Albright, Perempuan Pertama Menteri Luar Negeri

Madeleine Albright telah mendarmabaktikan dirinya untuk terwujudnya impian Amerika, dari seorang putri diplomat Czechoslovakia hingga menjadi perempuan pertama yang memperoleh jabatan Menteri Luar Negeri AS. Sebuah pencapaian yang langka bagi seorang perempuan dalam sistem politik demokratis paling terbuka di negara tersebut.

Dari kiri ke kanan: Henry Kassinger (Menteri Luar Negeri, 1973-1977), James Baker (Menteri Luar Negeri, 1988-1992), Albright, Collin Powel (Menteri Luar Negeri, 2001-2005), Hillary Clinton (Menteri luar Negeri, 2009-2013), dan John Kery (Menteri Luar Negeri, 2013-sekarang).

Albright dilahirkan di Praha pada tahun 1937 yang kemudian menjadi bagian dari Czechoslovakia. Orang tuanya keturunan Yahudi, penganut Katolik, yang melarikan diri demi menghindari kekejaman Nazi. Keluarga ini mengungsi ke London pada tahun 1939, ketika Nazi mulai menangkap sejumlah famili mereka. Ayah Albright adalah seorang diplomat karier Czechoslovakia. Saat memasuki AS pada tahun 1948, ayahnya menjadi salah satu pendiri dan dekan pertama dari Program Hubungan Internasional Universitas Colorado.

Albright mengikuti langkah-langkah politik sang ayah yang kemudian menjadi salah satu role model dan figur inspiratif dalam kehidupan pribadinya,

Albright memperoleh status kewarganegaraan AS pada tahun 1957 dan kemudian menempuh studi di Wellesley College di Massachusetts. Dengan memperoleh status kewarganegaraan itu, ia meyakini akan mencapai apa yang menjadi impian setiap warganegara AS.

Usai memperoleh gelar sarjana ilmu politik pada 1959, ia kemudian menikah dengan seorang wartawan Chicago bernama Joseph Albright. Di kala mulai merintis kehidupan berumah tangga, ia memperoleh gelar doktor dalam bidang kebijakan publik dan pemerintahan dari Columbia University (1975).

Albright kemudian menjadi staf Senator Edmund Muskie (1976-1978). Ia merasa cocok dengan pekerjaan itu karena dapat melekatkan politik dalam hidupnya. “Politik tidak merupakan sesuatu yang buruk. Ia merupakan cara bagaimana demokrasi berbicara mengenai dirinya sendiri,” ujarnya. “Saya mencintai politik. Saya terlibat secara nyata dengan tokoh-tokoh terhormat seperti Edmund Muskie, Jimmy Carter (Presiden AS, 1976-1980), Bill Clinton, dan Hillary Clinton.”

Pengalaman politik terbentuk ketika menjadi staf senator, dan Albright kemudian menerima ajakan Presiden Carter untuk menjadi staf Gedung Putih dan kemudian ditempatkan di Dewan Keamanan Nasional. Dewan ini merupakan lembaga supra kabinet yang memutuskan banyak kebijakan-kebijakan penting dalam masalah pertahanan dan hubungan luar negeri. Dewan ini dipimpin oleh Zbigniew Kazimierz Brzezinski, bekas dosen Albrigth. Albright mengemban tugas penting untuk menjadi penghubung Gedung Putih dan Kongres.

Ketika Carter dikalahkan oleh Reagen pada tahun 1980, Albright kemudian kembali ke dunia akademik dengan menjadi guru besar di Georgetown University. Ia juga menjadi peneliti dalam   pusat kajian Woodrow Wilson Internasional for Scholar. Di pusat kajian ini ia mendalami gejala demokratisasi di Polandia. Ia berkelana dan menjalani wawancara dengan tokoh-tokoh penting gerakan Solidaritas, embrio demokratisasi di kawasan Eropa Timur. Sembari mengajar dalam program sarjana dan pasca sarjana dalam masalah politik Eropa Timur, Albright merintis studi mengenai peranan perempuan dalam kancah diplomatik internasional. Namun, dalam masa ini Albright mengalami kehancuran kehidupan rumah tangga, saat suaminya mengajukan gugatan cerai.

Albright kemudian menerima posisi di Partai Demokrat sebagai staf ahli senior bidang hubungan luar negeri dan kemudian pernah menjadi penasehat bagi kandidat Wakil Presiden Geraldin Feraro (1984). Pada tahun 1988, Albright direkrut menjadi salah satu penasehat calon Presiden Michael Dukakis, walaupun serupa dengan kandidasi Feraro, yang kalah dalam pemilu.

Di hari-hari pertama Bill Clinton mengemban tugas sebagai Presiden, Albright dipercaya menjadi staf yang melakukan manajemen masa transisi di Dewan Keamanan Nasional.

Bersama Menteri Luar Negeri Hillary Clinton

Dia kembali menjadi praktisi politik ketika Presiden Bill Clinton (1993) menunjuk dirinya menjadi Duta Besar AS di PBB. Ia menjadi perempuan pertama dalam posisi strategis itu. Ia merasakan jabatan ini merupakan pekerjaan yang berat dan tidak banyak sumbangsihnya. “Saya tak mampu mendorong pemerintah bergerak lebih banyak lagi dalam kasus genosida di Rwanda”, ujarnya sembari menunjuk kasus pembantaian etnis di Afrika tahun 1994 yang menewaskan jutaan orang itu. “Saya merasa telah ada kesamaan pandangan dan telah memiliki analisis cukup mengenai kasus itu. Saya merasa sudah melakukan tekanan atau dorongan untuk menghentikan kekerasan itu, sekurang-kurangnya saya sudah mencoba melakukan.”

Pelantikan sebagai Menteri Luar Negeri

Albright menorehkan sejarah ketika Presiden Clinton yang terpilih kembali pada tahun 1997 mencalonkan dirinya dan kemudian memperoleh persetujuan Senat untuk menjadi Menteri Luar Negeri. Ia bahkan menjadi perempuan pertama yang meraih jabatan diplomat tingkat tinggi dalam sejarah AS. Walaupun secara konstitusional ia adalah calon pengganti dalam urutan kedua (sesudah Wakil Presiden) manakala presiden berhalangan tetap, akan tetapi karena ia bukan warga negara AS sejak kelahirannya, aturan itu diperlakukan. Dalam posisi sebagai Menteri Luar Negeri, mengingat asal usul kewarganegaraan, ia disingkirkan dari pejabat negara yang memiliki akses terhadap senjata nuklir.

Sebagai menteri luar negeri, ia berusaha mempertajam peran AS dalam krisis di Timur Tengah, Bosnia, dan Kosovo. Albright juga kembali meningkatkan pengaruh negeri Paman Sam dalam menjalin persekutuan, serta mempromosikan demokrasi dan standar hak asasi manusia, termasuk dalam masalah buruh, perdagangan, dan lingkungan hidup.

Sebagai Menteri Luar Negeri, ia menjadi wakil negaranya dalam transfer kekuasaan Hong Kong yang dikembalikan Inggris kepada Tiongkok pada 1 Juli 1997. Ia mengecam penunjukkan anggota legislatif Hong Kong oleh Beijing.

Pada tahun 2000, Albright menjadi pejabat AS tertinggi yang bertatap muka langsung dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il, ketika melakukan kunjungan ke negara tersebut.

State Funeral Of Vaclav Havel

Mendampingi bekas Presiden Clinton dan ibu negara Hillary, saat pemakaman kenegaraan terhadap mantan Presiden Ceko,Vaclav Havel, 23 Desember 2011.

Bersama Perdana Menteri Netanyahu (1997)

Bersama kepala negara Arab Saudi, Raja Fahd (almarhum), tahun 1999

Diantara aksi akhirnya sebagai Menteri Luar Negeri adalah tindakannya dalam mendukugn Kofi Anan sebagai Sekretaris Jenderal PBB dan terus memaksakan Irak agar bersedia melucuti senjata pemusnah massal untuk menawarkan pengakhiran sanksi ekonomi. Media mencatat, pada 1996, ia bersikeras untuk mempertahankan sanksi kepada Irak.

Menerima penghargaan dari Presiden Obama

Usai mengakhiri tugas sebagai Menteri Luar Negeri pada tahun 2001, Albright tidak kehilangan minat terhadap isu hubungan internasional. Dia meyakini peran unik AS dalam kancah internasional akan tetapi peran itu harus dilakukan bersama-sama dengan negara lain.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s