Ford, Presiden yang Tak Pernah Dipilih

Presiden Ford dan ibu negara Betty Ford, Juli 1975

Gerald Ford, yang menjadi Presiden di ujung skandal Watergate pada tahun 1974 akan tetapi kemudian kehilangan dukungan dalam pemilu presiden karena memberikan pengampunan kepada pendahulunya, Presiden Richard Nixon, telah meninggal dunia pada 26 Desember 2006 yang lampau.

Ford, diapit oleh Wakil Presiden Dick Cheney dan isterinya, 20 Juni 2003

Bersama Presiden Bush, 23 Oktober 2006

Bekas prajurit Angkatan Laut saat Perang Pasifik  itu meninggal dunia dalam usia 93 tahun. Ford menjadi bekas Presiden AS yang menikmati usia panjang usai meninggalkan Gedung Putih pada tahun 1977. Rekor Ford hanya dilampaui oleh Ronald Reagen yang berhenti sebagai Presiden pada 1988 dan meninggal dunia pada 2004 yang lalu.

Presiden Bush dan ibu negara Laura Bush menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada bekas ibu negara, Betty Ford, di dampingi oleh Steve Ford.

Presiden Bush bersama ibu negara Laura Bush ketika menghadiri upacara kenegaraan untuk Ford di Katedral Nasional, Washington pada 2 Januari 2007. Di belakang mereka adalah ayah Bush, bekas Presiden George H.W. Bush (menjabat 1988-1992) dan Barbara Bush.

Presiden ke-38 AS itu meninggal dunia usai menjalani perawatan medis cukup lama, sejak Januari 2006, akibat paru-paru yang dideritanya. Ford adalah satu-satunya Presiden yang tidak pernah dipilih oleh rakyat. Ia menjadi penghuni Gedung Putih selama 896 hari, terhitung sejak pelantikan 9 Agustus 1974 hingga dikalahkan dalam pemilu oleh Jimmy Carter pada November 1976. Ford mengisi kepemimpinan nasional di negeri Paman Sam yang ketika itu dilanda kekalahan perang Vietnam dan menggantikan Presiden Nixon, yang mengundurkan diri untuk pertama kali dalam sejarah AS.

Usai mengambil keputusan yang menyakitkan terkait perang Vietnam dan goncangan horor skandal Watergate hampir 2 tahun lamanya, Ford, yang akrab dipanggil Jerry Ford, berhasil menjadi sosok pemimpin yang tenang. Dia adalah sosok kalem yang tiba-tiba harus berada dalam pusaran kekuasaan yang porak poranda, menjadi figur yang handal, tenang, dan dapat diprediksi.

Presiden Ford (tengah), bersama Menteri Pertahanan Donald Rumshed (kiri, kelak Menteri Pertahanan kembali, 2001-2005) dan Kepala Staf Kepresidenan Dick Cheney (kanan, kelak Menteri Pertahanan, 1988-1992 dan Wakil Presiden, 2001-2009)

Ford tak pernah terbungkus dengan beban intelektual dan psikologis. Prinsip hidupnya sederhana. “Saya bekerja seperti api”, ujarnya merangkum karakter dirinya. “Semakin keras bekerja, semakin beruntung diri Anda.”

Ford lahir pada 14 Juli 1913. Menjadi pemimpin minoritas DPR pada tahun 1963 dan kemudian bertahan sebagai anggota DPR hingga 1973. Ford ditunjuk oleh Nixon untuk menjadi Wakil Presiden, menggantikan Spiro Agnew yang mengundurkan diri 3 bulan usai dilantik mendampingi Nixon untuk masa jabatan kedua pada Maret 1973. Agnew didera tuduhan suap dan skandal pajak ketika menjabat Gubernur Miryland.

Dilantik menjadi Presiden di Gedung Putih oleh Ketua Mahkamah Agung, Warren Burger, 9 Agustus 1974

Ford memahami bahwa tugas yang paling mendesak adalah untuk membantu negara bergerak melampaui keputusasaan dan ketidakpercayaan karena krisis Watergate. Pidato Ford saat pelantikan presiden, antara lain mengatakan mimpi buruk buruk bangsa telah berlaluRepublik besar kami adalah pemerintah yang dijalankan menurut hukum dan bukan oleh manusia,” memperoleh sambutan hangat.

Ketika Ford menjadi Presiden, ekonomi memburuk, ada krisis energi, dan sekutu mempertanyakan keteguhan AS sebagai suatu bangsa. Nixon mengundurkan diri daripada menghadapi pemecatan oleh lembaga perwakilan karena mengaku melakukan upaya-upaya menghalang-halangi penyelidikan atas kasus Watergate. Dalam urusan dalam negeri, pemerintahan Ford gagal memperbaiki masalah ekonomi  meskipun pada tahun 1976 perekonomian mulai pulih dari resesi . Pemerintahan Ford dihadapkan kepada meningkatnya pengangguran, melonjaknya inflasi, dan krisis energi, selain penurunan ekonomi nasional jangka panjang.

Ford mengubah kebijakan ekonomi pendahulunya. Ia menaikkan pajak dan memotong anggaran dengan harapan bisa mengendalikan inflasi, yang mana rencana itu diharapkan dapat menurunkan angka pengangguran.

Dalam masalah luar negeri, Ford konsisten untuk melakukan pelucutan senjata nuklir. Washington mencapai kesepakatan dengan Moskow dengan perjanjian Helsinski, tetapi gagal mencapai persetujuan untuk aspek-aspek utama pengendalian senjata. Hubungan kedua negara kembali tegang sehubungan dengan krisis Angola. Bersamaan dengan itu, Ford menarik pasukan dari Vietnam, yang menampar AS karena kegagalan militer dan memberikan kesempatan kepada komunis untuk menguasai Indocina. Tetapi sebulan usai penarikan itu, Ford memperoleh acungan jempol dari publik karena berhasil memerintahkan operasi militer untuk membebaskan kapal Mayaguez yang disandera oleh gerilyawan Khamer Merah Kamboja.

Presiden Ford di Ruang Oval Gedung Putih, 17 Oktober 1974

Tetapi kegagalan Ford dalam hubungan luar negeri dipicu oleh krisis politik dalam negeri. Kalangan konservatif baik di dalam Partai Republik dan Partai Demokrat sama-sama mengecam perjanjian damai dengan Uni Soviet. Ford juga dinilai gagal mengendalikan CIA, yang kerap menjalan operasi secara otonom, di saat Kongres memerintahkan pengawasan yang lebih ketat terhadap organ intelijen tersebut.

Sebulan usai dilantik menjadi Presiden, Ford memberikan pengampunan kepada Nixon, suatu tindakan yang diklaim untuk mengatasi perpecahan negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s