Para Wakil Presiden

Dalam menjalankan kewajibannya, Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Demikian bunyi ketentuan Pasal 4 ayat (2) UUD 1945. Apa saja yang menjadi lingkup “bantuan” Wakil Presiden kepada Presiden? Konstitusi tidak menjelaskannya.

Presiden Soekarno didampingi oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta (1945-1949, lalu 1950-1956). Keduanya tokoh nasional, proklamator, dan saling mengagumi satu sama lain, walau di sisi lain juga saling mengkritik dan tidak akur dalam masalah politik. Tetapi posisi psikologis historis keduanya tidak tergantikan.

Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden tahun 1956 dan sampai kekuasaannya berakhir di tahun 1967, Soekarno tidak berminat mencari penggantinya, karena ia memandang hanya Hatta yang duduk dalam jabatan itu.

Soeharto memegang kekuasaan 32 tahun. Hampir 5 tahun (1968-1973), atas restu MPR, jabatan Wakil Presiden sengaja kosong. Soeharto percaya kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjalankan pemerintahan manakala ia pergi ke luar negeri. Soeharto pula yang menginginkan Sri Sultan menjadi Wakil Presiden (1973-1978) walau tidak pernah memberikan peran substantif.

Soeharto didampingi oleh Adam Malik (1978-1983), Umar Wirahadikusumah (1983-1988), Sudharmono (1988-1993), dan Tri Sutrisno (1993-1998); semua bekas pembantu dekatnya dan peran Wakil Presiden tetap tidak nampak. Soeharto yang membuat sejarah dan para wakil itu menjadi catatan sejarah.

Ketika terpilih di tengah krisis pada 1998, Soeharto–yang sejak lama menginginkan dengan dukungan ibu negara alm Tien Soeharto–sengaja memilih Habibie yang sudah 25 tahun sebelumnya menjadi menteri dan sejak 1950-an dekat secara pribadi sebagai Wakil Presiden. Di atas kertas Wakil Presiden ada penugasan khusus, sebuah tradisi ketatanegaraan baru, di mana sang wakil diminta untuk mengurusi ilmu pengetahuan dan teknologi serta diplomasi global. Sayang kekuasaan Soeharto runtuh 90 hari kemudian dan Habibie memperoleh kesempatan utnuk menjadi Presiden (1998-1999).

Hingga reformasi, posisi Wakil Presiden tidak ditinjau pengaturannya, walaupun telah 4 kali perubahan UUD. Abdurrahman Wahid dan Megawati menjadi Presiden dan Wakil Presiden hasil “kawin paksa” proses politik di MPR dengan cara yang mewarisi tradisi Orde Baru.

Presiden Wahid tak bertahan lama dan hanya 2 tahun (1999-2001) memerintah untuk kemudian digantikan Megawati (2001-2004) didampingi politisi senior Hamzah Haz. Megawati melalui partai PDI-P mendukung perubahan UUD 1945, sehingga ada pemilihan presiden langsung.

Presiden S.B. Yudhoyono menjadi presiden hasil pemilihan langsung dan satu-satunya Presiden yang berkuasa paling lama usai reformasi (2004-2014). Pada periode pertama, didampingi saudagar dari Makassar M. Jusuf Kalla yang segera memperoleh julukan “the real president” karena tingkah lakunya yang dianggap lincah dan cepat mengambil keputusan. Dalam periode kedua, profesor ekonomi UGM, Boediono, yang sebelumnya menjadi pembantu Yudhoyono menjadi Wakil Presiden. Boediono melanjutkan sikap kalem dan tidak banyak bicara kepada publik.

Apa sebenarnya tugas Wakil Presiden? Di AS, hampir sama pengaturnanya di Indonesia bahwa ia menjadi pembantu Presiden dan dipilih dalam satu pasangan langsung. Resminya ia secara ex officio menjadi Ketua Senat tetapi hanya memimpin rapat dan tidak boleh memberikan suara, kecuali jika keputusan mengalami kebuntuan. Maka, posisi Wakil Presiden di AS lebih sebagai ban serep, pembantu Presiden yang menjadi catatan sejarah dan mungkin segera dilupakan begitu keluar dari Gedung Putih.

John Adams adalah Wakil Presiden pertama yang membantu 2 periode kepemimpinan Jenderal Washington (1789-1797). Ia merupakan diplomat dan pengacara ambisius dari Massachusetts yang sejak awal bersaing dengan sang jenderal menjadi orang nomor satu di pemerintahan tetapi selalu kandas. Kala itu, Presiden dan Wakil Presiden tidak dipilih dalam satu pasangan. Dalam posisi Wakil Presiden, Washington tidak pernah berkonsultasi dengan Adams. Sang Wakil tidak pernah diundang dalam rapat kabinet. Adams tidak menyukai posisi ini, walaupun sejarah negeri Paman Sam mencatatnya sebagai Wakil Presiden pertama.

Wakil Presiden Aaron Burr terlibat duel dengan Alexander Hamilton yang kemudian mengakhiri karir politiknya

Sesudah Amandemen ke-12 Konstitusi, maka Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung. Sebelum perubahan ini ditetapkan pada 1804, Presiden Jefferson ((1801–1805) yang menggeser Adams terjebak dengan terpilihnya politisi yang tidak disukainya, Aaron Burr sebagai Wakil Presiden. Burr politisi dan pengacara cemerlang, yang pernah menjadi anggota parlemen New York (1784–1785, 1798–1799), Jaksa Agung New York (1789–1791), Senator (1791–1797). Selama  menjadi Ketua Senat, ia memimpin impeachment pertama kali dalam sejarah AS untuk memecat hakim agung Samuel Chase. Karir politiknya berakhir tragis karena arogansinya: ia duel dengan Alaxander Hamilton. Ia memang tidak pernah dipidana atas tindakan ilegal itu, tetapi segera menjadi celah bagi Jefferson untuk menyingkirkannya dari panggung kekuasaan.

Jefferson untuk masa baktiyang kedua (1805-1809) memilih rival Burr, George Clinton, yang menjadi Gubernur New York untuk menjadi Wakil Presiden. Selama menjalankan tugas, Clinton tak pernah diajak konsultasi atau dimintai pertimbangan. Tapi, bagi Jefferson, Clinton adalah anak manis yang patuh pada posisinya dan tidak pernah merepotkan Presiden. Ini menjadi pertimbangan tiap kandidiat Presiden untuk memilih pasangannya hingga hari ini.

Govgeorgeclinton465

George Clinton, Wakil Presiden 1804-1812

Sikap manis Clinton membawa keberuntungan. James Madison, kandidat Presiden pengganti Jefferson (1808-18012), memilihnya menjadi Wakil Presiden. Clinton lalu menjadi Wakil Presiden pertama yang  mengabdi kepada 2 Presiden dan sayangnya menjadi Wakil Presiden pertama yang meninggal dunia dalam jabatan tahun 1812.

Elbridge-gerry-painting.jpg

Elbridge Thomas Gerry, Wakil Presiden 1813-1814

Tahun itu juga Madiosn memilih Elbridge Gerry, Gubernur Massachusetts, sebagai Wakil Presiden untuk masa jabatan yang kedua (1812-1816). Sayangnya, Gerry menjadi Wakil Presiden yang meninggal dunia dalam masa jabatan, tahun 1814, ketika baru setahun menjadi wakil.

Kisah unik berikutnya dialami oleh John Tyler, Wakil Presiden yang menjabat mulai 4 Maret 1841, mendampingi Henry Harrison. Ia dikenal sebagai “Wakil Presiden 32 hari”, karena hanya sebulan usai Harrison dilantik, kemudian meninggal dunia karena penyakit paru-paru. Timbullah krisis politik. Konstitusi AS memang menyatakan bahwa manakala presiden meninggal dunia atau dipecat, maka kedudukannya digantikan oleh Wakil Presiden. Persoialannya, Wakil Presiden ini menjadi Presiden atau pelaksana tugas kepresidenan belaka? Namun Tyler bersikukuh bahwa dirinya adalah Presiden dan ia melaksanakan tugas hingga purna masa jabatan 1845. Sejak itu, sebnayak 8 orang Wakil Presiden mengalami posisi seperti Tyler. Mereka menjadi Presiden manakala Presiden meninggal dunia atau dipecat.

Garret Horbat

Sepanjang abad ke-19, tradisi ketatatenagraan AS menempatkan Wakil Presiden dalam posisi yang tidak signifan. Akan tetapi suatu pengecualian harus diberikan kepada Garret Hobart, yang mendampingi Presiden William McKinley. Walaupun mendampingi McKinley hanya 2 tahun sebelum kematian mendadak pada 1899, ia dicatat sebagai Wakil Presiden yang aktif. Ia selalu dimintai pertimbangan oleh Presiden. Ia berhasil memaksa Presiden mendeklarasikan perang dengan Spanyol. Ia berperan aktif memaksa Senat menyetujui pendudukan Filipina. Ia merupakan sosok yang politisi yang sangat populer. Bukan saja dirinya, akan tetapi isterinya, Jennie Hobart, begitu aktif berperan, karena ketika banyak menggantikan tugas ibu negara, Ida McKinley yang sedang sakit.

Sebagai Ketua Senat, Hobart berbeda dengan pendahulunya. Ia aktif menjalankan peran mengingat pengalamannya sebagai anggota Parlemen New Jersey. Ia terlibat aktif mengambil keputusan saat terjadi kebuntuan dan gemar mempercepat penyeleaian undang-undang.

Presiden McKinley (kiri) bersama Horbart, 1899

Hobart saat terpilih sebagai Wakil Presiden menjadi kontroversial karena menolak untuk mengundurkan diri dalam pengurusan perusahaan media miliknya. “Akan sangat konyol bagi saya untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang berbeda di mana saya pejabat dan pemegang saham yang kepentingannya tidak sedikit terpengaruh, atau mungkin, dengan posisi saya sebagai Wakil Presiden“, katanya suatu kali.

Dengan kematiannya, McKinley tidak berminat menunjuk pengganti hingga ia terpilih untuk periode ke-2 dan menunjuk Theodore Roosevelt (Gubernur New York) sebagai Wakil Presiden. Roosevelt kemudian menjadi Presiden tahun 1901 menyusul terbunuhnya McKinley.

John Nance Garne

Kisah keterpinggiran Wakil Presiden bertahan memasuki abad ke-20. Namun, John Nance Gardner nampaknya dikenang sebagai Wakil Presiden yang terang-terangan menentang Presiden. Berpengalaman sebagai politisi DPR, Senat, dan kemudian menjadi pendamping F.D. Roosevelt selama sewindu,  1933-1941. Ia menentang keinginan Roosevelt untuk memperluas jangkauan kekuasaan eksekutif menyusul penanganan krisis ekonomi, menganjurkan keseimbangan aggaran federal, dan tidak menyetujui ambisi Roosevelt untuk mengobrak-abrik Mahkamah Agung dengan mengajukan Undang-Undang yang mengubah komposisi hakim.

Ia menentang upaya Roosevelt untuk menduduki kembali kursi kepresidenan untuk periode ketiga, sesuatu yang dianggap melanggar konvensi ketatanegaraan saat itu. Tapi, Roosevelt berhasil meyakinkan Partai Demokrat dan kemudian menunjuk Henry Wallace (Menteri Pertanian) untuk menjadi Wakil Presiden pada pemilu 1941. Wallace kemudian diberikan peran signifikan untuk memimpin Dewan Kesejahteraan Ekonomi dan berperan semakin penting memasuki Perang Dunia II. Ia menentang Nazi dan menjadi juru bicara paling terkemuka untuk pelaksanaan  hak-hak sipil. Wallace akrab dengan Soviet dan menganjurkan pentingnya berkoalisi dengan Stalin.

Henry Wallace

Aktivitas Wallace yang memperjuangkan hak-hak sipil bertentangan dengan kehendak Roosevelt yang bersikukuh mendukung segregasi rasial. Roosevelt muak dan kemudian menyingkirkan Wallace dari kandidasi pemilu kepresidenan keempat kali tahun 1944 dan kali ini meminta Harry Truman sebagai Wakil Presiden. Truman kemudian menjadi Presiden menyusul kematian Roosevelt pada April 1945.

Mengingat keaktifan Wallace sebagai Wakil Presiden merupakan kegagalan Roosevelt, maka ketika menjalankan kepresidenan periode keempat ia mengunci Truman benar-benar terpojok dalam kesunyian. Truman mengeluh tugasnya tak lebih berurusan dengan perkawinan dan kematian saja. Baru ketika menjadi Presiden, Truman mengetahui informasi rencana pembuatan bom atom yang kelak diperintahkannya untuk meluluhlantakkan Jepang dan mendorong AS sebagai pahlawan Perang Dunia II. Sejak itu, Truman menyadari betapa pentingnya seorang Wakil Prsesiden mengetahu tiap informasi pemerintahan. Tahun 1947 ia membentuk Dewan Keamanan Nasional, lembaga supra kabinet yang merancang kebijakan pertahanan dan hubungan luar negeri.

Alben Barkley

Ketika pada tahun 1948, ia mememangkan kursi kepresidenan, ia menempatkan posisi Wakil Presiden Alben Barkley dalam peran yang penting. Ia mengundang Wakil Presiden dalam rapat-rapat dewan keamanan. Bakley mempertahankan hubungan baik dengan Truman, walaupun terdapat perbedaan kepribadian diantara keduanya. Mengingat pengalaman Barkley di lembaga perwakilan, Truman mengharuskannya hadir dalam setiap rapat kabinet. Ia dikenal sebagai juru bicara pemerintahan yang efektif dan menaruh perhatian besar terhadap isu Korea yang menjadi perhatian Truman.

Untuk menunjuk respek terhadap kinerja Wakil Presiden, Truman memerintahkan pembuatan bendera dan lambang negara khusus untuk Wakil Presiden. Truman memerintahkan kenaikan gaji dan memperbesar anggaran untuk Wakil Presiden. Tidak berlebihan jika Mark O. Hatfield, penulis biografi Barkley mengatakan, “ia menjadi Wakil Presiden terakhir yang mengendalikan Senat, yang mengatasi DPR, memiliki kantor di dalam Gedung Putih, dan menghabiskan banyak waktu di lembaga perwakilan dibandingkan dengan di pemerintahan.”

Poster kampanye Eisenhower dan Nixon, 1952

Tapi peranan Barkely tak sekuat Richard Nixon, kala menjadi Wakil Presiden pada tahun 1953-1961 mendampingi Eisenhower. Nixon acapkali memimpin dan mengambil keputusan dalam rapat kabinet maupun Dewan Keamanan Nasional tanpa kehadiran Presiden. Tapi Nixon juga menjadi Wakil Presiden pertama yang dipaksa membuka kekayaan kepada publik ketika terkuak tuduhan menerima gratifikasi selama masa kampanye kepresidenan. Nixon berperan penting dalam politik luar negeri ketika pada tahun 1953 mengunjungi kawasna Asia Timur. Demikian pula saat kunjungan ke Afrika pada tahun 1956 dan Amerika Latin pada 1958. Tahun 1959, Nixon mewakili Presiden membuka pameran di Uni Soviet.

Pada tahun 1967, Amandemen ke-25 disetujui oleh Kongres. Aturan baru memungkinkan Presiden menunjuk seorang Wakil Presiden manakala yang bersangkutan berhalangan tetap. Pada Oktober 1973, Presiden Nixon menerima kenyataan bahwa Wakil Presiden Spiro Agnew mengundurkan diri karena tuduhan suap dan pengemplangan pajak saat menjadi Gubernur Maryland. Nixon menjadi Presiden pertama yang melaksanakan perubahan konstitusi di mana ia lalu menunjuk Gubernur Michigan, Gerald Ford, menjadi Wakil Presiden yang tidak memgalami penolakan berarti dari Kongres. Ford menjadi Wakil Presiden sejak dilantik pada 6 Desember 1973.

Tahun berikutnya, pemerintahan Nixon didera skandal Watergate yang menjadikan Presiden sasaran kritik Kongres dan publik. Bahkan, karena Presiden menghalang-halangi otoritas hukum untuk melakukan penyelidikan skandal itu, Kongres mempersiapkan rencana pemecatan (impeachment) kepada Nixon. Popularitas Nixon jatuh dan akhirnya pada 9 Agustus 1974 Nixon mengundurkan diri dari jabatan Presiden. Oleh karena itu, Ford menjadi Presiden menggantikan Nixon. Ford adalah satu-satunya Wakil Presiden yang ditunjuk oleh Presiden dan kemudian menjadi satu-satunya Presiden AS hingga sekarang yang tidak pernah dipilih oleh rakyat.

Namun, nasib tragis dialami oleh Richard Cheney, yang menjadi Wakil Presiden selama 8 tahun kepresidenan Bush (2001-2009). Sebagai bekas Menteri Pertahanan saat Bush Senior berkuasa (1988-1992), ia aktif memberikan pertimbangan soal kebijakan keamanan dan pertahanan. Cheney adalah arsitek Perang Irak yang tak kunjung rampung. Cheney disegani Bush, walaupun ia kerap frustasi dengan keputusan-keputusan Bush, yang pernah enggan memberikan pengampunan ketika Lewis Libby, Kepala Staf Wakil Presiden, terseret dan diadili karena skandal Plame. Libby dituduh membocorkan idenitas Valerie Plame sebagai agen CIA.

Chenye dibenci baik  oleh kalangan Demokrat maupun Republik. Ia Wakil Presiden yang tidak populer sepanjang sejarah kepresidenan AS, walupun dikenal sebagai pribadi yang mampu memperkuat posisinya ketika menduduki jabatan Wakil Presiden.

Wakil Presiden Mondale (kiri) bersama-sama Presiden Carter (kanan) di depan helikopter kepresidenan, Januari 1979.

Walter Mondale

Sejarah terbaik dan mungkin juga sudah dilupakan adalah ketiaka Walter Mondale menjadi Wakil Presiden, mendampingi Jimmy Carter (1977-1981). Mondale yang dianggap sebagai peletak dasar utama pelaksanaan Wakil Presiden yang tidak sekedar simbolik akan tetapi juga signifikan sebagai patner Presiden. Mondale hadir dalam rapat kabinet dan bebas mengutarakan ketidaksejutuan sekaligus memberikan alternatif kepada Carter. Dalam rapat Dewan Keamanan Nasional, aktif memberikan pandangan untuk pelaksanaan perang dingin. Untuk pertama kali, seorang Wakil Presiden menerima briefing masalah pemerintahan dari kalangan intelijen, tradisi yang berlangsung hingga kini.  Mondale juga merintis kegiatan makan siang mingguan yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Dibandingkan Horbart, Nixon, dan Brakley, ia dianggap Wakil Presiden yang mampu menjalakan tugas sebagai Wakil tanpa harus beroposisi ataupun bersaing dengan Presiden. Sayang, ia juga figur yang sudah dilupakan.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s