Becker, Sang Negosiator

Benton L. Becker, pengacara yang menjadi penghubung antara bekas Presiden Richard Nixon (menjabat 1969-1974) dengan Presiden Gerald Ford. Ia menjembatani komunikasi permohonan untuk memperoleh pengampunan Ford selaku kepala negara terhadap Nixon. Seperti diketahui, Nixon mengundurkan diri pada 7 Agustus 1974 sesudah terkuaknya skandal Watergate dan Ford, selaku Wakil Presiden, diangkat menjadi Presiden.

Benton L. Becker

Becker sendiri sesungguhnya tidak pernah berharap bahwa dirinya akan terjerat tindakan melayani Nixon untuk kasus yang telah mencoreng muka kepresidenan AS tersebut. Saat itu ia baru berusia 36 tahun dan telah menjalani praktik hukum selama 10 tahun.

Ia sempat menjadi penuntut umum federal, yang kemudian diajak Ford bergabung sebagai staf Komite Kehakiman DPR, manakala Ford menjadi anggota badan perwakilan itu, mewakili negara bagian Michigan. Ketika Ford ditunjuk Nixon menjadi Wakil Presiden pada tahun 1973, Becker secara sukarela mengikuti bosnya untuk menjadi penasehat hukum mendampingi Philip W. Buchen, penasehat Gedung Putih.

Becker (kanan) berbincang dengan Presiden Ford (kiri) di Gedung Putih pada 1974.

Usai menjadi Presiden, Ford memberikan instruksi kepada Becker dan Buchen untuk mengkaji celah konstitusional sebagai bahan pertimbangan memberikan pengampunan kepada Nixon. Becker menyatakan bahwa Presiden memiliki kewenangan prerogatif itu, walaupun tidak akan membebaskan Nixon dari tuduhan kejahatan.

Ford sendiri, tanpa harus mempertimbangkan benar atau salah, meyakini bahwa pengampunan kepada Nixon merupakan tindakan yang harus diambil untuk mencegah disintegrasi politik negara. Becker menjadi utusan khusus dan memperoleh kuasa darinya untuk menyelidiki hal tersebut.

Pada 7 September 1974, Becker menyambangi Nixon di kediamannya di California. Ia menyodorkan rancangan keputusan Ford mengenai pengampunan tersebut. Sebagai penyeimbang, Becker telah berbicara kepada penulis dan wartawan investigasi Sayemond M. Hersh, untuk memberi masukan posisi Nixon dalam skandal Watergate. Ford menuntut Nixon untuk mengakui keterlibatannya.

Awalnya, kepada Alexander M. Haig, bekas Kepala Staf Gedung Putih yang mendampinginya, Nixon menolak rancangan tersebut. Becker terutama bernegosiasi dengan Herbert J. Miller (pengacara Nixon) dan juga Ronald L. Ziegler, bekas sekretaris pers Nixon.  Kalimat pertama penerimaan Nixon dalam tawaran Ford yang ditulis oleh Ziegler adalah “Memperhatikan hukum yang berlaku, saya menerima pengampunan ini.”

Awalnya Becker keberatan dengan pernyataan itu. Skandal Watergate telah mencuat menjadi isu politik nasional buruk dan membawa perdebatan panjang. Ia meminta pernyataan Nixon yang lebih realistis. Akhirnya, sesudah debat panjang, disetujui pernyataan Nixon bahwa dalam kasus itu “ia gagal bertindak lebih tegas dan lebih jujur.

Pihak Nixon masih mengeluhkan sitaan kaset dan rekaman sepanjang kariernya di Gedung Putih. Nixon ingin itu dikembalikan kepadanya, tetapi Becker bersikukuh, karena sudah melalui putusan Mahkamah Agung, itu menjadi milik pemerintah.

Secara pribadi, menjelang peralihan kekuasaan, Becker melihat staf Nixon berusaha untuk menghilangkan ribuan dokumen. Becker kemudian tegas menghadang truk-truk yang akan mengangkut arsip pemerintahan Nixon. Untuk sementara, dalam kesepakatan saat itu, seluruh arsip diamankan dan disimpan dalam Badan Arsip Nasional.

Pada 8 September 1974, Ford mengeluarkan keputusan yang memberikan ampunan atas segala tindakan yang dilakukan Nixon selama menjadi Presiden. Keputusan itu memicu perdebatan luas. Sekretaris Pers, Jerald F. Horst, kemudian mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Ford berbincang dengan pemimpin gereja di St. John. Usai beribadah di sini, Ford kemudian menandatangani pengampuan kepada Nixon.

Presiden Ford memeriksa berkas pengampunan Nixon sebelum diumumkan secara resmi

Presiden Ford membacakan pengantar pidato pemberian ampunan kepada bekas Presiden Nixon

Dengan tindakan itu, Ford membuat blunder politik yang akan menghantui kepresidenannya dan menenggelamkan kampanyenya dua tahun kemudian. Pemberian ampunan yang cepat, hanya selang satu bulan usai pelantikannya sebagai Presiden, telah menimbulkan spekulasi bahwa  ia dan Nixon melalui Alexander Haig M., Jr, jenderal Angkatan Darat yang menjabat sebagai kepala staf untuk keduanya, telah membuat kesepakatan dengan Presiden.

Banyak staf yang telah bekerja sama dengan Haig dan Ford masih menganggap bahwa ada kesepakatan yang belum terungkapBisa jadi   mungkin kesepakatan itu tidak akan pernah diketahui, karena orang-orang yang terlibat belum memberikan laporan lengkap. Tetapi mungkin itu adalah spekulasi yang tdak terlalu penting. Hal yang jauh lebih penting untuk diketahui adalah apakah pertimbangan Nixon memilih Ford sebagai Wakil Presiden? Apakah memang ia sejak awal menghendaki bahwa sosok ini dapat diandalkan?

Kejadian itu memaksa Becker segera menjadi sorotan negatif publik. Majalah Time menyebutnya sebagai “pilihan yang tidak tepat” ketika bolak-balik California dan Washington menegosiasikan pengampunan. Apalagi saat itu, ia dicurigai sedang diselidiki oleh Departemen Kehakiman karena urusan penghindaran pajak.

Salah satu kliennya dalam kasus penipuan saham menuduh bahwa Becker telah memintanya untuk memberikan kesaksian palsu di pengadilan, yang dibantah oleh Becker. Pada akhirnya, Becker tidak pernah diseret ke pengadilan atas tuduhan apapun. Becker kemudian menuliskan proses pertemuan antara dirinya dengan para staf Nixon secara detail dalam sebuah nota tertulis.

Becker lahir di Washington, 22 Februari 1938. Ayahnya seorang agen asuransi. Ia memperoleh gelar sarjana hukum dari American University pada tahun 1966. Ketika menjadi penuntut umum, ia menggelar dakwaan terhadap persangkaan korupsi yang dilakukan oleh seorang anggota DPR dari Partai Republik, Adam Clayton Powell. Ia juga terlibat dalam penuntutan terhadap kasus pembakaran bendera yang dilakukan oleh provokator radikal Abbie Hoffman.

Pada tahun 1969, ia mengundurkan diri kantor penuntut umum dan menjalankan kegiatan praktik hukum. Sesudah Ford tidak lagi terpilih sebagai Presiden (1977) dan diigantikan oleh Jimmy Carter, Becker kemudian pindah ke Florida untuk menjadi pengajar di Universitas Miami. Kemudian ia pernah bekerja kembali sebagai penuntut umum di Kejaksaan Agung negara bagian Florida. Di sini Janet Reno, kelak menjadi perempuan pertama yang menjadi Jaksa Agung Federal pada masa kepresidenan Clinton (1993-2001), mengepalai kantor ini. Becker lalu menekuni kembali praktik hukum privat pada 1983-2012.

Becker mengenang pertemuan pertama kali dengan Nixon di kediamannya pada tahun 1974. Becker menggambarkan Nixon, saat itu 61 tahun,  telah menjadi ringkih dan rapuh, nampak gugup menemui dirinya. Andaikata ia tidak pernah mengetahui Nixon sebelumnya, maka ia akan menyangka bekas Presiden itu telah memasuki usia 85 tahun.

Becker dalam usia 77 tahun

Becker telah meninggal dunia pada 2 Agustus 2005 lalu dalam usia 77 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s