Kisah 3 Bersahabat

Presiden Soeharto memimpin Indonesia hampir 32 tahun. Di seberang Batam ada sosok Lee Kuan Yew yang menjadi perdana menteri Singapura 31 tahun, sejak 1959 sampai undur diri pada 1990. Di Malaysia hadir Mahathir Mohamad yang berkuasa 22 tahun, sejak 1981 sampai digantikan pada 2003. Pak Harto meninggal pada 2008, Lee beberapa pekan lalu dimakamkan, dan Mahathir masih berperan dalam politik Malaysia hingga kini.

Ketiganya adalah ‘pemimpin kuat’ pada masanya. Kalau Pak Harto digelari ‘Bapak Pembangunan’, Lee sebagai ‘Bapak Bangsa’, Mahathir ditahbiskan sebagai ‘Bapak Modernisasi’ (Bapak Pemodernan) Malaysia. Pada masanya, ketiga tokoh ini dinilai berhasil dan meninggalkan warisan yang dikenang.

Baik Pak Harto, Lee, maupun Mahathir memimpin dengan cara keras dan tegas. Politik dikontrol sedemikian rupa untuk memastikan stabilitas terjaga. Di atas stabilitas itulah pembangunan ekonomi digerakkan. Modernisasi dijalankan ketiganya dengan baik di atas fondasi sistem ‘demokrasi terkendali’ atau yang acap dikritik sebagai ‘otoritaritarianisme terbatas’.

Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dikawinkan dengan sistem politik yang stabil di bawah kendali pemerintah. Sistem politik disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan sehingga demokrasi tercecer di belakang pertumbuhan ekonomi. Kemajuan ekonomi tidak diikuti pertumbuhan demokrasi. Demokrasi diupacarakan dalam pemilu yang hasilnya kurang lebih bisa diprediksi tanpa survei.

Kalau Pak Harto mengontrol politik lewat tiga jalur—ABRI, birokrasi, dan Golkar—Lee secara efektif menguasai People Action Party (PAP), Mahathir lewat UMNO. Golkar, PAP, dan UMNO adalah partai dan koalisi partai yang sangat dominan.

Pada masa jayanya, Golkar selalu menang, bahkan sudah menang besar sebelum pemilu diselenggarakan. PAP juga tampil sangat dominan dalam waktu sangat lama, meski pada pemilu terakhir ini sedikit turun. Koalisi UMNO jelas adalah pemain utama politik di Malaysia, terutama zaman Dr M berkuasa. Sistem ‘partai dominan’ menjadi pilar penjaga stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan.

Secara umum kebijakan pembangunan ekonomi Pak Harto, Lee, dan Mahathir hampir mirip. Jalan yang ditempuh adalah developmentalisme yang mengutamakan pertumbuhan dan mazhab modernisasi ekonomi yang cenderung liberal. Pasar diberi ruang leluasa, meskipun tak murni kapitalistik. Pemerintah juga membangun BUMN sebagai aktor ekonomi penting. Dalam urusan aktor BUMN ini, Lee dan Mahathir terbilang lebih sukses ketimbang Pak Harto.

Di masa Pak Harto, kemiskinan diturunkan angkanya secara signifikan, meskipun kesenjangan tak bisa dihindari. Meskipun senjang, rasio Gini periode Pak Harto lebih baik ketimbang sekarang. Indonesia bergerak dari negara miskin menjadi negara berkembang dan bahkan sempat dipuji sebagai ‘Macan Asia’.

Singapura juga tumbuh sangat cepat. Lee melipatgandakan tingkat kesejahteraan rakyatnya dalam waktu relatif singkat. Singapura pun masuk standar negara maju. Demikian pula Malaysia di bawah Mahathir. Pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan warganya menanjak lebih cepat ketimbang Indonesia. Program pembelaan ekonomi kepada bumiputera meningkatkan kue ekonomi nasional dan distribusinya.

Keberhasilan Pak Harto diakui dunia internasional. Salah satu yang dikenang adalah penghargaan Badan Pangan Dunia PBB (FAO) karena sukses berswasembada beras. Mahathir menyebut Pak Harto sebagai tokoh penting yang didudukkan sebagai orang tua di ASEAN, semacam primus interpares. Lee menyebut Indonesia di masa Pak Harto sebagai the first among equal, yang terutama dari yang sederajat.

Kalau Mahathir menyebut Pak Harto sebagai tokoh tegas dan paham masalah rakyatnya, Lee menilai the Smiling General—meminjam istilah OG Roeder—Ini sebagai pemimpin teguh, tegas, objektif, dan pragmatis. Sayang, penulis belum punya referensi tentang penilaian Pak Harto terhadap dua sahabatnya ini.

Di samping kesamaan itu, ketiganya mempunyai perbedaan. Perbedaan yang lebih jelas adalah antara Pak Harto dan kedua sahabatnya itu. Citra diri pascaberkuasa dari Pak Harto berbeda dengan Lee, baik di tingkat domestik, regional, dan internasional.

Meski sekarang keberhasilan Pak Harto mulai diakui di dalam negeri dan diikuti perbaikan citranya di mata publik, sejarah mencatat Pak Harto mundur dengan cara pahit. Tidak soft landing dan tidak husnulkhatimah secara politik. Badai krisis politik, ekonomi, dan kepercayaan memaksa Pak Harto berhenti di tengah jalan dan digantikan BJ Habibie.

Menjelang jatuh dan beberapa tahun setelahnya berbagai hujatan datang menerpa. Pak Harto agak terlambat menyadari keberhasilannya telah melahirkan kelas menengah politik, sosial, dan ekonomi yang kritis dan mempunyai tuntutan lebih tinggi. Pak Harto menjadi korban kesuksesannya sendiri dan sekaligus dijatuhkan oleh ‘skenario’ badai krisis ekonomi regional saat itu.

Jalan berbeda ditempuh Lee. Setelah berkuasa sejak 1959, Lee menyerahkan kursi perdana menteri kepada Goh Chok Tong. Sebagai mantan perdana menteri, Lee memilih agak ke belakang sebagai menteri senior. Pada 2004, Lee ambil langkah lebih ke belakang lagi sebagai menteri mentor, semacam mengikuti ajaran tut wuri handayani.

Demikian halnya dengan Mahathir. Setelah menjadi perdana menteri menggantikan Hussein Onn pada 1981, Tun Mahathir menyerahkan kursi perdana menteri kepada timbalannya, Abdullah Ahmad Badawi pada 2003. Pada 1999, Mahathir menyingkirkan terlebih dulu timbalannya, Anwar Ibrahim, dan menukarnya dengan Badawi.

Sejak mundur hingga kini, Mahathir tetap menjadi figur penting dalam politik Malaysia. Naiknya Badawi dan Najib Razak tetap atas sentuhan pengaruh Mahathir. Artinya, baik Lee maupun Mahathir turun atas kehendaknya sendiri, justru ketika posisinya sedang kuat dan kemudian tetap berperan penting setelah ambil posisi di belakang. Keduanya menjadi tokoh yang bekerja di balik pemimpin penggantinya.

Pak Harto terlambat menyiapkan pengganti, sementara Lee sukses menjadikan Goh Chok Tong sebagai pemimpin transisi sebelum naiknya Lee Hsien Loong. Mahathir pun sukses mengalihkan kepemimpinan ke Badawi meski sejak awal menyiapkan Anwar.

Keterlambatan Pak Harto mundur dan menyiapkan pengganti menyebabkan patahan sejarah politik di Indonesia. Butuh waktu cukup lama agar Indonesia kembali bisa menggerakkan kapal sejarahnya. Sementara, keberhasilan Lee dan Mahathir mengelola transfer kekuasaan telah berkontribusi pada kelumintuan atau kontinuitas Singapura dan Malaysia dalam memajukan dan menyejahteraan rakyatnya.

Andai saja Pak Harto mengikuti langkah Lee, misalnya tidak lagi bersedia menjadi presiden pada Sidang Umum MPR 1993, sejarah Indonesia boleh jadi akan sangat berbeda. Indonesia mungkin tidak mengalami patahan sejarah 1998, sama halnya dengan Singapura dan Malaysia. Pak Harto pun akan dikenang sebagai legenda besar karena turun pada saat sedang di puncak kekuasaan.

Ibarat sepak bola, Pak Harto tidak lagi menjadi pemain timnas karena dicoret oleh pelatih, sedangkan Lee dan Mahathir memilih ‘gantung sepatu’ ketika masih bersinar di timnas. Ketiganya pemain hebat, tetapi berbeda proses saat meninggalkan arena.

Sebagaimana diakui Mahathir, Pak Harto adalah tokoh hebat dan berhasil. Indonesia yang besar dan sangat majemuk memang tidak bisa serta-merta dibandingkan dengan Malaysia, apalagi dengan ‘negara kota’ Singapura. Masalah dan tantangannya tentu sangat berbeda. Mengelola Malaysia dan Singapura jelas tidak bisa disetarakan dengan mengurus Indonesia.

Terlepas dari perbedaan ketiga sahabat itu—terutama berakhirnya Pak Harto yang agak tragis—ketiganya adalah tokoh besar dan berhasil pada masanya. Dikatakan berhasil bukan tanpa kekurangan dan kekhilafan. Pak Harto yang lahir pada 1921, Lee 1923, dan Mahathir 1925 dengan segala kiprahnya adalah cermin sejarah yang menarik.

Pak Harto sekarang mulai pulih namanya setelah meninggal pada 2008, Lee yang baru saja berpulang begitu disanjung dan dipuji dalam pengantar menuju pemakaman, sementara Mahathir Mohamad masih ‘manggung’ dan masih bisa membuat panas-dingin Najib Razak.

Coba sejenak kita bayangkan bagaimana jika Lee atau Mahathir memimpin Indonesia. Apakah bisa lebih baik dari Pak Harto? Mari kita timbang ketiga sahabat itu dengan jernih, sembari memetik hikmahnya. Cerita pahit Pak Harto adalah lahan pembelajaran sejarah untuk masa depan.