Kennedy dan “Kudeta” AS

Pada tanggal 22 November 1963, Wakil Presiden Lyndon B. Johnson (55 tahun) dilantik menjadi Presiden AS. Pada tanggal yang sama, Presiden J.F. Kennedy tewas terbunuh dalam sebuah peristiwa penembakan di Dallas, Texas. Johnson dilantik di hadapan peti jenazah dalam pesawat yang menerbangkan jenazah Kennedy ke Washington.

Pelantikan Lyndon Johnson sebagai Presiden AS (REUTERS)

Menurut stasiun televisi The History Channel, Presiden Johnson dilantik hanya dua jam setelah JFK wafat akibat tembakan di kepala. Pelantikan pemimpin berusia 55 tahun itu dilakukan di dalam pesawat kepresidenan, yang sedang mendarat di pangkalan Angkatan Udara Andrew’s. Ibu Negara Claudia Alta Taylor Johnson, menjadi saksi pelantikan ini bersama janda Kennedy, Jacqueline, yang masih mengenakan baju yang ternoda oleh darah suaminya.

Pada tanggal 26 November 1963, Presiden Johnson menandatangani Memorandum Keamanan Nasional Nomor 273, sebuah dokumen tingkat tinggi untuk urusan tersebut, yang berisi rencana dan kebijakan atas Perang Vietnam. Dokumen ini berisi perintah yang sama sekali berbeda dengan yang tertuang dalam dokumen serupa bernomor 263 yang ditetapkan pada 11 Oktober 1963. Dalam dokumen ini pada intinya mendiang Presiden Kennedy menetapkan bahwa pada akhir 1965, seluruh personel militer AS akan ditarik dari Vietnam.

Memorandum Nomor 273 di atas dirancang pada 21 November 1963, hanya sehari menjelang pembunuhan terhadap Kennedy. Nampaknya subtsansi di dalamnya tidak merupakan kebijakan Presiden Kennedy. Ia tidak pernah memberikan instruksi dan tidak pernah pula meminta rancangan dokumen ini. Mengapa dokumen itu cepat dikeluarkan? Johnson sendiri tidak pernah mempersiapkannya. Ia tidak meramalkan dirinya menjadi Presiden pada tanggal 26 November tersebut.

Pada 29 November 1963, Presiden Johnson mengadakan pertemuan dengan Direktur FBI Edgar Hoover guna membahas usulan nama-nama yang akan diajukan dalam sebuah komite untuk menyelidiki kematian Kennedy. Nama-nama yang masuk adalah Ketua Mahkamah Agung Earl Warren, Anggota DPR Gerald Ford (Republik, kelak menjadi Wapres pada 1973 dan kemudian Presiden pada 1974-1977), Anggota DPR Halle Boog (Demokrat), Senator Richard B. Russel (Demokrat), Senator John Sherman Cooper (Republik), John J. Mcloy (seorang bankir New York), Allen W. Dulles (bekas Direktur CIA pada masa kepresidenan Eisenhower), Senator Job Jevits (Demokrat), dan Louris Norstad (perwira Angkatan Udara). Seluruh nama-nama itu disetujui kecuali dua nama terakhir yang tidak pernah diketahui alasannya. Warren memimpin komite itu sehingga dikenal sebagai Komite Warren.

Johnson dan Hoover adalah kawan lama yang berseberangan tempat tinggal di Washington selama 19 tahun. Mereka telah saling memahami dan saling membutuhkan satu sama lain. Sebagaimana terekam dalam arsip memorandum, yang terekam pada tanggal yang sama dan kemudian diperbanyak 8 eksemplar untuk pejabat senior di lingkungan FBI, Johnson yang saat pembunuhan Kennedy berada di kendaraan nomer tiga dalam iring-iringan kemudian mengajukan pertanyaan personal.

Johnson bertanya, “Berapa kali terjadi tembakan?” Hoover menjawab, “Tiga.” Johnson melanjutkan pertanyaan adakah tembakan yang diarahkan kepada dirinya? Hoover menjawab, “Tiga tembakan diarahkan kepada Presiden dan kita memiliki bukti soal itu.” Sebanyak tiga tembakan diarahkan kepada Kennedy dan lainnya kepada Gubernur Texas Connely (Demokrat, kelak menjadi Menteri Keuangan pada masa kepresidenan Richard Nixon, 1969-1972 dan Menteri Energi pada masa kepresidenan Carter, 1977-1981).

Diskusi diantara karib lama itu terjadi pada 29 November 1963, seminggu usai peristiwa penembakan Kennedy. Hal yang paling penting ini menunjukkan perhatian mendalam dari Johnson. Ia mendengar luncuran peluru melewati kepala dan ia tidak akan pernah melupakan suara tersebut. Ia telah terlatih di Dallas.

Pada awal Juni 1971, tak lama usai munculnya Pentagon Papaers di New York Times, Leo Janos, bekas staf Gedung Putih, menghadiri santap siang pribadi di sebuah ruangan Perpustakaan Johnson dengan dihadiri teman-teman yang lain. Kehadirian Janos dilaporkan oleh Majalah Atlantic sebagaimana tulisan di bulan Juli 1973, sebagai berikut: “Selama menikmati hidangan kopi, pembicaraan beralih ke masalah Presiden Kennedy. Johnson merasa yakin bahwa pembunuhan Kennedy adalah bagian dari konspirasi sistematis. Johnson meyakini bahwa Oswald (terduga pembunuh) memang bertindak sendirian, akan tetapi ia hanya menjadi pemicu saja. Johnson juga menandaskan bahwa pemerintah memiliki bom hidrogen berkekuatan penuh. Pemerintah telah melakukan operasi terhadap Murder Inc (Johnson menyebut istilah ini untuk “mafia”) di Karibia.

Itu terjadi pada bulan Juni 1971. Johnson meninggal dunia pada Januari 1973. Artikel itu sendiri terbit pada Juli 1973. Dari rangkaian itu dapat digambarkan siapa Johnson. (1) Ia adalah orang yang membentuk Komisi Warren; (2) Ia adalah sosok yang mengendari mobil dalam iring-iringan; dan (3) Ia menjadi jamban dari sebuah rencana kotor pemerintahan. Oleh sebab itu, masuk akal teori yang berkembang selama ini bahwa Kennedy terbunuh akibat keputusan tingkat tinggi di pemerintahan, dan mungkin juga tingkat dunia.

Ini mungkin menjdi pembanding atas Laporan Komisi Warren yang mengatakan bahwa Lee Harvey Oswald adalah pelaku tunggal yang dengan tiga kali letusan senapan telah membunuh Presiden Kennedy dan melukai Gubernur Conelly. Laporan Komisi Warren telah digunakan untuk memberikan darah kehidupan penutupcerita besar yang tetap hidup selama beberapa dekade untuk mencuci otak generasi orang Amerika dan orang lain di seluruh dunia. Ini melanggengkan “kudeta” Amerika.