Kebijakan Luar Negeri Eisenhower

Presiden Eisenhower

Presiden Dwight D. Eisenhower (menjabat 1952-1961) merumuskan “New Look” sebagai kebijakan keamanan nasional AS pada tahun 1953. Elemen utama dari New Look adalah: (1) menjaga vitalitas ekonomi AS guna membangun kekuatan yang cukup untuk menghadapi Perang Dingin; (2) mengandalkan senjata nuklir untuk menghalangi agresi Komunis atau, jika perlu, untuk berperang; (3) menggunakan Central Intelligence Agency (CIA) untuk melaksanakan tindakan rahasia terhadap pemerintah atau pemimpin ” yang langsung atau tidak langsung responsif terhadap kontrol Soviet”; dan (4) memperkuat sekutu dan mempengaruhi negara-negara Non Blok.

Menteri Luar Negeri John Foster Dallas (kiri) dan Presiden Eisenhower berkomitmen melanjutkan ajaran Truman untuk melawan komunisme

Kebijakan pertahanan Eisenhowermemotong pengeluaran untuk personel konvensional tetapi meningkatkan anggaran untuk Angkatan Udara dan pengembangan senjata nuklir. Meskipun belanja sektor keamanan nasional cukup dinamis, akan tetapi tidak pernah kurang dari separuh anggaran federal sepanjang  sewindu kepresidenannya.

Diplomasi Nuklir

Senjata nuklir memainkan peran kontroversial dalam beberapa inisiatif diplomatik Eisenhower, termasuk upaya Presiden untuk mengakhiri Perang Korea. Seperti yang dijanjikan, Eisenhower pergi ke Korea setelah ia terpilih tapi sebelum ia dilantik. Perjalanan telah memberikan solusi penyelesaian perang.

Tetapi selama musim semi 1953, para pejabat AS berusaha mengirimkan pesan langsung kepada pemerintah di mana Presiden Eisenhower mungkin memperluas perang atau bahkan menggunakan senjata nuklir terhadap China.. Beberapa sejarawan berpikir bahwa ancaman terselubung tersebut mungkin telah mendorong China untuk mencapai penyelesaian atas isu Korea.

Peningkatan tekanan militer AS selama musim semi tahun 1953 mungkin memiliki efek yang lebih besar terhadap kesediaan Korea Utara dan Cina untuk melakukan negosiasi penyelesaian. Ada juga bukti terpercaya bahwa para pemimpin Soviet yang berkuasa setelah kematian Stalin di bulan Maret 1953 yang  ditekan oleh AS untuk mengakhiri perang. Kedua belah pihak membuat konsesi repatriasi tawanan perang, dan gencatan senjata mulai berlaku pada bulan Juli 1953. Korea tetap dibagi sepanjang garis perbatasan 38 derajat, kira-kira seluas batas yang sama seperti ketika perang dimulai pada tahun 1950.

Salah satu warisan Perang Korea situasi hubungan Washington dan Beijing yang bermusuhan dan tegang. Seperti halnya Presiden Truman (menjabat 1945-1952), Eisenhower menolak  mengakui Republik Rakyat Cina (RRC). Sebaliknya, ia terus mendukung pemerintahan nasionalis Jenderal Jiang Jieshi  (Chiang Kaishek)  di Taiwan. Setelah  RRC mulai menyerang Taiwan di wilayah Jinmen (Quemoy) dan Mazu (Matsu) pada bulan September 1954, Kongres  mendukung Eisenhower untuk menggunakan kekuatan militer AS di Selat Taiwan.

Presiden sadar bahwa pergolakan di kawasan tersebut tidak memiliki pengaruh riil kecuali  kepentingan simbolis bagi AS, karena RRC dan Taiwan sama-sama mengklaim sebagai pemerintahan yang sah di seluruh wilayah Tiongkok. Krisis semakin  meningkat ketika Eisenhower menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa dalam hal perang di Asia Timur, ia akan mengizinkan penggunaan senjata nuklir taktis terhadap sasaran-sasaran militer, hal yang disejajarkan dengan kelayakan penggunaan peluru tajam dalam peperangan.

Eisenhower pribadi menyesalkan sikap keras kepala Jiang, tapi tindakannya sendiri berkontribusi terhadap krisis yang tampaknya semakin berbahaya. Serangan akhirnya berhenti pada bulan April 1954, meskipun dalam hal tertentu peringatan penggunaan nuklir Eisenhower menyumbang keputusan RRC untuk mengakhiri krisis. Mao Zedong sering mempertanyakan kredibilitas ancaman AS dan menegaskan bahwa Cina memiliki kekuatan untuk menahan serangan nuklir. AS dan RRC kemudian melakukan negosiasi akan tetapi krisis Selat Taiwan kedua terjadi pada tahun 1958.

Hubungan dengan Soviet

Hanya beberapa minggu setelah Eisenhower menjadi Presiden, kematian Stalin (yang telah berkuasa sejak tahun 1922) membawa perubahan signifikan dalam kebijakan internasional Soviet. Penerus Stalin mulai menyerukan perundingan untuk menyelesaikan perbedaan Timur-Barat dan mengendalikan perlombaan senjata. Nikita Khrushchev, yang membuktikan dirinya sebagai pemimpin utama di Kremlin pada tahun 1955, menyerukan doktrin hidup berdampingan secara damai,” namun Eisenhower tetap skeptis terhadap retorika Soviet tersebut.

Eisenhower, yang merupakan bekas Panglima Militer Sekutu di Eropa, menggunakan metafora seksis untuk menjelaskan pemikirannya kepada Perdana Menteri Winston Churchill: Rusia adalah perempuan jalanan dan apakah menggunakan gaun baru atau gaun yang ditambal,ia tetap saja merupakan pelacur ….” Presiden Eisenhower berusaha untuk konsisten, dan pada tahun 1955, Soviet mengubah posisi mereka dan mengakhiri kebuntuan berkepanjangan dalam negosiasi atas perjanjian damai dengan Austria. Eisenhower kemudian sepakat untuk melakukan pertemuan puncak para pemimpin Soviet dan Barat di Jenewa, Swiss, pada bulan Juli 1955, sebuah pertemuan  pertama sejak Konferensi Potsdam pada tahun 1945.

Eisenhower (kiri) dan Kruschev (kanan) dalam pertemuan di Jenewa, Swiss, 1955

“Semangat Jenewameredakan ketegangan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, meskipun konferensi gagal menghasilkan kesepakatan tentang pengendalian senjata atau isu internasional lainnya. Khrushchev menolak proposal Eisenhower mengenai program Open Skiesyang akan memungkinkan kedua belah pihak untuk menggunakan pengawasan udara  untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan militer masing-masing.

Presiden Eisenhower hampir tidak terkejut dengan keputusan Khrushchev itu; ia telah membuat pemimpin Soviet  akan sulit untuk menerima tawaran saat mengetahui bahwa proposal, apa pun reaksi Soviet, telah membuat kesan  baik pada opini publik internasional. Setahun kemudian, Presiden mengizinkan CIA memulai penerbangan intelijen rahasia dalam wilayah Uni Soviet dengan menggunakan  pesawat pengintai U2 yang baru saja diproduksi.

Koeksistensi damaitidak meluas hingga Eropa Timur. Pada bulan November 1956, tank Soviet dikirim untuk melibas upaya Hungaria yang menuntut kebebasan dari dominasi Soviet. Para pejabat pemerintah telah menganjurkan pelepasan satelit Soviet, dan lembaga propaganda seperti Radio Free Europe dan Voice of America telah mendorong Eropa Timur untuk menolak. Eisenhower, bagaimanapun, memutuskan untuk tidak mengambil tindakan  membantu para pejuang kemerdekaan Hungaria karena sebuah intervensi membawa risiko memulai perang ASSoviet yang dapat menyebabkan pertukaran nuklir. Sebagai buntut dari invasi Soviet atas Hungaria,pemerintah setempat tidak lagi terang-terangan menuntut kemerdekaan, akan tetapi secara damai dan berangsur-angsur mengharapkan terjadinya kebebasan.

Selama tahun-tahun terakhirnya dalam masa jabatan, Eisenhower berharap untuk mencapai kesepakatan dengan Uni Soviet yang dapat menghasilkan perjanjian untuk melarang pengujian senjata nuklir di permukaan bumi dan lautan. Harapan muncul setelah Khrushchev mengunjungi Amerika Serikat pada bulan September 1959 dan bertemu dengan Eisenhower di peristirahatan kepresidenan di pegunungan Maryland. Pertemuan tinggi ini tidak menghasilkan  kesepakatan pengawasan senjata, tetapi hal itu memotivasi niat baik dan optimisme yang dikenal sebagai semangat Camp David.” Eisenhower dan Khrushchev setuju untuk bertemu lagi, bersama dengan para pemimpin Perancis dan Inggris, di Paris pada Mei 1960.

Presiden Eisenhower (kiri) dan Pemimpin Soviet Nikita Kruschev (kanan) dalam pertemuan di Camp David, September 1959

Tetapi rencana itu gagal karena munculnya insiden U-2. Menjelang pertemuan dengan Khrushchev, Eisenhower  memerintahkan penerbangan U2  lain atas wilayah Soviet. Sebelumnya, CIA mengatakan kepada Presiden Eisenhower bahwa U-2 merupakan pesawat yang canggih, mampu mencapai ketinggian hingga 70.000 kaki dan tidak bisa ditembak jatuh. Tetapi, purwarupa pesawat yang dikemudikan oleh Gary Powers itu menghilang dalam penerbangan di atas Rusia.

Karena mengalami kerusakan, pesawat AS itu jatuh pada tanggal 1 Mei 1960,  bersamaan dengan peringatan hari buruh di negeri beruang merah itu. Tanpa mengetahui bahwa Soviet telah menangkap pilot pesawat malang itu, Departemen Luar Negeri dan Gedung Putih mengeluarkan serangkaian cerita penutup yang menuduh Kremlin telah berbohong. Pilot Powers telah ditembak jatuh dan ditangkap, dan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev memamerkan reruntuhan pesawat itu di muka umum. Dengan cara yang memalukan Eisenhower terpaksa mengakui bahwa AS telah melakukan upaya mata-mata.

Khrushchev menyaksikan puing-puing jatuhnya Pesawat U-2

 

Di hadapan parlemen Soviet, Nikita Khrushchev menunjukkan foto yang diambil dari pesawat U-2

Meskipun tidak nyaman, Eisenhower mengambil tanggung jawab atas kegagalan misi U-2 dan menegaskan bahwa penerbangan itu diperlukan untuk melindungi keamanan nasional. Khrushchev mencoba mengeksploitasi insiden U2 untuk mencapai derajat propaganda maksimum dan menuntut permintaan maaf dari Presiden ketika mereka bertemu di Paris.

Khrushchev menunjukkan kemarahan atas insiden U-2 dalam pertemuan di Paris

Eisenhower menolak, Khrushchev bergegas keluar dari pertemuan, dan negosiasi pelucutan senjata semakin memperparah Perang Dingin. Eisenhower begitu putus asa ketika hal itu terjadi dan sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Aksi Terselubung

Eisenhower bersemangat untuk mengakhiri perang dingin dan bahkan ia berharap meningkatkan SovietAmerika hubungan. Ia sering mengandalkan aksi rahasia untuk menghindari tanggung jawab publik dalam sebuah intervensi kontroversial. Dia percaya bahwa CIAyang didirikan pada tahun 1947, merupakan instrumen yang efektif untuk melawan ekspansi Komunis dan untuk membantu sahabt Washington. Taktik CIA kadang-kadang buruk, karena mereka melakukan suap, subversi, dan bahkan upaya pembunuhan. Tapi Eisenhower  mengetahui tindakan-tindakan semacam itu, bahkan saat-saat bukti tidak dapat terbantahkan  maka secara hati-hati kemudian menyembunyikan semua bukti keterlibatan AS sehingga bisa  menolak memberikan tanggung jawab atas apa yang telah terjadi.

Selama tahun-tahun pertama pemerintahan, Eisenhower  memerintahkan CIA untuk menangani masalah di Iran yang mulai muncul pada era presiden Truman. Pada tahun 1951, parlemen Iran menasionalisasi AngloIranian Oil Company, sebuah perusahaan minyak yang dikendalikan oleh Inggris. Kemudian Inggris membalas dengan sanksi ekonomi yang memperburuk keuangan negara Iran, namun Perdana Menteri Mohammed Mossadegh menolak untuk menyerah. Eisenhower khawatir  soal kesediaan Mossadegh untuk bekerja sama dengan Komunis Iran; ia juga takut bahwa Mossadegh akhirnya akan melemahkan kekuasaan Shah Mohammed Reza Pahlevi,  penguasa tiran yang telah menjadi mitra antikomunis Washington.

Pada bulan Agustus 1953, CIA membantu menggulingkan pemerintah Mossadegh yang terpilih secara demokratis dan mengembalikan kekuasaan Shah. Sebagai buntut dari aksi rahasia ini, Inggris dan AS berbagi keuntungan seimbang atas hasil pengelolaan minyak Iran.

Setahun kemudian, CIA membantu menggulingkan pemerintah terpilih di Guatemala. Eisenhower dan penasihat utamanya khawatir bahwa Presiden Jacobo Arbenz Guzmán terlalu ramah dengan kekuatan Komunis lokal, meskipun mereka hanya memiliki peran yang terbatas dalam pemerintahannyaPenyelidikan terbaru membuktikan bahwa Arbenz adalah seorang Marxis, meskipun ia mengungkapkan keyakinan politiknya di hdapan beberapa orang kepercayaannya saja.

Arbenz juga percaya bahwa Guatemala, karena  mengalami keterbelakangan ekonomi, memerlukan reformasi yang signifikan untuk mempersiapkan diri menuju Komunisme. Program Arbenz  yaitu landreform adalah langkah menuju modernisasi Guatemala serta menciptakan prasyarat bagi pendirian sebuah negara Marxis.

Program landreform, memperoleh pertentangan yang kuat karena  menyita lahan luas milik perusahaan United Fruit Company dan mendistribusikan bagian-bagian lahan bagi petani tak bertanah, yang merupakan mayoritas penduduk Guatemala. Kekhawatiran Amerika mencapai puncak ketika Arbenz membeli senjata dari Cekoslowakia yang berhalaun komunis setelah Washington memotong akses negara itu memperoleh pembelian senjata AS.

Eisenhower tidak  mau mengambil risiko keamanan  atau kredibilitas AS di sebuah negara yang telah lama  Paman Sam menjadi kekuatan dominan. CIA membantu kalangan kontrarevolusioner menumbangkan kekuasaan Arbenz pada bulan Juni 1954. Guatemala mengajukan keluhan yang sia-sia kepada PBB, dan pejabat pemerintah membantah bahwa AS berhubungan dengan perubahan  pemerintahan di Guatemala. Presiden baru, Carlos Castillo Armas, membatalkan landreform dan menekan Komunis, dan ia juga membatasi kebebasan berpendapat dan kebebasan sipil hingga ia tewas dalam sebuah pembunuhan tahun 1957.

Fidel castro dan Nikita Krushchev

Guatemala menjadi dasar bagi pemerintahan Eisenhower untuk merencanakan sebuah tindakan rahasia lain akan tetapi tidak sempat dilaksanakan karena telah purna masa jabatan sang presiden. Eisenhower memutuskan bahwa Fidel Castro, yang berkuasa di Kuba pada tahun 1959, adalah orang gila” yang harus digulingkan. Pada tahun 1960, CIA mulai melakukan pelatihan di Guatemala terhadap orang-orang Kuba dalam pengasingan yang menentang Castro sebagai persiapan untuk  menyerbu Kuba. CIA berharap operasi di Kuba akan sukses mirip dengan intervensi di Guatemala pada tahun 1954.  Rencana itu kemudian terlaksana walaupun gagal secara memalukan, segera setelah John F. Kennedy menjadi Presiden dan dikenal sebagai peristiwa invasi Teluk Babi pada bulan April 1961.

Persaingan di  Timur Tengah

Persaingan yang intens di Timur Tengah membawa Eisenhower berkonfrontasi dengan sekutu paling pentingnya, yaitu Inggris dan Perancis. Hal itu bermula dari krisis Suez pada tahun 1956 yang menunjukkan kesulitan  kekuatan Barat dalam berurusan dengan Gamal Abdel Nasser, Presiden nasionalis Mesir yang merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan dan cenderung provokatif dalam berurusan dengan negara-negara besar. Nasser membeli senjata dari Cekoslovakia dan memperoleh bantuan dari Mesir ketika membangun bendungan Aswan di kawasan Sungai Nil.

Eisenhower semula bersedia berunding dan akan memberikan bantuan untuk Nasser, akan tetapi usaha itu terputus ketika tiba-tiba Nasser mengakui kedaulatan RRC. Eisenhower merasa bosan melakukan negosiasi dengan Nasser, pemimpin Mesir yang dituduhnya bermuka dua karena mempermainkan dan memeras Barat dan Timur. Washington menghentikan upaya memberikan bantuan dan Nasser menjawab dengan melakukan nasionalisasi terhadap Terusan Suez.

Inggris, Perancis, dan Israel memutuskan untuk mengambil tindakan militer. Inggris, terutama, menganggap bahwa Terusan Suez merupakan garis hidup untuk koloni mereka di Asia. Baik Inggris maupunPerancis tidak menyukai inflamasi, sebuah retorika antikolonial yang didengang-dengungkan oleh Nasser. Israel, yang frustasi karena Mesir menolak mengakui kedaulatan mereka, memiliki alasan yang kuat untuk bergabung dalam  konspirasi tersebut. Ketiga negara itu tidak berkonsultasi atau bahkan sama sekali tidak menginformasikanEisenhower sebelum Israel melancarkan serangan pertama ke Semenanjung Sinai pada tanggal 29 Oktober 1956.

Eisenhower marah. Dia beranggapan serangan itu hanya akan memperkuat Nasser, yang mencitrakan dirinya sebagai pemimpin kuat kawasan Arab karena ia menentang agresor. Eisenhower cepat-cepat mengutuk serangan itu dan menggunakan semua saluran diplomatik dan ekonomi untuk menekan ketiga negara tersebut supaya menarik pasukan. Gengsi AS di Timur Tengah naik. Eisenhower lalu merumuskan bantuan ekonomi untuk mengendalikan kawasan Timur Tengah supaya tidak terseret dalam paham komunis. Namun niatan itu kacau karena yang dihadapi adalah kekuatan nasionalis, sementara komunisme relatif tidak mendapat tempat di kawasan itu.

Kesulitan dengan Nasser juga mempengaruhi keputusan Eisenhower dua tahun kemudian untuk mengirim Marinir ke Libanon. Selama berbulan-bulan, pergolakan politik internal telah membuat Lebanon tidak stabil. Kemudian pada bulan Juli tahun 1958, apa yang tampaknya menjadi pasukan proNasser merebut kekuasaan di Irak. Untuk melindungi Lebanon dari ancaman, yang lebih merupakan fantasi daripada kenyataan, maka Eisenhower mengirim di Marinir. Pasukan tersebut hanya bertahan  tiga bulan . Diplomat AS mungkin memberikan kontribusi yang lebih penting dengan berpartisipasi dalam negosiasi yang memungkinkan faksi Lebanon untuk menyelesaikan konflik politik mereka.

Intervensi di Indocina

Di Asia Tenggara, Eisenhower mengirim senjata AS dan dolar,  bukan tentara. Seperti Truman, Eisenhower memberikan bantuan militer kepada Prancis, yang mulai berperang pada tahun 1946 untuk mendapatkan kembali kontrol atas kepemilikan kolonial mereka di Indocina, yang sekarang meliputi wilayah Kamboja, Laos, dan Vietnam. Pada tahun 1954, pemerintahan Eisenhower membayar lebih dari 75 persen kebutuhan biaya perang Prancis. Namun Perancis tidak dapat mengalahkan Vietminh, kekuatan nasionalis di bawah pimpinan Ho Chi Minh, yang berhalaun komunis.

Krisis terjadi pada awal tahun 1954, ketika pasukan Vietminh dikelilingi garnisun Perancis di lokasi terpencil Dienbienphu. Perancis berteriak kepada Washington supaya dibantu tidak hanya berupa senjata: mereka menuntut serangan udara AS, bahkan dengan senjata nuklir taktis, untuk menyelamatkan pasukan mereka. Eisenhower mempertimbangkan kemungkinan aksi militer; memang, ia tampak siap untuk mengotorisasi masalah itu dalam situasi yang tepat.

Pemimpin Kongres, bagaimanapun, tidak akan memberikan dukungan kecuali tindakan militer AS adalah bagian dari upaya multilateral. Menteri Luar Negeri John Foster Dulles sayangnya tidak bisa membujuk Inggris atau sekutu utama lainnya untuk ambil bagian dalam apa yang disebut American Action di Indochina. Presiden memutuskan melakukan serangan udara, dan garnisun Perancis menyerah setelah minggu-minggu pengepungan yang brutal. Pada sebuah konferensi internasional di Jenewa, pemerintah Prancis memberikan kemerdekaan ke Vietnam, Laos, dan Kamboja.

Eisenhower berharap memperoleh kemenangan parsial dengan mencegah Ho Chi Minh membentuk pemerintahan komunis  yang mengendalikan seluruh Vietnam. Pada tahun 1954-1955, bantuan  dan dukungan AS diberikan kepada Ngo Dinh Diem supaya mendirikan pemerintahan nonkomunis di Vietnam Selatan. Eisenhower  menganggap penciptaan Vietnam Selatan merupakan keberhasilan Perang Dingin yang signifikan, namun keputusannya untuk memperoleh kekuasaan dan gengsi AS di wilayah itu kelak menimbulkan bahaya dalam jangka panjang.

Presiden Truman dan Eisenhower telah menyeret keterlibatan Amerika di sana dengan mengirimkan penasihat militer. Kennedy menugaskan Pasukan Khusus personil militer ke Vietnam, seolah-olah dalam kapasitasnya sebagai penasihat juga, dan ada sekitar 20.000 personel di sana ketika dia dibunuh pada tahun 1963.