Bismar, Penegak Keadilan yang Kontroversial

Akademisi dan praktisi hukum di Indonesia sangat sering mengutip kata-kata Bernardus Maria Taverne (1874-1944). “Berikan aku hakim, jaksa, polisi dan advokat yang baik, niscaya aku akan berantas kejahatan meski tanpa undang-undang sekalipun”. Geef me goede rechter, goede rechter commissarisen, goede officieren van justitien, goede politie ambtenaren, en ik zal met een slecht wetboeken van strafprocessrecht het geode beruken.

Pernyataan B.M Taverne memperlihatkan bahwa dalam penegakan hukum bukan undang-undang yang menentukan, melainkan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh manusianya. Dinamika penegakan hukum di Indonesia memperlihatkan kebenaran pernyataan Taverne. Warna penegakan hukum banyak ditentukan komitmen dan sosok pribadi orang yang menjadi polisi, jaksa, hakim dan advokat.

Dalam catatan penegakan hukum di Indonesia terdapat beberapa kisah ahli hukum yang dianggap tidak lazim dipandang dari hegemoni cara berhukum pada eranya. Salah satunya adalah kisah hakim Bismar Siregar. Sikap, tindakan, dan pemikiran orang-orang seperti Bismar dalam menerobos kebuntuan sistem hukum dalam mewujudkan keadilan memperlihatkan potret penegakan hukum progresif.

Bismar Siregar adalah mantan hakim agung Mahkamah Agung (MA). Dia menjadi Hakim Agung periode 1984-1995. Selama hidup dia dikenal sebagai sosok hakim agung yang progresif.

Alumnus Universitas Indonesia ini mengawali karir dengan menjadi Jaksa di Kejaksaan Negeri  Palembang pada 1957 hingga tahun 1959. Kemudian berlanjut di Kejaksaan Negeri Makasar dan Ambon pada tahun 1959 – 1961. Karir sebagai hakim dimulai pada tahun 1961 pada Pengadilan Negeri Pangkalpinang.

Saat bersekolah di bangku Sekolah Dasar, Bismar Tidak lulus. Namun kegigihan luar biasanya berbuah hasil saat dia akhirnya diterima saat mendaftar ke SMP di Sipirok. Karena kondisi keuangan yang tidak baik, bangku SMA baru dilanjutkan di tanah perantauan Bandung. Seragam putih abu-abu baru ditanggalkannya 10 tahun kemudian.

Nasib baik berpihak pada Bismar. Dengan kemampuan yang dimiliki, dia berhasil memanfaatkan peluang saat mengikuti ujian penerimaan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pintu menjadi hakim pun terbuka.

Namanya juga pernah tercantum sebagai hakim di PN Pontianak selama 6 tahun hingga 1968. Kemudian Bismar menjadi panitera di Mahkamah Agung pada 1969-1971. Kariernya menanjak saat menjadi Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara/Timur pada 1971-1980.

Pria kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 15 September 1928 ini memang telah lama meninggalkan kursi pengadil, namun namanya masih terus akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, sejumlah keputusan keras lahir dari balik pribadi yang lembut. Bagi beberapa orang, keputusan hukum yang dibuat Bismar terlihat kontroversial. Ketegasannya Bismar ditunjukkan bahwa dia tidak mau disuap dan tidak bisa dibeli.

Sosok Bismar menjadi cermin bagi para hakim karena kebeningan hati nuraninya. Nurani inilah yang selalu menjadi andalan Bismar setiap kali mengambil keputusan, sebab baginya hati nurani tidak bisa diajak berbohong.

Tak berlebihan bila dikatakan Bismar Siregar adalah pendekar hukum langka yang berani melawan arus demi tegaknya keadilan. Baginya, undang-undang dan hukum hanyalah sarana untuk mencapai keadilan. Semasa menjadi hakim, Bismar kerap melakukan terobosan hukum. Ia pun tak mau diintervensi siapapun dalam mengambil keputusan, termasuk oleh atasannya.

Bismar sempat mengenyam pendidikan di National College of The State Judiciary, Reno, AS pada 1973, America Academy of Judicial Education, Tescaloosa, AS di tahun yang sama, dan Academy of American and International Law, Dallas, AS, pada 1980.

Bismar menghembsukan nafas terakhirnya pada hari Kamis, 19 April 2012 pada pukul 12.25 WIB di Rumah Sakit Fatmawati. Dia mengalami pendarahan di kepala dengan sebelumnya mendadak pingsan pada 16 April 2012 ketika melukis di rumahnya.

Sebelum akhirnya menjadi hakim agung pada 1984, Bismar sempat menduduki Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat dan Ketua Pengadilan Tinggi Sumatra Utara. Selama menjadi hakim ada beberapa keputusan Bismar yang menggemparkan. Misalnya pada 1976 saat dia menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa Albert Togas. Albert Togas merupakan  karyawan PT Bogasari yang di-PHK. Alber lantas membunuh Nurdin Kotto yang merupakan staf ahli perusahaan itu dengan keji. Mayat Nurdin dipotong-potong padahal Nurdin banyak memberi pertolongan saat Albert masih pengangguran.

Ketika menjadi Ketua Pengadilan Tinggi di Medan, Bismar melipatgandakan hukuman pengedar ganja. Seorang terdakwa yang dituntut jaksa 10 bulan penjara, oleh Bismar dilipatgandakan menjadi 10 tahun. Sedangkan yang 15 bulan dihukum 15 tahun.

Bismar juga pernah menjadi sorotan ketika mengomentari kasus mantan Presiden Soeharto yang bergulir ke meja hijau. Menurut dia, mengadili Soeharto yang sedang sakit sama halnya melakukan penganiayaan sehingga haram hukumnya.

Bismar berpendapat Soeharto yang sudah senja, memasuki usia 80 tahun, telah berada di masa kembali seperti anak-anak yang tanpa dosa. Karena pendapatnya itulah dia dicap sebagai antek-antek Soeharto. Soal ini dia membantahnya, namun hanya segelintir yang percaya. Akhirnya Bismar pun memilih diam. Diam bukan karena membenarkan, tapi karena Bismar tahu kebenaran yang diyakininya hanya dia yang tahu, dengan berkesaksian Tuhan tentu saja.

Salah satu keputusan kontraversial Hakim Agung Siregar adalah saat menambah hukuman seorang guru di Sumatra Utara, yang berbuat cabul dengan muridnya. Kisahnya 28 tahun yang silam. Kisah selengkapnya bisa dibaca pada arsip majalah Tempo. Walaupun penasehat hukumnya sudah menasehatkan agar menerima saja hukuman 7 bulan, namun sang guru tak menghiraukannya dan ngotot naik banding. Nah, ketemu batunya, Hakim Bismar Siregar justru memperbesar hukumannya menjadi 3 tahun penjara. Alasannya tak pantas seorang guru mencabuli muridnya. “Karena itu, ia perlu dihukum, untuk memulihkan citra dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan,” kata Bismar.

Bismar Siregar pernah dianggap suatu waktu, sebagai hakim yang kejam. Dia pernah mengganjar terdakwa pembunuhan dengan hukuman mati. Entah apakah waktu itu hukumannya dieksekusi atau tidak. Jika ditanya, ia mengatakan bahwa itu adalah keadilan yang sesungguhnya. Jangan membayangkan dia seorang yang garang. Pak Bismar bicara lembut dan sangat santun. Dia juga toleran. Sebagai muslim dia fasih mengutip ayat ayat injil untuk memberi sebuah analogi kasus.

Saya teringat Bismar karena semasa menjadi hakim, Bismar kerap melakukan terobosan hukum. Menurutnya hukum dan undang undang hanya sarana mencari keadilan. Demi tegaknya keadilan, bagi dia hakim adalah undang-undang. Hakim adalah wakil Tuhan di muka bumi, sehingga dia berhak memutuskan sesuai dengan hati nurani, walau Undang Undangnya sendiri belum mengatur tentang hukuman itu. Karena prinsipnya ini maka banyak orang yang menganggapnya sebagai hakim aneh yang penuh kontroversi.

Beberapa vonis Bismar sungguh berani dan terasa beda. Dia pernah menambah vonis sampai 10 kali lipat dari tuntutan jaksa terkait perkara perdagangan ganja. Terdakwa yang tadinya dijatuhi hukuman 10 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Medan, akhirnya harus mendekam masing-masing 15 dan 10 tahun di penjara setelah Pengadilan Tinggi Sumatera Utara yang dipimpin Bismar melipatgandakan hukuman mereka.

Ada kasus lain ketika Bismar juga mengubah hukuman bagi seorang guru yang mencabuli muridnya sendiri dari hukuman hanya 7 bulan menjadi 3 tahun. Sementara ketika ada kasus pemerkosaan terhadap keluarga di Bekasi. BIsmar meminta agar terdakwa di hukum mati karena hukum positif yang berlaku hanya mengenakan hukuman penjara 12 tahun. Menurutnya itu tidak seimbang dengan kekejian yang telah dilakukan terdakwa.

Dalam sejarah peradilan di Indonesia, nama Bismar menjadi salah seorang hakim peradilan umum yang sangat sering mengutip ayat-ayat suci ke dalam pertimbangan putusan. Kadang ia mengutip al-Qur’an, kadang Injil, dan kadang menggabungkan kedua-duanya.

Tengoklah ketika Bismar mengadili Saadi bin Abdullah, seorang tokoh PKI, di PN Pontianak. Cukup banyak ayat al-Qur’an yang dikutip sang hakim dalam pertimbangan, yang memotivasi pribadi hakim memberikan keadilan, sekaligus membuat terdakwa insaf bahwa nilai Pancasila lebih tinggi disanding Marxisme-Leninisme yang diyakini terdakwa. Misalnya Annisa 135, Almaidah 8, dan al An’am 6.

“Agar terdakwa lebih menginsafi hukum-hukum yang diperlakukan yang diperlukan kepada terdakwa benar diusahagalikan dari sumber yang jauh lebih dalam dan bersifat lebih murni daripada ajaran Marxisme Leninisme”. Sebelum menjatuhkan putusan pun Bismar masih mengingat kembali hakikat Ketuhanan. “Dengan firman-firman yang telah Engkau titahkan kepada Rasul-rasulMu, telah Engkau amanatkan tugas dan sifat tersebut kepada hamba-hambaMu untuk mengadili serta berusaha memberi keadilan kepada semua ummat makhluk-Mu”. Begitulah antara lain pertimbangan Bismar dalam putusan  PN Pontianak No. 20/1967 Pidana Tolakan tertanggal 18 September 1967 tersebut.

Kutipan ayat-ayat kitab suci dalam pertimbangan bisa lebih banyak saat menyangkut perkara kesusilaan. Di PN Jakarta Utara-Timur, saat mengadili dua orang terdakwa yang memperdagangkan seorang perempuan kepada hidung belang, Bismar mengutip banyak ayat al-Qur’an tentang larangan zina. Padahal kedua terdakwa diduga bukan beragama Islam. Di pengadilan yang sama, Bismar menasehati seorang suami dengan kisah-kisah dalam Injil, karena suami melaporkan isterinya ke polisi dengan tuduhan zina.

MH Silaban, mantan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, punya pengalaman menarik yag sejenis. Jaksa membawa seorang isteri yang dituduh suaminya melakukan penggelapan, yakni mengambil barang lalu menjualnya. Si suami merasa mereka sudah bercerai sehingga isteri tak boleh begitu saja mengambil dan menjual barang mereka. Bismar menjadi hakim yang mengadili perkara pasangan beragama Kristen itu.

Seingat Silaban, terdakwa dibebaskan dari tuduhan penggelapan. Si isteri dianggap masih berhak atas harta tersebut karena berstatus harta keluarga. Suaminya menerima putusan Bismar karena sang hakim menggunakan Alkitab sebagai dasar pertimbangannya. Rupanya, Bismar mengutip Matius 19: 6, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.  Akhir perkara yang membahagiakan itu diceritakan kembali Silaban dalam buku peringatan 80 tahun Bismar Siregar.

Apakah mengutip ayat suci hanya terjadi jika Bismar menjadi hakim tunggal? Tidak juga. Benjamin Mangkoedilaga punya cerita menarik tentang absorpsi kaedah agama ke dalam putusan. Saat itu, Benjamin yang Muslim satu majelis dengan hakim Waluyo Sejati yang beragama Kristen Katholik. Sedangkan Bismar menjadi ketua PN Jakarta Utara saat itu.

Dari segi ilmu Benjamin dan Waluyo banyak merasa ditempa bersama karena sering ditugaskan dalam hal perumusan konsep putusan. Mereka juga banyak dan sering mendapatkan bimbingan dan koreksi yang bermanfaat dari Bismar. Sebagai pihak yang ditugasi dalam hal pembuatan konsep putusan, bahasa yang mereka pergunakan juga tentunya harus mereka sesuaikan. Apalagi, banyak putusan Bismar menggunakan bahasa islami, sesuai dengan keyakinannya yang mendalami terhadap agama.

“Sering kami menggunakan bahasa-bahasa yang Islami, seperti rangkaian kata pertimbangan ‘Menimbang, ya ayyuhalladzina amanu…hai orang-orang yang beriman (Kami berdua membuat konsep putusan itu sambil senyum-senyum!)”, kenang Benjamin seperti dikutip dari buku “Kata Hatiku Tentangmu Bismar Siregar, Refleksi 80 Tahun Perjalanan Hidup Seorang Hamba Allah”.

Mengutip kitab suci, entah agama apapun, dilakukan Bismar karena ia percaya seorang hakim harus mengejawantahkan irah-irah ‘Demi Ketuhanan Yang Maha Esa’. Bismar mengatakan dasar hakim memberi putusan bukan siapa-siapa, tetapi demi Tuhan Yang Maha Esa. Dalam konsep hukum pidana, hasrat memidana lebih ditekankan daripada hasrat memaafkan, sedangkan filsafat yang berdasar keagamaan menganut prinsip memberi maaf dalam hal tertentu lebih dipujikan daripada menuntut balasan.

Kesempatan untuk membuat pertimbangan yang mengutip ayat-ayat suci lebar pada saat Bismar masih menjadi hakim di tingkat pertama dan banding (judex facti). Apalagi saat ia tampil sebagai hakim tunggal. Ketika sudah menjadi hakim agung (judex jurist), kesempatan untuk itu kian tertutup, apalagi dalam posisi sebagai anggota majelis. Tak ada kutipan ayat-ayat suci dalam putusan MA No. 1947/Pdt/1990 (harta warisan) saat Bismar menjadi ketua majelis; demikian pula dalam putusan MA No. 607K/Pid/1985 (pengaduan secara memfitnah)  dan putusan No. 1164 K/Pid/1987 (penganiayaan berat).

Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pdt Andreas Anangguru Yewangoe, berpendapat hakim sah-sah saja mengutip ayat suci dalam putusan asal dia bisa meyakini ayat itu berguna bagi kemanusiaan, bukan bagi agama tertentu saja.

Namun ia mengingatkan Alkitab tidak hanya dijadikan hukum positif, tapi juga jiwa (semangat) si hakim. Sebaliknya, seorang kristen pun boleh saja mengutip ayat Al Quran, tapi yang penting jiwanya berguna bagi seluruh kemanusiaan. Apalagi dalam kekristenan tidak ada ayat yang dijadikan hukum positif.

Dalam sebuah artikelnya, Agama dalam Rangka Pembinaan Kesadaran Hukum (majalah Hukum dan Keadilan edisi Januari-Februari 1980), Bismar Siregar menulis kalimat tanya yang menggugah para penegak hukum. Dapatkah dipertanggungjawabkan kemanusiaan itu berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah saudara-saudara bergerak di bidang penegakan hukum? Bukankah hukum yang ditegakkan itu berdasarkan keadilan? Dan bukankah keadilan itu ‘Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa?

“Kalau demikian sungguh, bahkan wajib hukumnya dari segala sesuatu yang terjelma di forum pengadilan ini, baik jaksa selaku penuntut umum atau pembela yang mendampingi tertuduh, demikian pula tidak lepas dari tangan siapa keadilan itu diamanatkan ialah para hakim, harus dan mutlak mengamalkan apa yang disebut ajaran Tuhan Yang Maha Esa itu”.

Bismar percaya jika semua penegak hukum, khususnya hakim—mendasarkan tugasnya pada Tuhan, maka keadilan akan tercipta, kedamaian akan datang. Atau, seperti kata Maruarar—‘harmoni sosial’ akan tercipta. Dan Bismar menyemai benih-benih kedamaian itu lewat putusannya.

Bismar Siregar, sang Hakim benar-benar hakim dalam arti seluas kata. Dia dengan sungguh-sungguh membina hakim-hakim bawahannya dalam menerima, memeriksa, dan memutus perkara. Binaan yang dilakukannya kadang-kadang menurut sementara orang agak aneh. Sering juga dianggap inovasinya dalam memeriksa dan memutus perkara-perkara sebagai sesuatu yang kontroversial, akan tetapi buat orang yang mengerti tugas seorang hakim hal-hal yang dilakukan Bismar Siregar adalah hal-hal yang semestinya, karena tujuan putusan seorang hakim dalam memutus adalah keadilan, dan keadilan yang hendak dicapai oleh Bismar Siregar adalah keadilan yang benar dan indah, karena didasarkannya dengan keimanan yang teguh kepada Yang Maha Kuasa.

Bismar Siregar sadar betul bahwa berbuat adil adalah lebih dekat pada takwa, seperti yang juga dicantumkan dalam Al-Qur’an dengan ayat-Nya yang berbunyi: “I’diluu, huwa aqrobu littaqwa, yang artinya kira-kira: Berbuat adillah, karena hal itu akan mendekatkan kepada ketak-waan.”

Dan karena itu pula Mahkamah Agung waktu itu tidak pernah menginvasi apa yang dilakukan Bismar Siregar. Sepanjang ingatan saya tidak ada putusan Bismar Siregar yang sampai pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung. Artinya orang-orang yang beperkara tersebut percaya dan yakin akan keadilan putusan perkaranya, makanya tidak ada yang merasa perlu naik banding atau kasasi.

Setelah memasuki usia pensiun (65 tahun), Bismar Siregar tidak “pensiun” dalam menyuarakan pikiran-pikirannya di dalam pelbagai bidang, kuliah-kuliah, khotbah di mimbar masjid-masjid, dan menulis yang menjadi buku-buku yang laris dan disenangi oleh orang-orang yang haus akan pengetahuan dan kebenaran.

Dan dakwah islamiyah dilakukannya pula dengan pulasan kuasnya, karena dia juga dikaruniai Allah SWT dengan seni melukis. Kesimpulan kita ialah, bahwa apa pun yang dilakukan Bismar Siregar, dilakukannya dengan keimanan yang kukuh, bahwa yang dilakukannya adalah ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi Bismar Siregar konsisten dengan pendiriannya itu, atau dengan bahasa agama Islam “Istiqomah”.

Semasa hidupnya Pak Bismar sering mengirimkan tulisan ke media massa. Melacak semua tulisan Pak Bismar sama sulitnya dengan memastikan berapa sebenarnya jumlah artikel dan paper yang pernah Pak Bismar hasilkan semasa hidupnya. Ini juga tak mudah karena tulisan Pak Bismar  tak semuanya terekam di media massa. Kali lain, Pak Bismar membuat tulisan untuk kebutuhan khutbah dan seminar, ada pula untuk kebutuhan mengajar di beberapa kampus. Bahkan beberapa di antaranya adalah ‘testimoni’ Pak Bismar untuk tokoh hukum, atau kata pengantar dalam buku tertentu.

Karena itu, membuat tulisan tentang sosok, gagasan, dan sepak terjang Bismar dalam tulisan panjang berseri tentu bukan pekerjaan mudah. Sebagian besar jurnalis yang meliput bukanlah generasi yang hidup pada masa Pak Bismar menjalankan profesinya sebagai hakim.

Kami beruntung Pak Bismar meninggalkan warisan kekayaan intelektual yang tak terhingga. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa, termasuk majalah ilmiah yang terbit pada dekade 1970 sampai 1980-an. Sebagian tulisan-tulisan Pak Bismar kemudian dibukukan.

Faktanya, Bismar bukan hanya meninggalkan tiga buku tebal-tebal, bukan hanya meninggalkan buku-buku itu kepada isteri, anak dan cucu-cucunya. Bismar telah mewariskan banyak karya yang ditulis semasa hayatnya. Bahkan ada karya tentang Bismar yang ditulis oleh orang lain. Karya yang disebut terakhir termasuk tulisan Antonius Sudirman Hati Nurani Hakim dan Putusannya, Suatu Pendekatan dari Perspektif Ilmu Hukum Perilaku (Behavioral Jurisprudence) Kasus Hakim Bismar Siregar (2007). Termasuk pula dua jilid buku yang diedit Wahyu Afandi, Aneka Putusan Pidana Hakim Bismar Siregar (1984).

Apa yang mendorong mereka membuat buku semacam ini? Pernyataan dalam sampul belakang buku yang diedit Wahyu Afandi ini layak disimak: “Dalam himpunan putusan-putusannya kita melihat hakim Bismar SH sebagai seorang hakim selalu berusaha untuk memenuhi perasaan keadilan masyarakat. Selain itu ia tidak segan-segan mendasarkan putusan-putusannya dengan menggunakan dalil-dalil yang bernafaskan keagamaan. Juga kalau perlu ia berani mengenyampingkan hukum positif. Oleh karena itu tidak heran daripadanya terkadang lahir putusan-putusan kontroversial, yang tidak jarang diterima dengan mengernyitkan dahi oleh sementara orang. Meskipun demikian menyimak putusan-putusannya akan mengandung arti tersendiri bagi siapa saja yang menaruh minat akan dunia peradilan kita”.

Menelusuri karya Bismar secara lengkap bukan pekerjaan mudah. Sebab, rentang waktu penulisannya puluhan tahun, dan tersebar di banyak media, disampaikan dalam berbagai forum. Apalagi kalau dimaksukkan tulisan-tulisannya berupa kata pengantar di banyak buku. Tulisannya ada di media cetak umum seperti Sinar Harapan, Angkatan Bersenjata, Suara Pembaruan, majalah Forum Keadilan dan Panji Masyarakat, ada pula yang di majalah ilmiah seperti Hukum dan Pembangunan dan majalah internal seperti Varia Peradilan dan Pengayoman.

Menelusuri karya-karya tulis Bismar tak hanya layak dilakukan ke Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) tempat dimana ia pernah terlibat dalam pembaruan hukum nasional. Juga tak hanya di Mahkamah Agung tempat Bismar lama mengabdi. Sebaran karya-karyanya bisa ditemukan di kampus-kampus tempat ia mengajar. Berkat bantuan Endra Wijaya, seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasila, hukumonline mendapatkan banyak makalah Bismar. Selain Universitas Pancasila, karyanya juga bisa ditemukan di perpustakaan Universitas Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Universitas Al Azhar Indonesia.

Untungnya, sebagian besar karya tulis Bismar sudah dibukukan. Malah acapkali dibukukan dua kali. Misalnya, makalah ‘Bolehkah Hakim Bermohon Ampun atas Diri Terhukum yang Ia Jatuhi Hukumannya’, yang sudah pernah dipublikasikan dalam majalah Hukum dan Keadilan, juga bisa ditemukan di buku Berbagai Segi Hukum dan Perkembangannya dalam Masyarakat (1983), dan dalam buku Hukum dalam Sorotan Perspektif Islam.

Penerbitan karya Bismar acapkali dilakukan untuk momentum tertentu. Tiga buku yang disebut di awal diterbitkan sesuai wasiat. Ada pula karena momentum lain, seperti Bunga Rampai Karangan Tersebar (1989) yang diterbitkan untuk menyongsong lahirnya cucu pertama Bismar, Januar Adil Martua Lubis. Ada buku yang terbit setelah disunting orang lain, seperti Hukum dalam Sorotan Perspektif Islam (2003) yang disunting Agus Surono (kini Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Al Azhar Indonesia), dan Rasa Keadilan yang disunting HM Anshari Thayib.

Keinginan pihak lain atau sejumlah penerbit untuk membukukan karya-karya Bismar tak lepas dari keingintahuan pembaca terhadap pandangan dan buah pikiran pria yang dikenal sebagai hakim kontroversial itu. Kalau ada hakim yang tulisan dan pandangannya dinanti kala itu, Bismar salah satunya.

Bismar memang rajin menulis dan melukis. Ia memegang prinsip seperti yang disebut hadits Nabi Muhammad: “Tinta seorang ilmuan lebih suci daripada darah seorang sahid”. Karena itu, setiap ada waktu luang ia akan menulis, bahkan di sela-sela kesunyian tengah malam, ketika ia terbangun, dan setelah shalat tahajud.

Salah satu kelemahan mendokumentasikan dan mengkompilasi tulisan-tulisan Bismar yang tersebar ke dalam buku adalah penyebutan sumber. Sumber tulisan, baik dari acara apa atau kapan ditulis, tak terekam secara lengkap dalam buku-buku kompilasi.

Buku Rasa Keadilan, sekadar contoh,  memuat 91 tulisan. Dalam beberapa tulisan tentang tokoh, editor tak membuat catatan tambahan berupa catatan kaki siapa tokoh yang sedang diceritakan Bismar. Alangkah baiknya, editor menjelaskan Hasrul Harahap menjadi Menteri Kehutanan pada periode kapan, atau menyebutkan kapan Pitoyo menjadi hakim agung, dan kapan Teuku Muhammad Radhie menjabat Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional.

Meskipun demikian, upaya mendokumentasikan karya-karya Bismar patut mendapat apresiasi, baik yang dilakukan Pak Bismar sendiri semasa hidup dan oleh anak-anaknya maupun oleh orang lain. Buku-buku tersebut cukup memperlihatkan kepada masyarakat bahwa Bismar adalah seorang penulis produktif, sekaligus seseorang yang rajin mendokumentasikan apa yang dialami, dirasakan, dilakukan, dan disampaikan.

Bismar bukan saja seorang penulis, tetapi juga orang yang berkeinginan agar pengetahuannya dapat dibagi ke orang lain. “Saya merasa tidak memiliki pretensi apa-apa kecuali dalam rangka saling mengingatkan,” tulis Bismar dalam pengantar Catatan Bijak Membela Kebenaran Menegakkan Keadilan (1999).

Tujuan penerbitan buku-bukunya bukanlah profit-oriented. Irwan H. Siregar, anak Bismar yang juga berperan mendokumentasikan karya-karya Bismar, menyebut prinsip penerbitan buku karya Bismar. ‘Sepengetahuan kami, mencari keuntungan bukanlah prinsip hidup Amang. Kami paham betul, berapa banyak buku yang telah diterbitkan, dibagi-bagikan secara cuma-cuma oleh Amang. Prinsip Amang adalah semakin banyak bukunya dibaca orang, semakin banyak pula pahala yang diperoleh’. Amang adalah panggilan anak-anaknya kepada Bismar Siregar yang berarti ayah.

Kehadiran buku-buku Bismar sangat berguna bagi generasi sesudahnya. Seperti yang dia tulis dalam wasiatnya: buku merupakan harta warisan yang tak ternilai bagi kita semua.