Earl Warren, Sosok yang Kuat dan Berpengaruh

Earl Warren merupakan Ketua Mahkamah Agung Amerika yang ke-14 (1954-1969). Dengan karier profesi hukum yang mantap, jiwa politiknya yang bermartabat, dan rekam jejak kehidupan pribadi yang nyaris tanpa cela, Warren menjadi salah satu ikon hukum yang patut untuk diteladani.

Para hakim agung bersama Ketua Mahkamah Agung Earl Warren (1969). Dalam foto nampak: John Marshall Harlan, Hugo L. Black, Earl Warren, William O. Douglas, William J. Brennan, Jr. Second row: Abe Fortas, Potter Stewert, Byron R.

Menjadi sampul majalah Time (21 Desember 1953)

Sampul majalah Life (1948)

Gedung Mahkamah Agung Federal Amerika Serikat di Washington D.C.

Dalam masa kepemimpinannya, Warren berhasil mendorong Mahkamah Agung dengan wajah tradisi konstitusional yang kuat. Peran ini hampir menyerupai sejarah di awal negara Amerika terbentuk, saat John Marshall sebagai Ketua Mahkamah Agung memberikan nafas kehidupan bagi konstitusi dengan menempatkan pengadilan secara mendalam pada tertib bernegara.

Earl Warren

Warren telah memberikan inspirasi di mana Mahkamah Agung secara agresif dapat berperan dalam memberikan perlindungan terhadap hak asasi warga. Pada sisi lain, dia memandu pengadilan untuk menjadi benteng terakhir dalam memerangi sagregasi rasial dan menerbitkan putusan yang akan menjadi hal penting sepanjang sejarah abad ke-20, dalam perkara Brown V. Board of Education (1954). Dalam putusan ini lahirlah mantra yang mencengangkan tata sosial masyarakat Amerika saat itu: segregasi rasial di sekolah negeri adalah bertentangan dengan konstitusi.

Earl Warren dalam busana sebagai taruna militer (1918)

Warren dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1891 di Los Angeles, California, sebagai putra dari pasangan imigran Norwegia, Methias Warren and Chrystal Warren. Methias adalah penjaga rel kereta api, suatu profesi yang memberikan pendapatan amat kecil ketika Earl Warren dilahirkan. Dengan dukungan luar biasa dari keluarganya, Warren kemudian menyelesaikan sekolah menegah atas di Kern County High School (1908). Dengan uang hasil kerja sambilan dan pemberian ayahnya, ia mencoba peruntungan dengan kuliah hukum di University of California at Berkeley sampai dia memperoleh gelar sarjana muda (1912) dan menuntaskan pendidikan sarjananya 2 tahun kemudian.

Warren kemudian dengan sedih menghabiskan waktunya untuk bekerja di sebuah asosiasi pedagang minyak dan kemudian selama 18 bulan bergabung di Firma Hukum Robinson and Robinson.

Saat Warren bersiap-siap untuk mendirikan firma hukum secara mandiri bersama teman-temannya, Amerika terlibat dalam Perang Dunia I dan Warren masuk sebagai tentara. Tapi dia kemudian secara sukarela mengundurkan diri satu bulan setelah peperangan berakhir dengan pangkat Letnan Satu.

Sesudah kembali menjadi warga sipil, Warren bekerja di Balai Kota California dan tak lama kemudian menjadi penasehat hukum di Oakland. Pada tahun 1920, dia diangkat menjadi penuntut umum di Kejaksaan Negeri Alameda Country. Lima tahun kemudian, saat kejaksaan menjadi institusi yang berpengaruh secara politik, Warren terpilih sebagai Kepala Kejaksaan. Pada tahun 1925, setelah bertunangan selama 2 tahun, Warren menikah dengan seorang janda beranak satu yang bernama Nina Palmquist Meyers. Tak lama kemudian mereka dikarunia 5 anak. Sebagai penuntut umum di Kejaksaan Negeri, Warren terpilih berturut-turut untuk tahun 1926, 1930, dan 1934, karena reputasinya dalam memerangi korupsi.

Pada tahun 1938, karena prestasinya sebagai penuntut umum, Warren diangkat menjadi Jaksa Agung California. Kenaikan karir ini dibarengi dengan kematian ayah Warren akibat pembunuhan yang tidak pernah terpecahkan.

Kecemerlangan karier Warren dalam 4 tahun sebagai Jaksa Agung diisi dengan keputusan yang akan selalu diingat siapapun saat ia memerintahkan penahanan wargana negara Amerika keturunan Jepang setelah serangan di Pearl Harbour (1941). Bertahun-tahun kemudian Warren meratapi tindakannya tersebut. Pada waktu itu tindakan itu dilakukan dengan keyakinan bahwa tentara mempunyai kewenangan dan saat diperintahkan melakukan itu, sebagai warganegara Amerika yang baik ia merasa tidak mempunyai hak apapun untuk menolak, dan saat berujar dengan menyesal ia berkata,”andai warga Amerika yang baik tidak mengeluh, saya tidak bisa memahami mengapai orang-orang Jepang itu mengeluh.”

Dengan reputasi sebagai Jaksa Agung, Warren kemudian mencoba peruntungan di arena politik dan dengan kampanye yang mengagumkan pada tahun 1942 untuk pertama kali ia terpilih sebagai Gubernur California. Dia kembali meraih jabatan itu tahun 1946 dan pada tahun 1950, saat ia mengalahkan James Roosevelt, putra bekas Presiden Franklin D. Roosevelt (1929-1945).

Warren sebagai Gubernur California bersama keluarga (1951)

Sosok Warren kemudian dikenal sebagai politisi Republik yang bermartabat dan  banyak orang, karpet merah sudah digelar jika ia akan melaju ke panggung politik nasional saat itu. Dia kemudian menjadi calon wakil presiden atas kandidat Thomas E. Dewey (1948), dan kemudian mencalonkan diri sebagai Presiden dalam kancah konvensi Partai Republik yang sangat sengit pada tahun 1952. Sayangnya, dia terpental dari nominasi ini karena kursi kandidasi Presiden jatuh ke Dwight Eisenhower. Sesudah itu Warren merasa “mutung”dan merasa karier politiknya habis, gagal menggapai impian menjadi penghuni Gedung Putih.

Dalam foto ini, Earl Warren membantu mengenakan mantel terhadap Presiden Eisenhower yang akan mengucapkan pidato pelantikan dalam masa jabatan kedua (20 Januari 1957)

Dalam pada itu, Warren kembali mempertimbangkan pencalonannya sebagai Gubernur untuk masa jabatan yang keempat. Wakil Presiden terpilih Richard Nixon telah pula membujuknya untuk bergabung dalam kabinet Eisenhower sebagai menteri tenaga kerja atau menteri dalam negeri, tetapi tawaran itu ditolaknya.

Namun Warren kemudian secara sungguh-sungguh mempertimbangkan tawaran Einsenhower untuk diangkat sebagai Jaksa Agung Federal. Warren memandang pengangkatan dalam posisi itu akan mendongkrak reputasinya dan tidaklah menjadi masalah, mengingat kapasitas profesionalnya memang kental dengan kegimalangan sebagai penuntut umum. Dengan tawaran itu, pada awal September Warren mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri lagi dalam masa jabatan keempat sebagai Gubernur California. Warren tidak tahu, bahwa Eisenhower sudah mempunyai perhitungan lain.

Earl Warren berpose bersama keluarga saat menjadi Gubernur California

Presiden yang  pernah menjadi Panglima Sekutu untuk Eropa dalam Perang Dunia II itu menganggap “berbahaya” apabila Warren kembali terpilih sebagai Gubernur California. Tidak menutup kemungkinan mereka kembali akan bertarung dalam nominasi calon presiden 4 tahun mendatang, sesuatu yang amat dihindari oleh Eisenhower dengan melihat pengalaman dan rekam jejak bagus dari Warren. Ketika menawarkan jabatan Jaksa Agung, berarti pemerintahannya akan memperoleh sosok penegak hukum yang handal dalam menanggulangi kejahatan dan itu akan menjadi pintu antara selanjutnya untuk menempatkan Warren sebagai hakim agung. Dengan profesi yang seumur hidup itu, praktis Warren akan terlempar dari politik praktis dan tidak ada kesempatan mengincar jabatan Presiden.

Bersama Presiden Eisenhower

Sebelumnya Eisenhower sudah mempersiapkan jabatan Ketua Mahkamah Agung dengan keberhasilannya mengangkat politisi Partai Republik dari Chicago yang menentukan kemenangannya dalam konvensi, Warren Burger sebagai Jaksa Agung Muda Perdata. Burger akan didorong menjadi hakim agung dan kemudian Ketua Mahkamah Agung. (Catatan: Warren Burgert tidak pernah menjadi hakim agung selama pemerintahan Eisenhower, akan tetapi Burger kemudian justru berhasil menjadi Ketua Mahkamah Agung di masa kepresidenan Richard Nixon (1969), Presiden ke -37 yang terkenal karena kasus Watergate itu).

Melantik Presiden Kennedy (20 Januari 1961)

Saat melantik anggota Kabinet Presiden Kennedy (31 januari 1961)

Menyerahkan laporan hasil penyelidikan pembunuhan Presiden Kennedy pada 22 September 1964 kepada Presiden Johnson. Foto dari kiri ke kanan: John McCloy, J. Lee Rankin (General Counsel), Senator Richard Russell, Congressman Gerald Ford, Ketua Mahkamah Agung Earl Warren, President Lyndon B. Johnson, Allen Dulles, Senator John Sherman Cooper, dan anggota DPR Hale Boggs.

Selaku Ketua Mahkamah Agung, menyampaikan pidato dalam upacara pemakaman Presiden Kennedy (1963)

Saat bersama isteri menghadiri upacara resmi di Gedung Putih bersama Presiden Kennedy (1962)

Earl Warren dan isteri dalam suatu kesempatan bertemua Presiden Kennedy dan ibu negara, November 1963, sebelum peristiwa pembunuhan terjadi

Namun Einsenhower berpikir lain mengingat potensi persaingannya dengan Warren. Dalam situasi tidak menentu itu, tiba-tiba Ketua Mahkamah Agung Fred Vinson meninggal dunia pada September 1953. Segera saja Warren ditunjuk oleh Eisenhower menjadi pelaksana tugas Ketua Mahkamah Agung pada 2 Oktober 1953 dan tak lama kemudian disetujui Senat menjadi pemimpin badan peradilan itu pada 1 Maret 1954 dan hari berikutnya mengucapkan sumpah sebagai Ketua.

Menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional Hukum Pidana (1967)

Warren memasuki Mahkamah Agung dengan memahami karakter hakim agung yang lain. Dalam masa jabatan Roosevelt dan Truman, mereka telah berhasil mendudukkan 8 orang hakim agung. Mereka adalah orang dengan koneksi politik yang sangat kuat dengan para presiden itu. Dengan ambisi, kecerdasan, dan keterampilan yang tinggi mereka telah mengabdi di jajaran pemerintah federal sebelumnya. Hugo L. Black, Harold H. Burton, dan Sherman Minton berpengalaman menjadi Senator. William O. Douglas sebelumnya menjadi Ketua Bursa Efek dan Pasar Modal. Felix Frankfurter merupakan penasehat Presiden Roosevelt. Diantara para hakim itu, hanya Sherman Minton yang pernah berpengalaman dalam praktik peradilan. Burton, Dauglas, dan Frankfurter adalah dosen Fakultas Hukum. Kemudian Robert Jackson dan Stanley F. Reed pernah menjadi pengacara dan Tom C. Clark pernah menjadi jaksa federal.

Perlu diketahui sepanjang 1940-an, Mahkamah Agung mempunyai reputasi sebagai pengadilan dengan tingkat pertengkaran yang tinggi diantara para hakim agung. Mereka menolak berpihak secara tajam berpihak kepada perlindungan individu, tetapi pada saat yang bersamaan, akan menyerang keputusan pemerintah yang terlalu mencolok dalam melanggar kaidah konstitusi. Para hakim agung sering berbeda-beda dalam memahami ketentuan konstitusi dan bagaimana ketentuan itu harus dijalankan dalam suatu perkara. Presiden Truman kemudian mengajukan  Frederick M. Vinson, Ketua Mahkamah Agung sebelum Warren, dengan harapan akan mampu mengelola persoalan itu akan tetapi ternyata gagal.  Dan Warren pun mengetahui, bahwa posisi dirinya sebagai ketua akan teruji untuk mengatasi persoalan tersebut di samping penguasaannya akan bidang hukum.

Anak-anak Eral Warren: William Riley, Maud Menery, Dora Amy, Elmer Warren, Clarence Henry, Ethel Nora, Sheridan Ray, Earl Herbert, Ada Jamima, dan Grant Powell

Hakim Frankurter kelak bersaksi bahwa di awal kepemimpinannya Warren dapat dia pengaruhi. Salah satu buktinya, ia pernah memberikan pendapat supaya Warren melakukan rekrutmen baru terhadap asistem hakim. Ia juga memberikan daftar lulusan terbaik Harvard University. Namun setelah hubungannya dengan Warren beku, akhirnya Warren berhasil membangun jalur sendiri untuk merekrut para asisten.

Begitu masuk ke Gedung Mahkamah Agung saat awal bertugas, ia berkata bahwa ternyata seorang Gubernur Negara Bagian California bisa lebih banyak memerintah staf dibandingkan sebagai Ketua Mahkamah Agung. Warren ternyata baru tahu bahwa seorang Ketua akan dilayani hanya oleh 1 sekretaris, 3 asisten, dan 2 kurir. Salah satu kurir kemudian meninggal dunia 6 bulan kemudian, dan 1 kurir lagi akan pensiun di tahun berikutnya. Tetapi atas nama keadilan dan kemanfaatan, Warren menolak mengganti mereka semua dan tetap memperkerjakan di awal tugasnya sebagai Ketua. Kata warren,”Mengganti mereka di saat-saat terakhir  tidak akan menguntungkan mereka dan kelurga mereka juga harus pindah dari Washington, suatu proses yang makan waktu lama, sementara mereka tidak lagi menerima gaji.” Namun Warren mengajak mantan sekretaris Gubernur California, Margaret Bryan, tetapi khusus hanya melayani tugas dan korepondensi pribadinya. Segala pekerjaan tetap di bawah supervise sekretaris Ketua sebelumnya, Margaret McHugh.

Berbicara di hadapan asosiasi pengacara di New York (1954)

Putusan yang terkenal dan menentukan karier Warren baru saja ditunda pemeriksaannya ketika dia memulai jabatan sementara sebagai Ketua Mahkamah Agung pada Oktober 1953. Perkara yang diajukan, Perkara Brown V, Board of Education yang menggugat pemberlakuan diskriminasi rasial telah terdaftar tetapi para hakim belum mengambil keputusan. Namun demikian, melihat suara para hakim, sejak Fred Vinson masih hidup dan menjabat Ketua, sekalipun dengan suara tidak bulat, Mahkamah Agung akan mengabulkan gugatan itu. Namun begitu Warren masuk, ia segera menetapkan kasus itu sebagai prioritas, dan kemudian melakukan pendekatan informal dengan hakim agung yang lain, suatu gaya kepemimpinan yang kelak akan dipraktikkan selama ia dalam posisi sebagai Ketua Mahkamah Agung.

Saat mulai memeriksa perkara itu, Warren dalam rapat permusyawaratan dengan para hakim sudah terang-terangan tidak menyukai kebijakan segregasi rasial itu. “Bayangkan”, kata Warren,”apa yang akan menjadi pikiran anak-anak negro itu saat bersekolah di tempat yang diskriminatif seperti itu. Akan menjadi sesuatu yang menusuk perasaan dan hati mereka bahwa mereka sebagai keturunan negro akan diperlukan tidak sebagaimana mestinya.” Ketika pengacara mengeluhkan bahwa keadilan sulit diharapkan karena berbagai yurisprudensi sebelumnya telah menolak gugatan seperti itu. Warren berkata,”Apa yang hendak kita harapkan dari suatu yurisprudensi? Yurisprudensi bukan suatu hal prinsip yang bersifat tetap.” Warren selanjutnya bersikukuh bahwa yang terpenting dari kasus itu adalah putusan dan bukan opini.

Berita mengenai larangan segregasi rasial di sekolah-sekolah negeri

Dan pada tanggal 17 Mei 1954, lahirlah putusan yang mencengangkan dari Mahkamah Agung yang mana praktik segregasi rasial tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan ketentuan konstitusi.  Demi hak asasi, Warren telah melakukan revolusi wajah hukum Amerika yang merembet ke bidang kehidupan yang lain, terutama yang melibatkan perlindungan bagi kalangan kulit hitam. Putusan Mahkamah Agung selanjutnya begitu memihak kepada perlindungan hukum bagi kalangan kulit hitam. Pada tahun 1961, Mahkamah Agung melarang negara bagian untuk mengajukan bukti-bukti illegal dalam melakukan dakwaan. Tahun 1963, Mahkamah Agung juga memerintahkan pelaksanaan bantuan hukum bagi terdakwa yang tidak mampu. Kemudian, pada tahun 1966, Mahkamah Agung mewajibkan polisi untuk membacakan hak-hak tersangka saat akan melakukan penahanan atau penangkapan, yang kemudian populer sebagai ketentuan Miranda Rule.

Mahkamah Agung di bawah Warren menjadi penjaga konstitusi, termasuk sekulerisme. Pada tahun 1963, Mahkamah Agung menetapkan perintah berdoa di sekolah bertentangan dengan Amandemen Pertama, dan kemudian perintah untuk membaca Kitab Suci di sekolah-sekolah juga merupakan tindakan inkonstitusional (1964).

Sebelumnya, Mahkamah Agung juga menafsirkan bahwa dalam demokrasi electoral, yang berlaku adalah prinsip one man, one vote (1963). Selanjutnya, Mahkamah Agung mengakui hak atas privacy (1963).

Earl Warren melantik Presiden Johson (20 Januari 1964)

Earl Warren melantik Presiden Richard M. Nixon (20 Januari 1969).

Putusan Mahkamah Agung dalam sektor politik di atas kemudian mendorong pembentukan hukum oleh Kongres guna menjamin kesetaraan semua warganegara seperrti Civil Rights Act (1964) dan the Voting Rights Acht (1964) guna mewujudkan rumus sakti “bersamaan kedudukan dalam hukum.” Terutama dalam putusan Brown v. Board of Education, Warren mampu menampilkan diri sebagai pemimpin dengan kemampuan dan keyakinan yang tinggi, menunjukkan intuisi yang baik dalam politik, dan keterampilan mengelola kekuasaan yang dengan cepat memperoleh penghormatan dari para hakim agung yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s