Murdoch, Raja Media yang Tersandung Skandal

Ketika salah satu pemilik media yang paling kuat di dunia Keith Rupert Murdoch, putranya, James, dan mantan Kepala Eksekutif News International sekaligus anak perusahaan News Corporation Inggris Rebekah Brooks, melangkah ke House of Commons, menjawab pertanyaan tentang kegiatan kelompok Murdoch media, terutama dugaan pelanggaran privasi orang, melalui penyadapan telepon, itu sama sekali bukan seusatu yang tragis untuk seorang pria yang telah menggunakan kekuatan media di rumahnya.

Murdoch bukan seorang politisi tetapi ia memiliki kekuasaan ekonomi dan media yang tak bisa diabaikan oleh politisi atau selebriti. Pengaruh Murdoch di pasar media massa begitu mengagumkan; ia adalah pemimpin politik di pengadilan dan orang yang melakukan penawaran. Dia adalah raksasa dalam bisnis media global di mana ia menguasai 40% dari media dunia.

Pengaruh Murdoch

Murdoch adalah kaisar media. Reaksi orang-orang Inggris dan Amerika Serikat juga sebenarnya sama, jijik dan segan terhadap konsentrasi kekuatan yang luar biasa dari media di tangan satu orang, mengingat kekuatan media untuk membentuk opini publik dan bentuk. Namun, sayangnya Itu adalah inti dari kerja keras Murdoch.

Pernah suatu kali Ed Miliband, ketua Partai Buruh Inggris, memukul paku di kepalanya sendiri ketika ia berkata “Pegangan Murdoch di media Inggris harus dipatahkan!”

Murdoch, kelahiran Australia, memiliki kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kontak dalam pendirian politik Inggris, di mana ia menikmati hubungan yang nyaman dengan kekuasaan. Seorang editor Times, Pak Harold Evans, mengatakan mogul media yang menjadi begitu berpengaruh pada masa Lady Margret Thatcher, bahwa Perdana Menteri selalu mengetahui rahasia cerita utama koran. Mesin media Murdoch berdiri di belakang posisi garis keras Thatcher terhadap serikat buruh Inggris.

Itulah pengaruh Murdoch; ia mempertahankan hubungan erat dengan semua Perdana Menteri Inggris. David Cameron dikenal menikmati kedekatan tersebut, ia bahkan menunjuk beberapa staf kunci dari mesin Murdoch. Demikian pula, Murdoch berpengaruh di Amerika Serikat di mana ia adalah kekuatan dominan dalam industri media dan pasar modal.

Kekayaan Murdoch

Dia memiliki NewsCorp senilai lebih dari $ 65 milyar, dan Dow Jones yang menerbitkan Wall Street Journal. Kepemilikan Murdoch adalah The Sun, The Times dan The Sunday Times, Wall Street Journal dan New York Post yang secara keseluruhan bernilai $ 61 Milyar! Investasi di televisi satelit dan kabel di mana ia memiliki Independent Television Network (ITN), Sky News, Fox News dan National Geography senilai $ 11.2 milyar, sementara investasi dalam filmsebesar $ 7.6 milyar. Dia memiliki Harper dan perusahaan penerbitan Collins senilai $ 1,3 miliar.

Menurut Dr Stanley N. Ngoa, Murdoch sendirian menguasai 40% dari sistem komunikasi global di mana arus informasi yang condong mendukung negara-negara industri. Menurut Ngoa dari Pusat Studi Demokrasi, Universitas Rhodes dan saat ini dengan Convent Universitas Ota, “Rupert Murdoch News Corporation bersama dengan Viacom, Time Warner, Bertelsmann, Disney dan Vivendi merupakan perusahaan multi-nasional ‘Big Six’ yang mendominasi sistem media global.” Bahkan dengan segala kritik yang membuntuti News of the World dan tangan kanan Murdoch, ia tetap menjadi investor besar dalam ekonomi Inggris.

The Man Murdoch

Menurut Ngoa, “Murdoch, yang merupakan seorang Australia, menjadi warga negara Inggris dan Amerika untuk penetrasi bisnis dan politik.” Dia lahir di Melbourne, Australia, pada 11 Maret 1931. Ayahnya, Keith Murdoch, adalah penerbit surat kabar, dan ibunya seorang Yahudi.

Sir Keith Murdoch (1885–1952), ayah Murdoch

Dia kemudian memilih untuk dikenal sebagai Rupert, nama pertama kakeknya. Murdoch muda dididik di Geelong, sebuah sekolah swasta di Australia dan melanjutkan ke Oxford University di Inggris. Murdoch muda memulai karir jurnalistik sebagai wartawan surat kabar Inggris, dan akhirnya menjadi pemred koran itu.

Aktivitas Bisnis di Inggris

Murdoch mulai mengayunkan bisnis di Inggris pada tahun 1968, dengan mengakuisisi harian populer News of the World, dan kemudian pada 1969 membeli kepemilikan The Sun. Murdoch kemudian mengubah format harian The Sun dengan model tabloid dengan melakukan efisiensi dari percetakannya.  Pada 1997, The Sun dibaca oleh 10 juta penduduk.

Tahun 1981, Murdoch mengambilalih kepemilikan The Sunday dan Sunday Times dari sebuah penerbitan Kanada. Harold Evans, yang menjadi kepala editor harian Sunday Times sejak 1967, mengakui bahwa ia acapkali terlibat cekcok dengan Murdoch.

Sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an, orientasi Murdoch adalah mendukung kepemimpinan Perdana Menteri Inggris, Margareth Thatcher (menjabat 1979-1990) dan John Major (1990-1997).  Di penghujung 1990-an, ia beubah halauan dengan mendukung pemimpin Partai Buruh, Tony Blar, yang kemudian menjadi perdana menteri (1997-2007). Murdoch segera dekat dengan Blar dan sering mengadakan pertemuan rahasia untuk membahas isu-isu politik nasional.

Situasi berubah kembali. Harian The Sun, edisi bahasa Inggris, kemudian merapat kepada pemimpin Partai Konservatif, David Cameron, yang kemudian berhasil membentuk pemerintahan pada tahun 2013.  Di Skotlandia, The Sun menyokong Partai Nasional Skotlandia, yang kemudian berhasil meraih suara terbanyak untuk memperbaiki kekalahan telak mereka sejak pemilu 1997. Bekas juru bicara Perdana Menteri Gordon Brown (2007-20013) mengatakan, bahwa Gordon dan Murdoch memiliki hubungan yang erat dan tidak merupakan tradisi di mana seorang kepala pemerintahan bercakap-cakap langsung dengan Murdoch.

Pada tahun 1986, Murdoch memperkenalkanpercetakan elektronik untuk media di Inggris, AS, dan Australia. Banyak tenaga kerja yang terdepak karena pergantian teknologi itu. Hal itu sempat menimbulkan reaksi keras dari serikat penerbit dan disusul pemecatan tidak kurang 6000 pekerja yang terlibat demonstrasi. Publik kemudian menuduh hubungan Thatcer dengan Murdoch telah merusak pergerakan buruh. Pada 1987, semua pekerja yang dipecat memperoleh pesangon tidak kurang dari tidak kurang dari 60 juta poundsterling.

Saat awal merintis bisnis televisi berbasis sateliti, Sky Television, Murdoch mengalami kerugian besar. Walaupun kerugian kemudian ditutup dengan subsidi dari perusahaan yang masih dalam satu kelompok usaha, akan tetapi pada 1990 perusahaan ini mampu memaksa pesaingnya, British Sattelite Broadcasting, untuk kemudian melakukan kerjasama usaha. Mereka segera memperkenalkan Direct Television Home (DHT) yang tidak memerlukan jaringan penyiaran. Sejak itu gabungan perusahaan ini mendominasi sistem penyiaran tersebut di Inggris. Pada 1996, perusahaan gabungan ini memiliki 3,6 juta pelanggan, hampir tiga kali lipat pelanggan televisi kabel.

Lord Jacob Rothschild, yang telah memiliki kedekatan dengan Murdoch sejak tahun 1960-an, menjadi pengelola keuangan perusahaan televisi tersebut. Murdoch kemudian diketahui membenamkan investasi sebesar 5% di perusahaan Genie Oil and Gas, yang dikelola Rothschild, yang melakukan distribusi gas di Isarel.

Kerajaan Media

News Corporation atau News Corp memberikan subsisi terhadap siaran televisi di Bahama, Cayman Islands, dan Virgins Islanads. Sejak 1986, perusahaan ini membayarkan pajak pendapatan 7% dari keuntungannya.

News Corp memiliki 44% saham Sky Network di Australia – negara kelahiran Murdoch – Selandia Baru, dan sedang dalam proses penawaran untuk membeli televisi internasional milik pemerintah Australia yang sekarang dioperasikan oleh ABC.

News Corp juga pemilik 150 surat kabar lokal dan nasional di Australia, termasuk the Australian, the Telegraph dan the Herald Sun. Selain itu, News Corp memiliki 50% saham Premier Media Group, yang mengoerasikan sembilan stasiun televisi Fox TV di Australia.

Di bawah nama Star, News Corp memiliki sembilan stasiun televisi kabel di seluruh Asia dan memegang saham besar di delapan stasiun televisi lainnya. Star juga memiliki 20% saham saluran televisi Tata Sky di India.

News Corp adalah pemilik saham mayoritas surat kabar Post Courier di Papua Nugini dan surat kabar Wall Street Journal Asia.

News Corp memiliki 39% saham perusahaan televisi satelit BSkyB tetapi Murdoch sedang berupaya membeli seluruh saham perusahaan itu.

Tabloid News of the World merupakan surat kabar mingguan terbsar di Inggris dengan sirkulasi tiga juta eksemplar per minggu. Setelah ditutup, Murdoch masih memiliki tiga surat kabar nasional Inggris, the Times, Sunday Times dan the Sun.

Di Italia, News Corp memiliki televisi Sky Italia dan di Jerman perusahaan itu memiliki 45% saham Sky Deutschland. News Corp memegang 9% saham di jaringan Rotana, yang mencakup berbagai stasiun televisi di Timur Tengah dan Afrika Utara. News Corp memiliki saham besar di tiga televisi di kawasan Amerika Latin – LAPTV, Telecine dan Fox Telecolombia.

News Corp memiliki sejumlah surat kabar besar Amerika, termasuk Wall Street Journal, the New York Post dan Community Newspaper Group dan sejumlah koran bisnis termasuk Barons dan MarketWatch. Perusahaan itu juga memiliki tujuh perusahaan informasi berita.

News Corp memiliki saham besar dalam industri televisi Amerika lewat jaringan televisi Fox dan National Geographic. Perusahaan itu memiliki 27 stasiun lokal televisi Fox dan Murdoch pernah menyebut langkah televisi Fox News miliknya “tidak bisa dihentikan”.

Sepuluh perusahaan film milik News Corp – termasuk 20th Century Fox dan Fox Searchlight Pictures juga bermarkas di Amerika. News Corp juga memiliki sepertiga saham layanan sewa film online Hulu.

News Corp adalah pemilik perusahaan penerbitan HarperCollins di Amerika, Kanada, Eropa, Selandia Baru dan Australia, dan pemilik sebagian saham HarperCollins Asia.

Selain itu, News Corp juga pemilik penuh atau pemilik sebagian saham beragam perusahaan pemasaran dan media digital. Murdoch baru-baru ini menjual sebagian besar sahamnya di jejaring sosial MySpace. Jaringan televisi Fox dan National Geographic juga memiliki jangkauan global lewat beragam saluran televisi berita dan hiburan.

Kehadiran situs berita online dan perkembangan internet saat ini dinilai sebagai salha satu pemicu turunnya oplah media cetak. Untuk bertahan, mereka pun harus masuk ke media online, namun belum ada model bisnis yang paling ampuh untuk menarik keuntungan.

Murdoch termasuk golongan yang menentang konten berita gratis. Ia pun bisa membuktikan bahwa situs Wall Street Journal bisa bertahan dengan model berbayar. Ia pun bertekad mmebuat semua medianya menarik bayaran ke pembacanya untuk mengakses situs onlinenya.

Dua medianya di Inggris pun untuk pertama kalinya menerapkan model bisnis tersebut, masing-masing The Times dan Sunday Times.

Dua website baru yang diperkenalkan, Selasa (25/5/2010) kemarin, akan menjadi pelopor model bisnis situs berita berbayar. Para pembacanya harus mendaftar untuk bisa mengakses konten di kedua situs. Sampai akhir Juni 2010, akses akan diberikan gratis, namun berikutnya dikenakan biaya langganan 1 poundsterling sehari atau 2 poundsterling seminggu.

Situs tersebut masing-masing http://www.thetimes.co.uk dan http://www.thesundaytimes.co.uk. Keduanya merupakan pecahan dari website http://www.timesonline.co.uk yang sebelumnya menjadi situs dua suratkabar nasional di Inggris tersebut.

Skandal Penyadapan

News Corp yang berkantor pusat di Amerika menjadi sorotan karena skandal peretasan telepon di Inggris yang punya implikasi hukum dan bisnis yang serius bagi perusahaan media raksasa itu, karena Amerika mencermati tindak tanduk News Corp dan pimpinannya, Rupert Murdoch. Ini terjadi tahun 2011.

Ribuan telepon pribadi telah disadap terutama oleh orang-orang yang terlibat dalam pemberitaan harian News of the World. Kasus penyadapan ini dilakukan bahkan terhadap Pangeran William, aktor Hugh Grant hingga keluarga tentara Inggris yang tewas dalam pertempuran di Iraq serta Afghanistan.

Liputan media terhadap skandal peretasan telepon di Inggris semakin menghangat. Laporan berita menuduh Ratu Elizabeth dan mantan perdana menteri Gordon Brown ditargetkan oleh perusahaan media yang dimiliki Rupert Murdoch.

Laporan berita Inggris mengatakan petugas polisi berkhianat terhadap keluarga kerajaan untuk tabloid News of the World. Rekening bank Gordon Brown diretas oleh seseorang yang bekerja untuk Sunday Times milik Murdoch. Istana Buckingham menolak untuk memberi komentar atas laporan itu.

Jumlah yang sangat besar dari korban penyadapan telepon oleh News of the World, berdasarkan hasil penyelidikan terbaru, mengejutkan anggota parlemen Inggris.

Asisten Deputi Kepolisian Metropolitan London, Komisaris Sue Akers, yang memimpin penyelidikan itu, mengatakan bahwa hanya 170 orang dari hampir 4.000 korban potensial yang telah dihubungi. Ia mengatakan kepada anggota Home Affairs Select Committee parlemen Inggris bahwa polisi sedang memeriksa 3.870 nama, bersama dengan 5.000 nomor telepon rumah dan 4.000 nomor ponsel. Namun, Selasa (12/7/2011) malam, sebagaimana dilansir The Daily Mail, Rabu, jumlah tersebut dispekulasikan meningkat dan bisa mencapai puluhan ribu orang.

Spekulasi tentang angka-angka korban penyadapan itu muncul setelah Akers mengatakan kepada anggota parlemen bahwa ia mengadakan pendekatan yang sangat luas untuk penyelidikan tersebut.

Askers mengatakan, orang yang telah meninggalkan pesan di telepon yang disadap merasa bahwa privasi mereka telah dilanggar, demikian juga dengan orang yang menjadi tujuan pemberian pesan tersebut.

Sumber-sumber di kepolisian Metropolitan London kini yakin bahwa penyelidikan kasus penyadapan yang dipimpin Akers, dengan nama sandi Operation Weeting, bisa berlangsung lebih dari dua tahun dan akan membebani Scotland Yard sampai beberapa juta poundsterling.

Salah satu orang yang disebut sebagai target penyadapan adalah Wayne Rooney. Ia melakukan hubungan seks threesome bersama dua PSK sebagaimana dilaporkan News of the World. Pesepak bola itu berencana melancarkan gugatan terkait klaim bahwa telepon genggamnya mungkin telah disadap. Rooney, yang memperoleh pendapatan 220.000 poundsterling (atau sekitar Rp 3 miliar) per pekan, telah diperingatkan oleh polisi pada April lalu bahwa teleponnya mungkin telah disadap oleh wartawan yang bekerja untuk News International.

Sementara itu, kemarin mencuat kabar bahwa striker Manchester United itu dan agennya, Paul Stretford, telah menunjuk tim pengacara untuk meneliti klaim tersebut. Rooney berjuang untuk menyelamatkan pernikahannya dengan Coleen, pacarnya di masa kecil, menyusul terkuaknya kasus bahwa ia telah berhubungan seks dengan PSK Jennifer Thompson dan Helen Wood di sebuah hotel di Manchester saat istrinya sedang hamil lima bulan.

 

 

 

Rupert Murdoch, menjadi buruan media massa sejak munculnya skandal peretasan telepon di Inggris oleh diduga dilakukan salah satu anak perusahaan medianya.

Tabloid News of the World milik taipan media Rupert Murdoch itu telah ditutup pada hari Minggu lalu terkait skandal penyadapan tersebut. Tabloid itu telah berusia 168 tahun dengan oplah terakhir 2,6 juta eksemplar. Hal itu menjadikannya sebagai media cetak dengan oplah terbesar di dunia.

Dampak tuduhan peretasan di Inggris dapat melintasi samudera sampai ke New York, di mana News Corp berbasis. Anggota Fraksi Republik di Kongres Peter King dan beberapa senator meminta diadakannya penyelidikan untuk menentukan apakah News Corp melanggar hukum AS. Jaksa Agung Amerika Eric Holder, Badan Pengawas Pasar Modal Amerika (SEC) dan FBI menanggapinya dengan mengadakan penyelidikan pendahuluan.

Jay Fahy, mantan jaksa federal dan pengacara kriminal, menjelaskan aturan hukum yang menyangkut masalah itu. Ia mengatakan, “Dari apa yang kami ketahui, kasus itu menyangkut Undang-undang tentang Praktik Korupsi di Luar Negeri dan mungkin beberapa pelanggaran kerahasiaan pribadi karena meretas rekaman-rekaman telepon genggam. Mungkin juga menyangkut penyuapan apabila perusahaan-perusahaan telepon genggam disogok.”

News Corp dituduh menyuap kepolisian Inggeris untuk mendapat informasi berita yang bisa dimuat dalam tabloidnya, News of the World. Undang-undang mengenai Praktek Korupsi di Luar Negeri melarang penyuapan, termasuk perusahaan-perusahaan Amerika yang beroperasi di luar negeri. Mantan redaktur News of the World, Andy Coulson, yang pernah menjadi juru bicara Perdana Menteri Inggris David Cameron ditahan sehubungan dengan kasus tersebut, yang bukan hanya melibatkan perekaman pembicaraan telepon-telepon genggam di Inggeris, tetapi juga para korban insiden 11 September di Amerika.

Di Amerika, pimpinan News Corp, Rupert Murdoch, dikecam melakukan konsolidasi media, menghilangkan pandangan masyarakat yang beragam yang diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan dalam sebuah masyarakat demokratis. Salah satu pengecamnya adalah Dean Starkman, yang adalah salah seorang redaktur Columbia Journalism Review. Menurutnya, “Saat ini, dengan adanya skandal di Inggris, kemungkinan akan ada perubahan radikal dalam dunia media massa baik di Amerika maupun seluruh dunia.”

Lebih jauh, Starkman mengatakan skandal peretasan telepon bisa memberi kesempatan perusahaan-perusahaan media massa yang lebih kecil untuk menantang kekuasaan yang dimiliki perusahaan News Corp. Kekuasaan tersebut termasuk 27 lisensi penyiaran di Amerika yang dikeluarkan oleh Komisi Komunikasi Federal Amerika (FCC). Jay Fahy mengatakan FCC bisa menolak memperbaharui lisensi-lisensi itu.

Seorang mantan wartawan News of the World (NoW), harian tertua di Inggris yang ditutup akibat skandal penyadapan telepon terhadap sumber beritanya, ditemukan tewas. Wartawan itu, Sean Hoare, adalah orang yang pertama mengeluarkan tudingan terkait dugaan penyadapan telepon yang dilakukan NoW.  Kepada koran the New York Times, Hoare mengatakan penyadapan dilakukan jauh lebih masif dari apa yang diakui oleh koran Inggris itu saat polisi pertama kali menggelar penyelidikan begitu mendengar ada laporan dugaan praktik bermasalah ini. Seorang juru bicara kepolisian Inggris mengatakan kematian Hoare dinyatakan belum jelas penyebabnya namun tidak disebut mencurigakan.

Kepolisian wilayah Hertfordshire, London mengatakan jenazah Hoare ditemukan setelah polisi mendapat telepon agar datang ke rumahnya di Langley Road, pada Senin (18/7/2011) waktu setempat. Polisi mengatakan “kematiannya dinyatakan belum dapat dijelaskan, tapi tak ada yang mencurigakan. Polisi sedang menyelidiki insiden ini.”

Hoare sebelumnya mengatakan kepada program Panorama BBC juga pada siaran Radio 4 BBC, bahwa praktik penyadapan telepon untuk mendapat berita “marak” dilakukan NoW. Hoare juga menyebut editor NoW saat itu, Andy Coulson, pernah memintanya melakukan hal serupa, tuduhan ini ditolak Coulson.

Beberapa editor dan wartawan bakal menghadapi tuntutan lantaran tindakan ilegal mereka menyadap telepon. Salah satunya ialah Andy Coulson. Ia bakal membuat Perdana Menteri David Cameron kikuk. Sebab, Andy Coulson adalah Kepala Bagian Pers Cameron setelah mundur dari media itu sesaat setelah Cameron menjadi perdana menteri. Coulson sudah mundur pada Januari lalu sat kasus ini meruyak.

Kejadian seperti kasus di atas membuktikan bahwa media bisa saja salah, baik berkenaan dengan tugas jurnalistiknya, maupun di luar itu. Dalam ranah bisnis, misalnya. Pers di luar negeri bahkan acap membuat edisi yang berisi permintaan maaf karena salah satu artikelnya mengandung kesalahan fatal.

Majalah The New Republic pernah mengalami hal serupa. Ini majalah prestise. Di pesawat kepresidenan Amerika Serikat, Air Force One, pasti ada majalah ini. Oplahnya bukan yang terbesar, tapi seolah menjadi keunggulan bagi mereka yang sudah membacanya.

Stephen Glass, wartawan muda majalah itu, banyak menulis feature dan artikel menarik lainnya. Tidak ada keluhan dari pembaca dan narasumber atas tulisan Glass. Hingga suatu waktu terjadi perubahan editor (setara pemimpin redaksi) di sana. Editor yang baru, Chuck, tak terlalu disenangi jurnalis lain. Tapi Chuck punya determinasi tinggi dan ketat dalam verifikasi.

Suatu waktu wartawan majalah Forbes Digital dimarahi editornya karena tak menulis soal pertemuan para peretas (hacker) seperti yang ditulis Glass di The New Republic. Si wartawan bingung karena sama sekali tak mendengarnya. Usut punya usut, kejadian itu tak pernah ada. Glass berbohong dan menulis artikel hasil karangan. Dua editor, Forbes Digital dan The New Republic, kemudian sama-sama memverifikasi yang ditulis Glass.

Chuck tegas. Glass mesti dikasih sanksi tegas. Tapi, kolega Glass di The New Republic awalnya tak sepakat. Mereka merasa Glass cuma korban. Akhirnya Chuck ambil langkah tegas. Semua tulisan Glass di majalah diverifikasi. Hasilnya mencengangkan, hampir 90 persen tulisan Glass adalah karangan. The New Republic lalu mengeluarkan edisi khusus permohonan maaf kepada pembaca yang selama ini ditipu oleh Glass. Stephen Glass pun dipecat.

 

Kasus dugaan penyadapan telepon  telah menyebabkan jaringan News Corp milik taipan media Rupert Murdoch rugi miliaran dollar karena penutupan koran, pembayaran ganti rugi, serta merosotnya harga saham di lantai bursa.

Efek Skandal

Skandal penyadapan yang mengguncang kerajaan media Rupert Murdoch bisa jadi hanya menurunkan kepercayaan publik terhadap pengaruh jurnalistik dari media terkemuka di dunia berbahasa Inggris itu.

Namun, banyak dari kita akan terbelalak apabila mengetahui begitu dalam jurang kebobrokan kasus korupsi jurnalisme bernuansa politik yang dibangun Murdoch di bentangan Atlantik sehingga majalah Newsweek mempertanyakan apakah kasus ini dapat dikategorikan sebagai Murdoch’s Watergate.

Kerajaan media Rupert Murdoch mendapat pukulan ganda, Rabu (13/7/2011). Rencana Murdoch untuk melakukan ekspansi besar bagi kerajaan medianya berantakan ketika ‘badai’ terkait kasus penyadapan telepon yang dilakukan media miliknya memaksa dia membatalkan pembelian BSkyB, televisi satelit terbesar Inggris. Semula Murdoch menawar BSkyB senilai 10 miliar pounds (atau setara Rp 138 triliun).

Selain itu, Perdana Menteri Inggris, David Cameron, juga melancarkan sebuah penyelidikan menyeluruh terhadap pers Inggris terkait skandal penyadapan tersebut. Murdoch dan jajaran direksi medianya telah dipanggil untuk menghadiri sebuah proses pemeriksaan.

Dua langkah tersebut diambil di tengah kemarahan publik dan politisi terkait tuduhan bahwa para wartawan yang bekerja untuk kelompok media milik Murdoch telah secara ilegal menyadap pesan telepon ribuan orang di Inggris dan menyuap polisi untuk mendapatkan informasi.

Cameron mengecam perusahaan media milik Murdoch, saat ia meluncurkan investigasi tingkat tinggi itu kemarin. Cameron mengatakan, para eksekutif News Corp, payung bagi semua usaha media Murdoch, perlu fokus bukan pada pengambilalihan BSkyB, tetapi pada pemberesan persoalan internal mereka. Karena itu, Cameron menyambut baik pembatalan rencana pembelian BSkyB itu.

Skandal penyadapan yang mengguncang kerajaan media Rupert Murdoch bisa jadi hanya menurunkan kepercayaan publik terhadap pengaruh jurnalistik dari media terkemuka di dunia berbahasa Inggris itu.

Namun, banyak dari kita akan terbelalak apabila mengetahui begitu dalam jurang kebobrokan kasus korupsi jurnalisme bernuansa politik yang dibangun Murdoch di bentangan Atlantik sehingga majalah Newsweek mempertanyakan apakah kasus ini dapat dikategorikan sebagai Murdoch’s Watergate

 

Sementara itu Scotland Yard menuduh orang-orang tak dikenal berusaha melakukan sabotase terhadap penyelidikannya yang semakin meluas. Polisi mengatakan seseorang secara sengaja menanamkan informasi yang mengalihkan perhatian dalam pers.

Menteri Kebudayaan Jeremy Hunt mengatakan kepada anggota parlemen bahwa peristiwa minggu lalu menggoncangkan negara dan tradisi pers Inggris yang dibanggakan itu telah “tergoncang oleh pembeberan dari apa yang kini kita ketahui terjadi di News of the World.”

Tuduhan bahwa jurnalis di News of the World melakukan peretasan terhadap telepon korban terbunuh yang masih muda, keluarga anggota tentara yang gugur dan korban terorisme telah menyebabkan News Corporation milik Murdoch menutup tabloid itu.

Tetapi kerajaan media News Corporation milik Rupert Murdoch masih memiliki jaringan global, dengan pendapatan lebih dari US$31 miliar (Rp264,9 triliun) per tahun.

Kenyataan ini dan skandal penyadapan telepon membuat banyak pihak di Inggris khawatir akan pengaruh Rupert Murdoch dalam politik negeri itu lewat media miliknya.

Partai-partai utama Inggris yang berseberangan bersatu untuk mengeluarkan mosi yang mendesak Rupert Murdoch dan News Corporation untuk menghentikan upayanya mengakuisisi penuh perusahaan televisi satelit Inggris  sampai penyelidikan atas skandal penyadapan telepon media milik Murdoch selesai.

Gagalnya rencana Rupert Murdoch untuk memperluas imperium medianya dengan mengambil alih stasiun pemancar satelit Inggris  menjadi sorotan harian-harian internasional. Harian Inggris Independent menulis dalam tajuknya: Inggris terbuka bagi investor-investor asing, bahkan jauh lebih terbuka dari negara-negara lain. Tetapi kenyataan bahwa Inggris senang berbisnis bukan berarti bahwa integritas institusi-institusi umumnya bisa dibeli oleh penawar tertinggi, atau bahwa para konglomerat media bisa mendapatkan segala hal yang mereka inginkan, terlepas dari kelakuan perusahaan-perusahaan mereka. Setelah berpuluh-puluh tahun diperlakukan dengan istimewa oleh institusi-institusi Inggris, Rupert Murdoch akhirnya harus menelan pelajaran ini. Bagi sistem demokrasi Inggris, hal ini hanya akan membawa keuntungan .

Hal yang sama juga dikomentari oleh Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung. Harian yang terbit di Jenewa ini menulis: Kenapa para politisi Inggris baru sekarang keluar dari bayang-bayang Rupert Murdoch? Semua anggota parlemen Inggris tahu hubungan hangat antara para politisi dan wartawan. Tidak satupun politisi papan atas berani menentang praktek media yang kadang mencurigakan. Bisnis ini hampir tidak diatur dan tidak terkontrol. Memang sehari-harinya jutaan orang Inggris membaca dan mencintai tabloid-tabloid yang berisikan berita agresif tentang bintang-bintang dan politisi terkenal, yang penelitian informasinya sering diragukan. Komisi penyelidikan, yang harus belajar dari skandal penyadapan ini, sekarang menghadapi tugas yang sulit sekali.

Sementara itu harian konservatif Polandia Rzeczpospolita membandingkan skandal penyadapan di Inggris dengan kasus pendiri Wikileaks Julian Assange: Murdoch sekarang menjadi kambing hitamnya. Seorang penguasa media yang menjadi kaya karena ketimpangan orang lain. Seseorang yang tidak takut akan apapun, yang mencari uang dengan menjual darah dan seks. Sebaliknya Julian Assange menjadi simbol kebebasan pers. Seorang pahlawan yang dikejar-kejar oleh Amerika Serikat yang menakutkan, seorang raja kaum anarkis.

Apakah ini tidak terdengar paradoks? Tidak disangkal, memang ada perbedaan diantara kedua kasus, tetapi Murdoch dan Assange merupakan dua sisi dari koin yang sama. Dunia media berada dalam krisis besar, tindakan melewati batas etis hampir menjadi hal yang esensial dalam bisnis ini. Harian The New York Times dan The Guardian naik pitam karena skandal Murdoch. Padahal beberapa bulan lalu harian-harian yang sama menerbitkan dokumen-dokumen Assange. Seorang wartawan yang menyadap pembicaraan telepon adalah seorang penjahat yang harus dikecam. Sebaliknya, seorang hacker, yang menerobos server pemerintahan di Washington, adalah seorang pahlawan yang bersinar.

Krisis hutang di zona mata uang Eropa yang semakin bergejolak juga masih disorot oleh berbagai harian internasional lainnya. Harian Denmark Politiken menulis dalam tajuknya: Uni Eropa sampai sekarang berusaha untuk menghindari masalah Yunani. Tetapi strategi ini tampaknya gagal dengan semakin resahnya situasi mata uang Euro. Saat ini para politisi Uni Eropa sedang memainkan permainan berbahaya dengan kartu terbuka. Desas-desusnya akan diadakan pertemuan istimewa akhir pekan ini. Ini mungkin adalah kesempatan terakhir para politisi Uni Eropa untuk menyelesaikan masalah Yunani. Jalan keluarnya harus lah pemotongan hutang negara, yang memang tidak mungkin bisa dibayar oleh Yunani. Jumlahnya harus dibagi sama rata antara Bank dan pembayar pajak. Saat ini, sikap menunda-nunda adalah musuh terbesar perekonomian Eropa.

Murdoch selama ini dikenal dengan sosoknya yang tidak mempunyai tandingan pengaruh dalam politik atau rival yang sepadan. Hampir setiap perdana menteri di Inggris sejak Harold Wilson pada era 1960an maupun pada 1970an menaruh hormat terhadap Murdoch dan bisnisnya yang tak tertandingi itu.

Saat Murdoch menggelar jamuan pesta musim panas di Kensington Gardens pada 16 Juni lalu, Perdana Menteri Cameron dan istrinya, Sam, serta pemimpin Partai Buruh Ed Miliband serta anggota kabinet lainnya hadir.

Mantan rekanan maupun mereka yang masih aktif termasuk penyusun biografi Murdoch menekankan salah satu ambisi terbesar raja media ini adalah mereplikasikan kekuatan budaya dan politik di AS. Ini dilakukannya dengan mengendarai New York Post yang tidak ditujukan untuk mendatangkan laba besar tetapi menancapkan pengaruh tidak hanya di dunia jurnalisme AS tetapi secara lebih luas di bidang kebudayaan.

 

Tanpa ragu, Murdock tidak pernah disukai oleh Inggris karena memiliki keberanian untuk menembus kendali dari suatu institusi kuat yang mengontrol dan memengaruhi opini publik. Kerajaan media adalah badai bagi para pemimpin politik, investor, masyarakat dan otoritas hukum yang mencoba untuk menyisir semua resapan di negara manapun.  Dan mungkin juga sebuah negeri bernama Indonesia.