Pria yang Mendorong Washington Bekerja

Menyaksikan film dokumenter James Baker: The Man Who Made Washington Work
mengingatkan saya betapa seorang Presiden diwajibkan memiliki staf pendukung yang displin, efektif, dan memiliki kemampuan negosiasi yang handal. Film yang diproduksi oleh John Hesse Productions LLC ini menceritakan liku-liku kekuasaan, persuasi, dan diplomasi dalam tingkat pemerintahan tertinggi. Kasusnya memang di AS, akan tetapi saya kira secara manajemen bisa dibutuhkan dalam sistem pemerintahan apapun.

James Baker lahir di Houston, Texas, pada 28 April 1930. Sampai usia 40 tahun, ia merupakan pengacara praktik. Tetapi kedekatannya dengan George H.W. Bush (kelak Wakil Presiden, 1981-1988 dan Presiden AS, 1988-1992) menjadi jalan untuk melibatkan diri dalam kekuasaan. Bush memperkenalkan Baker kepada Presiden Gerald Ford yang segera menerima sebagai ketua kampanye kepresidenan (1976). Ford waktu itu akan berhadapan dengan Jimmy Carter. Dengan posisi itu, ketenaran Baker melesat bak meteor yang selanjutnya akan memberikan kepada dirinya peran sejarah yang menentukan.

Walaupun Ford gagal memenangkan jabatan Presiden, akan tetapi karier Baker tidak berhenti di situ. Pada musim kampanye kepresidenan 1981, Bush akhirnya rela mengundurkan diri sebagai kandidat Partai Republik, yang membuka jalan bagi Ronald Reagen untuk maju sebagai calon Presiden. Bush bersedia mendampingi sebagai Wakil Presiden.

President Reagan bercakap-cakap dengan Kepala Staf James Baker dan Senator Laxalt selama perawatan di George Washington Hospital, 4 Agustus 1981.

Dalam suasana rileks di Gedung Putih bersama Presiden, Wakil Presiden, dan anggota kabinet

Kisah Baker kembali terulang. Dengan saran Bush, Reagen menunjuk Baker sebagai ketua tim kampanye. Reagen semakin terpesona dengan kapasitas Baker yang disiplin dan cerdas. Reagen dilantik menjadi Presiden pada tahun 1981 dan Baker resmi ditunjuk menjadi Kepala Staf Gedung Putih.

Posisi kepala staf memberi peluang kepada Baker untuk segera memberikan pengaruh kepada Reagen. Ia terbukti menjadi konseptor handal untuk mewujudkan ambisi Reagen.  Baker mampu menjembatani komunikasi antara Reagen dengan Kongres yang dikendalikan oleh Partai Demokrat. Hingga sekarang ia dikenal sebagai “an effective presidential chief-of-staff.”

Kepala Staf James Baker bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri George Shultz, dan Presiden Reagen dalam rapat Dewan Keamanan Nasional

Bak pepatah, semakin tinggi pohon, makin kencang angin menggoncang. Dalam posisi itu, catatan kelam Baker sebagai bekas politisi Demokrat dibuka. Kedekatannya dengan Wakil Presiden Bush diungkap dengan harapan agar Reagen tidak mempercayainya. Kalangan penentangnya seperti Howard Phillip dan Clymer Wright bersatu mendorong Reagen untuk memecatnya. Mereka beranggapan Baker tidak akan mampu menyusun agenda-agenda yang disetujui kalangan konservatif. Tapi Reagen bergeming.

Ketika Reagen kembali terpilih sebagai Presiden pada tahun 1985, ia ditunjuk menjadi pembantu Reagen dalam posisi sebagai Menteri Keuangan.Reagen mempercayai integritas Baker dibandingkan menyetujui usulan agar Donald T. Regan, seorang bankir Myriil Linch untuk menjadi Menteri Keuangan.

Merayakan akhir kampanye kepresidenan tahun 1984 bersama-sama Presiden Reagen dan Nancy

Pemerintah menghadapi kecaman publik dan sikap permusuhan Kongres akibat anggaran federal yang mengalami defisit. Reagen sendiri secara ideologis memuja pasar bebas, gemar memberikan kelonggaran pajak, dan percaya kehandalan privatisasi. Tapi ia sosok yang pragmatis. Sebagai bekas aktor, Reagen tetap mampu membuat panggung bagi diri sendiri dengan bungkus pencitraan sebagai pemimpin yang bagus walau kinerjanya tidak segemerlap popularitasnya.

Reagen bersama anggota kabinet, termasuk Menteri Keuangan James Baker, 1984

James Baker selaku Menteri Keuangan didampingi Kepala Staf Donald Regan menghadap Presiden Reagen di Ruang Oval, 1985

Berbicara dengan Presiden Reagen bersama-sama Menteri Luar Negeri George Shultz tahun 1985

Tapi Reagen adalah presiden AS paling efektif sepanjang abad ke-20.  Baker menciptakan Plaza Accord dan Baker Plan dalam rangka menghadapi kreditor internasional pada September 1985. Di tengah keterbelahan dukungan Kongres terhadap pemerintahan, Menteri Baker terbukti berhasil meloloskan Undang-Undang Reformasi Pajak Tahun 1986.

Baker dibantu oleh birokrat handal seperti Richard Darman sebagai Wakil Menteri. Kelak, Darman akan menjadi Kepala Kantor Manajemen Anggaran, sebuah unit penting nonkabinet di Gedung Putih, pada masa kepresidenan Bush (1988-1992).

Ia membantu kampanye Wakil Presiden yang akan maju sebagai Presiden pada tahun 1988. Setelah kemenangan Bush, Baker ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri. Di sinilah kiprah Baker sebagai negosiator teruji.

Menteri Luar Negeri Baker (tengah), ketika mendampingi Presiden Bush berbicara dengan Perdana Menteri Margaret Thatcher (1991)

Sang Menteri Luar Negeri menjadi saksi banyak peristiwa global yang mempengaruhi geostrategi dunia. Ia menyaksikan runtuhya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Ia menjadi arsitek berpengaruh untuk mengakhiri perang dingin secara soft, dengan mendorong supaya Mikhail Gorbachev dan Eduard Shevardnadze berkontribusi kepada kestabilan Eropa Timur.

Menteri Luar Negeri Baker (kiri), mendampingi Presiden Bush (tengah) dan Duta Besar untuk Uni Soviet Robert Strauss dalam jumpa pers di Gedung Putih, 20 Agustus 1991

Menteri Luar Negeri Baker mengunjungi Kuwait, 1991

Presiden Bush (kiri), Menteri Luar Negeri Uni Soviet Eduard A. Shevardnadze (tengah), dan Menteri Luar Negeri James Baker, di Gedung Putih, 1991

 

Menteri Luar Negeri Uni Soviet Eduard Shevardnadze (duduk di depan kiri), Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev (berdiri di sebelah kiri), Presiden George H.W. Bush, dan Menteri Luar Negeri James Baker.

Berjalan bersama-sama Presiden Bush di Gedung Putih, pada 17 Mei 1992

Nostalgia dua pejabat yang bersahabat, 2011. Baker bersama Bush.

Baker harus mendukung ambisi Bush untuk menyelesaikan masalah Irak. Baker mampu secara tak terduga menggalang koalisi internasional untuk menyerbu Irak, ketika Saddam Hussein melakukan invasi terhadap Kuwait pada Agustus 1990.Ia melakukan perjalanan tak kurang 15 kali untuk membujuk negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB untuk menyetujui resolusi PBB guna menyerbu Irak. Hasilnya: 12 negara mendukung, 2 menolak, dan 1 abstain. Suriah, di bawah Presiden Hafidz Al Asad mengirimkan pasukan dan memihak Amerika.

Dilancarkan Operasi Badai Gurun (Desert Strom Operation) yang secara terbatas memaksa Irak keluar dari Kuwait. Di sini AS berhasi menyeret para sekutunya dalam sebuah perang regional yang kelak berdampak hingga hari ini, akan tetapi hasil dari komunikasi yang lebih baik. Ini juga ciri khas kepresidenan Bush. Presiden Bush mendekati urusan luar negeri dengan karakteristik konservatisme dan pragmatisme. Dia tidak terburu-buru mengambil tindakan baru atau perubahan kebijakan tetapi memberi dirinya waktu untuk mempertimbangkan kebijakan pemerintahan. Ketika ia bertindak, ia melakukannya dengan keyakinan  dan tekad yang kuat. Pengalaman masa lalu memberinya pengalaman yang signifikan di luar negeri, dan ia bergantung pada banyak kontak dalam komunitas internasional saat mengemban tugas sebagai duta besar untuk PBB, utusan AS ke Cina, Direktur CIA, dan Wakil Presiden.

Baker menjadi inisiator Konferensi Madrid yang untuk pertama kali dalam sejarah modern berhasil mempertemukan Israel dengan negara-negara Arab. Baker melakukan perjalanan dari Damaskus ke Yerussalem, kemudian dari Jeddah ke Kairo. Upaya diplomasi pencerahan yang mengandalkan banyak pertemuan tetapi bisa juga mendorong tidak terjadinya peran di kawasan Arab.

Tapi layaknya pembantu Presiden, Baker yang cakap dan diharapkan acapkali dikritik tidak memiliki visi. Baker tidak menunjukkan ketegasan dengan krisis politik di Myanmar yang mendorong penahanan terhadap pejuang prodemokrasi Aung San Syuki. Washington tidak tegas dalam mengecam Tiongkok sehubungan dengan tragedi Tiannamen. Kongres mengecam dan menuntut Washington menjatuhkan sanksi yang lebih keras kepada Beijing. Tetapi Bush menolak bertindak radikal. Ia mengirimkan utusan untuk membicarakan masalah itu sembari memastikan bahwa hubungan kedua negara tidak rusak.

Baker gagal mengantisipasi dinamika Eropa Tengah yang memicu konflik semenanjung Balkan dan mendorong Yugoslavia pecah menjadi negara-negara yang lebih kecil. Baker gagal membaca bahwa tidak selamanya otokrot akan mampu menjamin ketersediaan energi di Timur Tengah.

Baker memang sosok pintar walau tidak sempurna. Ia efektif memainkan peran. Ia menjadi pria yang mendorong Washington untuk bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s