Tembok Pemisah Cinta

Setelah Tembok Berlin dihancurkan pada tahun 1989, Jerman Barat dan Timur telah menempuh sebuah episode perjalanan yang panjang sebelum mereka bisa menjadi bangsa yang bersatu. Tetapi pada Agustus 1990, kedua bangsa mulai menapak jalan untuk bersatu kembali.

Sebagai upaya membendung gelombang pengungsi yang berusaha  meninggalkan Berlin Timur, pemerintah komunis Jerman Timur mulai membangun Tembok Berlin yang membelah Berlin Timur dan Barat. Pembangunan tembok kemudian menyebabkan krisis jangka pendek dalam hubungan ASSoviet, dan tembok itu lalu menjadi simbol Perang Dingin.

Blokade Stalin

Menjelang akhir Perang Dunia II, rencana pendudukan Jerman disusun pada tahun 1944 di London oleh Komisi Penasehat Eropa. Dalam perjanjian ini, Jerman akan dibagi menjadi 4 zona kerja yang masing-masing akan dikendalikan oleh Inggris, Amerika Serikat, Perancis, dan Uni Soviet. Kota Berlin, berada di bawah kendali Soviet, akan dibagi ke dalam zona-zona yang juga dikendalikan oleh 4 kekuatan tersebut. Mereka akan mengatur Berlin secara kolektif.

Rencana tersebut berantakan. Pada 30 November 1948 Komunis mendirikan dewan kota terpisah di sektor Soviet. Pada Juni 1948 Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat memutuskan untuk membiarkan rakyat Jerman Barat, orang-orang di bawah zona mereka pendudukan membangun pemerintahan mereka sendiri berdasarkan pada konstitusi sementara yang demokratis. Pada 23 Mei 1949 Republik Federal Jerman (Jerman Barat) diproklamasikan

Pada 24 Juni 1948, pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mendepak pengaruh Amerika, Inggris dan Perancis di bekas ibu kota Jerman Berlin. Pemulihan ekonomi Berlin Barat (di bawah kendali 3 negara tersebut menghasilkan kemajuan yang mengesankan dibandingkan dengan kehancuran dan kesuraman Berlin Timur di bawah pemerintahan SovietStalin kemudian menutup jalur darat (jalan raya dan kereta api) ke Berlin Barat yang melalui zona pendudukan Jerman Timur (Berlin terletak jauh di dalam wilayah Jerman Timur).

Presiden AS, Harry Trumman (menjabat 1945-1952), ketika itu menolak menerima gertakan Soviet. Ia memerintahkan penggunaan jalur udara untuk mengirimkan logistik ke Berlin Barat. Tentu saja itu merupakan operasi yang sangat mahal. Bayangkan saja, pengangkutan batu bara untuk antisipasi musim dingin dengan menggunakan pesawat. Walaupun demikian, hal itu cukup membuat malu Stalin, yang akhirnya kembali membuka perhubungan darat pada 12 Mei 1949. Namun, ketika itu perasaan  keterbelahan Timur dan Barat sudah begitu tajam.

Penutupan Perbatasan

Rencana menutup perbatasan dimulai pada Mei 1952. Usai memperkeras keterbelahan Barat dan Timur, otoritas komunis mulai melirik Berlin. Sebanyak 200 jalan darat yang menghubungkan kedua wilayah disekat. Sebanyak 81 menara pengawas kepolisian didirikan di sekitar jalan-jalan yang dibiarkan menjadi akses yang terbuka. Seluruh saluran telepon, sebanyak 20 jalur, ditutup. Tram dan bus yang melalui kedua wilayah dilarang beroperasi. Pemerintah komunis memperkenalkan pidana 16 bulan hingga 4 tahun kepada siapapun yang mencoba melarikan diri dari wilayah Timur. Akan tetapi, Berlin tetap saja menjadi satu-satunya akses yang memungkinkan orang menyeberang ke Barat untuk menghindari represi. Hampir 50 ribu orang setiap hari dan kemudian menjadi 1,6 juta orang yang melintas wilayah ini hingga nanti akhirnya benar-benar dibandung tembok pemisah.

Krisis Berlin dimulai pada 28 November 1958. Pemimpin Soviet, Nikita Khrushchev mulai mengancam negara-negara Barat. Mereka diberikan kesempatan 6 bulan untuk menarik mundur pasukan dari wilayah Berlin, suatu operasi yang disebut Khrushchev sebagai gerakan “demiliterisasi pembebasan kota.” Jika mereka membangkang, Moskow akan menandatangani perjanjian damai dengan Jerman Timur, kata lain untuk menduduki sepenuhnya wilayah itu. Serangkaian konferensi untuk membahas masalah itu gagal: sejak dari Konferensi Jenewa (Mei-Agustus 1959), Paris (Mei 1960), dan Wina ( Juni 1961).  Bersamaan dengan itu, ratusan ribu orang mulai menyeberang ke Barat. 

Walter Ulbright, pemimpin dan perintis partai komunis Jerman Timur lalu berkehendak untuk menutup sama sekali akses Timur dan Barat. Ia berdiskusi dengan Khrushchev di Kremlin pada 5 Agustus 1961 untuk memperoleh dukungan. Lalu, 3 hari kemudian, Khrushchev berpidato di radio bahwa areal perlintasan Timur dan Barat itu akan ditutup.

Ulbright lantas memerintahkan Eric Honecker (kelak kepala pemerintahan Jerman Timur, 1971-1988) untuk memulai operasi “Tembok China” pada 12 Agustus 1961. Tentara ditempatkan untuk menutup semua titik masuk ke Berlin Barat dari Berlin Timur dengan merangkai kawat berduri dan menempatkan penjaga. Seluruh perhubungan darat ditutup total 23 Agustus 1961. Jerman Timur benar-benar terisolasi.

Tembok Berlin, 1961

 

Militer mulai membangun Tembok Berlin pada 13 Agustus 1961

Petugas kepolisian dengan menggunakan kendaraan bermotor mengawasi pelaksanaan pembangunan Tembok Berlin

Kendaraan lapis baja pasukan Jerman Timur dengan moncong senapan yang mengarah ke Barat berada di sekitar kawasan Berlin, Agustus 1961

Pada minggu-minggu kemudian, pembangunan tembok penghalang dari beton dimulai, lengkap dengan 300 menara penjaga dan ladang ranjau di sekitarnya. Tembok Berlin berhasil sepenuhnya pmembelah Berlin menjadi dua bagian. Tembok itu merentang sepanjang 155 km dengan ketinggian sekitar 3,6 meter.

Tembok Berlin, Juli 1962

Penempatan kawat berduri di sekitar Tembok Berlin, Juli 1962

Seorang serdadu Jerman Timur melewati penjagaan dan menyeberang ke Barat 13 Agustus 1961

Sebagian menara pengawas di sekitar Tembok Berlin

Kennedy Marah

Ketika itu, Washington berang. Komandan pasukan AS di Berlin Barat bahkan mulai membuat rencana untuk melibas tembok tersebut, tetapi menyerah ketika Soviet menempatkan pasukan dengan kendaraan lapis baja ke wilayah tembok itu untuk melindunginya. Pemerintah Jerman Barat sangat marah dengan tiadanya tindakan dari pasukan AS , tetapi Presiden John F. Kennedy percaya bahwa tembok itu merupakan neraka yang lebih baik dibandingkan perang.”

Para pejabat senior pemerintahan Kennedy mengutuk Jerman Timur. Namun demikian, dari kalangan yang sama, termasuk Menteri Luar Negeri Dean Rusk, diam-diam melihat tembok itu  berpotensi memberikan kontribusi terhadap stabilitas Jerman Timur dan mengurangi ancaman stabilitas Jerman Barat. Bahkan dutas besar AS untuk Uni Soviet, Llewellyn Thompson mengatakan bahwa pembangunan tembok itu lebih baik daripada membiarkan para pengungsi memasuki wilayah Barat.

Keadaan itu mengkonfirmasikan bahwa pemerintah AS, dalam hal ini CIA sama sekali tidak memberikan respon atas perkembangan tersebut. Presiden Kennedy dikabarkan berang karena merasa tidak memperoleh informasi yang cukup mengenai situasi di Jerman Timur.

Jauh sebelumnya, pada musim panas 1961, Presiden John F. Kennedy bertemu dengan Khrushchev di Wina untuk mengatasi masalah Berlin, selain mendiskusikan isu Laos dan perlucutan senjata. Meskipun mereka banyak hal mengenai Laos, akan tetapi kedua kepala pemerintahan tidak menemukan solusi untuk masalah Berlin. Dalam konferensi tersebut, Khrushchev sekali lagi mengingatkan Kennedy untuk waktu 6 bulan guna menarik diri dari Berlin. Kennedy menanggapi dengan mengaktifkan 150.000 pasukan cadangan dan meningkatkan anggaran pertahanan, dalam persiapan untuk menghadapi konflik atas masa depan Berlin. Tidak mau menghadapi potensi eskalasi nuklir di kawasan itu, Khrushchev siap untuk mengambil aksi sepihak.

Pada 29 Juli 1961, Kepala KGB (dinas rahasia Soviet) Alexander Shelepin mengirimkan nota kepada Khrushchev yang berisi proposal untuk menciptakan situasi di berbagai wilayah di dunia yang akan mengalihkan perhatian AS dan aktivitas satelit mereka dari perhatian kepada masalah Berlin. Tindakan itu, menurut Shelepin, jika negara-negara Barat membiarkan masalah Berlin, maka mereka berpotensi juga untuk kehilangan pengaruh tidak hanya di Eropa, tetapi juga di sejumlah negara-negara kawasan Amerika Latin, Asia dan Afrika. Khrushchev menyetujui hal itu dan pada 1 Agustus 1961 mengirimkan memo rahasia yang memerintahkan dinas rahasia dan kementerian pertahanan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Dalam upaya meyakinkan Jerman Barat bahwa Amerika Serikat tidak meninggalkan mereka, Kennedy melakukan perjalanan ke Tembok Berlin pada bulan Juni 1963, dan terkenal dengan pidatonya yang antara lain mengatakan, Ich bin ein Berliner!” (Saya seorang warga Berlin!”). Konteks pidato Kennedy dimaksudkan bahwa ia berdiri bersama-sama dengan Berlin Barat dalam persaingan dengan komunis Berlin Timur dan Republik Demokratik Jerman telah dipahami oleh orang-orang Jerman.

Kendaraan lapis baja pasukan AS dan Soviet saling berhadap-hadapan di wilaya Berlin, Oktober 1961

Dalam tahun-tahun berikutnya, Tembok Berlin menjadi simbol fisik terjadinya Perang Dingin. Pembagian yang mencolok antara Berlin Timur yang komunis dengan Berlin Barat yang demokratis menjadi bahan utama berbagai editorial dan pidato di Amerika Serikat, sedangkan blok Soviet menyebut tembok itu sebagai perlindungan yang diperlukan dari pengaruh budaya Barat dan komunisme.

Selama berdirinya tembok Berlin, hampir 80 orang tewas saat mencoba melarikan diri dari Timur ke Barat Berlin. Orang-orang yang mencoba melarikan diri dari Jerman Timur selama Perang Dingin bisa ditembak, dipenjara dan disiksa

Foto mereka yang tewas saat mencoba melintasi Tembok Berlin

Gunter Liftin menjadi orang pertama yang tewas ditembak penjaga ketika mencoba menyeberang ke Barat, Agustus 1961

Seorang laki-laki berbicara dengan kekasihnya, Agustus 1961. Kejadian memukai bahwa cinta mereka terhalang Tembok Berlin.

Penduduk Berlin Barat mencoba untuk menengok keadaan di Berlin Timur, Oktober 1976

Pada 9 November 1989,  bersaman dengan kejatuhan pemerintah komunis  di seluruh Eropa Timur, Tembok Berlin akhirnya dibuka dan kemudian dirobohkan. Bagi banyak pengamat, tindakan ini menjadi penanada bahwa Perang Dingin  akan segera berakhir.