Hirohito dan Misteri Perang Dunia II

Kaisar Hirohito

Sebuah buku baru mengisyaratkan bahwa Kaisar Jepang pada masa Perang Dunia II, Hirohito, sebenarnya telah memperingatkan negerinya untuk tidak berperang melawan Amerika Serikat. Pernyataan Kaisar Hirohito ini tercantum dalam buku sejarah resmi kekaisaran. Diperlukan waktu 24 tahun untuk membuat buku setebal 12.000 halaman yang terbagi dalam 61 seri ini. Para pembayar pajak Jepang harus membayar 2,2 juta dollar AS agar rumah tangga kekaisaran dapat memproduksinya.

Kaisar Hirohito (ujung kanan) menyambut kedatangan Presiden AS Ronald Reagen dan Ibu Negara Nancy dalam sebuah kunjungan kenegaraan 9 November 1983

Sejumlah pihak memandang Hirohito—yang meninggal dunia pada 1989—terlibat dalam menentukan kebijakan agresi Jepang sepanjang Perang Dunia II.

Kaisar Hirohito, saat pelantikan tahun 1926

Namun, buku ini menyatakan bahwa tidak lama setelah Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour pada 1941, Hirohito memperingatkan komandan militer untuk tidak melakukan “perang yang sembrono” yang akan membuatnya merasa “sangat harus meminta maaf kepada nenek moyang kerajaan”.

Lahir di Tokyo pada 29 April 1901, Hirohito adalah putra sulung Kaisar Yoshihito. Nama kecilnya adalah Michinomiya dan resmi menjadi putra mahkota pada 1916.

Kaisar Hirohito dalam sebuah kesempatan bersama Pangeran (sekarang Kaisar) Akihito

Ia merupakan putra mahkota Jepang pertama yang melakukan perjalanan ke Eropa. Itu dilakukannya selama enam bulan pada tahun 1921. Tahun 1924, ia menikah dengan Putri Nagako. Dan, pada 25 Desember 1926, Hirohito resmi jadi kaisar setelah sang ayah wafat.

Masa kekaisarannya disebut Era Showa, di mana warga dunia menyaksikan perubahan drastis Jepang. Bukan hanya jadi negara modern, tapi juga negara yang berambisi besar menandingi negara-negara industri Barat dengan melakukan ekspansi wilayah.

Kaisar Hirohito (1936)

Militerisrie yang ikut berkembang akhirnya membawa tragedi kepada Jepang dan rakyatnya. (Baca: bom atom di Hiroshima). Hirohito dianggap pasif, membiarkan hal itu berjalan. Sementara ia sendiri terjauhkan dari rakyatnya yang pada akhir 1945 tetap menganggapnya sebagai dewa.

Tapi karena anggapan ini pula-lah ia selamat dari tuntutan hukum oleh para pemenang perang. Sebagian dari mereka semula menghendaki Kaisar Hirohito harus bertanggung jawab atas pecahnya perang serta kekejaman yang dilakukan Militer Jepang.

Kaisar Hirohito menjadi sampul majalah Time, 21 Mei 1945

Namun, dengan pertimbangan bahwa menyeretnya akan menimbulkan reaksi hebat dari rakyat Jepang yang mendewakannya, maka luputlah Hirohito dari pertanggungjawaban hukum.

Pesannya kepada rakyat Jepang dan dunia pada 15 Agustus 1945 telah mengakhiri peperangan. Mulai 1 Januari 1946, dinyatakan bahwa Kaisar Jepang adalah manusia biasa bukan dewa sebagaimana dipercaya rakyatnya selama ini.

Kaisar Hirohito dalam siaran radio tanggal 15 Agustus 1945 yang mengumumkan mengenai Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu

Pada tanggal 2 September 1945, Kaisar Hirohito menandatangani dokumen formal rekapitulasi Jepang kepada Sekutu

Sebuah foto yang menunjukkan reaksi rakyat Jepang yang sedih usai mendengarkan siaran radio yang memperdengarkan pengumuman Kaisar Hirohito yang menyerah kepada Sekutu, 15 Agustus 1945

Rakyat Jepang menundukkan tubuhnya di lingkungan Istana Kekaisaran (Tokyo) ketika mendengar siaran radio yang mengumumkan penyerahan diri Jepang kepada Sekutu oleh Kaisar Hirohito, 15 Agustus 1945

Satu-satunya persyaratan Jepang untuk takluk kepada Sekutu hanyalah agar Kaisar tetep menduduki takhtanya. Dan permintaan ini dituruti. Meski demikian, kehidupan Kaisar dan keluarganya tetap dihormati warga Jepang –yang tetap pula menjunjung Kaisar dengan tingginya. Hirohito akhirnya mangkat pada 7 Januari 1989 karena kanker. Ia digantikan putranya, Kaisar Akihito.

Setelah Jepang menyerah tahun 1945, kaisar menggelar 11 pertemuan dengan Jenderal Douglas MacArthur, panglima tertinggi dari pasukan sekutu.

Kaisar Hirohito bersama Jenderal Douglas MacArthur, dalam sebuah pertemuan di Tokyo, 27 September 1945

Buku catatan tersebut menceritakan pertemuan mereka yang pertama, di mana kaisar mengatakan kepada MacArthur bahwa ia ingin sedapat mungkin menghindari perang, dan adalah penyesalannya yang terdalam bahwa Jepang akhirnya terlibat dalam perang.

Terdapat juga beberapa kutipan dari riwayat hidup MacArthur di mana kaisar mengatakan ia akan mempercayakan nasibnya kepada negara-negara sekutu, karena ia lah yang bertanggung jawab penuh atas keputusan dan tindakannya.

Catatan tersebut menyatakan di tahun 1971, dalam pertemuan pertama kaisar dengan seorang presiden AS, kaisar berterima kasih kepada Richard Nixon atas persetujuan Nixon mengembalikan Okinawa ke Pemerintahan Jepang. Pernyataan semacam itu belum pernah dibuka kepada publik sebelumnya.

Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa bahkan setelah ia menjadi “Lambang Negara” di bawah konstitusi pasca perang, kaisar tetap sangat tertarik pada diplomasi dan keamanan nasional, dan sering kali dijelaskan mengenai hal-hal tersebut oleh pejabat pemerintah.

Pada tanggal 23 Desember 1948, persis 62 tahun yang  lalu, Hideki Tojo dieksekusi mati oleh Pengadilan Militer Internasional karena kejahatan melawan kemanusiaan, di  Penjara Sugamo, Tokyo. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang, ketika penyerangan terhadap pangkalan militer di Pearl Harbour.  Ia dihukum gantung bersama 6 penjahat perang lainnya.

Selain Tojo, enam orang lain itu adalah Jenderal Kenji Doihara, orang yang dianggap bertanggung-jawab atas Inciden Mukden tahun 1931. Kemudian Jendederal Heitaro Kimura, mantan Komandan di Manchuria; Jenderal Iwane Matsui adalah jenderal yang dianggap bertanggung-jawab atas tragedi perkosaan Nanking. Kemudian, Jenderal Akira Muto, mantan Kepala Stad di Filipina. Mantan Perdana Menteri (1936-1937) Koki Hirota; mantan Menteri Pertahanan Seishiro Itagaki.

Tetap menjadi pertanyaan sejarahwan maupun peneliti, “Seberapa jauh Hideko Tojo dianggap paling bertanggung jawab atas sikap tebar militer, ekspansi dan aksi kekerasan Jepang? Di mana Sang Kaisar Hirohito dianggap ikut bertanggung-jawab atas kekejaman Jepang, dan konsekuensi yang mestinya dianggap patut dipikulnya?”

Setelah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tahun 1945, Jenderal Amerika Serikat Douglas MacArthur memerintahkan penangkapan empat puluh orang di daftar puncak terkait kejahatan perang, termasuk Tojo. Kediaman Tojo di Setagaya segera dipenuhi wartawan dan fotografer. Konon, ikut hadir seorang dokter bernama Suzuki yang memberi tanda pada dada Tojo dengan arang yang menandakan tempat kematiannya.

Ketika polisi militer Amerika mengepung rumahnya tanggal 8 September 1945, mereka mendengar bunyi letusan dari dalam. Mayor Paul Kraus dan sepasukan Polisi Militer menyerbu kedalam, turut serta didalamnya wartawan The New York Times George Jones, yang menulis: “Tojo telah menembakkan dirinya sendiri persis pada dada dengan sebuah pistol, tepat sesuai tanda yang telah diberikan, namun peluruh tidak mencapai sasaran dan hanya bersarang di perutnya. Pada pukul 4.29 ia dilucuti dan dadanya berlumuran darah. Tojo mulai angkat bicara, dan dua orang wartawan Jepang merekam kata-katanya.Ia bergumam, “Saya sangat mohon maaf, ini akan mengantarku pada kematian. Perang Asia Timur Raya dibenarkan dan merupakan pembelaan (diri). Saya sangat menyesal kepada bangsa dan semua suku bangsa dari semua bangsa Asia. Saya menanti pengadilan yang jujur dalam sejarah. Saya telah berketetapan untuk melakukan bunuh diri namun berkali-kali hal itu gagal.”

Perdana Menteri Tojo telah menembakkan dirinya sendiri persis pada dada dengan sebuah pistol, tepat sesuai tanda yang telah diberikan, namun peluruh tidak mencapai sasaran dan hanya bersarang di perutnya.

Eksekusi terhadap Perdana Menteri Tojo

Peter  Wetzler dalam bukunya, “Hirohito and War”, pada kata pendahuluannya mengungkapkan tiga bentuk relasi Rencana Militer (Jepang) dan Pengambil(-an) Keputusan dengan didukung Boeicho Kenkyujo atau NIDS (National Insitute of Defense Studies), untuk menghantar orang memahami lebih jauh mengapa Hirohito dan Tojo memiliki tanggung-jawab berbeda, atas “sepotong sejarah” Jepang itu.

Pertama, Kerajaan telah diinformasikan secara tetap dan ekstensif tentang rencana penyerangan Pearl Harbour sekurang-kurangnya  enam tahun sebelumnya. Kedua, Militer telah memberikan penjelasan detail dan rinci tentang penyerangan Pearl Harbour secaya mengagumkan sebulan sebelum hari penyerangan. Ketiga, Kekaisaran tidak boleh bertanya saat konferensi pers, karena hal itu berhubungan dengan rahasia operasi militer, dan bila ada pertanyaan harus disampaikan di ruang tertutup sebelum pernyataan publik.

Hirohito oleh sejumlah sejarahwan dianggap telah dilindungi Citra dan Kekaisarannya oleh Amerika dan Sekutu, dengan alasan yang butuh pendalaman studi sejarah.  Tugas penelitian dan pertanyaan lain, “Mengapa Hideki Tojo menuju tempat eksekusi “dengan kebahagiaan” dan dengan puisi keimanan dalam puisi?” Adakah Kaisar Hirohito berhutang budi pada Tojo yang menjadi tumbal segala kekejaman di bawah Sang Kaisar?

Kaisar Hirohito menyampaikan pidato radio di hadapan rakyat pada 15 Agustus 1945. Dalam pidato radio yang disebut Gyokuon-h?s? (Siaran Suara Kaisar), Hirohito membacakan Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi, sekaligus mengumumkan kepada rakyat bahwa Jepang telah menyerah.

Menyerahnya Jepang pada bulan Agustus 1945 menandai akhir Perang Dunia II. Angkatan Laut Kekaisaran Jepang secara efektif sudah tidak ada sejak Agustus 1945, sementara invasi Sekutu ke Jepang hanya tinggal waktu. Walaupun keinginan untuk melawan hingga titik penghabisan dinyatakan secara terbuka, pemimpin Jepang dari Dewan Penasihat Militer Jepangsecara pribadi memohon Uni Soviet untuk berperan sebagai mediator dalam perjanjian damai dengan syarat-syarat yang menguntungkan Jepang. Sementara itu, Uni Soviet juga bersiap-siap untuk menyerang Jepang dalam usaha memenuhi janji kepada Amerika Serikat dan Inggris di Konferensi Yalta.

Pada 6 Agustus dan 9 Agustus, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pada 9 Agustus, Uni Soviet melancarkan penyerbuan mendadak ke koloni Jepang di Manchuria (Manchukuo) yang melanggar Pakta Netralitas Soviet–Jepang. Kaisar Hirohito campur tangan setelah terjadi dua peristiwa mengejutkan tersebut, dan memerintahkan Dewan Penasihat Militer untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan Sekutu dalam Deklarasi Potsdam. Setelah berlangsung perundingan di balik layar selama beberapa hari, dan kudeta yang gagal, Kaisar Hirohito menyampaikan pidato radio di hadapan rakyat pada 15 Agustus 1945. Dalam pidato radio yang disebut Gyokuon-h?s? (Siaran Suara Kaisar), Hirohito membacakan Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi, sekaligus mengumumkan kepada rakyat bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

Kaisar Hirohito (1946)

Kaisar Hirohito, 1988

Upacara pemakaman Kaisar Hirohito, 1989

Pendudukan Jepang oleh Komandan Tertinggi Sekutu dimulai pada 28 Agustus. Upacara kapitulasi diadakan pada 2 September 1945 di atas kapal tempur Amerika SerikatMissouri. Dokumen Kapitulasi Jepang yang ditandatangani hari itu oleh pejabat pemerintah Jepang secara resmi mengakhiri Perang Dunia II. Penduduk sipil dan anggota militer di negara-negara Sekutu merayakan Hari Kemenangan atas Jepang (V-J Day). Walaupun demikian, sebagian pos komando terpencil dan personel militer dari kesatuan di pelosok-pelosok Asia menolak untuk menyerah selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun setelah Jepang menyerah. Sejak kapitulasi Jepang, sejarawan terus berdebat tentang etika penggunaan bom atom. Perang antara Jepang dan Sekutu secara resmi berakhir ketika Perjanjian San Francisco mulai berlaku pada tanggal 28 April 1952. Empat tahun kemudian Jepang dan Uni Soviet menandatangani Deklarasi Bersama Soviet–Jepang 1956 yang secara resmi mengakhiri perang antara kedua negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s