Ki Nartosabdho: Maestro Pedalangan dan Karawitan

Kejadian kira-kira di pertengahan tahun 1988. Suatu saat aku melihat Ibu membeli sebuah kaset baru. Kaset gending-gending Jawa. Kulihat ibu, yang biasa bekerja keras dan abai terhadap kebutuhan hiburan, begitu menikmati alunan musik kaset itu. Bahkan ikut berdendang.

Sarung jagung, abote kebacut tresno
Tak rewangi korban jiwo rogo
Mlaku adoh tan nggresulo
Watone sesandhingan, kang gawe tentrem rasaku
Nadyan munggah gunung, nora wegah
Watone tansah sumanding

Mung tansah eling, sarung jagung
Rasane kabotan tresno
Yen tan weruh sedino koyo setaun
Sarung jagung abot rasaku

Gending mengalun merdu. Dan di tengah-tengah imbal, peralihan dari satu sesi tembang ke sesi berikutnya, pukulan saron begitu jelas menggema. Kudekati dan kuamati dengan iseng kaset yang baru dibeli itu.

Kaset rekaman gending karya Ki Nartosabdho Vol 4 Produksi Fajar Record

Kaset rekaman gending karya Ki Nartosabdho Vol 4 Produksi Fajar Record

Lagu yang diperdengarkan ibu tadi ternyata gending yang berjudul “Sarung Jagung.” Pada sampul kaset kubaca “Mengenang Gending2 Karya Ki Nartosabdho.” Itu saja. Sebagai keluarga yang berasal dari pedesaan dan jauh dari hingar bingar kehidupan urban yang megah, menikmati gending-gending Jawa merupakan sesuatu yang lumrah. Sebagai anak kecil yang masih menginjak bangku sekolah dasar, itu saja yang dapat kuceritakan.

Tapi menginjak duduk di bangku SMP, nama Ki Nartosabdho kembali aku dengar. Guru Bahasa Jawa, Bapak Kaseran, sering menyebut nama ini ketika mengajarkan tembang-tembang Jawa, yang kelak kukenal sebagai Gending jawa kreasi baru. Salah satu yang diajarkan yang kuingat adalah tembang “Ngundha Layangan.” Namun, ya masih begitu saja. Tidak ada memori khusus mengenai nama Ki Nartosabdho.

Pada saat awal-awal belajar di SMA, entah mengapa, aku kemudian tertarik dengan wayang kulit. Walaupun sebelumnya lewat siaran radio sering kudengar siaran rekaman kaset-kaset dalang kondang Yogyakarta, seperti Ki Timbul Hadiprayitno (1932-2009) dan Ki Hadisugito (1942-2008). Tetapi aku tak pernah memberikan apresiasi serius. Seorang pegawai tata usaha, yang namanya aku lupa, kemudian menjadi patner diskusi di sela-sela istirahat. Dari pegawai ini, kudengar lebih banyak lagi informasi mengenai Ki Nartosabdho.

Ternyata sosok ini bukan sosok sembarangan. Ia adalah dalang kondang, yang meninggal dunia pada tahun 1985.  Ia pintar mencipta gending Jawa kreasi baru. Dari tangannya, dalang kesohor seperti Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono lahir.

Saat itu tahun 1995. Di Solo ada Festival Greget Dalang dalam rangka 50 tahun kemerdekaan. Sebanyak 50 dalang pentas bergiliran di Alun-Alun Karaton Surakarta. Dan tiap hari Sabtu, RRI Surakarta, yang dapat kutangkap siarannya, melakukan siaran langsung. Aku baru mulai tahu: itulah wayang kulit gaya Surakarta. Kalau di Yogyakarta namanya gaya Mataraman. Dan saat itu masih saja ada orang yang mempersoalkan dan fanatik dengan perbedaan diantara dua gagrak tersebut.

Dunia Pewayangan Indonesia dikenal adanya berbagai gaya, atau gagrag atau tradisi pedalangan seperti gaya Surakarta, gaya Ngayogyakarta atau Mataram, gaya Jawa Timuran, gaya Pesisiran, dan sebagainya. Di antara gaya-gaya pedalangan yang sangat populer di masyarakat pendukung pewayangan adalah gaya pedalangan Surakarta dan gaya pedalangan Ngayogyakarta. Kiranya disadari bahwa perkembangan jagad pedalangan berlangsung seiring dengan perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Keraton sebagai pusat kekuasaan dan pusat pemerintahan pada waktu itu memiliki andil dan peran yang sangat besar terhadap pembinaan dan perkembangan seni pertujukan wayang. Munculnya gaya-gaya pedalangan juga tidak lepas dari kehidupan keraton Jawa yaitu kerajaan Mataram yang terbagi ke dalam dua kerajaan yaitu kerajaan Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat membawa perkembangan dua gaya pedalangan yaitu gaya pedalangan Surakarta dan gaya pedalangan Ngayogyakarta atau Mataram, di samping itu terdapat gaya pedalangan kerakyatan yang masih hidup di desa-desa

Tetapi yang paling penting: nama Ki Nartosabdho semakin kukenal. Dan aku mulai senang wayang kulit. Dan aku mulai sering merengek-rengek ke ibu untuk dibelikan kaset rekaman wayang kulit.

Ketika itu setiap seri rekaman wayang kulit terdiri 8 kaset. Harganya Rp 50 ribu. Aku juga semakin senang mendengarkan gending-gending Jawa Ki Nartosabdho. Ternyata kalau ibu dulu membeli kaset volume 4, pada saat itu, secara bertahap, aku berhasil memperoleh hingga 6 volume secara lengkap. Menurut info kemudian, rekaman itu serial khusus persembahan label untuk mengenang wafatnya sang maestro ini. Isinya adalah kompilasi karya-karya terpopuler Ki Nartosabdho.

Nartasabdho lahir tahun 1925 di Desa Wedi Klaten, sejak kecil berada di lingkungan keluarga yang serba kekurangan. Namun dengan tekadnya ia mengabdi dan nyantrik kepada dalang Pujasumarta. Nyantrik dan ngenger adalah cara yang digunakan oleh para calon dalang atau penari agar ia dapat tampil seperti kemampuan yang dimiliki oleh gurunya. Maka dengan jalan mengikuti kemana saja Pujasumarta pentas, dengan harapan ia dapat mengamati, meresapi dan menghayati pakelirannya, yang pada gilirannya ia dapat melakukan seperti yang dikerjakan oleh gurunya itu. Hal itu dilakukan oleh para dalang seperti Ganda Darman dan juga Nartasabdho yang pada waktu itu bersama-sama nyantrik pada Pujasumarta. Ia nyantrik kepada Arjasuganda, Nyatacarita, Gitacarita dengan cara mengikuti pementasan wayang dan ikut memainkan ricikan gamelan tertentu. Dengan cara itu lama-kelamaan mendapat pengetahuan maupun keterampilan teknis pakeliran.

Kira-kira tahun 1946 Nartasabdho merasa sudah cukup nyantrik dengan Pujasumarta, mencari pengalaman lain dengan menggabungkan diri dengan grup Wayang Orang Ngesti Pandawa di bawah pimpinan Sastrasabda, sebagai pemain kendang.

Ki Nartosabdho bersama-sama perintis dan pendiri Wayang Wong Ngesti Pandhawa, Semarang.

Ki Nartosabdho bersama-sama perintis dan pendiri Wayang Wong Ngesti Pandhawa, Semarang.

Kehadiran Nartasabda dalam jagad pedalangan memberi warna tersendiri pada wujud pakeliran, gaya permainannya yang mencakup: janturan, ginem, pocapan, banyol, gendhing, sulukan dan sanggit berbeda dengan pekeliran pada umumnya, walaupun ia pernah nyantrik/ngenger pada Pujasumarta.

 

 

 

Pembaharuan yang hebat dalam jagad pedalangan dirintis oleh Nartasabdho, memulai gaya lucu untuk narasi bahkan pada awal pertunjukan sudah dimasukan humor. Pakeliran Nartasabdho agaknya tidak hanya melangkah ke arah demoktratisasi tokoh saja, tetapi membuat tokoh lebih realistik. Suasana mistik lenyap bersamaan dengan masuknya parfum, gelas minuman keras, tinju, sapu tangan ke dalam panggung wayang kulit. Jagad wayang kulit menjadi lebih dekat dengan kita karena bukan hanya gara-gara yang membicarakan hal-hal sehari-hari, kapan saja dan pada adegan manapun dikehendaki oleh dalang.

Pakeliran Nartasabda memadukan gaya pakeliran Surakarta dan gaya pakeliran Yogyakarta, yang sebelumnya belum pernah terjadi bahkan kedua daerah itu saling mencela. Berkat kemampuan Nartasabda kedua gaya dapat diramu dalam pakeliran sehingga wujud pakeliran wayang yang disajikan terasa segar dan semangat (greget). Bahkan unsur-unsur karawitan dari daerah lain seperti dari Bayumas, Sunda, Jawa Timur digunakan dalam menyusun gending untuk keperluan mengiringi adegan tertentu dalam lakon wayang yang ditampilkan. Hal ini menunjukan bahwa Nartasabda dalam menggarap pakeliran berwawasan Nusantara/ Nasional maka pakelirannya oleh Nartasabda dinamakan Pakeliran Gaya Baru. Dalang kesayangan pada tahun 982 menerima hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia, dan pada tahun 993 menerima Bintang Maha Putra dari Presiden RI selaku Kepala Negara atas jasa- jasanya dalam bidang seni pedalangan Indonesia.

Penggarapan sungguh-sungguh, cepat, keras, wijang, dan tidak cewet/salah serta dapat membuat suasana. Bahasa dan sastra yang digunakan dalam sajian pakeliran cukup mempesona penonton, menarik, bervariasi dan bermutu, kadang-kadang diselingi dengan humor dalam suasana yang serius. Hal ini memang menjadi ciri pakeliran Nartasabdho dan mengundang tanggapan pro dan kontra bagi masyarakat pendukung pewayangan. Dialog yang penting kadang-kadang disisipi humor namun isi yang disampaikan dapat ditangkap oleh penonton sehingga terjadi komunikasi artistik. Hal itu terjadi oleh karena kematangan dan kemampuan kesenimanan Nartasabdho dalam jagad pedalangan.

Salah satu pose Ki Nartosabdho ketika melakukan pargelaran

Salah satu pose Ki Nartosabdho ketika melakukan pargelaran

Nartasabdho dalam hal banyol meniru Nyatacarita, sabet meniru Arjacarita, dan catur meniru Pujasumarta dan Wignyasutarna, tetapi pada kenyataannya berbeda jauh oleh karena telah dikembangkan sesuai dengan kedewasaannya Nartasabdho. Sadar dengan kondisi masyarakat yang terus berubah selalu berusaha menggarap pakeliran agar dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa mengabaikan nilai estetisnya. Dengan cara menggarap dramatik setiap lakon yang disajikan di samping menggarap karawitan pakeliran dengan menyusun gending-gending baru untuk mengiringi adegan khusus. Suasana pakeliran selalu hidup, tidak kendor (kemba), selalu dinamik (grengseng) dan renggep, segar membuat para penonton tetap tinggal di tempat sampai adegan tancep kayon.

Hampir semua garapan karawitan pakelirannya selalu dengan vokal pesindhen maupun vokal penggerong, walaupun menggunakan gending tradisi, yang diaransemen gerongnya terasa segar dan gembira serta indah untuk diresapi. Sebagai contoh penggunaan gending tradisi digarap gerong bedhayan atau gerong khusus dapat dicermati pada sajian lakon Karna Tanding pada adegan ketiga di Hupalawiya dengan gending Glondhongpring, pelog nem dengan garap gerong bedhayan; pada adegan Bima dan Drupadi waktu melaksanakan jamas dengan gending Eling-eling garap gerong khusus. Adegan di Astina iringan gending Logondhang, pelog nem dengan gerong bedhayan, dan Ladrang Clunthang, slendro sanga untuk mengiringi Abimanyu turun dari Saptarga dengan garap gerongan khusus karya Nartasabdho.

Ki Nartosabdho berpose bersama pesinden Ibu Ngatirah (pesinden RRI Semarang), yang juga ikon grup karawitan Condhong Raos.

Ki Nartosabdho berpose bersama pesinden Ibu Ngatirah (pesinden RRI Semarang), yang juga ikon grup karawitan Condhong Raos.

Nartasabdho selain menggarap gending klasik juga mencipta lagu-lagu dolanan yang disajikan dalam pakeliran wayang, dan gending-gending dolanan sangat populer di kalangan masyarakat maupun para pengrawit/musisi. Lagu lagu dolanan yang sangat populer yaitu Turi-turi Putih, Sarung Jagung, Swara Suling, Praon, Lesung Jumengglung, Santimulya, Saputangan, Sapangira, Ayo Ngguyu dan sebagainya. Gending-gending karya Nartasabda sampai sekarang masih dimainkan oleh para musisi baik dalam acara klenengan atau campur sari maupun dalam pertunjukan wayang kulit dewasa ini.

Tahun 1976 Sena Wangi dan Pepadi Pusat mengambil prakarsa untuk menilai pakeliran Nartasabda secara objektif. Prakarsa ini dilaksanakan di Gedung Kebangkitan Nasional pada bulan Mei 1976, dan pada waktu itu gedung dipenuhi para penonton. Penilaian dilakukan oleh 7 orang juri yang terdiri dari para budayawan, ahli wayang dan orang–orang yang kontra terhadap pakeliran Nartasabda, dan juri dipimpin oleh Pandam Guritna. Hasil rapat tim juri menyatakan bahwa Nartasabda adalah seorang dalang yang terbaik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s