalam hal purchosing power parity (PPP) dan juga sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat.
Liberalisasi dan reformasi ekonomi tahun 1990 telah merubah wajah India di dunia internasional. Setelah krisis tersebut, India benar-benar melakukan reformasi di segala sektor ekonomi, perubahan strategis dilakukan melalui merubah pola dasar ekonomi dari kontrol negara menjadi ekonomi berbasis pasar. Mulai dari sektor keuangan, pajak, serta perizinan mendirikan industri. Saat ini India tumbuh menjadi negara dengan kemajuan dalam industrialisasi telekomunikasinya, selain itu besarnya jumlah tenaga kerja terdidik dan profesional menjadikan India tampil sebagai negara penyedia jasa layanan terbesar di dunia.
Bagi India, berakhirnya Perang Dingin telah memicu krisis kebijakan luar negeri akibat terputusnya hubungan dengan mitranya yang paling andal, yaitu Uni Soviet. Tapi, seperti dengan krisis keuangan pada 1991, India mampu bangkit dengan kebijakan luar negeri yang baru–kebijakan yang melepaskan diri dari tradisi yang terlalu idealistik dan merangkul realisme dan pragmatisme yang lebih luas. India, pasca-Perang Dingin, mulai membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan dengan pemain-pemain utama di Asia dan bagian-bagian dunia lainnya. “Kemitraan strategis global” dengan Amerika Serikat–suatu ciri khas dekade ini–dimungkinkan oleh pergeseran pemikiran kebijakan India pasca-1989.

Selama pemerintahan Rao,  kalangan Hindu fundamentalisme menjadi kekuatan yang signifikan dalam politik nasional untuk pertama kalinya, seperti ditunjukkan dengan kebangkitan elektoral Partai Bharatiya Janata dan kelompok politik sayap kanan lainnya.

Pada tahun 1992  kalangan Hindu nasionalis menghancurkan sebuah masjid, yang berujung kepada kekerasan sektarian antara Hindu dan Muslim yang berlangsung selama  Rao menjadi perdana menteri. Skandal korupsi mengguncang Partai Kongres, yang menurunkan popularitas dan sejak 1995, kalangan partai oposisi telah menguasai sejumlah negara bagian. 

Pada 1995, Perdana Menteri P.V. Narasimha Rao memutuskan untuk melanjutkan program nuklir India. Tetapi rencana tersebut tertahan, setelah satelit mata-mata milik NGA, AS menangkap persiapan uji coba nuklir India di Pokhran dan AS pun memaksa India untuk menghentikan uji coba tersebut.

Terdeteksinya persiapan uji coba nuklir oleh AS pada 1995, memberikan pelajaran berarti bagi peneliti India. Untuk itu, pada Mei 1998, diputuskan uji coba harus dilakukan pada saat cuaca sedang berawan, sehingga negara asing tidak dapat mendeteksi persiapan uji coba tersebut dan tidak dapat menekan pemerintah.

Program senjata nuklir India telah dimulai semenjak 1964. Perang Sino-Indian pada 1962 menjadi pemicu mengapa negeri penghasil film terbesar di dunia ini ngotot mencanangkan program pengembangan senjata nuklir.

Selain itu pemicu India mengembangkan senjata nuklir adalah karena Cina melakukan uji coba nuklir di Lop Nur pada 1964. Studi awal dilakukan di Bhabha Atomic Research Centre (BARC) dan berencana akan memproduksi plutonium dan berbagai komponen bom lainnya.

Program ini terbengkalai akibat kematian Perdana Menteri Jawahar Lal Nehru, baru pada 1968 program nuklir ini dihidupkan kembali, ketika Perdana Menteri Indira Gandhi berkuasa.

Program ini akhirnya melakukan uji coba pada 1074 di Pokhran dengan kode sandi Smiling Budha.
Setelah uji coba pada 1974, India menghentikan sementara akibat berbagai tekanan, seperti keadaan politik dalam negeri.

Rao mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada bulan Mei 1996 setelah Partai Kongres gagal menguasai mayoritas parlemen. Rao mengundurkan diri sebagai ketua partai  pada September, dan tahun berikutnya ia didakwa dengan korupsi dan suap dalam dugaan pembelian suara yang terjadi pada tahun 1993.Rao merupakan perdana menteri India (selama maupun sesudah tidak menjabat) yang  menghadapi pengadilan atas tuduhan pidana, dinyatakan bersalah pada tahun 2000, tetapi kemudian dibebaskan.

Rao meninggal dunia pada 23 Desember 2004 dalam usia 83 tahun.