RUSIA MENGHADAPI SANKSI EKONOMI

Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan para pemimpin Eropa bahwa penundaan pembayaran gas oleh Ukraina kepada Rusia telah menciptakan “situasi kritis”. (BBC Indonesia : 11 April 2014)

Ketegangan Rusia dan Amerika tersebut, sebenarnya berawal dari memanasnya gejolak politik di Ukraina yang selanjutnya diikuti bergabungnya Crimea manjadi bagian dari negara Rusia. Inilah yang menjadikan ketegangan antara Barat dan Timur tersebut memanas, yang merembet ke perang ekonomi dewasa ini.

Amerika beserta Uni Eropa berusaha mengintervensi Rusia dengan segala sanksi kebijakan ekonominya, lantas timbul pertanyaan, kira-kira apa mampu Rusia menghadapi guncangan ekonomi dalam negrinya menghadapi sanksi-sanksi tersebut ?

Menurut lembaga keuangan terpercaya ‘Moddy’ milik Amerika, yang biasa dipakai bahan pertimbangan oleh para investor, menyatakan bahwa berdasarkan rating kredit resiko Rusia untuk gagal bayar hutang lebih tinggi daripada Amerika menghadapi perselisihan dua negara tersebut. Tetapi menurut saya ada kejanggalan dalam data tersebut, bagaimana bisa Rusia mengalami gagal hutang, kalau hutangya hanya berkisar 12% dari GDP mereka sedangkan pertumbuhan ekonomi mereka di periode yang sama di angka 2,3%. Dan Amerika sendiri hutangnya sudah mencapai 110% dari jumlah GDP mereka, sedangkan pertumbuhan ekonomi di angka 2,3% juga (NDP).

Memang  banyak pendekatan untuk menghitung rating tersebut, bukan hanya dengan pendekatan rasio hutang terhadap GDP dan angka pertumbuhan ekonomi, ada juga indikator lain yang harus dipakai untuk menghitung seperti rasio keuangan, Debt ratio, Prifitability ratio, inflasi, faktor non ekonomi dll. Tetapi dua indikator diawal tadi sebenarnya sudah bisa menjadi acuan dasar dari perhitungan tersebut, karena dengan melihat dua hal tersebut , sudah dapat dibaca arahnya akan kemana. Selain itu kita juga tidak boleh berpatok hanya menggunakan rating tersebut tetapi juga harus dibandingkan dengan keadaan rill-nya.

Logika sederhananya seperti ini, Rusia ini mempunyai Sumber Daya Alam yang besar seperti, Minyak, Gas dan Mineral. Mereka juga mempunyai kemandirian teknologi (militernya, otomotif,dll). Nah Rusia ini pasar konsumen yang besar juga mengingat mereka mempunyai jumlah penduduk yang besar, kurang lebih 143 juta jiwa. Nah jika kedepanya Rusia segera meningkatkan Industri mereka dan Ekspansi keluar itu akan membuat Rusia cepat berkembang mengingat mereka kaya akan SDA, Belum lagi faktor dari beberapa negara berkembang yang terus impor alat persenjataan dari Rusia seperti India dan Pakistan.

Sedangkan negara seperti Italia dan Perancis yang miskin SDA, dan ikut membela Amerika, mereka  mengandalkan perdagangan teknologi dan fashion, yang selanjutnya tidak diperbolehkan berjualan di Rusia, berapa banyak kerugian yang akan mereka tanggung akan hal ini, coba bayangkan dimana Jerman akan berjualan Mercy-nya kalau di Rusia dilarang  ?Beberapa waktu kemarin ketika Rusia menghentikan impor daging dari Polandia saja itu sudah membawa efek bagi ekonomi bagi Polandia sendiri. Hal ini mengingatkan terhadap kejadian tahun kemarin juga saat Iran tidak memperbolehkan Perancis berjualan di negaranya yang menyebabkan perancis merugi hingga jutaan US Dollar.

Sedangkan Amerika sendiri keadaanya masih belum begitu bangkit ekonominya, salah satu penyebabnya adalah pasar mereka Eropa juga belum pulih benar ekonominya. Andaikan Rusia mengajak BRICS (Brazil, Eropa,India,China dan Afrika Selatan) untuk mengurangi lagi porsi penggunaan US Dollar mereka dalam eksport/Impor, sudah tentu ini akan menjadi pukulan telak bagi Amerika. Secara mudah juga dapat dibaca dari agenda The FED terhadap suku bunga poin nomer 5 diatas, sebenarnya keadaan itu salah satu faktornya bisa saja merupakan hasil efek dari aksi Dump-nya Rusia terhadap Dollar Amerika, yang mulai membawa inflasi, belum lagi faktor Jepang yang mulai melepas T-Biil (surat hutang) Amerika secara perlahan.

Dengan ancaman Putin yang akan menghentikan pasokan gas ke Eropa. memang secara ekonomi Rusia akan merugi karena Eropa adalah pasar terbesarnya, tetapi Amerika dan Eropa lupa bahwa Rusia telah menjalin kerjasama perdagangan Gas dan Minyak dengan China dan menggunakan mata uang Yuan dan Rubel. Bukankah ini menjadi blunder bagi Amerika sendiri dan Uni Eropa kedepanya, apakah mereka tidak memikirkan bagaimana nasib Industri dalam negri mereka jika pasokan gas tersebut berhenti. Hal itu disikapi kanselir jerman Angela Markel dengan lebih teliti dan mulai ragu  dengan mempertimbangkan untuk membantu Ukraina melunasi hutangnya kepada Rusia jika ingin pasokan gasnya terus dilakukan oleh Rusia. Dengan ini Rusia lah yang menjadi pemegang kendali memainkan peran-nya dalam memenuhi kebutuhan Gas Eropa yang sangat penting ini.

Rusia dapat melumpuhkan ekonomi AS dengan meninggalkan mata uang dolar dalam perdagangannya dengan mitra-mitra bisnis utamanya di Asia seperti Cina dan India. Demikian analisa pakar ekonomi Rusia dan Ketua Centre of Strategic Communications, Dmitry Abzalov, kepada kantor berita Voice of Russia, Minggu (4/5/2015).

Menurut Abzalov, ekonomi dan bisnis hanya bisa berkembang di dalam kondisi sosial politik yang stabil, dan dalam hal ini baik Amerika maupun Uni Eropa justru berada pada kondisi yang berbeda. Sebaliknya kawasan timur (Asia) justru terjadi kestabilan yang mendorong tumbuhnya ekonomi dan bisnis. Rusia telah menetapkan untuk mengembangkan hubungan bisnisnya dengan negara-negara Asia. India, contohnya, kini menjadi partner bisnis peralatan militer khususnya untuk segmen teknologi tinggi. Sedang dengan Cina hubungan Rusia berbasis pada sektor sumber daya alam, enginering, dan teknologi militer

Rusia memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Inggris dan negara Eropa lainnya, sehingga setiap perdagangan dan sanksi keuangan cenderung akan merugikan kedua belah pihak. Saat ini, mitra dagang terbesar Rusia di Eropa adalah Uni Eropa yang menguasai hampir 41 persen dari semua perdagangan. Perdagangan antara kedua belah pihak bahkan sudah mencapai rekor pada tahun 2012.

Sementara ekspor Uni Eropa ke Rusia didominasi oleh produk mesin, peralatan transportasi, bahan kimia, obat-obatan, dan produk-produk pertanian. Impor ke Uni Eropa dari Rusia didominasi oleh minyak mentah dan gas. Menurut Energy Information Administration (EIA), negara-negara Eropa mengimpor 84 persen ekspor minyak Rusia, dan 76 persen dari produk gas alam.

Jerman merupakan importir tunggal terbesar minyak dan gas Rusia, sementara Inggris membeli sekitar 6 persen gas dari Rusia. Selain itu, AS juga menjadi mitra dagang penting bagi Rusia. Pada tahun 2013, nilai impor AS dari Rusia sebesar USD 26,9 miliar, AS bahkan juga menjadi importir 5 persen minyak dari Rusia.

Rusia saat ini juga berada di peringkat ke-14 dalam daftar mitra dagang utama Inggris. Tercatat, Inggris lebih banyak mengimpor barang dari Rusia daripada ekspor, antara 2001-11, impor barang dan jasa Inggris dari Rusia meningkat lebih dari 270 persen, sementara ekspor Inggris ke Rusia meningkat sebesar 430 persen.

Pada tahun 2013, Rusia adalah tujuan ekspor terbesar kedua Inggris, di luar Uni Eropa. Inggris juga memasok layanan bisnis dan keuangan, senilai hampir GBP 1,7 miliar pada tahun 2011.

Menurut UNCTAD, Rusia adalah negara investor terbesar ke-8 pada tahun 2012. Nilai investasi Rusia pun juga tidak bisa dianggap remeh, di mana Inggris juga mendapatkan manfaat dari investasi Rusia. Tercatat investasi Rusia di Inggris pada tahun 2011 sebesar USD 11 milyar, bahkan investasi Rusia di Siprus mencapai USD 122 miliar.

Inggris juga memiliki investasi di Rusia dalam melalui BP oil. Perusahaan ini memiliki saham hampir 20 persen di produsen minyak terbesar Rusia, Rosneft yang pada gilirannya bisa menghasilkan keuntungan bagi perusahaan milik Inggris.

Perusahaan Inggris juga telah didorong untuk mencari peluang perdagangan baru dengan Rusia. Menurut sebuah laporan, lebih dari 600 perusahaan Inggris saat ini sudah beroperasi di Rusia. Pada bulan Januari 2014, UK Trade and Investment mengumumkan untuk memperluas investasinya di perusahaan-perusahaan Rusia.

Jadi, dengan segala resiko besar yang ada AS dan sekutunya tidak akan berani memberikan sanksi kepada Rusia jika terjadi penyerangan kepada Ukraina. Sebelumnya tahun 2008 ketika Rusia pernah mengirim pasukan dalam jumlah besar ke wilayah Ossetia Selatan pada tahun 2008 untuk melindungi warga Rusia di wilayah itu dan mendapat ancaman dari negara barat namun akhirnya negara barat tidak jadi memberikan sanksi tersebut.

Para analis termasuk Abzalov percaya bahwa sanksi-sanksi yang diberikan AS dan Uni Eropa justru dapat memperkuat posisi negara-negara berkembang, termasuk Rusia. Industri lokal justru bisa berkembang karena faktor eksternal.

Menurut pimpinan Centre of Economic Research at the Institute of Globalization and Social Movements, Vasily Koltashov, para pemimpin Eropa hanya berfikir jangka pendek untuk menguasai pasar, termasuk ekonomi Rusia. Maka mereka akan selalu “mengganggu” Rusia jika yang terakhir menunjukkan sikap independensinya dalam menentukan kebijakan ekonominya sendiri.

Menurut Vasily, dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia dibandingkan Eropa, pembentukan “Pasar Modal Asia” sangat dimungkinkan dan dapat menjadi pesaing serius New York dan London. Dan bagi Rusia sebagai negara kaya sumber energi, akan menjadi kekuatan penentu yang diperhitungkan.

Lebih jauh dengan ekonomi Cina yang tumbuh pesat, konsumsi minyak dan gas pun akan terus meningkat, dan dapat mempengaruhi pengambil kebijakan Cina untuk membuat pasar minyak dan gas baru bersama Rusia, yang bebas dari ketergantungan pada barat.

Pada tahun 1980 Cina hanya menghabiskan 3% produksi minyak dunia. Saat ini Cina menghabiskan 10% produksi minyak dunia, meninggalkan Jepang dan hanya tertinggal dari Amerika. Dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan Cina akan menjadi komsumen minyak terbesar di dunia.

Dalam pasar minyak global baru yang dibentuk Rusia bersama Cina, dan juga India sebagai salah satu negara komsumen minyak terbesar, mereka bisa saja meninggalkan dolar sebagai alat pembayarannya dan menggantinya dengan mata uang sendiri: roubles, yuans dan rupees. Dalam situasi seperti ini, kata Vasily, mata uang dolar akan tenggelam dan Amerika pun kehilangan pengaruhnya
Sepertinya Amerika dan Uni Eropa harus membuka lagi lembaran lama sejarah, tiang-tiang penyangga ekonomi Amerika dan Uni Eropa banyak sekali yang sedang terkena virus mematikan di dalam sendi-sendi perekonomian. Sekaranglah saatnya Rusia memainkan kartu-kartu-nya, dan untuk kali ini sepertinya Rusia yang akan unggul dalam perang ekonomi tersebut, terlebih setelah china masuk dalam gerbong mereka juga.