RUSIA, CRIMEA, DAN KETIDAKGUGUPAN MOSKOW

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, rencana operasi di Crimea dimulai setelah Presiden Ukraina sebelumnya, Viktor Yanukovych dikudeta. ”Kami tidak pernah berpikir untuk memutuskan Crimea dari Ukraina sampai peristiwa penggulingan pemerintah dimulai,” kata Putin.

Ia mengulangi pernyataan Yanukovych adalah korban dari kudeta. Menurutnya, sejak saat itu Putin memerintahkan menteri pertahanan untuk mengerahkan personil pasukan khusus intelegen militer di Crimea, termasuk angkatan laut dan pasukan udara.

Ia memastikan mereka dilindungi oleh fasilitas militer Rusia. Putin mengklaim bahwa pasukannya tidak pernah lebih dari 20 ribu berdasarkan kesepakatan Black Sea Fleet. Putin juga mengakui bahwa pasukannya membantu Yanukovych melarikan diri ke Rusia.

Setelah dikudeta, Yanukovych melarikan diri dari Kiev dan muncul sekali di Kharkov, namun kemudian menghilang kembali. Putin mengatakan, pasukannya terus berhubungan dengan Yanukovych ketika di Ukraina. ”Kemudian kami membawanya ke teritorial Rusia,” kata Putin. Ia membela tindakannya itu juga berdasar poling tertutup pada orang-orang Crimea. Putin mengatakan, 75 persen dari mereka ingin kembali ke Rusia.

Siaran dokumenter tersebut memperingati hampir satu tahun bergabungnya Crimea dengan Rusia. Di dalamnya, ia mengatakan Rusia telah siap membawa senjata nuklirnya ke Crimea. ‘’Kami siap melakukannya,’’ katanya.

Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah resolusi yang menyatakan bahwa referendum pemisahan diri Crimea dari Ukraina sebagai tidak sah, dan menolak mengakui legalitas pencaplokan semenanjung itu oleh Rusia, Kamis, 27 Maret 2014. Resolusi ini disahkan dengan suara mayoritas 100 berbanding 11. Majelis Umum saat ini memiliki 193 anggota.

Ukraina, yang membuat draft resolusi tersebut, telah mendesak masyarakat internasional untuk mendukung teks tersebut, dengan harapan bahwa dukungan dari mayoritas negara di dunia akan mencegah ambisi Rusia yang lebih jauh atas Ukraina.

Resolusi ini mendapatkan lebih banyak suara dibandingkan teks yang sama yang disahkan pada 2009 terkait krisis di Georgia, yang hanya mendapat 48 suara. Saat itu 78 negara abstain dan 19 lainnya menentang. Draft yang disampaikan Ukraina menggunakan bahasa moderat demi menjaring banyak dukungan dan suara maksimal, dan tidak langsung merujuk ke Rusia. Teksnya sama dengan yang diajukan Amerika Serikat ke Dewan Keamanan pada 19 Maret 2014, yang diveto Rusia. Saat itu, Tiongkok abstain dan 13 anggota Dewan mendukung. Resolusi itu mendesak negara-negara di dunia untuk tidak mengakui setiap perubahan status Semenanjung Crimea di Laut Hitam.

Crimea adalah sebuah semenanjung di selatan Ukraina. Wilayah Crimea terdiri dari Republik Otonom Crimea yang melingkupi sebagian besar semenanjung dan berbatasan dengan Rusia di sebelah timur, kota Sevastopol yang memiliki status istimewa dan dianggap sebagai entitas administratif tersendiri di Ukraina, dan sebuah bagian kecil dari Kawasan Kherson. Ibu kota Republik Otonom Crimea adalah Simferopol.

Berdasarkan sensus penduduk Ukraina pada 2001, populasi Crimea terdiri dari 2.413.228 jiwa. Menurut catatan Dinas Statistik Negara Ukraina, hingga 1 November 2013, penduduk Republik Otonom Crimea berjumlah 1.967.119 jiwa dengan komposisi lebih dari 50 persen merupakan orang Rusia, 24 persen orang Ukraina, dan sekitar 12 persen orang Tatar Crimea.

Hukum Republik Otonom Crimea tidak membahas gagasan bahasa negara atau bahasa resmi untuk penduduknya. Oleh karena itu, baik bahasa Rusia maupun bahasa Ukraina digunakan sebagai bahasa resmi di Crimea. Menurut survei yang dilakukan Institut Internasional Sosiologi di Kiev pada 2004, bahasa Rusia digunakan untuk berkomunikasi 97 persen penduduk Krimea.
Sementara aneksasi Crimea hampir tidak berdarah sedikit pun, kini separatis pro Rusia di Ukraina Timur harus menumpahkan banyak darah untuk menjadi bagian Rusia. Satu bulan setelah aneksasi Crimea, separatis di Donetsk dan Luhansk mendeklarasikan kemerdekaan atas Ukraina. Hal itu juga berdasar referendum. Menurut PBB, pertumpahan darah di wilayah timur telah merenggut lebih dari 6.000 nyawa.

Siaran televisi Putin tersebut membawa spekulasi baru kemana Putin. Sudah 10 hari ia tak muncul di depan publik. Pada Senin ia dijadwalkan bertemu presiden Kyrgyzstan dalam sebuah acara yang akan diliput media. Mungkin ini akan menjadi kemunculan pertamanya sejak 5 Maret 2015 lalu.

Dengan dukungan dari penduduk Crimea, parlemen Rusia menyetujui aneksasi Crimea sejak 21 Maret  2014 lalu. Menurut hukum konstitusi saat ini, Rusia hanya bisa mencaplok wilayah dengan kesepakatan “yang diprakarsai oleh pemerintah asing “. Karena Crimea masih wilayah hukum Ukraina maka akan memerlukan penandatangan perjanjian dengan pemerintah baru di Kiev.

Bahkan, sejak terjadi penggulingan Presdien Ukraina, pasukan Rusia telah menguasai wilayah Crimea. Pendudukan yang berlangsung dramatis terjadi di saat Rusia dan Barat terlibat konfrontasi terkait aneksasi Moskow terhadap Crimea. Amerika Serikat dan Eropa bersatu memberikan tekanan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Seorang pria tengah memancing di pantai yang tenang di Sevastopol, Semenanjung Crimea, Ukraina, di tengah krisis politik yang mengancam wilayah itu. (Foto: AFP)

Crimea tampaknya berada pada titik kembali ke masa lalu. Semenanjung ini bergolak bertahun tahun dalam perang saudara Rusia dan memperoleh kemerdekaan pada 1917. Hanya setahun merdeka, wilayah ini diduduki Bolshevik, lalu menjadi daerah otonom pada masa Republic Ssialis Sovyet pada kurun 1921-1945.

Kemudian sebagai daerah otonom semasa Uni Sovyet dan diserahkan sebagai daerah otonom ke Ukraina pada 1954, hingga Uni Sovyet bubar pada 1991. Dan tetap menjadi daerah otonom di bawah Ukraina hingga sekarang. Hasil referendum hanya akan membawa Crimea berada di bawah ketiak Rusia.

Crimea berada pada situasi memasuki masa bergantung pada belas kasihan Rusia. Pangkalan angkatan laut Rusia mungkin akan menjadi salah satu alasan utama untuk membantu perekonomi wilayah itu. Crimea hanya akan menjadi kartu yang dimainkan oleh Rusia, dan tidak pernah menjadi sepenuhnya merdeka, sama halnya dengan Sergei Aksyonov yang hanya boneka Rusia. Selain itu, Crimea mungkin akan menghadapi gangguan keamanan yang berkelanjutan dari kelompok Tatar Crimea yang menolak pemisahan.

Crimea akan menjadi wilayah pertama yang secara resmi bergabung dengan Rusia sejak pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991 . Ossetia Selatan dan Abkhazia, yang memisahkan diri dari Georgia setelah perang singkat pada 2008 silam dengan Rusia, telah diakui sebagai independen oleh Moskow, tetapi sudah ada beberapa langkah serius untuk memungkinkan mereka untuk bergabung lagi dengan Rusia.

Untuk Putin, Crimea akan menjadi akuisisi yang memukau dan membantu pertahanan warga Rusia yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tanda-tanda “masih membenci” hilangnya kekaisaran luas Moskow yang memerintah di masa Uni Soviet.

Sementara bagi Ukraina, krisis ini bisa masih panjang, bahkan makin dalam. Pemulihan ekonomi juga akan bergantung pada bantuan Barat (Uni Eropa dan AS) yang bukan tanpa pamrih. Perdagangan dan industri belum tentu bisa dipulihkan dengan cepat. Di sisi lain, integrasi Ukraina ke Uni Eropa juga tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Konflik ini mencerminkan pepatah “gajah berkelahi dengan gajah, pelanduk mati di tengah.” Namun demikian konflik dalam forum Dewan Keamanan PBB, bisa membawa konsekuensi hubungan ekonomi dan embargo. Bisnis di antara negara Barat dan Rusia pun akan memperoleh imbas yang bisa menyakitkan.

Semula menyangkut sengketa hubungan politik dan ekonomi condong ke Rusia seperti pemerintahan Viktor Yanukovych yang terguling atau condong ke Uni Eropa seperti sekarang dipilih oleh presiden sementara, Oleksandr Turchynov. Krisis ini belum juga selesai, Ukraina harus mengatasi masalah Crimea yang mayoritas penduduknya dari etnis Rusia menolak pemerintah baru dan  akan memisahkan diri.

Rusia tampaknya akan “kehilangan” Ukraina setelah oposisi menang dan berkiblat ke Barat, tetapi masih bersikeras tidak mau “kehilangan” Crimea. Semenanjung ini bukan sekadar wilayah seluas 26.000 kilometer persegi  dan angkatan laut Rusia menempatkan kekuatan yang besar di sana.

Crimea memang “pintu” penting bagi Rusia, termasuk dalam relasinya dengan Turki, Irak, Iran, dan tentu saja menyangkut konflik di Suriah, mitranya. Dukungan Rusia terhadap rezim Bashar Al-Assad membuat pemerintah ini masih bertahan dalam perang tiga tahun. Sementara pemerintah Timur Tengah lainnya tumbang oleh hembusan angin Musim Semi Arab yang menimbulkan gelombang pemberontakan.

Namun bagi Rusia, Crimea bisa jadi pantas dipertaruhkan lebih terkait pada kebanggan nasional Rusia yang terluka dan munculnya nasionalisme baru Rusia. Crimea terkait dengan masa lalu Rusia dalam hubungan dengan Barat yang penuh luka, dan konflik Timur-Barat dalam perang dingin yang panjang.

Sejarah mencatat, sejak berabad-abad lampau Crimea sudah menjadi rebutan. Daerah yang dulu bernama Tauris atau disebut Tavrida oleh masyarakat Rusia itu dipandang sebagai rumah bagi berbagai suku bangsa.

Sayang, kehidupan di sana mulai berubah ketika suku Cimmerian dan Scynthian melalukan invasi ke Tauris.  Tindakan tersebut kemudian mendorong kolonis Yunani masuk ke wilayah Tauris pada abad ke- 6 Sebelum Masehi (SM).

Bagian timur Tauris lalu dijadikan pusat kerajaan Yunani, Bosporan. Sedangkan bagian baratnya, dikuasai oleh kolonis Yunani dari suku Heracleia yang menemukan wilayah Sevastopol, ibu kota Criema sekarang.

Akan tetapi sejarah juga mencatat, Yunani tidak pernah sukses menguasai seluruh wilayah Tauris. Kendati tidak pernah sepenuhnya dikuasai Yunani dan kerajaan Bosporan jatuh ke tangan kerajaan Byzantine, banyak penduduk Yunani memilih tetap tinggal di Crimea.

Selain kerajaan Byzantine, pihak lain yang juga memperluas wilayah kekuasaannya ke Crimea adalah bangsa Romawi. Tercatat, perluasan kekuasaan itu dilakukan  pada abad ke-1 dengan membangun pusat-pusat militer di wilayah-wilayah strategis di Crimea,  khususnya di sepanjang pantai.

Crimea memang tidak pernah berhenti menjadi rebutan. Semenanjung itu seperti magnet. Sebelum jatuh ke tangan kekuasaan Uni Soviet, terakhir wilayah tersebut dikuasai oleh kerajaan Tatar.

Di bawah pemerintahan Tatar, Crimea untuk kali pertamanya memiliki ibu kota, yakni di Qirim atau sekarang Stary Krym. Ibu kota Crimea di Stary Krym sayangnya hanya bertahan sampai abad ke-15 dan kemudian dipindahkan ke Bakhchisarai, lalu pindah lagi ke Sevastopol sampai sekarang.

Ketika Joseph Stalin memegang tampuk kekuasaan di Uni Soviet pada 1922 – 1953, Stalin mengusir seluruh suku di Crimea, termasuk suka bangsa Tatar. Namun, pembersihan suku itu tentu saja tidak pernah sampai tuntas, buktinya hingga saat ini warga Crimea keturunan Tatar masih ada di sana.

Pada 1954 atau setahun setelah Stalin wafat, kepemimpinan Uni Soviet dipegang oleh Nikita Khrushchev. Ketika itulah kesalahan besar terjadi dan menjadi bumerang saat ini. Secara sepihak, Khrushchev memberikan Crimea kepada Ukraina dengan status daerah otonomi khusus.

“Uni Soviet menyerahkan Provinsi Crimea dari Republik Rusia pada Republik Ukraina untuk bertanggung jawab secara hukum, ekonomi, dan teritorial sehingga mengikatkan hubungan antara Provinsi Crimea dengan Republik Ukraina. Semua itu mendapat persetujuan dari Presidium of the Russian Republic Supreme Soviet dan the Presidium of the Ukraine Republic Supreme Soviet,” demikian bunyi dekrit yang diterbitkan Khrushchev dan dipublikasikan oleh surat kabar milik pemerintah Uni Soviet pada 27 Februari 1954.

Lalu, mengapa Khrushchev baik hati sekali hingga memberikan Crimea pada Ukraina? Menurut Lewis Siegalbaum, sejarawan dari Michigan State University, keputusan Khrushchev itu tidak dibuat dalam tempo sehari.

Ada banyak perkiraan ketika itu, di antaranya Khrushchev melihat Crimea dan Ukraina memiliki kesamaan ekonomi. Bukan hanya itu, setelah pemerintahan Stalin yang dikenal sangat kejam, Khrushchev muncul dengan gagasan ingin mendemokratisasi sistem dan membuatnya tidak lagi terfokus pada pemerintahan pusat.

Sedangkan, Nina Khrushcheva, cicit Khrushchev, mengatakan walaupun buyutnya berdarah Rusia, dia memiliki kedekatan yang cukup besar dengan Ukraina. Masa remaja Khrushchev dihabiskan dengan bekerja di sejumlah pertambangan di Ukraina.

Di bawah Traktat Persahabatan, Kerja Sama, dan Kemitraan yang ditandatangani Moskwa dan Kiev pada 1997, Rusia diberi hak untuk tetap menggunakan pangkalan laut Sevastopol dan mempertahankan Armada Laut Hitam Rusia di Crimea hingga 2017.

Menurut perjanjian antara Rusia dan Ukraina tentang keberadaan Armada Laut Hitam Rusia di wilayah Ukraina, Rusia kapan pun boleh menempatkan 388 kapal (termasuk 14 kapal selam diesel) di wilayah perairan dan darat Ukraina. Selain itu, Rusia juga diizinkan menempatkan 161 pesawat di lapangan terbang sewaan di Gvardeiskoye (sebelah utara Simferopol) dan Sevastopol. Ini hampir sama dengan ukuran angkatan laut Turki, meski pada kenyataannya jumlah kapal dan pesawat Rusia yang berada di Crimea jauh lebih sedikit dari angka-angka tersebut.

Perjanjian awal ditandatangani untuk periode 20 tahun. Perjanjian tersebut akan otomatis diperpanjang untuk periode lima tahun kecuali salah satu pihak secara tertulis memberi tahu pihak lain tentang keputusannya untuk mengakhiri perjanjian setahun sebelumnya. Perjanjian kedua yang ditandatangani di Kharkiv pada 2010 memperpanjang durasi keberadaan Armada Laut Hitam Rusia di Sevastopol hingga 2042.

Pasca reunifikasi, Rusia telah meningkatkan pengaruhnya di Crimea dalam bidang sosial, politik dan ekonomi karena menganeksasi wilayah itu setahun yang lalu. Rusia mulai melarang siaran televisi Ukraina. Bahasa Rusia, Ukraina dan Tatar dimasukkan sebagai bahasa resmi daerah itu.

Sejak 17 Maret 2014 lalu, reunifikasi Crimea dengan Rusia telah menjadi kenyataan menyusul adanya referendum dimana 96,8 persen rakyat Crimea mendukung penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia. Pada 21 Maret 2014 lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dokumen resmi menjadi sebuah undang-undang, sehingga sejak saat itu Crimea resmi menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Rusia.

Pemisahan Crimea dari Ukraina juga akan membatasi ekspansi NATO ke timur pada waktu aliansi militer itu berusaha untuk mengerahkan pasukannya di halaman belakang Rusia. Perang kata-kata terus bertambah sengit antara Presiden AS Barack Obama dan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin atas Crimea.

Crimea menyatakan kemerdekaan dari Ukraina pada 17 Maret dan secara resmi diterapkan untuk menjadi bagian dari Rusia setelah referendum sehari sebelumnya, di mana 96,8 persen dari rakyat memberikan suara yang mendukung langkah itu. Jumlah pemilih dalam referendum mencapai 83,1 persen. AS dan Uni Eropa (UE) dengan cepat memberlakukan sanksi terhadap Rusia setelah pemisahan Crimea.

Selama ini, Crimea merupakan sebuah kota di Ukraina yang menjadi pusat sentimen pro-Rusia di negara itu. Wilayah ini berada di semenanjung Laut Hitam dan memiliki sekitar 2,3 juta penduduk yang sebagian besar di antaranya berasal dari etnis Rusia dan berbahasa Rusia.

Wilayah ini juga menjadi basis kuat pendukung presiden Viktor Yanukovych dalam pemilihan presiden tahun 2010. BBC melansir, banyak penduduk di Crimea percaya bahwa mereka adalah korban kudeta sehingga melakukan aksi separatis di parlemen Krimea untuk mendorong referendum untuk berpisah dari Ukraina.

Rusia telah menjadi kekuatan dominan di Crimea sejak 200 tahun terakhir karena sempat menguasai kota itu pada tahun 1783 meski akhirnya menjadi milik Ukraina sejak pecahnya Uni Soviet.

Selain itu, warga minoritas beragama muslim Tatar di wilayah ini sangat banyak, hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah warga mayoritas di Ukraina, namun dideportasi oleh pemimpin Soviet, Joseph Stalin pada tahun 1944 karena diduga ikut bekerja sama dengan penjajah Nazi di Perang Dunia II.

Menurut sensus yang dilakukan pada tahun 2001, etnis Ukraina terdiri 24 persen populasi di Crimea, dibandingkan dengan 58 persen Rusia dan 12 persen Tatar. Etnis Tatar sendiri dikabarkan telah kembali sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 yang menyebabkan ketegangan terus-menerus di wilayah itu.

Secara hukum, Crimea adalah bagian dari Ukraina, ditambah lagi Rusia sudah berjanji untuk menjunjung tinggi integritas wilayah Ukraina dalam sebuah memorandum yang ditandatangani juga oleh AS, Inggris dan Perancis pada tahun 1994.

Dalam memorandum itu disebutkan, Crimea adalah sebuah republik otonom di Ukraina, dan memiliki hak melakukan pemilihan parlemen sendiri. Meskipun begitu, jabatan presiden Krimea sudah dihapuskan pada tahun 1995. Sejak saat itu, pemerintah Ukraina telah menunjuk seorang perdana menteri khusus dari Crimea.

Rusia sendiri sudah memiliki pangkalan angkatan laut utama di kota Crimea bernama Sevastopol yang merupakan Rusia menaruh Armada Laut Hitamnya. Menurut ketentuan sewa, setiap Rusia ingin melakukan pergerakan militer wilayah itu, maka pemerintah Ukraina juga harus mengetahuinya.

Namun sejak konflik Crimea dimulai, Rusia dikabarkan sudah mengirimkan pasukan tambahan tanpa sepengetahuan pemerintah Ukraina untuk menguasai wilayah itu. Rusia  mengklaim, aksi ini dilakukan karena mereka bertanggung jawab atas keselamatan etnis Rusia di Crimea.

Parahnya lagi, presiden Rusia, Vladimir Putin telah memperoleh persetujuan dari parlemen untuk menginvasi Ukraina secara keseluruhan. Penyebab utamanya adalah karena Rusia menganggap pemerintah baru Ukraina bersikap fasis.

BBC menyebutkan, sebenarnya sulit untuk menyingkirkan pertumpahan darah di Crimea, karena langkah Rusia ini pasti akan membuat marah kaum nasionalis di Ukraina barat. Selain itu, aksi Rusia ini juga bisa memberikan dampak secara internasional, di mana negara-negara Barat telah mengecam keras pengambilalihan Crimea oleh Rusia.

NATO sendiri menyatakan tidak mungkin untuk bereaksi secara militer, tetapi negara Eropa Tengah dapat meningkatkan penyebaran pasukan di perbatasan Polandia Ukraina. Di samping itu, negara Barat juga bisa menjatuhkan sanksi meski Presiden Putin percaya mereka tidak akan melakukan itu seperti yang terjadi selama perang Georgia.

Sebelumnya, pada tahun 2008, Rusia pernah mengirim pasukan dalam jumlah besar ke wilayah Ossetia Selatan pada tahun 2008 untuk melindungi warga Rusia di wilayah itu. Efeknya adalah, Georgia langsung mengerahkan pasukan dan NATO memutuskan untuk tidak ikut campur.

Namun, kenyataannya adalah Crimea lebih besar dari Ossetia Selatan, Ukraina lebih besar dari Georgia, dan penduduk Crimea lebih pro-Rusia dibandingkan Ossetia Selatan. Dua buah sisi yang jauh berbeda.

Menurut analisis militer Michael Snyder, Rusia tidak akan pernah menyerahkan Crimea tanpa melakukan perlawanan. Basis utama armada Laut Hitam di Sevastopol terlalu penting dan sangat strategis bagi Rusia. Apalagi 60 persen penduduk Crimea merupakan etnis Rusia, sehingga masuk akal jika sebagian besar penduduknya bersikap pro Rusia.

Rusia telah menjadi bahasa wajib di sekolah-sekolah, sedangkan dua lainnya adalah bahasa opsional. Selain itu, pelajaran Alkitab ditambahkan ke dalam jadwal buku kelas satu. Jam juga dicocokkan dengan waktu Moskow dan pemerintahan baru Crimea mewajibkan etnis Crimea mengambil kewarganegaraan Rusia.

Pemerintah Moskow telah mengutamakan bidang militer di wilayah Crimea dan menyebarkan sekitar 40.000 tentara dengan tank, kapal dan pesawat tempur di kota pelabuhan Sevastapol, satu tahun setelah aneksasi.

Rusia menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB Sabtu (15/3/2014), memblokir resolusi mengecam referendum yang dijadwalkan Minggu (16/3/2014) di wilayah Ukraina Crimea. Sehingga, wilayah semenanjung Laut Hitam memisahkan diri dari negara Ukraina dan bergabung dengan Rusia. Resolusi itu diajukan setelah duta besar Ukraina untuk PBB memperingatkan pasukan Rusia telah menyeberangi perbatasan Crimea ke daratan Ukraina.

Di kantor pusat PBB, Amerika Serikat mengajukan resolusi dalam upaya strategis untuk menunjukkan tingkat isolasi politik Rusia, dan berusaha menegaskan kembali integritas teritorial, kedaulatan, dan kemerdekaan Ukraina. AS juga menyerukan negara-negara untuk tidak mengakui hasil referendum. Meskipun tidak diadopsi, usaha itu dianggap berhasil karena China—sekutu dekat Moskow dan anggota dewan dengan hak veto—memilih abstain bukan berpihak kepada Rusia.

Dalam sambutannya kepada dewan, utusan China mendesak pembentukan cepat suatu mekanisme koordinasi internasional untuk mengeksplorasi penyelesaian politik. Dia juga mengatakan semua pihak harus menahan diri dari tindakan yang akan meningkatkan ketegangan. China juga menyarankan lembaga-lembaga keuangan internasional harus mengeksplorasi bagaimana mempertahankan stabilitas ekonomi dan keuangan Ukraina

Manuver simbolis Dewan Keamanan tidak mungkin untuk mengubah pikiran Moskow dan atau menurunkan situasi, apalagi menggagalkan referendum, yang terjadi 16 Maret lalu. Pasukan Rusia telah berkumpul di perbatasan Ukraina-Rusia dan di wilayah republik otonom Crimea. Duta Besar Ukraina untuk PBB, Yuriy Sergeyev, mengatakan kepada dewan bahwa agresi militer Rusia itu terus bertambah.

Mencermati perkembangan tersebut, Global Future Institute berpandangan bahwa  bergabungnya kembali Crimea kepada Rusia, akan menciptakan keseimbangan kekuatan antara Washington dan Moskow. Sekaligus akan kembali memperluas lingkup pengaruh Moskow di Ukraina. Seraya pada saat yang sama, berpisahnya Crimea dari Ukraina, akan membatasi ekspansi Amerika dan NATO ke “wilayah halaman belakang” Rusia.

Maka tidak heran jika beberapa media melansir berita bahwa saat ini 100 ribu pasukan Rusia telah berada di daerah perbatasan Ukraina, dan siap menunggu perintah Presiden Putin untuk melancarkan serangan ke wilayah Ukraina. Sehingga kehadiran militer Rusia tidak akan berhenti sampai di Crimea saja. Melainkan akan merangsek masuk, ke wilayah Ukraina.

Ihwal kehadiran 100 ribu pasukan Rusia di wilayah perbatasan Ukraina tersebut telah diperkuat oleh pernyataan Ketua Dewan Keamanan Nasional  Ukraina Andriy Parubly kepada Voice of America 28 Maret 2014. Menurut keterangan Parubly, Rusia telah menempatkan 100 ribu tentaranya di perbatasan Ukraina di Utara, Selatan dan Timur.

Bahkan Presiden Obama pun mengakui bahwa berdasarkan informasi Departemen Pertahanan, Rusia memang terus memperkuat pasukannya di tiga wilayah perbatasan tersebut, meskipun belum jelas maksud dari penempatan pasukannya di tiga wilayah perbatasan tersebut.

Begitupun, Rusia nampaknya memang tidak main-main. Seperti berita yang dilansir Interfax  28 Maret lalu, Rusia telah menyiagakan Rudal Strategisnya yang dikenal dengan SMF. Selain itu, pemegang otoritas pertahanan di Moskow telah memerintahkan Kapal Selam Dolgoruki yang membawa Rudal Nuklir Bulava, untuk meninggalkan pangkalannya di Severodvinsk di Utara Rusia.

Adanya perintah untuk menggerakkan Kapal Selam Dolgoruki dan Rudal Nuklir Bulava nampaknya harus dibaca sebagai bentuk kesiapan perlawanan Rusia terhadap manuver militer AS dan NATO, menyusul sikap permusuhan terang-terangan Amerika dan Uni Eropa menyusul perkembangan yang cukup menguntungkan Rusia di Crimea. Ketika 98,6 persen rakyat Crimea menyatakan setuju penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia.

Betapa tidak. Kapal Selam Dolgoruki, selain membawa Rudal Bulava yang merupakan jenis senjata nuklir terkuat di dunia yang dimiliki Rusia saat ini, kapal selam Yuri Dolgoruki ini merupakan kapal selam yang paling ditakuti Amerika dan NATO karena pergerakannya yang sulit dideteksi radar.

Bahkan NATO menjuluki kapal selam Yuri Dolgoruki sebagai “The Silent Killer” karena kecanggihannya untuk menghilang dari pantauan radar militer pihak musuh. Dan mampu meluncurkan Rudal Bulava berdaya jangkau 10 ribu kilometer dari perairan manapun di dunia. Bulava mampu membawa 6 hingga 10 hulu ledak nuklir masing-masing berkekuatan 100 hingga 150 kiloton.

Beberapa indikasi lain yang mempertunjukkan kesiapsiagaan pasukan Rusia untuk tidak hanya  berhenti sampai Crimea saja, melainkan akan menyerbu Ukraina, bisa dilihat melalui beberapa pertanda:

  1. Banyak kendaraan militer Rusia yang bergerak ke Crimea.
  2. Kendaraan militer Rusia tertangkap kamera sudah berada di alun-alun utama Sevastopol.
  3. Jet Tempur Rusia terbang dekat perbatasan Ukraina dalam kondisi siaga perang.
  4. Rusia telah memerintahkan latihan militer dadakan di sepanjang perbatasan Ukraina.
  5. Sehubungan dengan latihan tersebut, dilaporkan bahwa Rusia telah mengerahkan 150 ribu tentara di perbatasan Ukraina.
  6. Rusia telah menempatkan sekitar 26 ribu prajuritnya di pangkalan angkatan lautnya di Sevastopol.
  7. Kapal Rusia yang membawa pasukan tambahan sudah terlihat di lepas pantai Crimea. Kapal pendaratan besar Rusia, Nikolai Filchenko, sudah berlabuh di dekat pangkalan Armada Laut Hita Rusia di Sevastopol, yang disewa Rusia dari Ukraina sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.
  8. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu membuat pernyataan di hadapan wartawan Rabu 26 Februari lalu, bahwa Rusia akan mengambil langkah-langkah untuk menjamin apa yang dia istilahkan “keamanan fasilitas kami.”
  9. Seorang pejabat Rusia yang tak mau disebut namanya berkata pada Financial Times bahwa Rusia hendak menggunakan kekuatan militernya untuk melindungi Crimea. Sebelumnya Moskow mengungkapkan bahwa mereka siap untuk berperang demi wilayah Crimea guna melindungi penduduk yang jumlahnya besar dan instalasi militer. Pejabat Rusia tersebut berkata pada Financial Times:” Jika Ukraina tercabik, itu akan memicu perang. Mereka pertama-tama akan kehilangan Crimea karena kami akan masuk dan melindungi itu, seperti yang kami lakukan di Georgia.”
  10. Para Pejabat Di Sevastopol telah menempatkan warga negara Rusia sebagai walikota.
  11. Sekitar 120 orang bersenjata pro Rusia telah mengambil-alih gedung parlemen Crimea dan mengibarkan bendera Rusia.
  12. Tersiar rumor bahwa pemerintah Rusia telah menawarkan perlindungan pada Presiden Ukraina terguling, Viktor Yanukovich.

Kantor berita Rusia bahkan melaporkan bahwa Yanukovich berada di Rusia, namun para pejabat belum memberikan konfirmasinya.

Nampaknya, betapapun kerasnya upaya AS dan Uni Eropa untuk mempertahankan lingkup pengaruhnya di Ukraina, Rusia akan tetap mempertahankan Crimea yang punya akses langsung untuk menguasai Ukraina. Sebagaimana Rusia juga gigih dalam mempertahankan Osetia Selatan dan Abkhazia di Georgia beberapa tahun yang lalu.
Sebelumnya, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki, menegaskan bahwa Amerika Serikat akan terus memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia, Senin (16/3), jika tidak menyerahkan Crimea kepada Ukraina. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini menambahkan bahwa Uni Eropa tidak mengakui aneksasi yang dilakukan Rusia terhadap Crimea, serta tetap menggulirkan sanksi kepada Rusia.

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah melayangkan penawaran berupa pencabutan sanksi atas semenanjung aneksasi laut hitam tahun lalu kepada Rusia jika mengembalikan Crimea ke Ukraina. Namun, penawaran tersebut tidak disambut baik pemerintah Rusia. Pasalnya, Rusia kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerahkan Crimea kepada Ukraina.

Barat terkesima, tak percaya Vladimir Putin menginvasi Ukraina. Semua diplomat Jerman, birokrat euro Prancis dan intelektual Amerika tertegun bertanya-tanya, mengapa Rusia memilih mempertaruhkan hubungan bernilai triliunan dolarnya dengan Barat?

Para pemimpin Barat terpaku tak mengira para penguasa Rusia tak lagi menghormati Eropa seperti mereka perlihatkan usai Perang Dingin.  Rusia tidak lagi menganggap Barat aliansi pembebas. Rusia kini menganggap semua yang ada di benak Barat melulu uang.

Para tangan kanan Putin tahu sekali soal ini. Selama bertahun-tahun para penguasa Rusia telah membeli Eropa.  Orang-orang Rusia mempunyai mansion dan flat mewah dari West End di London sampai Cote d’Azure di Prancis.

Anak-anak Rusia belajar di sekolah-sekolah khusus nan elite di Inggris dan Swiss, sedangkan uang mereka diparkir di bank-bank Austria dan ditampung sistem pajak rendah Inggris.

Lingkaran terdalam kekuasan Putin tak lagi takut terhadap sikap Eropa. Mereka kini tahu betul siapa Eropa. Mereka bisa langsung melihat betapa penjilatnya para aristokrat dan konglomerat Barat itu yang matanya berubah berbinar setiap kali miliaran dolar uang Rusia dimainkan.

Rusia sekarang menganggap Barat munafik karena elite-elite Eropalah yang justru membantu orang-orang Rusia menyembunyikan kekayaannya. Sekali waktu Rusia menyimak saat kedubes-kedubes Eropa mengutuk korupsi di BUMN-BUMN Rusia. Tapi sekarang tidak lagi. Karena Rusia tahu sekali bahwa para bankir, pengusaha dan pengacara Eropa justru melakukan kerja kotor bagi orang-orang Rusia untuk menyembunyikan uang hasil korupsi mereka di Antila Belanda dan Kepulauan Virgin, Inggris.

Kita tidak sedang membahas uang yang banyak, melainkan uang yang sangat banyak. Bank sentral Rusia memperkirakan dua pertiga dari 56 miliar dolar AS uang yang ada di Rusia pada 2012 ada kaitannya dengan kegiatan-kegiatan ilegal, hasil berbagai kejahatan seperti pungli, uang narkotika atau penggelapan pajak. Ini adalah uang yang digulungkan para bankir kaya raya Inggris sebagai karpet merah demi masuknya orang Rusia ke London.

Di balik korupsi Eropa, Rusia melihat kelemahan Amerika. Kremlin tak yakin negara-negara Eropa, kecuali Jerman, benar-benar independen dari Amerika Serikat. Rusia kini melihat Eropa tak lebih dari negara-negara klien yang bisa dipaksa Washington, untuk tidak berbisnis dengan Kremlin.

Namun ketika Rusia menyaksikan Spanyol, Italia, Yunani dan Portugal saling menyisihkan dalam tender menjadi mitra bisnis terbaik Rusia dalam Uni Eropa, mereka melihat kontrol Amerika atas Eropa perlahan memudar.

Di Moskow, Rusia menyimak kelemahan Amerika di luar Kedubes Moskow. Suatu waktu Kremlin khawatir petualangan asing akan memicu sanksi ekonomi ala Perang Dingin yang merugikannya seperti larangan ekspor komponen-komponen kunci bagi industri minyaknya atau bahkan diputusnya akses ke sektor perbankan Eropa. Kini kekhawatiran seperti ini tidak ada lagi.

Rusia melihat Amerika bingung karena perjudian Putin di Ukraina menggoyahkan kebijakan luar negeri AS yang lebih memilih membicarakan China atau berpartisipasi dalam perundingan damai Israel-Palestina.

Rusia melihat Amerika rentan: di Afghanistan, di Suriah dan di Iran di mana Amerika Serikat kini amat sangat memerlukan dukungan Rusia untuk melanjutkan pengapalan pasokan-pasokannya, menuanrumahi konferensi perdamaian atau menguatkan sanksi Barat ke Iran.

Moskow tidak gugup. Para elite Rusia telah mengekspos Barat dengan cara luar biasa dengan menawan properti-properti dan rekening-rekening bank Eropa.

Secara teoritis, ini membuat Barat rentan mengingat penarikan dana secara tiba-tiba oleh adanya investigasi pencucian uang dan larangan visa, bisa memangkas kekayaan mereka. Dari masa ke masa Rusia menyaksikan betapa pemerintah-pemerintah Eropa menolak meloloskan undang-undang yang mirip dengan UU Magnistky AS yang mencegah para pemimpin kriminal memasuki Amerika Serikat.

Semua ini membuat Putin percaya diri, sangat percaya diri, percaya bahwa elite Eropa lebih tertarik pada uang ketimbang menghadapinya.

Ini buktinya. Setelah pasukan Rusia mencapai pinggiran Tbilisi, ibukota Georgia, pada 2008, rangkaian pernyataan dan gertakan keluar dari Barat, namun saat dihadapkan pada miliaran dolar dana Rusia, mereka menjadi ciut. Lalu, setelah para tokoh oposisi Rusia diadili, Uni Eropa mengirim surat keprihatinan, tapi sekali lagi mereka bungkam saat miliaran dolar uang Rusia tersaji di hadapan mereka.

Kremlin kini tahu rahasia perang kotor Eropa.  Kremlin tahu pasti sikap Eropa. Orang-orang bermuka masam yang mengendalikan Rusia di era Putin melihat Barat seperti para politisi di akhir masa Soviet.

Menengok era 1980-an, USSR (Uni Soviet) berbicara soal Marxisme internasional padahal Soviet tak lagi mempercayainya.

Kini, Brussels, menurut Rusia, berbicara soal hak asasi manusia tapi mereka sendiri tidak lagi mempercayainya. Eropa sungguh sudah dikendalikan oleh elite bermoralitas hedge fund (pengelola dana atau pialang): Keduk uang dengan cara apa saja, lalu parkir uang itu di luar negeri.