Presiden Sukses yang Menyembunyikan Penyakitnya

“Tidak hanya de Gaulle yang membuat sejarah untuk Prancis,” kata Francois Mitterand, politisi, negarawan, dan Presiden Prancis (1981-1995). Kita tahu, de Gaulle adalah Presiden Prancis pertama dalam masa Republik V (1958-1969). Purnawirawan militer ini adalah politisi Prancis yang sukses mendesain “hybrid system” sebagai desain konstitusi yang mulai berlaku 1958 dan menstabilkan pemerintahan hingga sekarang. Sistem di Prancis sendiri sangat unik, karena mencoba menerapkan aspek terbaik dari sistem yang berjalan di Amerika Serikat (presiden dipilih langsung, pemisahan antara parlemen-eksekutif) dan Inggris (loyalitas dukungan partai untuk esekutif, perdana menteri yang menjalankan pemerintahan tetapi bertanggung jawab kepada Presiden).

Tidak jelas maksud Miterrand itu, yang jelas sekalipun dia tidak mengakui, ia sendiri layak dicatat sebagai salah satu politisi Prancis yang fenomenal, sosok Presiden yang berkuasa di Prancis—yang juga terkuat di daratan Eropa—dan dikenal sangat “French style.” Selama 14 tahun menjabat Presiden ia menjadi ikon politisi konservatif yang memberi warna tersendiri dan juga di Eropa. Ia menyenangi Amerika, tetapi tidak menyetujui banyak kebijakan negara adikuasa itu.

Mitterand lahir di Jannac, Prancis, pada tanggal 26 Oktober 1916. Dia menekuni ilmu hukum dan politik di University of Paris.  Dalam masa Perang Dunia II (1939-1945), ia bergabung sebagai militer Prancis, namun kemudian mengundurkan diri. Selanjutnya, ia terus menerus menjadi anggota Majelis Nasional sejak tahun 1946.

Pada tahun 1948, Mitterand menghadiri sebuah konferensi di Den Haag, Belanda, dan kemudian bertemu dengan tokoh-tokoh Eropa lain seperti Kanselir Jerman Konrad Adeneuer dan Perdana Menteri Inggris Wiston Churchil. Mitterand menjadi Menteri Seberang Lautan (1950-1951), yang kemudian mengikuti kelompok kiri yang mengundurkan diri kabinet karena tidak setuju dengan usul reformasi kolonisasi menyusul penahanan Sultan Maroko (1953). Pada bulan Juni 1953, Mitterand menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II di Inggris. Mitterand kembali menjadi anggota kabinet saat bergabung dengan pemerintahan Perdana Menteri Pierre Mendes sebagai Menteri Dalam Negeri (1954-1955). Dalam posisi itu ia mengecam rencana pemberian kemerdekaan untuk Aljzair. Setelah pemilu tahun 1956, Mitterand ditunjuk menjadi Menteri Kehakiman (1956-1957), yang bertanggung jawab karena menerapkan hukum darurat di Aljazair. Sepanjang karier politiknya dalam dekade ini, ia menunjukkan ambisinya sebagai politikus muda dan diramalkan menjadi Perdana Menteri di masa depan.

Mitterand dikenal menentang agenda reformasi politik Jenderal de Gaulle untuk menyusun konstitusi baru sebagai fondasi Republik V dan menyebabkan ia terlempar dari kursi parlemen (1958). Selanjutnya dia bekerja keras mempersatukan politisi kiri di Prancis dan menjadi Sekretaris Jenderal Partai Sosialis (1971).

Untuk pertama kali, Mitterand kemudian terpilih sebagai Presiden Prancis untuk masa jabatan 7 tahun (1981-1988). Dalam masa bakti yang pertama ini, Mitterand mengalami badai politik yang berliku-liku, tetapi berhasil menciptakan situasi  politik yang dikenal sebagai “Machiavellian Republic.”Masa ini merupakan perjalanan panjang Mitterand untuk mencapai harapan-harapan politiknya. Pada masa ini, harapan kaum intelektual Prancis mengenai sistem sosialis menjadi terkonfirmasi, karena Mitterand secara konsekuen menjalankan agenda aksi yang menyokong sistem ini. Dalam kurun waktu 1981-1984, tiga kabinet, yang semua dipimpin oleh Perdana Menteri Pierre Mauroy, menjalankan rencana ambisius partai sosialis setelah dilaksanakannya perjanjian dengan Perdana Menteri Inggris Clement Attle  dengan Inggris di akhir Perang Dunia II. Mitterand menjalankan aksi ekonomi yang radikal, sejumlah perusahaan yang strategis diambil oleh negara. Dengan adanya krisis 2 tahun sesudahnya, ia menghentikan program itu. Sebagian rencana tersebut gagal dan ada pula yang berhasil, tetapi memberikan hikmah kepada Partai Sosialis, bahwa mereka tidak membekukan ideologi, tetapi harus menyadari dengan realitas-realitas dunia baru saat itu. Mitterand kemudian menunjuk politikus muda Laurent Fabius sebagai Perdana Menteri (1984-1986).

Suatu titik balik dari pemikiran kaum sosialis bahkan mengalami masa yang tak mungkin dibalikkan lagi justru sebelum Gorbachev memegang tampuk kekuasaan di Uni Soviet pada tahun 1985. Pengaruh Partai Komunis di Prancis memudar, dan kemudian bergabung ke dalam Partai Sosialis. Gabungan wajah baru ini menghasilkan aliran sosialis yang moderat seperti yang ditempu oleh Partai Buruh di Inggris dan Partai Sosialis Demokrat di Jerman. Sekalipun kesuksesan ubah halauan ini menjadi masalah bagi Mitterand dan Partai Sosialis, namun pembaruan itu dapat berjalan dengan baik, sejak dipikirkan di akhir tahun 1960-an dan puncaknya adalah saat disampaikan dalam Konferensi Internasional Komunisme (1972). Mitterand dengan gaya yang khas berhasil meyakinkan bahwa cara bekerja Partai Komunis haruslah sesuai dengan teori Machiavelli namun digunakan pada saat yang tepat dan untuk tujuan-tujuan yang bersifat demokratis. Pada akhirnya, Partai Komunis meninggalkan pemerintahan Mitterand pada tahun 1984 dengan pengunduran diri 4 personilnya.

Selama menjabat Presiden, Mitterand tak menepati janjinya untuk mengembalikan kejayaan sistem parlementer, hal yang ditentangnya dari pikiran Jenderal de Gaulle. Bahkan sejak awal kampanye, nampaknya Miterrand tak ragu-ragu untuk menggunakan mantel yang menunjukkan dukungannya kepada gaya kepresidenan de Gaulle, terutama dalam membangun kebijakan politik luar negeri.

Integrasi Eropa juga merupakan hal yang tidak bisa diubah balik dari komitmen Mitterand dalam masa kepresidenannya. Mitterand berhasil mengarahkan kalangan politisi kiri di Prancis untuk sejajar dengan kalangan konservatif dalam rangkaian kerjasama erat dengan Jerman untuk menentukan masa depan Eropa. Mitterand tak segan untuk mencontek gaya pendahulu yang dikritiknya, de Gaulle, yang sejak akhir  1960-an getol menyuarakan suatu forum intergovernmental guna memperjuangkan prinsip “Eropa untuk masyarakat Eropa.” Mitterand beranjak dari kepentingan nasional Prancis, yang dengan globaliasi, selesainya Perang Dingin, kepentingan tersebut akan tersalurkan dalam format eksistensi yang lebih luas di Eropa, menuju suatu komitmen supranasionalisme dan federalisme. Mitterand berhasil mempengaruhi opini masyarakat untuk mengakhiri debat mengenai bagaimana peran itu dijalankan dan memberikan kesan gaya baru dari halauan politik ortodok.

Sebelum masa jabatan yang pertama diselesaikan, Mitterand menghadapi kenyataan bahwa Parlemen dimenangkan oleh Partai Konservatif. Dia terpaksa menjalankan politik kohabitasi, dengan menunjuk pemuka konservatif Jaqcues Chirac sebagai Perdana Menteri (1986-1988). Dalam masa jabatan yang kedua (1988-1995), Mitterand menghadapi kenyataan dunia yang baru seperti bersatunya Jerman, jatuhnya komunisme, bubarnya Uni Soviet, kekacuan di bekas Yugoslavia, Maastricht Treaty yang membawa Eropa ke panggung baru. Bagi Mitterand, tak ada satu pun kalangan Eropa dan Amerika yang secara tunggal mampu memimpin perubahan-perubahan tersebut. Pada awalnya, Mitterand menunjuk Michel Rocard sebagai Perdana Menteri (1988-1991), lalu untuk pertama kali menunjuk politisi perempuan, Edith Cresson menjadi Perdana Menteri (1991-1992) dan diteruskan oleh Pierre Beregovoy (1992-1993). Sekali lagi, Mitternad menjalankan politik kohabitasi, karena Parlemen kembali dikuasai kalangan konservatif, dengan menunjuk Eddouar Balladur sebagai Perdana Menteri (1993-1995).

Hampir 3 tahun menjalani masa kepresidenan kedua, Mitterand kemudian mengalami penyakit kanker prostat. Hal yang mengherankan, penyakit ini sebenarnya sudah didiagnosis pada tahun 1981, tetapi Mitterand menyuruh dokter dan penasehat terdekatnya untuk menyimpan hal itu sebagai rahasia. Padahal sebelumnya, Mitterand selalu berjanji untuk terbuka kepada publik mengenai masalah kesehatannya.

Pencapaian dan kegagalan Mitterand selama masa bakti kepresidenannya akan selalu menjadi perdebatan, sebagai suatu hal lain dalam perkembangan politik dalam 40 tahun terakhir (sejak 1958). Tidak ada dalam perkembangan selanjutnya, Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dapat menjalankan tugas secara stabil dalam jangka waktu yang begitu lama, sesuatu yang tidak biasa dalam tradisi politik di Prancis. Sejak masa de Gaulle hingga Mitterand, nampaknya akan selalu dikenang adanya kebutuhan relasi antara jabatan dengan kemampuan orang untuk memegang jabatan itu.

Mitterand merupakan tokoh terkemuka Partai Sosialis dan politisi kiri yang pertama kali menjadi Presiden sesudah Konstitusi 1958. Mitterand meninggal dunia pada tanggal 9 Januari 1996.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s