Ketika Kennedy Geram kepada CIA

Tidak lama sebelum tewas terbunuh di Dallas, Texas, pada tanggal 22 November 1963, Presiden Kennedy (dilantik pada 20 Januari 1961) menyerukan penarikan separuh personel militer dari Vietnam dan secara keseluruhan harus usai pada akhir 1965. Kennedy juga menunda invasi ke Kuba, dan membatalkan kontrak-kontrak di lingkungan pertahanan senilai US $ 70 miliar. Ia merasa  ia telah ditipu oleh CIA, yang diam-diam melakukan tindakan rahasia terhadap Kuba; dan mencoba untuk membunuh Castro yang hampir memulai Perang nuklir dengan Rusia. Kennedy jengah dengan CIA yang ditudingnya memiliki terlalu banyak kekuasaan dan memungkinkan badan ini bertindak melampaui Presiden dan Kongres.

Pada awal tahun 1961, Allen Dulles telah menghadap Kennedy untuk mengusulkan menjatuhkan bom nuklir terhadap Rusia, sebuah tindakan yang memungkin akan membunuh jutaan penduduk sipil tidak berdosa. Kennedy menolak usulan itu. Dengan tegas Kennedy juga menolak rekomendasi Dulles supaya mengirimkan pasukan sehubungan dengan invasi Teluk Babi.

Presiden Kennedy menyematkan medali penghargaan kepada Allen Dulles, bekas Direktur CIA, 28 November 1961

Invasi Teluk Babi digagas Presiden Dwight D Eisenhower dan dilaksanakan Presiden John F Kennedy, dengan tujuan menggulingkan Fidel Castro. CIA menyebutnya Operasi Zapata. Pentagon menolak gagasan ini.

Presiden Kennedy berbicara dengan personel militer di Miami dalam perintah untuk membebaskan Kuba, 29 Desember 1962

Kennedy tidak kehabisan akal. Ia membentuk pasukan sendiri; terdiri dari mafia yang mendukungnya saat terpilih sebagai presiden, para bedebah, dan pengungsi Kuba yang lari setelah penggulingan Flugencio Batista oleh Fidel Castro. CIA mengorganisir operasi ini. Rencananya, pasukan bentukan CIA mendarat di Teluk Babi, dan menyerbu Havana. Sebelum pendaratan, Kennedy mendapat jaminan Angkatan Udara AS akan melakukan pemboman untuk melumpuhkan pertahanan partai Kuba.

Presiden Kennedy berbincang dengan Jaksa Agung Robert Kennedy (yang juga adik kandungnya) dalam masalah Invasi Teluk Babi

Pemboman itu tidak pernah ada. Pasukan CIA mendarat di Teluk Babi, dan terlibat pertempuran dengan petani dan nelayan. Ratausan penduduk di sepanjang Pantai Teluk Babi, terjebak di tengah pertempuran.
Arsip Militer Kuba menyebutkan 300 orang tewas dalam dua hari pertempuran di Teluk Babi. Sebagian besar, sekitar 176 adalah petani yang angkat senjata untuk menahan laju penyerang sebelum Tentara Ravolusioner Kuba pimpinan Fidel Castro tiba. Penyerang merebut Playa Giron, dan membangun basis, untuk melancarkan serangan ke Havana.

Sejenak menoleh ke belakang, dua hari sebelum Invasi Teluk Babi, pesawat CIA — menyamar sebagai pesawat Kuba — menyerang tiga pangkalan udara untuk melumpuhkan Angkatan Udara Fidel Castro. Pemboman menghancurkan banyak pesawat yang parkir di sisi landasan, tapi semua itu pesawat rongsokan dan tak berguna.

Intejelen Kuba tahu rencana pemboman CIA, dan menyembunyikan pesawat yang layak terbang di sebuah lokasi rahasia. Fidel Castro tak langsung menyerang Giron. Ia menunggu AU Kuba mengeluarkan pesawat-pesawat dari tempat rahasia, dan menerbangkannya. Ketika pesawat-pesawat itu mengudara, Fidel Castro dan tentaranya menyerang Giron. Pesawat-pesawat Kuba menyerang USS Houston, kapal utama para penyerang. Fidel menyaksikan semua itu.

Presiden Kennedy usai berbincang dengan mantan Presiden Eisenhower dalam masalah krisis Kuba di Camp David, April 1961

CIA mencatat Invasi Teluk Babi sebagai peristiwa paling memalukan dalam sejarah. Namun setengah abad setelah peristiwa itu CIA tetap menolak melakukan review internal dan investigasi Teluk Babi, yang disebut Volume V CIA. CIA diyakini sedang berusaha keras menyembunyikan Invasi Teluk Babi tahun 1961, tapi entah bagaimana caranya.

Invasi ini kemudian memuncak dan memicu terjadinya Krisis Misil Kuba pada tahun 1962. Krisis ini bermula ketika Amerika Serikat mendeteksi bahwa Uni Soviet membangun fasilitas misil nuklir di Kuba yang dibalas oleh Amerika Serikat dengan memblokade wilayah Kuba. Krisis ini berakhir dengan kesepakatan bahwa Amerika tidak akan menginvasi Kuba. Ini yang diutarakan Kennedy kepada Dulles.
Semua kemudian menjadikan alasan Kennedy untuk memecat Dulles dari jabatannya selaku Direktur CIA. Kennedy berkata, “Remukkan CIA dalam 1000 serpihan kecil dan taburkan dalam tiupan angin.”
Harian The New York Times kemudian menerbitkan sebuah laporan 600halaman, yang mengungkapkan bukti baru bahwa banyak penjahat perang Nazi dan pembunuhan massal terkenal telah diam-diam bekerja untuk CIA selama lebih dari 30 tahun. Presiden Kennedy juga memerintahkan CIA untuk menghentikan penyelundupan dan penjualan obat-obatan untuk memperoleh senjata dan melakukan pembunuhan, perang, dan operasi-operasi rahasia, dan ia mengirim FBI untuk menemukan kamp-kamp rahasia dan menutupnya.
Presiden Kennedy memiliki rekan terpercaya yang kemudian menuliskan sebuah artikel di New York Times, Arthur Krock. Dalam sebuah artikel yang terbit pada 3 Oktober 1963 dengan judul ” “The Intra-Administration War in Vietnam”, Kennedy menyatakan bahwa telah 2 kali CIA menolak menjalankan perintahnya karena bertentangan dengan dirinya. Kennedy menyebut “pertumbuhan CIA yang ganas dan barangkali Gedung Putih sendiri tidak akan mampu mengendalikannya.” Kennedy dengan berani mengatakan, “Andaikata terjadi kudeta di AS, maka dipastikan itu asalnya dari CIA.”  Kennedy menyerukan kewaspadaan kepada rakyat AS mengenai adanya kekuatan tersembunyi yang mengendalikan pemerintahan dan hanya sebulan sesudah artikel itu, sebuah senapan yang diduga dibidikkan oleh Oswald membelah otak Kennedy menjadi ribuan sepih dan bertebaran dalam pusaran angin.
Pada Juni 1961, Presiden Kennedy memandatangani Memorandum Keamanan Nasional Nomor 55, yang pada intinya semua operasi rahasia yang dilakukan oleh semua badan harus diketahui oleh Kepala Staf Gabungan, yang mana kepala staf harus melaporkan secara tegas dan tidak boleh disensor kepada Presiden. Kebijakan ini menyimpang dari tradisi dan tak pernah ada jejak pendahuluannya.
Pukulan terakhir terhadap kebijakan militer datang pada 11 Oktober 1963 yang mana Kennedy mengeluarkan Memorandum Keamanan Nasional Nomor 263, yang memerintahkan penarikan personel militer dari Vietnam pada 25 Desember 1963, dan secara keseluruhan pada akhir 1963.

Memorandum Nomor 236, 29 April 1963

Memorandum Nomor 263 Tanggal 11 Oktober 1963 mengenai masalah Vietnam

Pada 30 Oktober 1963, Presiden Vietnam Utara, Ngo Dinh Diem, tewas dibunuh oleh saudara iparnya dalam sebuah kudeta militer dengan dukungan CIA. Senator George Smathers ingat reaksi Kennedy ketika mendengar tentang penggulingan  dan kematian Diem: Aku harus melakukan sesuatu terhadap bajingan itu kekuasaan mereka yang setinggi langit harus dilucuti.” Tentu saja Kennedy sedang membicarakan CIA. Sayangnya, Kenendy harus meregang nyawa 3 minggu kemudian.
Hanya 4 hari sesudah kematian Kennedy, penggantinya, Presiden Johnson mengeluarkan Memorandum Keamanan Nomor 273 pada 26 November 1963. Isinya membalikkan memorandum sebelumnya. Johnson membekukan kebijakan Kennedy dan tetap berkomitmen untuk melanjutkan perang Vietnam. Ada persangkaan, walaupun kemudian beberapa fakta membuktikan sebaliknya, bahwa Johnson telah membaca rancangan memorandum itu pada 21 November, hanya sehari sebelum Kennedy tewas. Kalau Kenendy mengirimkan 160 ribu personel ke Vietnam, 5 tahun berikutnya Johnson telah mengirimkan 550 ribu personel.
Johnson selama menjadi Wakil Presiden telah mengesankan diri sebagai tangan kanan Kennedy. Dia selalu membujuk Evelyn Lincoln, sekretaris Kennedy agar mengundangnya saat rapat-rapat di Gedung Putih membahas masalah penting. Faktanya, Kennedy mengabaikannya. Johnson menentang Kennedy bersama-sama petinggi militer di Berlin, Vietnam, dan Kuba.

Presiden Kennedy bersama sekretarisnya, Evelyn Lincoln (berkacamata) di Gedung Putih

Bagaimanakah sudut pandang Johnson terhadap rangkaian peristiwa pasca pembunuhan Kennedy dan apakah benar ia merumuskan kebijakan yang bertentangan dengan pendahulunya? Silakan simak artikel ya di https://isharyanto.wordpress.com/sosok-2/kennedy-dan-kudeta-as/