Presiden yang Gemar Menyuap dan Menekan Media

Jatuhnya Marcos menandai dimulainya ledakan media. Media berperan dalam menggulingkan Marcos, melalui pers bawah tanah, sehingga selanjutnya dijamin bahwa media akan memainkan peran utama dalam masyarakat di era pasca-kediktatoran. Media menjadi bebas dan kuat melalui konstitusi baru yang menyatakan, berdasarkan Pasal IV, Bagian 4 dari Bill of Rights bahwa: ” Tidak ada undang0-undang yang disahkan untuk membungkam kebebasan berbicara, berekspresi, atau pers.”

Sejak itu Media tidak langsung diawasi dan dibatasi oleh pemerintah, dan karena Media dapat melaporkan apa yang diinginkan, maka Media mampu memiliki paparan yang mendorong investigasi terhadap perbuatan keliru dari pemerintah dan pejabat publik, dan informasi yang mengangkat kesadaran publik tentang isu-isu tertentu dalam sudut pandang yang berbeda.

Selama pemerintahan Joseph Estrada (1998-2001), Media harus menghadapi beberapa kendala. Meskipun tidak seperti pada masa Marcos di mana ada pengawasan dan sensor pemerintah langsung, Estrada menggunakan berbagai jenis taktik seperti mencaci-maki wartawan surat kabar, mengajukan gugatan pencemaran nama baik, atau melakukan pemerasan terhadap pemilik media tersebut.

“Baik pada masa pemerintahan Presiden Aquino (1986-1992) maupun Fidel Ramos (1992-1998), mereka tidak mengeksploitasi kerentanan pemilik media. Tapi Estrada, marah kalau ada media yang memuat laporan negatif, membuat rasa tidak senangnya diketahui pemilik media dan tidak menolak saat dilakukan pemerasan pada mereka.” (Coronel, 2001).

Taktik lain yang digunakan oleh Estrada adalah penyuapan wartawan untuk memastikan dimuatnya berita yang menguntungkan. Harus dicatat bahwa jurnalisme “amplop” sudah ada bahkan sejak sebelum pemerintahan Estrada, tetapi kemudian meningkat dan menjadi fenomena baru. Semua taktik yang digunakan oleh Estrada itu membuka mata kita ke dalam realitas bahwa meskipun ada jaminan perlindungan konstitusi dan kebebeasan berekspresi, namun tantangan Media tidaklah berkurang.

Mirip dengan kasus Marcos, publik, terutama mereka yang menentang Estrada, menemukan cara untuk mengekspos kesalahannya sang Presiden dan pemerintahannya. Ini dimulai didorong kehadiran teknologi baru Media di mana orang beralih menggunakan jaringan Internet dan SMS dalam menyampaikan informasi dan lelucon yang berkaitan dengan Estrada.

Publik yang lagi-lagi lapar informasi nyata menuntut fakta pemberitaan mengenai Estrada dari media mainstream. Akan tetapi, Media mainstream tidak bisa lagi mengabaikan tuduhan yang dibuat untuk Estrada karena banyak hal. Pertama, mereka mempertaruhkan kemungkinan kehilangan khalayak pembaca jika mengabaikan tuntutan publik. Selanjutnya, wartawan sendiri harus instropeksi apakah keuntungan individu yang telah mereka dapatkan berupa hadiah dari Presiden lebih berharga dibandingkan kelangsungan hidup organisasi berita mereka.

Faktor ketakutan yang diwujudkan oleh pemerintahan Estrada memudar karena fakta bahwa pada bulan November 2000, mulai terlihat jelas jika Estrada terancam kehilangan kepresidenannya. Ketika sidang impeachment dimulai pada Desember 2000, sidang ditayangkan oleh TV, dan menjadi informasi publik yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat ingin tahu apa yang terjadi, sehingga rakyat Filipina melihat persidangan hampir sepanjang waktu, dengan mata terpaku pada layar TV, atau menghabiskan hari-hari mereka dengan memantau persidangan yang disiarkan oleh radio.

Pada tanggal 16 Januari 2001, mayoritas senator memutuskan menundang pemeriksaan terhadap Estrada. Karena telah ditayangkan di media mainstream, seluruh negeri tahu apa yang terjadi, dan ini mendorong kemarahan rakyat. Dalam beberapa jam setelah pengadilan ditunda, ribuan orang berkumpul dan menggelar kasi massa yang berisi protes terhadap keputusan Senat. Selama 4 hari berjalannya aksi massa ini, kemudian berujung dengan jatuhnya Estrada.

Media alternatif melalui penggunaan Internet dan SMS telah memainkan peran sentral dalam aksi massa tersebut. Selama aksi berlangsung, masyarakat Filipina terus mengirim e-mail dan pesan satu sama lain, mengundang dan mengajak setiap orang untuk bergabung dengan demonstrasi itu. Keadaan ini menunjukkan kepada kita bahwa praktik intimidasi dan korupsi tidak semua efektif dalam membungkam Media. Akan selalu datang saat rakyat sendiri akan menuntut untuk mengetahui kebenaran, dan tidak ada kendala untuk menghentikan Media dalam menyusun berita factual.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s