Marshall: Politisi Berjiwa Prajurit

George C. Marshall

George Marshall lahir di Uniontown, Pennsylvania, pada 31 Desember 1880. Ia lulus dari Virginia Military Institute pada tahun 1901. Tahun berikutnya ia menjadi letnan dua dan dikirim ke Filipina. Pada tahun 1906 Marshall kembali pendidikan di Fort Leavenworth. Dia lulus dan kemudian mengikuti kursus di Sekolah Staf Angkatan Darat. Marshall kemudian diangkat menjadi instruktur di sekolah tersebut selama 2 tahun.

Marshall dalam balutan seragam sebagai taruna militer

Marshall, saat aktif berdinas di Perang Dunia II (1939-1945)

Dalam Perang Dunia Pertama Marshall bertugas di Front Barat dan terlibat dalam perencanaan serangan Meuse-Argonne pada tahun 1918. Marshall kemudian naik pangkat menjadi koloneldan menjabat selama lima tahun sebagai ajudan Jenderal John Pershing (1919-1924) dan bertugas di Cina (1924-1927). Marshall kemudian selama lima tahun menjadi instruktur di Fort Benning (1927-1933).

Pada Juni 1933 Marshall menjadi komandan Infanteri ke-8 dan bertanggung jawab atas 34 Civilian Conservation Corps (CCC)yang meliputi wilayah Georgia, Florida dan Carolina Selatan. Marshall sangat percaya pada CCC dan berpendapat bahwa Angkatan Darat Amerika Serikat harus sepenuhnya mendukung eksperimen sosial ini.

TIME Magazine Cover: General George Marshall, Man of the Year -- Jan. 3, 1944

Menjadi sampul majalah Time (1944)

Marshall dipromosikan menjadi brigadir jenderal pada bulan Oktober 1936, dan menjadi komandan Brigade ke-5 di Washington. Dia bertanggung jawab atas seluruh CCCnegara bagian. Tak lama kemudian ia sakit parah dan harus memiliki kelenjar tiroid dioperasi. Untuk sementara diyakini bahwa Marshall akan harus pensiun dari tentara tapi dia akhirnya sembuh.

Pada bulan Agustus 1938, Marshall diangkat sebagai KepalaDivisi Perencanaan Tempur dan tiga bulan kemudian ia menjadi wakil Kepala Staf (semacam Panglima TNI di Indonesia). Posisi ini menyebabkan Marshallberkomunikasi dengan Presiden Franklin D. Roosevelt dan kabinet. Harry Hopkins, salah satu penasehat terdekat Roosevelt, terkesan dengan Marshall dan menyarankan kepada Presiden agar yang bersangkutanmenjadi Kepala Staf yang baru. Roosevelt setuju dan Marshall ditunjuk menjadi Kepala Staf bulan September 1939.

Marshall mengendalikan angkatan bersenjata Amerika Serikat selama Perang Dunia Kedua. Selama 4 tahun kepemimpinannya Angkatan Darat telah meliputi personel sebanyak lebih dari 8 juta orang. Tidak seperti pendahulunya, Marshall adalah pendukung kuat kekuatan udara dan karena itu mendapatkan simpati dari Jenderal Henry Arnold(Lahir 26 Juni 1886, meninggal dunia 15 Januari 1950) yang memimpin angkatan udara. Namun ia berselisih dengan Laksamana Ernest King (lahir 23 November 1878, meninggal dunia 25 Juni 1956) atas kebijakannya menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk mengalahkan Jerman sebelum menyerbu Jepang. Akibatnya beberapa kritikus menuduh tindakannyamenimbulkan efek yang berkepanjangan dalam Perang Pasifik.

Pada tahun 1944 Marshall kecewa karena tidak dilibatkan dalam pendaratan tentara Sekutu. Namun, Franklin D. Roosevelt menyatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan dia sebagai Kepala Staf. Marshall kemudian terlibat dalam perencanaan invasi dan Winston Churchill (saat itu Perdana Menteri Inggris) kemudian mengklaim bahwa itu merupakan prestasi Marshall yang monumental sebagai “penyelenggara kemenangan” (a organizer of victory).

Memperoleh anugerah Jenderal Berbintang 5

Marshall diberi kehormatan sebagai Jenderal bintang lima pada Desember 1944. Bersama-sama dengan William Leahy (perwira angkatan laut, lahir 6 Mei 1875, meninggal dunia 20 Juli 1959), Marshall adalah perwira senior dibandingkan Ernest King, Dwight D. Eisenhower, Douglas MacArthur, dan Henry Arnold. Marshall mengundurkan diri sebagai Kepala Staf pada tanggal 21 November 1945, tetapi beberapa hari kemudian Presiden Harry S. Truman membujuknya untuk menjadi duta besar Amerika Serikat untuk Tiongkok.

Prestasi kemiliteran yang moncer dan popularitas Marshall membuat Truman yakin dengan keputusannya itu. Saat dihubungan Truman, Marshall baru seminggu menerima keputusan pensiun dan ia ingin mendarmabaktikan hidup untuk perdamaian dan ketertiban masyarakat sipil. Awalnya ia enggan dengan penunjukkan Truman, tetapi setelah meyakini bahwa jiwa prajurit selalu melekat sepanjang hidupnya, maka ia tidak memiliki pilihan lain kecuali mematuhi keinginan sang Presiden, yang secara konstitusi adalah Panglima Militer Tertinggi. Marshall kemudian berdiskusi di Gedung Putih dengan Presiden Trumman dan Menteri Luar Negeri James F. Byrnes.

Marshall saat mengucapkan sumpah sebagai Menteri Luar Negeri AS ke-50 di hadapan Presiden Trumman (1947)

Sebagai Menteri Luar Negeri, 1947-1949

Marshall, dalam menyampaikan orasi yang kelak dikenal sebagai “Marshall Plan” di Universitas Harvard (1947)

October 5th, 1947- Secretary of State George C. Marshall talks about hunger in Europe after World War II and food conservation. This was part of a special broadcast which included the first presidential address ever televised from the White House.

Pada 5 Oktober 1947 di layar televisi, Marshall menyampaikan pidato pentingnya rekonstruksi Eropa pasca Perang Dunia II. Pidato ini merupakan rangkaian pidato pelantikan Presiden yang untuk pertama kali ditayangkan di televisi.

 

Marshall, sebagai Menteri Pertahanan, saat menyampaikan Konferensi Pers di Tokyo (1951)

Pada bulan Januari tahun 1947, Truman, yang menyebut Marshall sebagai “kehidupan terbesar bagi bangsa Amerika”, menunjuk dia menjadi Menteri Luar Negeri. Dalam jabatan ini, Marshall merancang Program Pemulihan Eropa (ERP) yang dikenal sebagai “Marshall Plan.” Selama tahun pertama ERP menghabiskan $ 530 juta dan memainkan peranan penting dalam rekonstruksi Eropa usai perang.

Marshall menentang keputusan Presiden Trumman untuk mengakui secara resmi eksistensi Israel (1948). Bagi Marshall, tindakan itu merupakan bentuk intervensi kepada negara Arab dan hanya akan menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi masa depan perdamaian dunia. Marshall sendiri berkeyakinan bahwa tindakan itu hanya akan mengundang intervensi Yahudi dalam kepentingan nasional Amerika. Popularitas Trumman segera redup usai tindakan itu dan dalam nominasi masa jabatan Presiden oleh Partai Demokrat (1951), Trumman tersingkir.

Dari kanan ke kiri: Menteri Luar Negeri Inggris Ernest Bavin, Menteri Luar Negeri AS Marshall, Menteri Luar Negeri Uni Soviet V.M. Molotov, dan Menteri Luar Negeri Prancis George Bidaults, dalam sebuah pertemuan di Moskow pada 10 Maret 1947

 

 

Marshall (kanan) bersama dengan Presiden Harry Truman

Marshall ketika menjelaskan kepada Konggres perihal bantuan untuk rekonstruksi Eropa (1947)

 

Pada tahun 1949, gangguan kesehatan memaksa Marshall mengundurkan diri sebagai Menteri Luar Negeri dan ia digantikan oleh Dean Acheson. Namun, pada tahun berikutnya, saat berusia 69 tahun, Marshall menerima jabatan sebagai Menteri Pertahanan dan membantu mengatur kekuatan militer Amerika Serikat pada tahap awal Perang Korea.

Presiden Truman bersama-sama Menteri Pertahanan Marshall (1949)

Marshall, dalam posisi Sebagai Menteri Pertahanan (1949-1951)

Menteri Pertahanan Marshall ketika berbincang dengan Asisten Menteri Pertahanan Ana Rosenberg (1950)

Marshall, paling kiri, dalam posisi sebagai Menteri Pertahanan bercakap-cakap dengan Presiden Trumman (1949)

Persiapan upacara pemakaman Marshall dengan kemiliteran (1959)

Pada musim panas tahun 1951 Marshall diserang oleh Joe McCarthy, senator sayap kanan dari Wisconsin, karena dianggap bersikap lunak terhadap komunisme. Dalam pidato McCarthy pada tanggal 14 Juni 1951 itu, ia menuduh Marshall membuat keputusan yang “memberi jalan bagi Komunis untuk menguasai dunia” dan secara tersiratmenuduh Marshall sebagai seorang pengkhianat negara.

 

Mantan Presiden Harry Truman (depan, kanan) dan Jenderal Harry Vaughn menghadiri pemakaman Marshall (1959

Biografi Marshall, ditulis oleh Johnny Heller

Kecewa dengan kampanye kotor, Marshall pensiun dari politik. Namun, bakat Marshall dihargai di luar negeri dan pada 1953 ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas kontribusinya terhadap pemulihan Eropa setelah Perang Dunia Kedua. George Marshall meninggal di Washington pada 16 Oktober 1959.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s