Jaksa Agung yang Terlibat Skandal Penjualan Senjata

Edwin Meese

Bagaimanakah jika seorang Jaksa Agung merupakan loyalis seorang Presiden? Apakah dalam menjalankan fungsi penegakan hukum ia akan ditekuk oleh eksekutif? Ataukah ia tetap independen? Kita bisa ambil contoh dari kasus di negeri Amerika Serikat.

Meese, dalam sebuah kesempatan berbicara dengan Reagen di Gedung Putih

Presiden Reagen bersama Wakil Presiden George Bush dan anggota Kabinet di Gedung Putih (1981)

Presiden Reagen bersama Wakil Presiden Bush dengan anggota Kabinet (1984). Nampak duduk di depan adalah Menteri Keuangan Donald Regan, Wakil Presiden Bush; Presiden Reagan; Menteri Luar Negeri George Shultz, Menteri Pertahanan Caspar Weinberger

Di negeri Paman Sam, Jaksa Agung (yang dimaksudkan di sini adalah di tingkat pusat, di lingkungan pemerintah federal), merupakan aparatur negara yang juga merupakan anggota kabinet. Ia memimpin Kementerian Kehakiman yang fungsi utamanya antara lain menyelidiki dan melakukan penuntutan atas kasus-kasus dalam yurisdiksi pemerintah federal, imigrasi, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta memberikan pendapat hukum kepada Presiden.

Meese, dalam sebuah kesempatan Konferensi Pers di Gedung Putih

Edwin Meese di Harritage Foundation, 2005

Di masa kepresidenan Ronald Reagen (1981-1989), Jaksa Agung dijabat oleh Edwin Meese. Pria kelahiran California tahun 1931 ini, sekarang masih hidup dengan usia 84 tahun, dikenal sebagai kader Partai Republik. Meese bersahabat baik dan dipercaya sebagai penasehat sejak 1969-1974, ketika menjadi staf saat Reagen menjadi Gubernur California.

Saat Reagen berhasil memenangkan kursi kepresidenan, Meese “kecipratan” sukses dan ditarik menjadi staf Gedung Putih. Meese kemudian menjadi Jaksa Agung dalam kepresidenan Reagen yang kedua (25 Februari 1985-5 Juli 1988).

Reagen menunjuk Meese menjadi Penasehat dengan kedudukan setingkat menteri kabinet. Meese segera bersaing dengan James Baker yang menjadi Kepala Staf Gedung Putih (seperti Menteri Sekretaris Negara di Indonesia) (kelak menjadi Menteri Keuangan, 1985-1989 dan Menteri Luar Negeri, 1989-1992). Meese berhak untuk menghadiri sidang kabinet, mengadakan pertemuan-pertemuan eksekutif tingkat tinggi, mengkoordinasikan dan mengawasi kebijakan domestik dan kebijakan yang dirumuskan oleh Dewan Keamanan Nasional, serta menyelenggarakan konferensi pers.

Pada Senin, 14 September 1981, Meese untuk pertama kali menghadiri rapat di Gedung Putih yang membahas strategi pertahanan Reagen, khususnya mengenai kebijakan senjata nuklir. Selanjutnya, Meese menjadi piawai sebagai penghubung diantara komunitas garis keras, politisi konservatif dengan Presiden.

Meese menjadi figur yang penting dan berpengaruh di Gedung Putih. Ia selalu berada di sisi Presiden dan menjadi konsultan untuk segala kebijakan yang menyangkut hubungan luar negeri.

Pada 21 Mei 1984, Presiden Reagen memerintahkan Meese untuk menyelidiki pengaruh pornografi dalam kehidupan masyarakat. Penyelidikan itu dimulai pada Juni 1984 dan selesai disusun pada Juli 1986. Diantara laporan Meese kepada Presiden adalah “pornografi merupakan ancaman serius bagi kehidupan masyarakat.”

Saat menyampaikan hasil penyelidikan mengenai pornografi di Kementerian Kehakiman, 1986

Saat menjadi Jaksa Agung, yang juga merupakan Ketua Badan Narkotika Nasional, Meese bersama-sama ibu negara Nancy Reagen telah menyokong kampanye penyalahgunaan narkotika dengan slogan “Say No to Drugs.” Meese menyarankan agar Amerika memutus hubungan kerjasama dengan negara-negara yang diduga menjadi pemasok obat bius.

Meese dikenal menjadi oposisi terkemuka penerapan the Mirranda Rulling, sebuah prosedur dalam hukum acara pidana, yang memerintahkan polisi yang melakukan penangkapan dan penahanan seseorang dengan terlebih dahulu membacakan hak-hak mereka.

Presiden Reagen mengadakan pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih bersama dengan (kiri-kanan): Menteri Pertahanan Caspar Weinberger, Menteri Luar Negeri George Shultz, Jaksa Agung Ed Meese, dan Kepala Staf Gedung Putih Don Regan,

Dalam kapasitas sebagai Jaksa Agung, Meese telah memberikan pendapat hukum yang mendukung pemerintah untuk menjual senjata secara rahasia kepada Iran (1986). Saat tindakan itu terungkap publik dan menjadi bahan pembicaraan Kongres, maka pemerintahan Reagen menjadi bulan-bulanan.

Mega skandal Iran Contra yang melibatkan sejumlah pejabat top di Gedung Putih di era 1980-an, termasuk Presiden Ronald Reagan, bisa jadi merupakan pelajaran sangat berharga bagi rezim Geung Putih. Kasus Iran Contra merupakan sebuah kasus penjualan senjata yang dilakukan pemerintah AS ke Iran yang sebagian keuntungannya dialirkan ke kantong Gerilyawan Contra di Nicaragua.

Hal ini berawal dari peristiwa penyanderaan 52 warga AS yang berlangsung sejak 1 November 1979 di Gedung Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran. Pemimpin Iran yang baru saja naik tahta, Ayatollah Khomeini, berada di belakang penyanderaan tersebut.

Saat itu, Presiden AS Jimmy Carter yang tengah berkampanye untuk memenangkan pemilu keduanya, memerintahkan agar diadakan sebuah operasi pembebasan bagi penyanderaan tersebut. Namun operasi pembebasan yang bersandi Eagle Claw yang dilancarkan pada bulan April 1980 gagal total sebelum sampai di Teheran. Helikopter tempur yang penuh berisi pasukan elit Delta Force mengalami kecelakaan di wilayah gurun sebelah timur Iran. Delapan serdadu pasukan elit itu tewas. Jelas, popularitas Jimmy Carter jatuh di mata rakyat AS.

Langkah pertama yang dilakukan George H.W. Bush (direktur CIA saat itu) adalah berusaha mengadakan negosiasi dengan pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Khomeini. Rencana awal berjalan lancar karena Khomeini bersikap kooperatif. Ia mengirim langsung perdana menteri Bani Sadr ke Paris Perancis, tempat pertemuan rahasia yang disepakati kedua pihak. Selain Bush, ikut pula manajer kampanye Reagan lainnya, William Casey.

William Cassey, Meese, dan Ronald Reagen

Dalam pembicaraan yang berlangsung di sebuah hotel, ternyata Iran bersedia membebaskan 52 sandera AS dengan syarat cukup mudah, yakni AS cukup mengirimkan senjata antitank ke Iran guna menghadapi Irak dalam perang Iran Irak. Tim Bush langsung setuju bahkan memberikan tambahan bonus sebesar 40 juta dolar AS. tetapi pinta mereka, para sandera dibebaskan menjelang usai pemilihan presiden. Kedua pihak setuju dan pamor Reagan melesat.

Pada Januari 1981, aktor Hollywood itu dilantik sebagai presiden AS. Pelantikan ini memukau rakyat Amerika Serikat karena pada hari yang sama ke-52 sandera tiba kembali di AS. Sebagai hadiah, Bush diangkat sebagai wakil presiden sementara Casey menjadi Direktur CIA.

Tepat di hari pelantikan Reagan, 20 Januari 1981, ke-52 warga AS yang disandera Iran tiba di AS dengan selamat. Reagan telah menjadi pahlawan bagi rakyat Amerika.

Namun orang-orang yang tidak menyukai Reagan, termasuk Tim Sukses Jimmy Carter, pada akhirnya mencium aroma tak sedap di balik kesuksesan Reagan membebaskan ke-52 sandera tersebut. Secara intensif mereka menggelar pengusutan rahasia yang akhirnya menggelinding bagai bola liar yang menyeret sejumlah petinggi Gedung Putih ke pengadilan.

Mengingat apa yang dilakukan tim sukses Reagan di Paris merupakan misi rahasia dan melibatkan CIA, mereka berusaha semaksimal mungkin agar konspirasi itu tidak terbongkar.

Salah satu cara yang dilakukan adalah memberikan kesan bahwa George H. Bush tidak pernah berada di Paris, yakni usai pertemuan, Bush segera diterbangkan dengan pesawat supersonik SR-71 Blackbird dengan kecepatan Mach 3 (sebagai perbandingan Concorde hanya berkecepatan maksumum mach 2.4) yang dipiloti Gunther Russbahcer dan mampu mencapai daratan AS dalam waktu kurang dari dua jam. Setiba di AS, Bush langsung menuju Hotel Hilton dan memberikan pidato kampanyenya untuk memberi kesan selama ini baik baik saja di rumah.

Akan tetapi pertemuan di Paris segera tercium publik melalui pers AS yang terkenal liberalnya itu. CIA segera bertindak dan seperti biasa melancarkan praktik tipu daya. Agen kepercayaan Bush di CIA, Frank Snepp, melakukan counter news dengan menulis artikel di surat kabar lokal Village Voice tentang perihal pilot SR-71. Dimana pada harian itu, Gunter Russbacher dikatakan tidak mampu menerbangkan pesawat itu karena tidak pernah mendapatkan latihan . Tetapi pers dan penyidik legal yang melakukan investigasi mendapatkan fakta bahwa Gunther pernah dilatih dan mampu menerbangkan pesawat tersebut.

Keadaan mulai runyam ketika para saksi yang meliha Bush di Paris buka suara. Diantaranya agen Mossad Israel yang terlibat penyaluran senjata AS ke Iran, Ari Ben Menashea yang tanpa diduga memberikan kesaksian, juga dokumen PM Iran, Bani Sadr yang mengindikasikan tentang kehadiran Bush. Memang ada satu agen CIA yang berusaha melakukan penyangkalan saat diperiksa tim penyidik, namun gagal dan tidak mampu membuktikan kebenaran alibinya pada saat test kebohongan (lie detector).

Kendati bukti dan fakta jelas-jelas menunjukkan keberadaan Bush di Paris, agen rahasia CIA berusaha keras melindungi Bush, bahkan dua agen rahasia memberikan keterangan bahwa mereka sedang mengawal Bush berlibur akhir pekan di Pennsylvania. Penyangkalan yang juga dilakukan para Secret Service ternyata cukup ampuh dan penyidikan terhadap Bush seolah menemui jalan buntu.

Kebuntuan semakin menjadi ketika Partai Republik (partainya Bush), Gedung Putih dan Senat AS menekan pihak penyidik untuk menutup investigasi kasus October Surprise. Apalagi sejumlah saksi kunci, pilot Russbacher memilih diam dan menyangkal segala tuduhan.

Pada 3 Nopember 1986, sebuah mingguan Lebanon, melaporkan bahwa AS secara rahasia telah menjual senjata ke Iran. Maksud penjualan adalah untuk membebaskan sandera AS di Lebanon. Laporan ini tampaknya sulit dipercaya: prinsip kebijakan AS di bawah pemerintahan Reagen adalah sangat menolak berhubungan dengan teroris atau menjual senjata ke pemerintah Ayatollah Khomeini.

Presiden Reagen menyampaikan pidato dalam siaran televisi nasional 10 hari sesudah terkuaknya skandal Iran-Contra

Meskipun awalnya pemerintah AS menolak laporan tersebut, pertengahan Nopember mulai ada titik terang. AS mengakui telah menjual senjata ke Iran dalam rangka pembebasan sandera warga AS di Lebanon. Meskipun Iran telah menerima senjata, beberapa warga AS masih tetap menjadi sandera. 3 orang dibebaskan, tetapi 3 orang lagi masih disandera selama periode penjualan.
Pada 25 Nopember, Jaksa Agung mengumumkan bahwa hasil penjualan senjata dari Iran telah dialihkan untuk perlawanan di Nicaragua dimana saat itu bantuan militer AS sudah dilarang. Iran dan Nicaragua – duri dalam daging kebijakan luar negeri pada tahun 1980 – saling mengait dalam krisis yang menimbulkan pertanyaan serius tentang kepatuhan pemerintah kepada proses konstitusi kepemerintahan.
Masyarakat dan anggota Konggres sangat prihatin terhadap kepatutan dan legalitas tindakan anggota Dewan Keamanan Nasional dan pejabat-pejabat pemerintah lainnya terkait dengan penjualan senjata dan bantuan rahasia kepada Contra.

Sang Jaksa Agung kemudian tampil ke depan membela Reagen dengan dalih bahwa tindakan pemerintah “untuk mencegah kerusakan lebih lanjut”, tanpa menjelaskan secara lebih rinci. Tapi Meese gagal meyakinkan Kongres terhadap transaksi yang disinyalir sudah berjalan lebih dari setahun itu.

Meese kemudian membentuk tim penemuan fakta khsuus untuk menyelidiki kemungkinan keterlibatan Presiden dalam dugaan penjualan senjata rudal ke Iran yang bekerja pada 21-24 November 1985.

Reagen dan Meesee, dalam kesempatan jumpa pers untuk menjelaskan masalah Iran-Contra

Skandal Iran-Contra, seperti yang kita ketahui, menyebabkan implikasi serius dalam kebijakan luar negeri AS, dan sesuai aturan main dalam demokrasi, 100 orang anggota Konggress telah bertekad untuk melakukan penyelidikan sendiri terhadap skandal ini.
Permintaan secara resmi dimulai pada 6 Januari 1987, ketika Senat, melalui S. Res. 23, membentuk Komite Bantuan Militer Rahasia kepada Iran dan Oposisi Nicaragua. Esoknya, DPR, melalui H. Res. 12, membentuk Komite untuk Penyelidikan Transaksi Senjata Rahasia dengan Iran. Kedua badan yang diwakili oleh Komite-nya, melakukan penyelidikan 4 macam : penjualan senjata kepada Iran, kemungkinan pengalihan dana untuk membantu Contra, pelanggaran hukum federal, dan keterlibatan anggota NSC dalam kebijakan luar negeri.
Kedua Komite melakukan langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu melakukan investigasi dan dengar pendapat gabungan dan berbagi seluruh informasi yang mereka dapatkan. Anggota kedua Komite bekerja sama dan menelaah lebih dari 300.000 dokumen dan melakukan tanya jawab atau menguji lebih dari 500 saksi. Komite melakukan 40 hari dengar pendapat terbuka gabungan dan beberapa sesi eksekutif. Kedua Komite kemudian memutuskan untuk menggabung temuan mereka dalam bentuk laporan gabungan.

Laporan gabungan itu menuding kinerja Meese adalah sebagai seorang penasehat dan teman seorang Presiden, dan bukan sebagai aparat penegak hukum yang profesional. Akan tetapi, konklusi laporan itudidasarkan pada catatan yang rusak oleh testimoni yang tidak konsisten dan kegagalan sebagian saksi dalam mengingat hal-hal dan kejadian penting. Terlebih lagi, saksi kunci – Direktur CIA William J. Casey – meninggal, dan anggota Dewan Keamanan atas perintah Jaksa Agung Meese menghancurkan dokumen terkait pada musim gugur tahun 1986.

Komite Penyilidik skandal Iran-Conta bukanlah yang pertama, berikutnya adalah seperti temuan Komite Inteligen Senat dan Badan Telaahan Khusus Presiden (dikenal sebagai Tower Board); dan juga bukanlah yang terakhir, untuk investigasi oleh Penyelidik Independen untuk masalah ini terus berlanjut.
Tetapi Komite berharap bahwa laporan ini akan memebrikan kontribusi dalam membantu untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi pada skandal Iran-Contra, dan membantu untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pemerintahan nasional yang konstitusional .

Sebuah penyelidikan independen lainnya yang dipimpin oleh Lawrence Walsh justru menyimpulkan bahwa Meese bekerja demi menyembunyikan keterlibatan kawannya, Presiden Reagen. Walsh di bagian lain juga mengajukan fakta bahwa penyelidikan Meese hanya setengah hati dan tidak menyeluruh.

Lawrence Walsh memberikan keterangan kepada media (1989)

Skandal serupa terjadi pada tahun 1984 ketika agen CIA yang menjadi kontak Iran di Timur Tengah, William Buckley diculik gerilyawan Hezbollah di Libanon, Reagan segera meminta Dewan Keamanan Nasional untuk membebaskannya. Saat itu penculik tidak hanya menyandera William Buckly namun juga sejumlah warga Inggris dan Amerika yang bekerja sebagai peneliti dan pekerja sosial. Belakangan Buckley tewas ditembak, namun tim pembebasan Dewan Keamanan berusaha mebebaskan sisanya. Tim itu  sendiri terdiri dari pejabat penting seperti wakil presiden (saat itu) George H. Bush, Menteri Luar Negeri George Shultz, Menteri Pertahanan Caspar Weinberger,Direktur CIA William Casey, Penasehat Keamanan Nasional Robert Mc Farlane dan Letnan Kolonel Oliver North yang bertugas di lapangan.

Penasehat Keamanan Nasional Robert Mc Farlane

Letnan Kolonel Oliver North

North dalam sesi pemeriksaan di Kongres

Mereka kembali melakukan negosiasi dengan pemerintah Iran guna membujuk Hezbollah untuk membebaskan sandera. Iran setuju dan meminta imbalan penjualan senjata AS dalam jumlah besar diantaranya ribuan rudal anti pesawat Hawk, rudal antitank dan suku cadang pesawat terbang (sejak Revolusi Iran, AS mengembargo persenjataan Iran yang umumnya buatan AS warisan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi). Sebagian diantaranya diselundupkan lewat Israel dan hampir semua transaksi penjualan dilakukan oleh Letkol Oliver North.

Dari sinilah kasus ini mencuat dengan sebutan Iran-Contra. Rupanya, sebagian keuntungan penjualan senjata itu dikirim ke Nikaragua untuk membiayai operasi gerilyawan Contra melawan pemerintahan komunis Sandinista, Daniel Ortega. Sebagian untuk membayar broker senjata diantaranya pengusaha Arab Saudi, Adnan Kashoggi dan penyandera. Dan sisanya dimasukkan kedalam rekening perusahaan fiktif milik CIA melalui tangan Oliver North.

Adolfo Calero, pemimpin gerilyawan Nikaragua saat memberikan kesaksian di Kongres, 25 Mei 1987

Namun untuk kasus yang kemudian dikenal sebagai Iranian Gate itu Reagan punya alasan tersendiri. Misi Dewan Keamanan dilakukan untuk membebaskan sandera bukan semata-mata menemui Ayatollah Khomeini yang dianggap musuh, melainkan juga menemui para kalangan moderat Iran yang memiliki pandangan positif terhadap AS. Dilain pihak, bantuan kucuran dana hasil penjualan senjata ke gerilyawan Contra Nikaragua disebutnya untuk misi sosial kemanusiaan bagi rakyat Nikaragua.

Penyelidikan yang dilakukan cukup lama terhadap Letkol Oliver North tidak sampai membuat jatuhnya pemerintahan Reagan. Namun kekebalan politik yang diberikan kepada North tidak mampu menyelamatkan dirinya. Ia akhirnya dinyatakan bersalah dan dipenjara. Banyak pihak mengatakan North dikorbankan untuk menyelamatkan Reagan dan pelaku lainnya dalam skandal itu. Baru ketika George H. Bush menjadi presiden (1988-1992) penyidikan itu berhenti.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s