Darsi, Pengabdian kepada Seni

Di tengah gempuran dunia modern, WO Sriwedari mampu bertahan. Kelompok wayang orang ini pernah mengalami masa jaya pada tahun 1960-1980 dengan menjadi jawara di festival-festival wayang orang. Bintang panggung seperti Rusman, Darsi, dan Surono dikenal publik bak selebritas. Kelompok ini mengalami masa surut sejak tahun 1990 hingga awal tahun 2000-an. Saat itu, jumlah penonton merosot tajam dari ratusan menjadi sekitar 30-50 orang tiap kali pentas.

Pentas wayang Orang Sriwedari

Sekedar menengok ke belakang, WO Sriwedari pertama kali dipentaskan untuk umum pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Sebelumnya pertunjukan wayang orang hanya bisa dinikmati kalangan keraton. Kebijakan Paku Buwono tersebut dikembangkan pengusaha Tionghoa Gan Kam, Lie Wat dan RM Sastratanaja dengan membangun semacam gedung opera untuk pagelaran WO Sriwedari. Mereka memungut bayaran atau karcis kepada penonton. Sejak itu, WO Sriwedari menjadi ikon Kota Solo.

Pada tahun 1920-an hingga 40-an terdapat pemain bernama Wugu Hardjawibaksa yang memerankan Gatotkaca dan Sastra­dirun yang meme­rankan Petruk. Penampilan keduanya sangat ditunggu pe­nonton. Lalu, pada tahun 1940-an hingga 1970-an muncul nama Rusman Hardjawibaksa dan Darsi Pudyarini yang me­me­rankan Gatotkaca dan Pregiwa.

Tembang palaran yang dilantunkan Rusman terhadap Darsi (Gatotkaca yang kasmaran pada Pregiwa) begitu indah dan menghanyutkan,termasuk menghanyutkan perasa­an Presiden Soekarno yang menjadi penonton tetap WO Sriwedari setiap tiga bulan sekali.  Pethilan (sempalan) adegan Gatotkaca yang tengah merayu Pregiwa  itu pula yang membuat Rusman dan Darsi melanglang buana sebagai duta budaya Indonesia. Namun, sekarang, belum ditemukan lagi pemain wayang orang yang penampilannya ditunggu penonton.

Darsi Pudyorini (74) mengisahkan adegan tari Gatotkaca Gandrung yang menampilkan dirinya dengan suami, Roesman (1926-1990).

Dalam wawancara dengan Kompas tahun 1982, Roesman digambarkan Darsi sebagai “ganteng, cakrak, dan setiap kali mengalunkan tembang Pangkur Palaran suaranya bisa melumpuhkan lutut perempuan”. Roesman lalu mengibaratkan istrinya sebagai “tali yang mengendalikan saya dari perbuatan tak wajar”. Pernyataan itu seperti pedoman di tengah kehidupan seniman tradisional Jawa yang cenderung longgar secara moral.

Gatotkoco wuyung yang diperankan Rusman bersama Darsi yang memerankan Pergiwa.

Tari fragmen Gatotkaca Gandrung membawa pasangan Roesman dan Darsi, keduanya penari kelompok Wayang Orang Sriwedari Solo, menjadi penari legendaris sejak tahun 1950-an. Sudah ratusan kali tari tersebut dibawakan keduanya di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Istana Merdeka Jakarta masa Presiden Soekarno.

Hati penonton dibikin gemas setiap kali tampil adegan Pergiwa berdiri di atas satu kaki Gatotkaca dan bersahut-sahutan melagukan tembang asmara. Konon Bung Karno terkesan, bila Roesman melakukan adegan Gatotkaca trisik—dia istilahkan nggledek, berlari kecil sambil kaki diseret saat hendak “terbang”.

Sekalipun menjadi penari kesayangan Istana, Darsi mengaku ia dan suami belum pernah memperoleh hadiah khusus dari Bung Karno.

Rusman antara Magnit Bung Karno dan Kharisma Gathutkaca Wayang Orang Sriwedari

Pada 2 November 2007, Darsi menerima Piagam Hadiah Seni dari Pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang diserahkan Menbudpar Jero Wacik di Candi Prambanan. Piagam itu menyebutkan, penghargaan itu diberikan Pemerintah Indonesia atas prestasinya yang luar biasa dalam bidang seni. Selain piagam, Darsi juga menerima uang, tetapi ia tak mau menyebutkan jumlahnya.

Dedikasi Darsi di bidang tari, terutama tari Jawa tradisional, tak diragukan lagi. Terlahir 5 April 1933 dengan nama Darsiyah dari anak seorang juru kemasan di Kampung Kebonan, selatan Taman Kebon Raja Sriwedari, Solo, Darsi belajar menari pada RNg Wiryopredoto yang lalu menariknya menjadi pemain di Wayang Orang (WO) Sriwedari saat ia berusia 14 tahun.

Ia dan Roesman, yang kemudian jadi pasangannya, menjadi ikon WO Sriwedari sejak 1950 hingga Roesman tutup usia pada 1990. Pasangan itu, dan sejumlah pemain WO Sriwedari yang statusnya di bawah dinas pariwisata setempat, baru diangkat sebagai pegawai negeri tahun 1986.

Sekalipun telah pensiun sejak 1991, selama beberapa tahun Darsi tetap setia naik pentas WO Sriwedari. Sekalipun kesenian wayang yang dulu nyaris jadi mitos di tengah masyarakat Jawa itu, kini tak lagi punya penonton. Ia dan suaminya—sampai akhir hayat—setiap malam bermain di panggung Sriwedari. Mereka berboncengan naik skuter atau becak dari rumah ke Taman Sriwedari yang jaraknya tak jauh sekalipun honor mereka pun tak menutup ongkos naik becak.

Bahkan, pada usia di atas 70 tahun, Darsi masih menari. Terakhir ia menari atas undangan mantan Menteri Sosial Nani Soedarsono pada tahun 2004 di Jakarta. Ia pentas bersama group Wayang Orang  Sekar Budaya Nusantara yang digawangi oleh mantan Menteri Sosial itu dan bertajuk “Mustakeni.” Walau fisik telah mengeriput, peran yang dia bawakan selalu wanita muda yang canthas-trengginas.

Ia sejak dulu mendapat peran yang lanyap, mbranyak seperti Srikandi, Mustakaweni, Dewasrani. Pemeranan itu, dalam konsep tari Jawa, disesuaikan dengan gandar atau karakter fisik penari. Dalam beberapa kesempatan ia juga menari sebagai Menakjingga, Kelana Topeng, Dewi Durga, Narasoma, hingga Gatotkaca palsu dalam perhelatan wayang orang yang dibawakan para perempuan.

Kini, Darsi mengaku tak sanggup lagi menari. Postur tubuhnya tak lagi gemuk segar seperti 25 tahun lalu sewaktu Kompas mewawancarainya. Sekarang lututnya suka goyah bila berdiri agak lama, tetapi ia mengaku tak pernah sakit serius.

Roesman, suaminya, menggambarkan Darsi sebagai perempuan jujur, lugu, dan bersahaja. Justru karena keluguannya, Darsi menjadi “rem” yang menyadarkan, hidup tak perlu harus menuntut.

Sekalipun mumpuni menari dan segala pengetahuan yang berhubungan dengan kesenian Jawa, ia tetap bersahaja. Darsi pun menyimpan kekerasan hati, juga sikap mandiri. Itu dia buktikan saat memutuskan bergabung menjadi penari (profesional) WO Sriwedari.

Ia mendatangi ayahnya, Carangkoro, meminta restu. Ayahnya menolak keras, anak priayi kok jadi penari. Kalau Darsi nekat jadi penari, anak gadisnya itu dilarang menginjak halaman rumah. Meski sambil menahan tangis, Darsi tetap membulatkan tekad.

Sejak usia dini Darsi belajar pada R.Ng. Wiryopredoto di Ndalem Mangkuyudan. Berbakat dan punya “tulang baik”, pelajaran menari dan menembang dikuasainya. Ia  belajar secara kupingan (mendengar). Semua gending dan wulu-suku-nya saya hafal sampai sekarang.

Tak satu pengetahuan pun yang membuat dia mampu menari dan menembang sampai tingkat mumpuni itu dilakukan lewat catatan. Ia buta huruf karena hanya sampai kelas satu SD. Belakangan, ketika anak-anak telah dewasa, ia belajar menulis dan membaca.

Dari enam anaknya, hanya si sulung Rusini yang menjadi penari. Menyayangkan kesenian wayang orang tak lagi diminati masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s