Raja yang Tak Pernah Kembali ke Tanah Airnya

Raja Umberto II

Umberto II,  Raja Italia  yang  naik tahta  pada 9 Mei 1946 ketika dia menggantikan ayahnya dibuang, meninggal 18 Maret 1983 di sebuah rumah sakit Jenewa setelah lama sakit tanpa pernah melihat tanah kelahirannya lagi. Umberto menutup mata pada usia 78 tahun dan telah tinggal di pengasingan di Portugal sejak Republik Italia didirikan 37 tahun sebelumnya. Ia dipaksa turun tahta pada 12 Juni 1946.

Umberto adalah keturunan dinasti Savoy, sebuah dinasti kerajaan yang telah memerintah untuk waktu yang lama di kawasan Eropa. Keberadaan mereka jauh lebih panjang dibandingkan rezim Firaun di Mesir dan Dinasti Shang di Tiongkok. Sejak penguasaan oleh Raja Savoy, Pangeran Priedmont, Raja Sardinia hingga masa kesatuan Italia, yang berarti telah berkuasa sejak abad ke 11.

Nama Umberto serupa dengan nama kakeknya, Umberto I, yang tewas akibat amuk massa pada tahun 1900.

Umberto (ketika itu masih Pangeran) dalam sebuah kunjungan ke Chile pada tahun 1924.

Walaupun hanya 37 hari menduduki tahta, namun sesungguhnya ia merupakan kepala negara Italia secara de facto pada 1944-1946. Ia populer dengan julukan Raja Mei (May King).

Umberto, yang juga menyebut dirinya Humbert II, merupakan figur terakhir dari dinasti Savoy. Sebuah dinasti yang memiliki rentang waktu panjang sejak abad pertengahan. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki diantara 5 orang anak Raja Viktor Emmanuel III dengan Ratu Elena.

Viktor telah berusaha untuk melepaskan diri dari rezim Mussolini namun akhirnya ia harus menyerah kepada orang yang telah diangkatnya sebagai Perdana Menteri pada tahun 1922 itu. Viktor kemudian meninggal di Mesir dalam usia 78 tahun.

Sebelum Umberto meninggal dunia, sebenarnya kalangan politisi di Italia telah merancang undang-undang yang mengizinkan raja, permaisuri, dan anaknya untuk kembali. Mereka menganggap pengasingan itu sebagai hukuman yang sudah usang. Presiden Sandro Partini sebagai kepala negara telah mendesak Parlemen untuk mengizinkan kembali Umberto dan keluarganya kembali ke Italia.

Namun Umberto kemudian meninggal dunia di Jenewa. Ia dikebumikan di Hautecombe Abbey,  Prancis, yang selama berabad-abad tempat pemakaman Dinasti Savoy. Tidak ada perwakilan dari pemerintah Italia menghadiri pemakamannya.

Upacara pemakaman Umberto II di Prancis (1983)

Umberto II, Ratu Maria dan anak-anaknya di Italia, 1946

 

Bersama putri tertua, Putria Maria Pia, di Portugal (1970)

Pemakaman Ratu Maria, isteri Umberto II, di Prancis (2001)

Terlahir  sebagai Umberto Nicola Giovanni Maria pada 15 September 1904. Sebagai putra mahkota, ia memperoleh pendidikan militer dan pada usia 18 tahun, telah memperoleh pangkat letnan. Ayahnya, Raja Viktor kemudian mengangkat Mussolini sebagai Perdana Menteri dan kemudian ia segera memperoleh kedudukan tinggi di militer. Pada tahun 1930 ia menikah dengan Putri Maria.

Umberto menikah dengan Putri Maria, 1930

 

Umberto II bersama isteri dalam sebuah perjamuan resmi di Prancis (1976)

Ketika Italia menyatakan perang dengan Prancis dan Inggris, Umberto memimpin pasukan untuk kemudian menyerbu Prancis. Ia akan dipromosikan sebagai marsekal pada 29 Oktober 1942, akan tetapi seiring dengan kejatuhan rezim Mussolini, rencana itu tidak berarti sama sekali.

Pada tahun 1943, Putri Mahkota Maria José melibatkan diri dalam upaya sia-sia untuk mengatur perjanjian damai  antara Italia dan Amerika Serikat, dan memperoleh perlawananan dari Monsignor Giovanni Battista Montini, seorang diplomat senior Vatikan yang kemudian menjadi Paus Paulus VI. Usahanya tidak pernah diberitahukan kepada kerajaan dan Raja Viktor setidak-tidaknya dinyatakan tidak pernah terlibat dalam usaha itu. Setelah kegagalan itu, sang putri kemudian menjalani masa isolasi di dalam kerajaan dan tidak terlibat dalam aktivitas publik.

Pasca kejatuhan rezim Mussolini, Viktor menetapkan dirinya sebagai kepala negara Italia. Ketika itu Roma ditaklukkan oleh Sekutu dan pada 4 Juni 1944, Viktor mengambil inisiatif untuk mempertahankan kerajaan. Menghadapi referendum yang dirancang untuk menghapuskan sistem kerajaan pada tahun 1946, Viktor mengundurkan diri  lalu meminta perlindungan ke Raja Faruk, di Mesir dan menyerahkan tahta kepada Umberto yang ketika itu berusia 39 tahun, namun raja muda ini gagal memperoleh dukungan untuk mempertahankan sistem kerajaan.

Hanya 45% pemilih yang sepakat mempertahankan sistem kerajaan. Umberto, bersama-sama permaisuri Ratu Marina (dari Belgia) dan putranya Pangeran Viktor Emmanuel, kemudian mengasingkan diri ke Portugal dan tidak pernah diizinkan kembali ke Italia. Konstitusi Italia yang disahkan pada tahun 1947 bukan saja melarang menghidupkan kembali kerajaan, akan tetapi juga melarang bekas raja dan seluruh ahli waris laki-laki untuk menginjakkan kaki di Italia. Keturunan perempuan diizinkan kembali ke dalam negeri, kecuali bekas permaisuri.

Banyak kalangan pendukung kerajaan menyatakan keraguan mengenai keabsahan referendum tersebut. Mereka menuduh bahwa jutaan pemilih, banyak dari mereka yang promonarki, tidak dapat memilih karena mereka belum bisa kembali ke daerah mereka sendiri untuk mendaftar. Termasuk para pemilih yang tinggal di daerah perbatasan, yang mana saat itu sengketa perbatasan itu sendiri belum pernah memperoleh penyelesaian. Tuduhan lainnya soal manipulasi pemilih dan itu terkonfirmasi dari kecilnya margin antara suara yang mendukung dengan yang menolak sistem kerajaan.

Para pengamat sendiri menyatakan bahwa andaikata Raja Viktor sebelumnya telah mengundurkan diri lebih cepat lagi, besar kemungkinan  monarki akan bertahan. Namun Umberto kemudian menyatakan menerima hasil referendum dan kemudian meninggalkan negerinya. Perdana Menteri Alcide de Gasperi untuk sementara waktu memegang jabatan sebagai kepala negara.

Umberto hidup terpisah dengan isterinya bahkan sejak awal pernikahan, kecuali untuk kepentingan protokoler di mana mereka harus berdampingan di muka umum. Bagaimanapun, layaknya tradisi kerajaan yang telah berlangsung lama, pernikahan mereka adalah atas dasar perjodohan. Namun mereka sendiri tidak pernah mengumumkan perceraian, termasuk karena alasan politik.  Mereka dikenal sebagai penganut Katolik yang taat, sehingga tidak mungkin seorang raja menyatakan perceraian.

Umberto di ruangan pribadi di pengasingan Portugal

Setahun sebelum meninggal dunia, Umberto II sempat bertemu dengan (almarhum) Paus Paulus Yohanes XII di Portugal

Selama di pengasingan, Umberto membangun harapan agar dalam suatu masa rakyat Italia akan memanggilnya kembali pulang ke tanah airnya untuk menduduki kembali tahta sebagai raja. Akan tetapi harapan itu semakin sirna menyusul tahun-tahun selanjutnya di pengasingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s