Perempuan Hakim Agung Indonesia

Buku sejarah Mahkamah Agung dan disertasi Sebastian Pompe menceritakan, hakim agung perempuan pertama yang diangkat adalah Sri Widoyati Wiratmo Soekito. Ia diangkat ketika kekuasaan pemerintahan beralih dari Soekarno ke tangan Soeharto, persisnya tahun 1968. Sejak era Sri Widoyati, jumlah perempuan yang menduduki kursi hakim agung terus bertambah. Pompe, dalam bukunya The Indonesian Supreme Court: a Study of Institutional Collapse (Cornel University, 2005) mencatat, seorang hakim agung perempuan diangkat lagi pada 1974. Delapan tahun kemudian, jumlah hakim agung perempuan menjadi sembilan orang. Pada 1992 dan 1994 jumlahnya tetap, 8 orang (18,60 %).
Indonesia patut berbangga. Sebab, ini menunjukkan pengakuan dan penghargaan terhadap kapabilitas perempuan meskipun Indonesia baru berusia puluhan tahun kala itu. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mengagung-agungkan isu kesetaraan. Negara ini baru memiliki hakim agung perempuan pertama pada 1981. Presiden Ronald Reagan mengangkat Sandra Day O’Connors sebagai satu dari sembilan hakim agung federal. Sandra sendiri sudah mengundurkan diri pada 2005 yang lalu.
Kiprah Sri Widoyati Wiratmo Soekito di Mahkamah Agung ikut mendorong kaum perempuan memasuki dunia peradilan yang selama puluhan tahun didominasi kaum pria. Meski digambarkan sebagai perempuan yang berperawakan kecil, Pompe memuji reputasi integritas perempuan kelahiran 20 September 1930 itu sebagai hakim agung. “Her reputation for integrity was so strong,” puji Pompe dalam bukunya.
Salah satu karyanya, Anak dan Wanita dalam Hukum, diterbitkan LP3ES. Sri Widoyati memang digambarkan sangat peduli dan ikut memperjuangkan hak-hak perempuan dalam penyusunan RUU Perkawinan. Ia meninggal di Houston Amerika Serikat setelah bergelut dengan kanker kandungan stadium empat.
Hakim agung perempuan berikutnya baru diangkat pada 1981. Tidak tanggung-tanggung, Mahkamah Agung mendapatkan tujuh srikandi baru yaitu Hj. Martina Notowidagdo, Hj. Poerbowati Djokosoedomo, Siti Rosma Achmad, Djoewarini, Dora Sasongko Kartono, Karlinah Palmini Achmad Soebroto, Siti Tanadjoel Tarki Soedardjono. Hakim agung Poerbowati digambarkan Pompe sebagai hakim yang selalu menutup pintu ruangannya buat tamu karena khawatir sang tamu memberikan hadiah yang mempengaruhi tanggung jawabnya sebagai hakim. Ia tak kenal kompromi ketika menjalankan tugas mengawasi hakim-hakim di Jakarta.
Hakim agung Hj Martina Notowidadgo adalah seorang penyayang binatang. Ia pernah menulis surat pembaca di majalah Tempo memprotes Pondok Pengayom Satwa atas kematian empat ekor kucing yang dititipkan. “Sebagai makhluk hidup, kucing juga berhak merasakan kehidupan yang layak seperti manusia,” tulisnya dalam surat pembaca itu.
Selanjutnya, kita mengenal nama-nama hakim agung perempuan yang meneruskan kiprah Sri Widoyati. Antara lain Retnowulan Sutantio, T.S. Aslamiah Sulaiman, H.L. Rukmini, Hj. Mursiah Bustaman, A.A. Ayu Mirah, Asma Samik Ibrahim, dan Mariana Sutadi.
Komposisi hakim agung perempuan juga mewakili potret keanekaragaman bangsa Indonesia. Dora Sasongko dan Retnowulan adalah dua hakim agung yang punya trah keturunan Tionghoa. Ayu Mirah adalah perempuan keturunan Bali, sedangkan Mariana Sutadi berlatar belakang Mandailing dan bersuamikan orang Sunda. Mereka masuk ke Mahkamah Agung bukan karena latar belakang etnografis itu, melainkan karena dianggap layak dan capable saat itu.
Setelah reformasi bergulir, kursi hakim agung juga diisi sejumlah perempuan, baik yang berasal dari jalur karir maupun non karir. Dari jalur karir tercatat nama Hj. Emin Aminah Achadiat, Hj. Marnis Kahar, Supraptini Sutarto, Chairani A. Wani, Edith Dumasi Tobing Nababan, Titi Nurmala Siagian, Susanti Adi Nugroho, dan –pembina upacara Hari Ibu 2010 tadi—Marina Sidabutar. Dari kalangan perguruan tinggi ada nama Guru Besar Universitas Indonesia Valerine J.L. Kriekhoff, Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung Mieke Komar Kantaatmadja dan Komariah Emong Sapardjaja, serta Guru Besar Universitas Sumatera Utara Medan Hj. Rehngena Purba. Mereka diangkat dalam rentang waktu seleksi tahun 2000 hingga 2007. Hakim agung perempuan terakhir yang masuk adalah Sri Murwahyuni (2010).
Di belakang para hakim agung itu, kini muncul generasi hakim banding dan hakim tingkat pertama. Laporan Mahkamah Agung 2009 mencatat jumlah hakim di seluruh Indonesia dari empat lingkungan peradilan mencapai 7.390 orang. Yang paling banyak bertugas di peradilan umum (2.749 orang). Jumlah hakim perempuan di lingkungan ini mencapai 842 orang (25,6 %). Menyusul Pengadilan Agama, dari 2.733 hakim sebanyak 683 (20 %) diantaranya adalah perempuan. Tetapi dari sisi prosentase, yang paling besar (26 %) adalah di Pengadilan Tata Usaha Negara. Dari 210 hakim, 75 orang adalah perempuan. Di Pengadilan Militer, terdapat 15 hakim perempuan dari 82 total hakim.
Para hakim agung perempuan telah menorehkan catatan sejarah mereka selama bertugas di Mahkamah Agung. Mariana Sutadi adalah perempuan hakim agung yang pernah menduduki jabatan tertinggi. Sebelum pensiun dan ditugaskan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Rumania, Mariana menduduki jabatan Wakil Ketua Mahkamah Agung. Sejarah juga mencatat dua hakim agung –Marnis Kahar dan Supraptini Sutarto—pernah diadili di PN Jakarta Pusat untuk suatu pekara yang akhirnya tak terbukti.
Sejarah dan dinamika kerja para hakim agung itu, tak mengurangi nilai perjuangan mereka ke generasi-generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s