Presiden yang Bunuh Diri Karena Korupsi

“Saya sudah mengecewakan rakyat. Saya telah menyebabkan suatu beban besar yang harus mereka tanggung. Saya tidak kuat lagi untuk menjalani kehidupan dengan penderitaan yang begitu besar. Sisa hidup saya ternyata tidak berguna bagi orang lain. Saya tidak dapat berbuat apa-apa karena kesehatan saya yang memburuk. Janganlah terlalu sedih. Bukankah hidup dan mati merupakan bagian dari takdir? Janganlah menyesal. Janganlah menaruh dendam kepada siapapun. Semua sudah menjadi takdir. Bakarlah jazad saya. Tinggalkan sebuah batu nisan kecil di dekat rumah saya. Sudah lama saya memikirkan semua ini.”

Kwon Yang-sook, isteri Roh Moo-hyun, di tempat persemayaman jenazah

Bekas Perdana Menteri Han Myung-suk memegang potret mendiang Presiden Roh Moo-hyun

Iring-iringan pemakaman bekas Presiden Roh Moo-hyun (2009)

Kalimat di atas adalah tulisan yang terakhir kali dari Roh Moo-Hyun, Presiden Korea Selatan yang ke-9 (memangku jabatan pada tahun 2003-2008) yang ditemukan kepolisian setelah ia tewas bunuh diri dengan terjun dari tebing setinggi 45 meter, 23 Mei 2009. Saat ditemukan, tubuhnya penuh luka dan dengan sebuah mobil, ia dilarikan ke Seyoung Hospital, namun kemudian dipindahkan ke Busan Hospital University, namun nyawanya tidak tertolong lagi.

Perdana Menteri Jepang (ketika itu) Junichiro Koizumi seringkali berbeda pandangan politik dan bukan teman dekat Roh Moo-hyun, akan tetapi menyempatkan diri untuk melayat saat kematian bekas Presiden Korea Selatan itu

Presiden Lee Myung bak (penggantinya, terpilih 2008), begitu sedih dengan kejadian itu. Menteri Kehakiman Kyung-han mengatakan bahwa kasus yang dituduhkan kepada mantan Presiden itu secara resmi ditutup. Namun demikian, menteri tidak menerangkan lebih lanjut apakah keluarga bekas Presiden itu akan tetap menjalani penyelidikan.

Kematian Roh kemudian diikuti dengan bunuh diri sejumlah elit politik yang sedang menghalami tuduhan korupsi dalam tahun-tahun tersebut, termasuk bekas Sekretaris Perdana Menteri, Kim Young-chul; bekas Walikota Busan (yang tewas bunuh diri di kamar tahanan), bekas Gubernur Jeolla, dan bekas eksekutif Hyundai, Chung Mong-hun.

Jurang di mana bekas Presiden Roh Moo-hyun melakukan bunuh diri

Kematian bekas Presiden Roh memang berkaitan dengan tuduhan suap yang menimpa dirinya. Pada tanggal 4 Desember 2008, kakak kandungnya, Gun-Pyeong, terindikasi menerima suap sebesar 30 juta won dari bekas pemimpin Daewoo Engineering & Construction, dan aparat kejaksaan telah menjebloskannya ke balik jeruji besi.

Pada tanggal 7 April 2009, Chung Sang-Moon, bekas sekretaris Roh, ditahan dengan tuduhan melakukan terlibat korupsi bersama-sama keluarga Roh dana ajudannya, karena pengaruh dari kakak kandung Roh tadi. Sekalipun penyelidikan kasus korupsi berhenti pada Chung Sang-Moon, namun Roh membuat pernyataan mengejutkan di dalam situs nya bahwa “segala tuduhan korupsi itu sesungguhnya diarahkan kepada keluarganya, tak sebatas Chung. Keluarga kami seolah-olah sudah meminta, menerima, dan menggunakan uang suap itu.” Pada saat yang sama, Roh juga mengatakan bahwa dirinya sendiri sama sekali tidak pernah tahu penerimaan suap itu dan baru mengetahuinya setelah berhenti sebagai Presiden.

Pada Mei 2009, Roh bersama-sama dengan anak dan isterinya, diperiksa kejaksaan atas  tuduhan menerima suap sebesar 6 juta dolar dari Park Yeon-Cha, seorang pengusaha yang dekat dengan Roh.  Roh sebelumnya menyerahkan suatu pernyataan tertulis kepada kejaksaan, sebelum pemeriksaan tersebut, dan kemudian membuat pernyataan meminta maaf kepada rakyatnya dan berujar, “dia kewalahan dengan peristiwa memalukan itu.”

Rho Moo Hyun, ketika akan ke Seoul dalam rangka pemeriksaan oleh kejaksaan karena persangkaan korupsi, 30 April 2009

Pemeriksaan terhadap diri Roh telah mengecewakan pendukungnya, karena dia sendiri pernah berkampanye untuk “menciptakan lembaga kepresidenan yang bersih”, dan mengumbar janji memberantas korupsi, sebagai bukti bahwa dia mengutuk korupsi.

Di dalam suatu pidato untuk memperingati 20 tahun “Perjuangan Juni” untuk mengupayakan demokrasi, Roh dengan suara keras menyerang para pengritiknya yang menggambarkan ketidakmampuannya mengatasi korupsi, dengan mengatakan,” Mereka bahkan sudah menyepakati suatu retorika absurd, bahwa pemerintah kini terjebak dalam korupsi, sembari dengan janggal menutupi perilaku korup dan kedikatatoran di masa lalu. Lebih-lebih dengan bungkus demokrasi yang janggal juga, guna melahirkan semangat nostalgia menuju kembalinya pemerintahan yang diktator.”

Roh dilahirkan pada 1 September 1946 dari kalangan keluarga miskin di Bongha, sebelah timur laut Korea Selatan.  Dia mengenyam pendidikan tinggi, tetapi seringkali membolos hanya untuk membantu orang tuanya. Roh kemudian tertarik belajar hukum, karena pengaruh kakak kandungnya, yang kemudian tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Roh lulus ujian sarjana hukum pada 1975, dan dua tahun berikutnya dia meiti karir sebagai hakim di Daejeon, tetapi mengundurkan diri dan menjadi pengacara pada 1978.

Dia terlibat dalam pergerakan masyarakat sipil untuk demokrasi sejak 1985 dan kemudian bergabung dalam sebuah peristiwa “Perjuangan Juni” yang memprotes kediktatoran Presiden Chun Doo-wan. Dia pernah dijebloskan ke penjara dengan alasan terlibat dalam pembunuhan seorang pekerja Daewoo, Lee Seok-Kyu, yang sebenarnya tewas karena tindakan represif kepolisian. Tetapi ia kemudian dibebaskan 20 hari kemudian.

Pada tahun 2000, ia mencoba peruntungan untuk menjadi anggota Parlemen namun gagal. Di tahun itu juga, ia ditunjuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan oleh Presiden Kim Dae-jung, dan posisinya ini amat mempengaruhi pengalamannya di pemerintahan.  Pada tanggl 19 Desember 2002, Roh memenangkan pemilu Presiden dengan mengalahkan Lee-Hoi Chang dengan selisih tipis, hanya 2%.

Roh Moo-hyun, bersama-sama isterinya, Kwon Yang-sook, merayakan kemenangan usai ditetapkan sebagai Presiden pada 20 Desember 2002

Saat kampanye kepresidenan, 2003

Saat serah terima jabatan dengan penggaantinya, Lee Myung-Bak

Kemenangan itu terus menerus dipersoalkan oleh kalangan oposisi sehingga pada 12 Maret 2004, Majelis Nasional memutuskan untuk melakukan pemecatan (<em>impeachment</em>) dengan tuduhan kecurangan pemilu. Dengan dukungan suara 193-2, Majelis Nasional menyetujui usul pemecatan itu, dan kemudian memberhentikan untuk sementara Roh dari jabatan Presiden sambil menunggu pendapat dari Mahkamah Konstitusi. Untuk sementara waktu, Perdana Menteri Goh Kun menjalankan tugas sebagai pemangku jabatan sementara Presiden.

Upaya Majelis Nasional itu memperoleh tentangan keras dari masyarakat. Sepanjang 12 Maret-27 Maret 2004, meletus aksi massa yang menurut pihak kepolisian melibatkan tak kurang dari 50.000 orang. Meskipun popularitas Roh anjlok hingga 30%. Upaya impeachment itu sendiri kemudian melahirkan usaha untuk reformasi politik, dan setelah pemilu April 2004, partai Roh, Unity Party, menguasai mayoritas parlemen.

Para pendukung President Roh Moo-hyun menangis saat Parlemen memberikan dukungan untuk proses impeachment

Pada tanggal 14 Mei 2004, Mahkamah Konsttiusi menolak upaya pemecataan oleh Majelis Nasional dan posisi Roh sebagai Presiden dipulihkan kembali.

Saat mengadakan kunjungan ke India, 25 Oktober 2004

Roh Moo-hyun, saat melakukan kunjungan resmi ke Yunani, tengah melakukan pemeriksaan pasukan pengamanan kepresidenan, 4 September 2006

Demikianlah karir politik Roh yang penuh warna sampai tuduhan korupsi pun hinggap padanya. Dan kematian yang mengenaskan di tengah usaha menyelidiki keterlibatannya dalam korupsi, telah membawa penilaian bahwa dirinya hanya membawa beban bagi masyarakat. Sekalipun belum terbukti, pemikiran Roh mencerminkan kesadaran betapa jabatan Presiden membawa konsekuensi berat, sekalipun sudah tidak lagi digenggamnya. Dan Roh pun bunuh diri, saat sebagai Presiden ia dituduh korupsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s