Barang Kahanan ala Basiyo

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Sanggit Citra Production membuat film dokumenter-drama tentang komedian legendaris Basiyo. Film berjudul Basiyo mBarang Kahanan diluncurkan di Taman Budaya Yogyakarta pada 2 September 2015 yang lalu. Basiyo, tokoh dagelan Mataram, lahir di Yogyakarta, pada 1916. Ia meninggal pada 31 Agustus 1979 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Terban, Yogyakarta.
Anak-anak muda sekarang mungkin sudah tak lagi tahu siapa pelawak Basiyo yang tenar di periode 1970-an lewat dagelan Mataram lewat rekaman suara di radio-radio dan panggung-panggung kampung seantero Pulau Jawa. Padahal, dialah salah satu maestro lawak yang menjadi cikal bakal kelompok lawak nasional seperti Srimulat dan Bagyo Cs yang tenar di layar kaca.
Wajahnya memang sangat asing bagi hampir sebagian besar masyarakat Yogyakarta dan Indonesia, karena pada masa itu barulah tenar era suara dan belum menginjak arah visual. Hanya kover-kover kaset tua yang ditawarkan di tukang-tukang loak yang mungkin masih menampilkan wajah Basiyo.
Sepanjang kariernya sebagai komedian, Basiyo melahirkan lebih dari seratus judul karya dalam bentuk pita kaset dan data digital yang hingga kini masih dikenal sebagian masyarakat. Di antaranya yang cukup populer adalah mBecak dan Maling Kontrang-kantring. Perjalanan Basiyo dari panggung ke panggung dengan bayaran yang tak pernah dipatoknya, lalu memulai rekaman di RRI sebagai pengisi latar suara dan baru benar-benar merasakan rekaman di acara Pangkur Jenggleng hingga meraih ketenaran pun coba divisualkan oleh tim produksi film. Belakangan, pola dagelan Basiyo banyak mempengaruhi gaya lawakan para pelawak generasi berikutnya. Semisal kelompok Srimulat dan S. Bagyo.
Basiyo telah melampau dirinya. Ia bukan hanya pelawak legendaris Dagelan Mataram, tapi juga seorang maestro. Yakni, sosok yang telah mengalami pencapaian mumpuni, baik secara teknis, estetis maupun eksistensial.
Kreativitas humor-humor Basiyo –yang berbasis pada kultur Jawa Mataraman– adalah kreativitas yang lahir dari kepekaan sosial, kemampuan melakukan observasi (pengamatan lingkungan), cara pandang subversif (tidak umum) atas realitas sosial, kecerdasan kreatif mengolah materi dan kemampuan teknis dalam mengkomunikasi ide-ide kepada masyarakat.
Selain itu, Basiyo berhasil di dalam menghadirkan karakter, identitas dirinya di dalam humor-humornya, sehingga selalu tampil khas dan membentuk gaya yang oleh publik dikenal “mbasiyo” (sebuah cara pandang subversif atas kenyataan). Karena itu, humor Basiyo adalah humor yang memiliki kepribadian.
Humor-humor Basiyo bukan banyolan artifisial atau semu/dangkal, vukgar, tapi hasil olah-tafsir atas realitas. Budayawan Umar Kayam mengatakan, Basiyo adalah seorang pengamat kehidupan dan lingkungan yang baik/mumpuni.”. Pendapat ini menegaskan, Basiyo sangat cerdas dan mampu merepresentasikan hasil pengamatan sosio-kulturalnya dengan sangat kreatif, lucu, segar, memiliki pesan sosial terkait dengan kearifan lokal dan inspiratif.
Hingga kini, Dagelan Mataram Basiyo dkk tetap didengar, disimak, dinikmati, dihayati dan diapresiasi publik. Basiyo menjadi inspirasi yang tidak pernah basi, karena kedalaman konten humor dan kecerdasan serta cara pandangnya yang subversif di dalam menafsir realitas.
Atas seluruh pencapaian secara estetik dan kultural, Basiyo berhasil mengangkat martabat seni lawak, khususnya Dagelan Mataram pada posisinya yang tinggi, setara dengan kesenian tradisional lainnya seperti wayang kulit, ketoprak dll. Dagelan Mataram tak lagi dipandang “rendah”.
Selain itu, Dagelan Mataram ala Basiyo mampu hadir menjadi inspirasi perkembangan seni lawak di Indonesia. Sebut saja misalnya pertumbuhan dan perkembangan estetika rombongan lawak Srimulat, pimpinan Teguh Srimulat yang moncer pada tahun pertengahan 1970-an hingga akhir 1990-an. Dramaturgi, sistem pengadegan, karakterisasi tokoh dan pola ucap Srimulat tidak berbeda jauh dengan Dagelan Mataram. Basiyo pun memberi pengaruh signifikan pada para pelawak yang muncul setelah era dirinya, hingga kini.
Tokoh legendaris di dunia Dagelan Mataram ini telah berkontribusi sangat besar pada kehidupan dengan dunia kejenakaannya. Ia banyak mengisi kebuntuan, kepenatan, dan kesesakan kehidupan di masanya dengan kejenakaannya yang orisinal, sangat cerdas, dengan pikiran-pikiran yang nakal, dan subversif serta tidak berada pada dataran mainstream. Dari sana banyak orang dapat belajar dan memetik hikmah yang besar. Apa yang disampaikannya menjadi kaca benggala untuk bertata kehidupan yang jauh lebih baik.
Dalam sudut pandang kemanusiaan, Basiyo bergerak dalam dua dunia yakni dunia kampung dan dunia kerja. Dunia kampung menghadirkan Basiyo sebagai orang biasa yang menjalani pesrawungan umum dengan sederhana dan wajar, meskipun kadang punya ide nyeleneh (nakal, keluar dari logika main-stream) seperti “menyuruh orang membongkar kandang ayamnya untuk disusun kembali,” atau “menyuruh membuka genting yang bocor saat hujan tiba agar ia bisa membersihkan lantai rumahnya.”
Adapun dinia kerja dihayati Basiyo sebagi pilihan atau panggilan jiwa yang wajib dilakoni sebagai dharma. Bagi Basiyo, dunia profesi –ketoprak dan dagelan—bukan dunia yang mudah, tapi dunia yang kompleks dengan pelbagai persoalan yang harus dihadapi dengan ketangguhan jiwa. Namun, Basiyo tidak dihadirkan sebagai super hero, tapi manusia biasa yang bisa saja sakit dan “ragu pada pilihannya, dunia ketoprak”. Ini tampak misalnya pada adegan di mana ia menasehati anaknya, Harto yang “tidak usah jadi pemain ketoprak agar tidak menderita”.
Sutradara Triyanto Hapsoro mengatakan film ini didasarkan pada cerita nyata kehidupan Basiyo. Lewat film berdurasi 38 menit itu, ditampilkan sisi lain kehidupan Basiyo. Bagaimana sakit jantungnya yang tak pernah diceritakan pada keluarganya sekalipun, atau betapa seriusnya sosok Basiyo di mata keluarga, hal-hal itulah yang ingin disampaikan dalam film ini.
Pengambilan gambar untuk film ini dilaksanakan selama 5 hari dengan 35 kru dan seluruh pemain mendekati 100 orang. Film yang dihasilkan berdurasi kurang lebih 30 menit. Pemrosesan film berlangsung sejak bulan Maret 2015. Proses pemilihan dan workshop pemain berlangsung selama 3 minggu. Narasumber untuk film ini adalah Harto Basiyo, Andjarwani, dan Widayat dan diperluas dengan riset pustaka.

Naskah dikerjakan oleh Joko Usandono dan Triyanto Genthong Hapsoro.
Pemilihan casting menjadi sesuatu yang tidak mudah mengingat gesture, karakter fisik Basiyo dan beberapa tokoh lainnya adalah unik. Unsur vokal menjadi demikian penting mengingat bahwa masyarakat lebih mengenal Basiyo dan kawan-kawannya melalui radio. Sugeng Surono menjadi pilihan tepat untuk memerankan Basiyo. Sementara Ibu Pudjiyem (isteri Basiyo) diperankan oleh Titik Renggani.

Kebanyakan aktor film ini berlatar belakang seni tradisi sehingga mereka telah paham benar dengan karakter film ini. Lokasi syuting film antara lain seputaran kampus Widya Mataram, Studio Audio Visual Puskat dan sekitarnya. Artistik yang ditangani Beni Arjuna cukup mengena dan memvisualisasi setting cerita film.
Film ini memang seolah menjadi ‘Behind The Scene’ dari perjalanan hidup Basiyo. Film ‘Basiyo Mbarang Kahanan’ mengambil konsep dokumenter-fiksi. Beberapa adegan diselingi dengan potongan wawancara keluarga dan kerabat Basiyo. Bagian wawancara ini menjadi benang merah kisah Basiyo selama hidupnya.
Pelawak legendaris, Basiyo seorang yang sederhana dan mempunyai dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Dia tidak pernah mematok harga untuk setiap penampilannya. Totalitas pekerjaannya menuntutnya kerja seharian hingga tidak ada waktu istirahat. Basiyo mengidap penyakit jantung yang tidak disadarinya. Di tengah sakitnya pun Basiyo tetap manggung ketoprak, hingga dia roboh dan berujung pada kematiannya
Film dimulai dari Penggalan monolog Basiyo –yang dicuplik dari rekaman Basiyo yang sudah ada sebelumnya—dijadikan sebagai titik pijak berkisah. Pilihan ini diperkuat dengan tayangan pernyataan Harto Basiyo –putra almarhum Basiyo—seputar monolog tersebut, sebagai salah satu kekuatan Basiyo dalam menggagas kahanan hidup yang dikontekstualisasikan dengan lakon.
Alur kisah pun bergerak. Basiyo tampil atau ditampilkan sebagai sosok seniman tradisional dalam kehidupan kesehariannya: berinteraksi dengan keluarga (anak dan isteri), tetangga (tukang tambal ban), tukang andong, para pemain ketoprak, para pemain dagelan dll. Di sini muncul kesaksian nara sumber Harto Basiyo (seputar suka duka menjalani profesi pemain ketoprak), Widayat (keterlibatan Basiyo sebagai penata efek suara di ketoprak RRI, dan rintisan Panggur Jenggleng dan Dagelan Mataram yang mengantarkan popularitas Basiyo) dan Anjarani (seputar proses kreatif dan relasi sosial Basiyo dengan Darsono).

Selanjutnya adalah guliran pelbagai adegan: rekaman dan pementasan ketoprak dan dagelan Mataram yang melibatkan Basiyo, hingga momentum Basiyo sakit dan meninggalkan dalam pangkuan Bu Pudji, isterinya yang setia menjaga, merawat dan mengatur manajemen kesenian Basiyo.
Sementara itu Kepala Seksi Perfilman Dinas Kebudayaan DIY, Sri Eka Kusumaningayu mengatakan bahwa pihaknya menilai sosok Basiyo sangatlah layak untuk diangkat menjadi sebuah film. Perannya di dunia dagelan Mataram hingga memprakarsai grup lawak lainnya muncul membuat Basiyo menjadi sebuah penggalan sejarah dari perjalanan lawak di Indonesia khususnya di Pulau Jawa.
Selain melalui riset dan penggalian dokumen, kisahnya dibangun dari cerita tiga narasumber yang bergaul dengan Basiyo, yakni Suharto Basiyo (pernah menjadi pemain ketoprak RRI Yogyakarta), putra Basiyo, serta dua seniman ketoprak: Widayat (mantan pimpinan Ketoprak Mataram RRI Yogyakarta) dan (almarhum) Andjarwani.
Dalam film ini, tokoh Basiyo dimainkan Sugeng Surono. Sugeng merupakan pria asal Yogyakarta dan sudah sering terlibat dalam dunia seni panggung, termasuk dagelan dan Ketoprak. Dalam keterangannya kepada wartawan, Sugeng menyatakan suka dukanya bermain dalam film yang sepenuhnya disuport oleh dana keistimewaan tersebut.Di sini letak tantangan film ini. Sugeng harus memainkan karakter Basiyo secara visual dan audio. Sedangkan tokoh yang ia mainkan selama ini dikenal hanya lewat citra audio (rekaman suara). Sugeng juga harus memerankan adegan yang dianggap menjadi ikon dagelan lucu yang diingat orang hingga saat ini. Dialog saling sahut antara Basiyo dengan rekan mainnya Darsono juga sengaja dibuat dengan intonasi dan nada yang sama untuk mengingatkan orang tentang lawakan di era tersebut.
Pada galibnya film semacam ini jelas memperkaya khasanah budaya bangsa. Dinas Kebudayaan DIY perlu lebih banyak membuat film-film semacam itu yang bersifat dokumentatif untuk tokoh-tokoh kebudayaan yang berkontribusi besar bagi kekayaan budaya di Yogyakarta.