Argo

“Argo” adalah judul sebuah film yang tak pernah diproduksi. Ini adalah sebuah film fiktif dengan sutradara dan skenario fiktif dari rumah produksi yang tak pernah ada. Itulah penyamaran yang digunakan Tony Mendez, seorang staff CIA untuk menyelamatkan enam diplomat Amerika keluar dari Iran saat pecahnya revolusi tahun 1979.
Film ketiga Ben Affleck ini dibuka dengan sebuah narasi ringkas yang mengiringi serangkaian halaman novel grafik membuka sejarah 2500 silam ketika Iran masih berbentuk kekaisaran Persia yang diperintah oleh Shah. Halaman langsung saja mencapai Iran modern ketika tahun 1950 rakyat memilih Mohammad Mosaddegh sebagai Perdana Menteri yang kemudian membuat negara Barat cemberut. Nasionalisasi terhadap perusahaan minyak AS dan Inggris kemudian mendorong AS dan Inggris mendorong kudeta yang menggulingkan Mosaddegh pada tahun 1953 dan memasang Reza Pahlevi sebagai shah baru yang despot, korup dan menjalani kehidupan yang luarbiasa mewah dan boros.
Film ini dimulai saat rakyat Iran mendepak rezim Reza Pahlevi dan dimulainya pemerintahan Ayatollah Khomeini. Saat kamera merekam suasana di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran yang tengah dikepung demonstran yang ingin orang Amerika segera enyah dari Iran. Kedutaan Amerika dianggap sebagai pusat intelijen yang punya niat mengkudeta pimpinan Iran saat itu, mengingat bagaimana kudeta tahun 1953 secara terbuka dipimpin oleh Amerika Serikat.
Hari itu tanggal 4 November 1979. Sutradara Ben Affleck dan penulis skenario mencoba memulai film ini seperti sebuah dokumenter dengan kamera hand-held dan segera saja menyapu suasana tegang di dalam kedutaan yang tegang sementara di luar yang semakin lama semakin merangsek menuju gedung. Hanya dalam beberapa menit, kita melihat bagaimana akhirnya demonstran berhasil masuk ,merangsek pintu gedung yang dijaga ketat dan menyebar begitu saja luncur begitu saja. Para diplomat dan staff gerabak gerubuk melempar semua dokumen ke dalam mesin pengiris. Sebagian diplomat berhasil menyelip keluar dari pintu belakang, sedangkan sekitar 50-an orang Amerika (semula ada 66 orang, kemudian ada 13 orang yang dilepas) dijadikan sandera di kedutaan AS yang sudah diduduki oleh Iran.
Ini adalah peristiwa besar yang menegangkan selama 444 hari di mana dunia menatap ke Iran dengan seksama sekaligus cemas. Tetapi sutradara Ben Affleck lebih menyorot nasib enam diplomat AS yang berhasil kabur dan berlindung di rumah duta besar Kanada untuk Iran Ken Taylor. Berdasarkan tulisan The Master of Disguise oleh Antonio J.Mendez—seorang staff CIA– dan The Great Escape oleh Joshua Bearman, Affleck mengangkat kisah nyata ini menjadi sebuah drama thriller yang paling menegangkan tahun ini.
Pusat cerita adalah: bagaimana caranya mengeluarkan keenam diplomat Amerika itu dengan selamat, tanpa lecet sedikitpun, sementara ke 50 sandera yang terlanjur ditahan akan diurus dengan cara negosiasi resmi oleh Presiden Jimmy Carter. Berbagai usulan untuk menyelamatkan ke enam diplomat itu didiskusikan dalam serangkaian rapat di kantor CIA. Ada yang mengusulkan agar para diplomat mengendarai sepeda melalui perbukitan (di musim dingin bersalju). Semua usulan ditangkis Mendez yang tentu saja sudah mempelajari betapa berbahayanya membuat rencana-rencana penyelamatan enam nyawa tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya.
Rencana lain? Terdengar gila. Tetapi itulah usul yang dianggap paling mungkin dijalankan. Melihat film Planet of Apes di televisi, Mendez langsung saja melontarkan usul yang terdengar konyol saat itu: mereka akan berpretensi membuat sebuah film sci-fi, dan keenam diplomat itu akan menyamar menjadi kru yang sedang melakukan riset lokasi di Teheran. Aneh, sinting, tetapi ternyata manjur.
Mendez merekrut John Chambers (John Goodman) seorang ahli tata rias yang sudah mendapatkan piala Oscar; seseorang yang jagoan menyulap seseorang menjadi monster atau superhero. Chambers segera saja menyambut ide gila ini dan mengusulkan untuk merekrut Lester Siegel (Alan Arkin) ,produser Hollywood yang sebetulnya geli dengan rencana ini tetapi toh akhirnya membantu habis-habisan untuk ‘membangun’ perusahaan film fiktif yang akan memproduksi film fiktif dengan sutradara dan skenario fiktif. “Kita bisa kan mengajar seseorang menjadi sutradara dalam sehari?” tanya Mendez dengan cemas karena dia dikejar tenggat untuk mengajukan proposal gila itu ke pimpinan tertinggi.
“Kau bahkan bisa mengajar seekor monyet untuk menjadi sutradara dalam sehari,” kata Chambers tanpa ekspresi. Ini memang babak yang lucu. Bagian rekrut mrekrut dan pilih-memilih skenario ini sungguh bagian komikal yang meredakan ketegangan. John Goodman dan Alan Arkin betul-betul mewakili elemen Hollywood yang paham kehidupan Los Angeles yang serba palsu, serba norak tetapi asal terlihat mahal dan keren. “Kalau aku memproduksi film fiktif maka harus sekalian harus film fiktik yang meledak,” kata Siegel ketika dia terlihat rewel betul memilih skenario. Akhirnya mereka sepakat memilih skenario Argo, sebuah kisah sci-fi yang ceritanya luarbiasa kacau balau dan mereka ‘butuh’ memburu lokasi hingga nun jauh ke Iran. Rumah produksi yang mereka ‘dirikan’ juga tak main-main, diberi nama : Studio Six.
Meski ini menyangkut sebuah peristiwa politik nyata, harap diingat: ini film Hollywood. Ada dramatisasi, ada pengerutan peran. Misalnya: peran pemerintah Kanada dalam peristiwa nyata sebetulnya sangat besar. Secara historis, yang banyak berperan membantu –dan layak dianggap pahlawan—sesungguhnya Duta Besar Kanada Ken Taylor. Peran CIA agak marjinal. Meski mereka mengatakan bahwa informasi ini baru bisa dibuka pada tahun 1997 sehingga penghargaan terhadap Tony Mendez harus dirahasiakan, tetap saja peran Departemen Luar Negeri Kanada dan Duta Besarnya sangat besar dan penting. Ken Taylor mengambil risiko yang sangat besar dengan menyembunyikan keenam diplomat AS itu, dan sesungguhnya yang sibuk mencarikan tiket untuk mereka adalah nyonya dubes Kanada, bukan CIA seperti yang digambarkan dalam film.
Tapi sudahlah. Bahwa Ben Affleck memilih untuk menekankan peran CIA dan tokoh Tony Mendez serta tim produksi film fiktifnya sebagai tokoh inti yang heorik, tentu itu sudah menjadi pilihannya karena ia ingin mengangkat orang-orang di negaranya yang dia anggap berjasa membantu keenam diplomat itu keluar Iran dengan mulus.
Tentu saja bagian yang mencapai puncak ketegangan adalah pada saat mereka beramai-ramai melalui imigrasi dan paspor mereka diperiksa satu-persatu. Setiap diplomat mempunyai samarannya: penulis skenario, ahli tata rias, asisten produser, sutradara dan seterusnya. Semua paspor sudah dibereskan. Tiket,meski tersandung-sandung, juga beres. Yang mengerikan hanya melalui gerbang demi gerbang karena kecurgaan dan syak wasangka tersebar merata ke seluruh penjuru.
Pada satu titik, tentu saja mereka harus ditahan penjaga yang curiga dengan sesuatu yang terasa ‘aneh’ dari rombongan Tony Mendez itu. Ben Affleck ,sebagai anak yang lahir dari rahim Hollywood sudah tahu, ketegangan dan dramatisasi harus diciptakan. Dia mengaku di dalam wawancara ada beberapa “liberty”, kemerdekaan pencipta (sutradara dan penulis skenario) yang dia gunakan pada saat-saat terakhir di bandara dimana terjadi kejar-kejaran antara mobil dan pesawat yang sudah mau terbang. Sudah pasti, tanpa mendengarkan penjelasan Ben Affleck, kita tahu adegan itu adalah citrarasa Hollywood yang tak bisa dibuang Affleck dari darahnya.
Terlepas dari ‘kemerdekaan mencipta’ itu, film yang sudah diganjar sebagai Film Drama Terbaik dan Sutradara Terbaik Golden Globe 2013 ini adalah sebuah film yang meletakkan Ben Affleck (sesudah Gone Baby Gone dan The Town) ke deretan sutradara papan atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s