Hoegeng: Kesederhanaan dan Idaman

Membaca buku bagiku adalah pekerjaan yang seringkali tak pernah selesai. Sebab di sana aku mesti bertemu dengan buku-buku yang lain, hingga berbagai peristiwa yang mengundangku untuk menulis, baik esai maupun puisi. Aku meyakini, kecintaan terhadap buku ini tak mungkin sia-sia dan berbuah suatu hari nanti. Entah berupa berkah ilmu pengetahuan, rejeki hingga jodoh dan lain-lain. Dan tak kalah penting yakni bisa berbagi dengan tulisan dan ilmu yang kita miliki. Membaca buku sudah seperti kelazimanku sebagai manusia.

Sebab aku meyakini tanpa membaca buku, kita akan menjadi buta, atau bahkan seperti yang dikatakan Remy Sylado: kita gagal jadi manusia, dan berhasil jadi hewan. “Meminjam kata San Min Chu I bahwa buku tidak dikenal di dunia hewan. Oleh sebab itu, manusia yang tak mau mengurusi buku, mengenal buku, bahkan tidak mau membaca buku, tak jauh beda dengan manusia yang mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.

Ketika Novel Baswedan ditangkap anggota Badan Reserse Kriminal Polri, pekan lalu, tiba-tiba saya teringat Hoegeng. Nama lengkapnya Hoegeng Iman Santoso, tetapi selalu merendah ingin disebut Hoegeng saja. Pangkatnya jenderal polisi. Jabatan tertingginya di kepolisian adalah Menteri Panglima Angkatan Kepolisian (Menpangak)/Kapolri pada 1968-1971, posisi yang paling diangankan setiap polisi. Tetapi, sebelumnya ia menjabat antara lain Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri Iuran Negara (1965), dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti (1966).

Perawakannya tinggi dan terkesan kurang tegap. Namun, tidak berperut buncit. Di balik tubuhnya itu, ia justru memiliki jiwa yang kuat, teguh, dan jujur. Ketika berkuasa, ia tidak serakah. Ketika kehilangan kuasa, ia juga tak merasa susah. Ia memang tidak haus kuasa. Sebab, kemuliaan dan kehormatan bukan terletak pada kekuasaan. Bagi Hoegeng, kehormatan bersemayam di dalam jiwa. Dan, jabatan Kapolri adalah alat untuk menjaga kehormatan itu. Saya selalu terkagum-kagum membaca kisah biografinya. Pahamlah kita mengapa Gus Dur, sapaan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang berkuasa pada 1999-2001, sampai mengatakan, “Di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.”

Apakah di kepolisian tidak ada yang baik atau jujur lagi? Pastinya kita percaya banyak polisi baik, tetapi kita juga yakin banyak polisi kotor. Sayangnya, sekarang ini polisi lebih banyak kontroversial, terlebih terkait hubungan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan, saat Novel ditangkap, Presiden Joko Widodo langsung memerintahkan agar tidak boleh ada tindakan kontroversial. Sejak kasus cicak versus buaya jilid 1 mencuat tahun 2009 dan terlebih kasus korupsi di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri diobok-obok KPK dan komandannya, Irjen Djoko Susilo, dijadikan tersangka tahun 2012 (cicak vs buaya jilid 2), polisi seperti tak berhenti bermanuver.

Hoegeng ibarat mutiara berkilau menyilaukan yang keluar dari institusi kepolisian. Hoegeng mengharumkan korps baju coklat itu, bahkan sampai melampaui usianya yang tutup tahun 2004. Rindu Hoegeng terasa membuncah.

Dan kerinduan itu menyeruak tatkala menemukan buku ini. Buku berjudul “Halaman Terakhir – Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng” yang ditulis oleh Yudhi Herwibowo. Buku setebal 436. Diterbitkan oleh Noura Books.

novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur,  berintegritas, dan sederhana

novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur, berintegritas, dan sederhana

Halaman terakhir adalah novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur,  berintegritas, dan sederhana yang mungkin hingga kini tidak ada yang sepertinya. Di novel ini penulis hanya membatasi kisahnya dari dua kasus terakhir yang ditangani oleh Hoegeng sebelum ia dipurna baktikan sebelum masa tugasnya berakhir oleh pemerintah Orde Baru saat itu.

Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang mengisahkan bagaimana pergulatan batin Hoegeng saat membaca surat dinas dari Menhankam.

Kalimat itu menandaskan bahwa tugasnya sebagi Kapolri telah selesai walaupun sebenarnya masa tugasnya belum habis. Sebagai seorang prajurit Hoegeng  menerima keputusan tersebut namun yang disesalkannya adalah mengapa ia harus berhenti saat ia sedang menyelesaikan dua kasus besar yang selama ini menyita energi dan waktunya. Dua kasus yang telah dijanjikannya akan terselesaikan selama masa kepemimpinannya.

Kemudian setting kisah beralih secara beruntun ke dua kasus terakhir Hoegeng yaitu pemerkosaan Sumaryah, gadis desa penjual telur di Jogyakarta yang kelak akan menghebohkan masyarakat Indonesia karena ada dugaan keterlibatan anak pejabat, dan kasus penyeludupan mobil mewah oleh Soni Cahaya yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana dan diduga melibatkan para pejabat terkait dalam usaha ilegalnya ini.

Dalam kisah Sumaryah penulis menarasikan tragedi gadis penjual telur itu dengan dramatis mulai dari perkosaan yang dilakukan empat orang pemuda dalam mobil combi terhadap Sumaryah hingga proses persidangan yang berlarut-larut, berbelit,  dan melelahkan.Tekanan batin yang dialami Sumaryah terungkap dengan jelas di novel ini, apalagi ketika pada akhirnya dia sempat menjadi tersangka atau bagaimana kasusnya ini menjadi kasus besar dan rumit karena diduga ada anak pejabat yang terlibat dan hadirnya tersangka dan saksi-saksi baru yang janggal. Hal inilah yang menyebabkan Jenderal Hoegeng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dengan membentuk tim khusus sebelum akhirnya kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh Terpepu (Tim Pemeriksa Pusat) yang biasanya mengurusi kasus-kasus berdimensi politik.

Pada kasus penyeludupan mobil mewah pembaca akan diajak melihat bagaimana Soni Cahaya mendatangkan mobil-mobil mewah dengan cara yang cerdik yang tentu saja melibatkan instansi-instansi terkait. Di bagian ini pembaca juga disuguhkan keseruan proses penangkapan Soni Cahaya sang gembong penyeludup mobil mewah.

Setelah menarasikan dua kasus terakhir Hoegeng, di bab-bab terakhir penulis menyuguhkan bagaimana kehidupan Hoegeng setelah tidak menjadi Kapolri lagi antara lain menjadi pengisi acara talk show Radio Elshinta yang membahas isu-isu sosial hingga menjadi seorang penyanyi Hawaian yang pada akhirnya bersama groupnya yang bernama Hawaiian Senior tampil seminggu sekali di TVRI.

Di bagian ini kita akan melihat kepedulian Hoegeng sebagai seorang polisi yang berbedikasi tidak luntur walau ia telah pensiun. Dari acara radio yang diasuhnya ia kerap menerima pengaduan-pengaduan masyarakat. Apa yang  ia dengar ia catat dan sampaikan ke teman-teman atau anak buahnya yang masih aktif di kepolisian lewat sebuah memo.

Di bagian akhir novel ini kita juga akan melihat bagaimana pada akhirnya Hoegeng disingkirkan pemerintah Orde Baru  ketika pada akhirnya ia memilih berseberangan dengan pemerintah dan bergabung bersama Jenderal (Purn) Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, dll yang tergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) dan menandatangani sebuah petisi yang kelak akan dikenal dengan sebutan Petisi 50  ditujukan pada pemerintah. (5 Mei 1980)

“Dan dari situlah, semua hal yang seharusnya tak diterimanya kemudian diterima! Presiden Soeharto, yang pada tahun-tahun itu semakin kuat, merasa kalau gerakan seperti itu seperti menentang dirinya. Maka, ia kemudian mencatat semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan gerakan halus dan nyaris tak terlihat, Seoharto kemudian melakukan serangan balasan.” (hl, 423)

Novel ini mengungkapkan bahwa sejak Hoegeng ikut menandatangani Petisi 50 maka banyak yang berubah dari kehidupannya, antara lain ia tidak bisa datang ke pernikahan Prabowo dan Titiek Soeharto padahal ia adalah sahabat Soemitro, ayah Prabowo. Selain itu TVRI juga menghentikan siaran musik Hawaiian Seniors, yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hoegeng menerima semua perlakuan itu dengan lapang dada, hanya satu yang paling memberatkan dan melukai hatinya yaitu pelarangan dirinya untuk hadir di upacaya Bhayangkara (HUT POLRI), setiap tanggal 1 Juli.

Selain  Hoegeng novel ini juga memunculkan tokoh-tokoh lain yaitu Djaba Kresna, wartawan yang peduli akan nasib Sumaryah yang mendapat perlakuan tidak adil yang  ia tuliskan dalam bentuk berita atau opini di koran tempatnya bekerja. Lalu ada pula tokoh Jati Kusuma dan Wulan Sari, dua orang polisi yang ditugasi oleh Hoegeng untuk menangani kasus Sumaryah dan Soni Cahaya. Ketiga tokoh ini membuat novel ini menjadi semakin menarik karena ketiga tokoh inilah yang membuat kisah Hoegeng dan dua kasus yang ditanganinya ini menjadi lebih hidup dan seru untuk dibaca.

Melalui novel yang dikerjakan hampir setahun dengan riset pustaka yang serius dan wawancara dengan keluarga Alm. Hoegeng penulis juga menyuguhkan latar peristiwa-peristiwa sejarah dan sosial yang terjadi di Indonesia semasa Hoegeng menjadi Kapolri sehingga kita bisa belajar sejarah melalui novel ini.  Di luar dua kasus besar yang ditangani Hoegeng terungkap juga  bagaimana sulitnya Hoegeng menerapkan peraturan pemakaian helm bagi pengendara motor yang mendapat banyak tantangan dari masyarakat sampai-sampai Hoegeng diisukan memiliki pabrik helm sehingga mengeluarkan kebijakan tersebut.

Secara keseluruhan novel ini berhasil mengungkap dengan baik seluk beluk dan kerumitan penanganan dari dua kasus besar yang benar-benar pernah terjadi ini dalam balutan dramatisasi fiksi yang menarik. Namun sayangnya porsi pengungkapan dua kasus ini  terlalu mendominasi kisahnya sehingga porsi dan ketokohan Hoegeng sendiri tampak sedikit tenggelam padahal sub judul novel ini adalah “Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng”. Sub judul tersebut  tentunya akan menggiring pembaca pada persepsi bahwa mereka akan banyak mendapat kisah kehidupan Hoegeng sebagai seorang polisi.

Walau demikian, sekalipun tidak banyak,  penulis tetap menyertakan kilasan-kilasan kehidupan Hoegeng mulai dari awal kariernya di kepolisian hingga masa pensiunnya sehingga pembaca dapat  melihat sosok dan keteladanan Hoegeng sebagai polisi yang berdedikasi, jujur, dan sederhana. Hal ini antara lain terungkap ketika Hoegeng ditugaskan sebagai Kadit Reskim Sumatera Utara.

Ketika itu di dalam rumah dinasnya, ditemukan barang-barang mewah kiriman seorang pengusaha yang mengaku sebagai Ketua Panitia Selamat Datang. 

Tentu saja, Hoegenge menolak sambutan itu. Namun, si tukang suap ternyata bukan orang yang mudah menyerah. Ia tak menghiraukan penolakan Hoegeng yang meminta barang-barang itu diambil kembali. Sehingga, sampai batas waktu yang ditetapkan, Hoegeng akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan barang-barang itu dari rumah dinasnya. (hlm 129-130).

Selain hal di atas masih ada beberapa kisah lain yang mengungkap kejujuran dan dedikasi Hoegeng pada tugas yang diembannya sehingga novel ini patut dibaca oleh siapapun di tengah langkanya figur seorang pemimpin teladan di tengah-tengah kita. Dipaparkannya dua kasus besar yang  sarat konflik kepentingan di masa Hoegeng bertugas di tahun 70an ini menyadarkan kita bahwa keadilan yang hampir tidak pernah dirasakan rakyat kecil seperti Sumaryah dan kasus kejahatan yang  yang melibatkan instasi oknum-oknum di jajaran pemerintahan tetap saja masih terjadi di jaman ini. Apakah ini menandakan bahwa dalam segi hukum dan keadilan negara kita hanya “berjalan di tempat” ?

Aku pernah membaca buku biografi Hoegeng yang lain. Yang memuat kisah akhir tragis pribadi yang antikorupsi. Judulnya “Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan” tulisan wartawan Kompas Suhartono.

hoegeng

Gara-gara sikap Hoegeng yang tak kenal kompromi dengan penguasa, banyak kesulitan yang dialaminya setelah pensiun sebagai Kapolri. Tercatat dia pernah ikut menandatangani petisi 50, yang isinya mengkritik keras pemerintahan Soeharto yang cenderung despotik. Soeharto mempersonifikasikan dirinya sebagai orang paling Pancasialis, sehingga memanfaatkan Pancasila untuk menghabisi orang yang dianggap kritis pada pemerintahannya. Tak ayal, Hoegeng dan 49 tokoh penanda tangan Petisi 50 pun dicekal oleh Orde Baru. Peran politiknya dikebiri, sumber ekonominya dihambat, bahkan acara Hoegeng bernyanyi Hawaian di TVRI pun diberedel.

Yang lebih tragis, semasa Orde Baru Heogeng mungkin satu-satunya Kapolri yang dilarang datang di upacara peringatan Hari Bhayangkara. Nama Hoegeng dicekal di Kantor Imigrasi, dilarang berpergian kemanapun. Hoegeng juga dilarang Soeharto hadir di resepsi pernikahan Prabowo, anak sahabat dekatnya, Soemitro Djojohadikoeseomo. Soemitro sendiri yang menyampaikan kabar itu saat bersilaturahmi ke kediaman Hoegeng. Soemitro menyampaikan permohonan maaf karena telah gagal membujuk Soeharto (calon besannya), lalu memeluk Hoegeng dengan haru. Mereka berdua meneteskan air mata.  Heogeng kecewa, tapi dia bisa memahami perasaan sahabatnya.

Bahkan ketika Hoegeng wafat pada 2004 lalu, sesuai wasiatnya, Hoegeng menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Seperti yang sempat Hoegeng lontarkan di tahun 1980-an, bahwa dirinya tak sudi dimakamkan di Kalibata (TMP). Ia menyebut dirinya tak mau sekuburan dengan para koruptor macam Taher, pembantu dekat Ibnu Soetowo yang diadili di Singapura karena menilap uang Pertamina. Sekali lagi, itulah Hoegeng. Pun hingga akhir hayat, tak sedikitpun rela berkompromi dengan korupsi.

Singkatnya: Hoegoeng adalah polisi idaman. Seperti yang pernah ditulis oleh Abrar Yusra dan Ramadhan KH. Terbitan Sinar Harapan (1994).  Ramadhan KH, salah satu penulis buku ini mengatakan, “Dari wawancara pertama kali yang saya hadiri, saya sudah bisa menangkap bahwa Pak Hoegeng adalah tokoh yang polos, yang bicara jujur, tetapi yang bersikap tidak mau menyinggung hati orang lain selain mengenai bajingan, penyuap, koruptor, penyelundup, penjahat kriminal yang keterlaluan,” kata Ramadhan.

“Kalau bicara keras begitu pun, ia cerita singkat-singkat saja. Ia tidak menonjolkan diri sebagai pahlawan atau hero. Ia simpan di dalam hatinya—atau mungkin malahan tidak merasa sama sekali—perasaan atau sikap kepahlawanan. Ia anggap hidup jujur dan menjauhi atau menolak suap itu sebagai hal yang sudah seharusnya.  Bahwasanya ia telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada kemerdekaan Republik kita ini, itu pun ia ceritakan dengan sikap yang jauh dari sombong. Namun, keteguhan dalam memegang kebenaran menurut keyakinannya itu, seperti baja yang tidak bisa dipatahkan.”

Kepada Ramadhan, Hoegeng menggarisbawahi, “Menjadi pejabat, apalagi penegak hukum, memang banyak tantangan dan godaan. Banyak pejabat yang kaya raya hanya karena tak tahan godaan disuap, dan membuat pleidoi bahwa kekayaannya itu didapat karena persahabatan”.

Dalam buku yang merupakan otobiografi ini juga dikisahkan Menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia. Selama menjabat sebagai  Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia, jabatan  itu terbilang awet, yakni diangkat pada 19 Januari 1961, dan Hoengeng baru mengakhiri jabatannya awal Juni 1965.

Hoengeng menulis “saya ketahui di tubuh Jawatan Imigrasi diperlukan kepemimpinan yang tegas. Kantor Imigrasi saat itu tampaknya tidak dikuasai oleh orang-orang imigrasi sendiri.”

“Yang berkuasa justru orang-orang non imigrasi, di antaranya bagian intel TNI AD atau DPKN Kepolisian, Corps Polisi Militer, dan Kejaksaan Agung. Orang-orang Imigrasinya hanya berfungsi sebagai juru tulis dan tukang cap belaka,” tulis Hoengeng.

hoegengpolisiidamandankenyataan_15658

Membaca riwayat hidup akan memperkaya jiwa. Membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s