Istana Bogor: Pesanggrahan yang Bersejarah

istana bogor

Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan faunanya. Salah satunya adalah keberadaan rusa-rusa yang didatangkan langsung dari Nepal dan tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.

Saat ini sudah menjadi trend warga Bogor dan sekitarnya setiap hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya berjalan-jalan di seputaran Istana Bogor sambil memberi makan rusa-rusa indah yang hidup di halaman Istana Bogor dengan wortel yang diperoleh dari petani-petani tradisional warga Bogor yang selalu siap sedia menjajakan wortel-wortel tersebut setiap hari libur. Seperti namanya, istana ini terletak di Bogor, Jawa Barat.

Walaupun berbagai kegiatan kenegaraan sudah tidak dilakukan lagi, khalayak umum diperbolehkan mengunjungi secara rombongan, dengan sebelumnya meminta izin ke Sekretaris Negara, c.q. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.

Jaraknya hampir pas 60 Km dari Ibu Kota Jakarta. Bangunan yang kokoh itu sudah berdiri lebih dari dua abad walaupun orang Belanda yang menemukan daerah tempat bangunan itu berada menemukannya jauh lebih lama lagi.

Responsive image

Tepatnya di tahun 1744 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Barron Van Imhoff yang melakukan inspeksi untuk mencari tempat peristirahatan yang strategis bagi orang-orang Belanda.

Karena, Batavia atau Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan kolonial saat itu dianggap terlalu panas untuk didiami walau penduduknya masih sedikit.

 

 

Kendati Van Imhoff menemukan dataran tinggi yang jauh lebih sejuk di Cianjur, ia beranggapan bahwa letak daerah itu masih terlalu jauh dari Batavia.

Maka ketika ia menemukan sebuah kampung yang damai di kaki Gunung Salak di tempat Istana Bogor kini berdiri, ia sudah dapat memutuskan bahwa di sinilah kelak tempat yang ia cari itu akan berdiri.

Bukan tidak mungkin, keputusan Van Imhoff adalah keputusan bersejarah yang menjadi titik penting cikal bakal landscape kota hujan saat ini.

Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berarti pohon kawung dan kata kerja “dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kaung. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, L “Bogor” berarti “droogetapte kawoeng” (pohon enau yang telah habis disadap) atau “bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”.

Akan tetapi dalam bahasa Sunda “muguran” dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti “pamogoran” bisa dianggap terlalu iseng.

Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah Sumedang.

Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian.

Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Pada tahun 1745 Bogor ditetapkan Sebagai Kota Buitenzorg yang artinya kota tanpa kesibukan dengan sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang, daerah tersebut disebut Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff (1740) dibangunlah tempat peristirahatan, pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.

Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor (sampai sekarang).

Pada tahun 1808, Bogor diresmikan sebagai pusat kedudukan dan kediaman Resmi Gubernur Jenderal. Tahun 1904 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 4 tahun 1904 Hoofplaats Buitenzorg mencantumkan luas wilayah 1.205 yang terdiri dari 2 Kecamatan & 7 Desa, diproyeksikan untuk 30.000 Jiwa.

Pada tahun 1905 Buitenzorg diubah menjadi GEMMENTE berdasarkan Staatblad 1926 yg kemudian disempurnakan dengan Staatblad 1926 Nomor 328.

Tahun 1924 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 289 tahun 1924 ditambah dengan desa Bantar jati dan desa Tegal Lega seluas 951 ha, sehingga mencapai luas 2.156 ha, diproyeksikan untuk 50.000 Jiwa.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1941, Buitenzorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya sendiri. Keputusan dari gubernur Jendral Belanda di Hindia Belanda No. 11 tahun 1866, No. 208 tahun 1905 dan No. 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 Km persegi, terdiri dari 2 sub distrik dan 7 desa.

Selama bertahun-tahun, Istana Bogor mengalami beberapa kali perubahan dalam bentuk fisiknya. Bangunan yang Anda lihat kini bukanlah merupakan desain awal dari gedungtersebut.

Pada tahun 1744 Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff terkesima akan kedamaian sebuah kampung kecil di Bogor (Kampung Baru), sebuah wilayah bekas Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia. Van Imhoff mempunyai rencana membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal.

Pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Villa Buitenzorg, ( artinya bebas masalah / kesulitan ). Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough (dibangun antara 1705 -1722), dekat kota Oxford di Inggris. Dengan Surat Keputusan Dewan Direksi VOC di Amsterdam tanggal 07.06.1745, lahan di sekitar Buitenzorg yang diusulkan Van Imhoff dijadikan dijadikan semacam TANAH BENGKOK yang harus dibeli oleh tiap Gubernur Jenderal baru kepada pejabat lama yang digantikannya.

Proses pembangunan gedung itu dilanjutkan oleh Gubernur Jendral yang memerintah selanjutnya yaitu Jacob Mossel (1750 – 1761) yang membelinya dari Van Imhoff.

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang disebut Perang Banten 1750 – 1754.

Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels ( 1808 – 1811 ), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat.

Pada masa Inggris berkuasa dibawah Stamford Raffles, halamannya yang luas juga dipercantik menjadi taman bergaya Inggris klasik dan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.

Kemudian pada masa Gubernur Jendal Baron van der Capellen ( 1817 – 1826 ), dilakukan perubahan besar – besaran. Sebuah menara di tengah – tengah gedung induk didirikan sehingga istana semakin megah, Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.

Namun, musibah datang pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi mengguncang akibat meletusnya Gunung Salak sehingga istana tersebut rusak berat.

Pada tahun 1850, Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.

Pada tahun 1870, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemeritah pendudukan Jepang.

Pada masa Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist ( 1851 – 1856 ), bangunan lama sisa gempa dirubuhkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur eropa Abad IX, bangunan baru satu tingkat didirikan.

Perubahan lainnya adalah dengan menambah dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung. Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager ( 1856 – 1861 ). Dan pada pemerintahan, selanjutnya tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jendral Hindia-Belanda.

Dan selama kurun waktu masa kolonial, ia menjadi tempat kediaman resmi dari kurang lebih 38 Gubernur Jenderal Belanda.

Istana Bogor, 1907

Istana Bogor, 1907

Gedung itu pun menjadi saksi dari berbagai peristiwa sejarah, mulai dari penyerangan pasukan Banten pimpinan Kiai Tapa yang sempat menghancurkan bangunannya, sampai penyerangan pejuang Bogor sangat ingin merebut kembali Istana Bogor dari tangan Inggris dan Belanda pada masa Pertempuran Bogor pada bulan Desember 1945.

 

Kondisi Istana Bogor sebelum gempa bumi 1834

Kondisi Istana Bogor sebelum gempa bumi 1834

 

Istana Bogor sebelum Gempar Bumi 1834

Istana Bogor sebelum Gempar Bumi 1834

Pada tahun 1856 berbarengan dengan dibangunnya kembali Istana Bogor, pemerintah Belanda membangun sebuah Hotel yang dibangun sebagai rumah kediaman tamu di Istana Bogor.

 

Hotel ini dulunya dikenal dengan Binnenhof Hotel atau Bellevue Hotel, setelah Indonesia merdeka Hotel ini kemudian diserahkan ke pemerintah Indonesia dan diberi nama Hotel Salak The Heritage Bogor yang mengambil nama dari Gunung Salak sebagai gunung terbesar di Bogor.

Hotel Salak The Heritage yang dibangun pada tahun 1856 dengan nama Hotel Dibbets. Dibbets merupakan nama pengusaha asal Belanda yang memiliki hubungan dengan pejabat-pejabat di Istana Bogor. Pada awalnya, hotel tersebut dibangun untuk khusus untuk tamu-tamu istana dan kebun raya sehingga mereka bisa menikmati jamuan spesial Buitenzorg.

Karena saking pentingnya kualitas makanan pada jaman itu, maka Hotel Salak The Heritage memegang motto ” Lemand kan niet goed nadenken, goed liefde en goed slapen zonder goed eten”.Jika di dalam bahasa Inggris bearti “Someone cannot think well, love well, sleep well if not eat well” Seseorang takkan bisa tenang atau nyaman, menyukai dengen sepenuh hati, dan tidur dengan tenang jika makan tak enak.

Sejak awal dibuka, hotel ini menjadi hotel bagi kalangan atas kolonial Belanda. Hotel tersebut dimiliki oleh orang Belanda yang masih memiliki hubungan dengan salah satu Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Ia dibangun sebagai hotel untuk beristirahat. Namun, karena Buitenzorg juga menjadi pusat penelitian aneka tumbuhan tropis Jawa dan perkebunan, hotel ini pun menjadi tempat pertemuan para pemilik kebun sampai staf pemerintahan.

Di era pendudukan Jepang, hotel tersebut menjadi markas militer Jepang. Namun di tahun 1948, hotel tersebut pun kembali ke fungsi awalnya dan berubah nama menjadi Hotel Salak.

Hotel Salak The Heritage Bogor saat ini telah kelola secara professional, seperti hotel hotel pada umumnya dengan fasilitas 120 kamar, 12 ruang rapat, 3 restoran, Kinanty Music Café, kolam renang, dan fasilitas lainnya. Hotel Salak The Heritage tetap dijaga kelestariannya oleh pemerintah sebagai salah satu saksi sejarah pendukung keberadaan Istana Bogor khususnya dan sejarah panjang Kota Bogor umumnya.

Hotel Dibbets berada di Jl. Pos yang sekarang bernama Jl. Ir. H. Juanda. Di sebelah kiri dan belakang Hotel Salak adalah jalan Gedong Sawah yang artinya gedung di tengah tengah sawah. Gedung itu adalah Hotel Dibbets.

Seiring berjalannya waktu, Hotel Dibbets kemudian berganti nama nenjadi Hotel Salak di tahun 1948 setelah Indonesia merdeka. Namun peran Hotel Salak tak berubah hingga saat ini yang menyandang sebagai landmark kota Bogor.

Hotel tersebut direnovasi dan diremajakan kembali di tahun 1998 sehingga hotel ini memiliki fasilitas luxury dengan teknologi yang modern. Akhirnya Hotel Salak kini berganti nama Hotel Salak The Heritage untuk mengingat momen yang sangat penting untuk bangsa Indonesia.

hotelsalakpostcard

Bangunan fisik Hotel Salak The Heritage kini merupakan perpaduan dengan nilai sejarah, teknologi modern serta keindahan yang luxurious. Hotel ini saat ini memiliki 14 ruang rapat modern yang dilengkapi akses internet berkecepatan tinggi. Setiap kamarnya termasuk kamar superior memiliki bathtub. Tiada lain fasilitas ini untuk memanjakan para tamu untuk berendam air hangat setelah seharian rapat atau jalan-jalan di kebun raya sambil wisata kuliner yang tersebar di sekitar lokasi hotel.

 

Gedung lama atau bangunan hotel bagian depan disebut sebagai Colonial Floor. Untuk merasakan beristirahat di kesejukan udara Bogor ala para meneer Belanda, Anda bisa menginap di kamar tipe Executive, Executive Suite, atau Presidential Suite yang berada di Colonial Floor. Harga per malam untuk Executive mulai dari Rp 1.900.000.

Suasana salah satu ruangan Istana Bogor (1925)

Suasana salah satu ruangan Istana Bogor (1925)

Pada tahun 1950, setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia, dan resmi menjadi salah satu dari Istana Presiden Indonesia.

Istana Bogor mulai dibuka untuk umum pada tahun 1968

Istana Bogor mulai dibuka untuk umum pada tahun 1968

 

Di ruangan ini Presiden Sukarno menetapkan Supersemar yang fenomenal dan misterius itu

Di ruangan ini Presiden Sukarno menetapkan Supersemar yang fenomenal dan misterius itu

Banyak barang asli turun temurun yang berada di Istana Bogor rusak, hancur atau hilang pada masa Perang Dunia II. Seluruh karya seni dan perabotan klasik yang berada di Istana Bogor bermula dari awal tahun 1950. Koleksi karya seni dan dekorasi internasional banyak berasal dari hadiah negara-negara asing.

Salah satunya adalah tempat penyangga lilin kristal bergaya Bohemian dan karpet langka dari Persia yang melapisi lantai ruang utama di Istana Bogor. Koleksi istana meliputi 450 lukisan, di antaranya adalah karya pelukis Indonesia Basuki Abdullah, pelukis Rusia Makowski dan Ernest Dezentjé ; 360 patung ; susunan lantai keramik mewah yang tersebar di istana.

Presiden Soekarno beramah tamah dengan wartawan di Istana Bogor (1950-an)

Presiden Soekarno beramah tamah dengan wartawan di Istana Bogor (1950-an)

Salah satu dari koleksi keramik yang paling mengesankan berasal dari Rusia, merupakan sumbangan dari Perdana MenteriKhrushchev pada tahun 1960. Hadiah kenegaraan lainnya adalah tengkorak harimau berlapis perak, hadiah dari Perdana Menteri Thanom Kittikachorn dari Thailand pada tahun 1958.

Foto Bung Karno diapit anak angkat kesayangan, Ratna Djuami atau akrab disapa Omi (meninggal 23 Juni 2013), dan suaminya, Asmarahadi. Foto ini diambil tahun 1956, di Istana Bogor.

Foto Bung Karno diapit anak angkat kesayangan, Ratna Djuami atau akrab disapa Omi (meninggal 23 Juni 2013), dan suaminya, Asmarahadi. Foto ini diambil tahun 1956, di Istana Bogor.

 

Presiden Soekarno bersantai di Istana Bogor, 1967

Presiden Soekarno bersantai di Istana Bogor, 1967

Pada tahun 1968 Istana Bogor resmi dibuka untuk kunjungan umum atas restu dari Presiden Soeharto. Arus pengunjung dari luar dan dalam negeri setahunnya mencapai sekitar 10 ribu orang.

Lukisan Soeharto di salah satu ruangan Istana Bogor

Lukisan Soeharto di salah satu ruangan Istana Bogor

 

Pada 15 November 1994, Istana Bogor menjadi tempat pertemuan tahunan menteri ekonomi APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation), dan di sana diterbitkanlah Deklarasi Bogor.  Deklarasi ini merupakan komitmen 18 negara anggota APEC untuk mengadakan perdangangan bebas dan investasi sebelum tahun 2020.

Presiden Soeharto dan Mensesneg Moediono melihat jam masing-masing saat menunggu kedatangan Presiden AS Bill Clinton di Istana Bogor, 17 Juni 1998.

Presiden Soeharto dan Mensesneg Moediono melihat jam masing-masing saat menunggu kedatangan Presiden AS Bill Clinton di Istana Bogor

Pada 16 Agustus 2002, pada masa pemerintahan Presiden Megawati, diadakan acara “Semarak Kemerdekaan” untuk memperingati HUT RI yang ke-57, dan dimeriahkan dengan tampilnya Twilite Orchestra dengan konduktor Addie MS

Pada 9 Juli 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melangsungkan pernikahan anaknya, Agus Yudhoyono dengan Anisa Pohan di Istana Bogor.zeron

Pada 20 November 2006 Presiden Amerika Serikat George W. Bush melangsungkan kunjungan kenegaraan ke Istana Bogor dan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kunjungan singkat ini berlangsung selama enam jam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s