Progresivitas Pertahanan Beruang Merah

Langkah Rusia menambah sejumlah banyak rudal nuklir lintas benua baru di gudang-gudang senjatanya, memicu reaksi keras Barat. Terkait hal ini Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal NATO, seperti dikutip media pada 16 Juni 2015 menyebut langkah Rusia menambah sejumlah banyak rudal nuklirnya, tidak rasional dan berbahaya. Ia menuduh Moskow sedang unjuk kekuatan nuklir dan langkah tersebut menurutnya tidak rasional, faktor instabilitas dan berbahaya.

Stoltenberg menjelaskan, NATO berusaha menangani masalah ini dan hal tersebut menjadi salah satu sebab ditingkatkannya kesiapan pasukan NATO. Rusia, katanya, secara umum telah menambah investasinya di bidang pertahanan dan secara khusus di bidang nuklir. Di saat yang sama, Amerika Serikat mengaku cemas dengan keputusan Rusia menambah sejumlah besar rudal-rudal nuklir lintas benuanya.

Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Robert Work menuding Rusia bermain api dengan memamerkan kekuatan senjata nuklir. Dia melanjutkan, pihak Pentagon bersikeras mencegah Rusia untuk memperoleh keuntungan militer dari melanggar Perjanjian Rudal Nuklir Jarak Menengah (INF Treaty).

Work menegaskan, Pemerintah Rusia gagal menggunakan kekuatan militernya untuk mengintimidasi negara-negara tetangga. Menurut dia, langkah Rusia tersebut justru membuat negara anggota NATO semakin bersatu. Work juga mengkritik strategi ‘eskalasi untuk deeskalasi’ yang dilancarkan Rusia.

Di depan Dewan Perwakilan Rakyat AS, Work mengatakan modernisasi dan menjaga kekuatan nuklir AS pada tahun-tahun ke depan akan menghabiskan 7 persen anggaran pertahanan, meningkat dari situasi sekarang yang menggunakan 3-4 persen anggaran. Work memperingatkan, bila tidak ada sumber dana tambahan, pihaknya terpaksa mengambil dana dari program lain.

Kini AS berencana memulai usaha jangka panjang memodernisasi senjata nuklir yang sudah berumur, seperti senjata, kapal selam, peluncur bom, dan rudal balistik. Biaya rencana tersebut diperkirakan mencapai USD355 miliar atau sekira Rp4.732 triliun dalam 10 tahun hingga USD1 triliun atau sekira Rp13.331 triliun dalam 30 tahun.

John Kerry, Menteri Luar Negeri Amerika, dalam perkembangan yang sama terkait masalah ini mengatakan, langkah Rusia adalah sebuah bentuk kemunduran, pasalnya  kedua negara (AS dan Rusia) sudah menandatangani kesepakatan START (Strategic Arms Reduction Treaty). Traktat itu dimaksudkan untuk menurunkan tensi persaingan senjata antara Amerika dan Rusia. Menlu Amerika menerangkan bahwa keputusan Moskow untuk menambah 40 rudal balistik lintas benuanya, juga bertentangan dengan kesepakatan dua negara, Juli 1991 tentang pengurangan jumlah gudang senjata nuklir.

Sekalipun penambahan jumlah rudal nuklir lintas benua Rusia mendapat reaksi negatif dari Barat, namun Moskow secara serius terus melakukan modernisasi gudang-gudang senjatanya. Sehubungan dengan hal ini, Vladimir Putin, Presiden Rusia menegaskan bahwa pada tahun 2015, lebih dari 40 rudal lintas benua berhulu ledak nuklir, ditambahkan ke gudang senjata negara itu. Menurut Putin, rudal-rudal nuklir baru ini dapat menerobos seluruh sistem anti-rudal. Modernisasi militer Rusia, khususnya terkait gudang senjata nuklir, termasuk strategi unggulan militer Rusia yang digarap secara aktif dalam beberapa tahun terakhir.

Ucapan Putin menanggapi serangan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyebutkan Istana Kremlin telah melakukan pelanggaran terang-terangan atas kedaulatan Ukraina dengan mengerahkan pasukan bersenjata demi membantu separatis pro-Rusia.

Putin pun membandingkan pengepungan pemberontak di dua kota yakni Donetsk dan Luhansk seperti pengepungan Kota Leningrad oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Pemimpin negara bekas Uni Sovyet itu menegaskan Rusia merupakan salah satu kekuatan nuklir terbesar sejagat dan ini bukan sekedar kata-kata.

Doktrin baru militer Rusia yang ditandatangani Putin pada Desember 2014, membuka kemungkinan penggunaan senjata-senjata nuklir dengan memperhatikan situasi dan target-target musuh potensial. Pada situasi ketika keamanan nasional Rusia terancam, serangan nuklir ke pihak agresor, termasuk serangan preventif, bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan bahwa negaranya akan menambahkan dan mengembangkan kekuatan nuklir mereka pada tahun 2015. Presiden Putin berjanji akan memasukan puluhan rudal balistik antar benua ke dalam gudang senjata nuklir Rusia.

Putin mengumumkan hal tersebut sehari setelah pejabat Rusia mengecam rencana Amerika Serikat menempatkan tank dan persenjataan berat di negara anggota NATO, yang berbatasan dengan Rusia, sebagai bentuk ulah paling agresif Amerika Serikat sejak Perang Dingin.

Pernyataan tersebut disampaikan pemimpin Negeri Beruang Merah saat membuka Forum Teknik Militer (ARMY 2015) di Moskow. Putin mengatakan, rudal-rudal yang akan dikembangkan Rusia mampu menghancurkan setiap sistem pertahanan udara yang pernah ada, termasuk sistem pertahanan yang dimiliki oleh Amerika Serikat (AS).

“Ada lebih dari 40 rudal balistik antar benua baru yang akan menambah dan melengkapi amunisi nuklir kami tahun ini. Rudal itu bisa mengatasi apapun, bahkan bisa mengatasi sistem pertahanan udara tercanggih yang ada,” ungkap Presiden Putin, seperti dilansir The Independent, Rabu (17/6/2015).

Menurut ahli militer yang juga kepala Center for Strategic Trends Studies, Ivan Konovalov mengatakan Rusia sedang mengganti rudal balistik antarabenua (ICMB) usang yang dioperasikan dan diproduksi Ukraina.

Kini ICMB baru diproduksi oleh Rusia sendiri. Saat ini, lebih dari 330 unit senjata dan peralatan militer Rusia adalah yang paling baru dan modern. Putin mengatakan 70 persen peralatan militer yang digunakan Rusia pada 2020 akan menjadi peralatan dengan kualitas paling baru.

Rusia memang terus berupaya memperkuat kekuatan militer mereka, baik untuk pertahanan ataupun penyerangan. Negeri Beruang Merah itu terus menerus mengembangkan senjata, alat tempur, dan sistem pertahanan baik udara maupun darat yang mereka miliki.

Sementara itu, pernyataan Putin ini muncul di tengah rencana AS untuk menempatkan sistem pertahanan rudal terbaru mereka di Eropa. AS berencana akan menempatkan sistem pertahanan rudal tersebut di Eropa Timur dan sekitarnya.

Pemberitaan dari agen-agen informasi Barat yang menyatakan bahwa pemerintahan Obama sedang mengerjakan rencana penempatan roket balistik dan rudal jelajah darat di Eropa sebagai jawaban atas ketidakpatuhan Rusia terhadap Perjanjian Penghapusan Roket Nuklir Jarak Menengah dan Pendek (Intermediate Range-Nuclear Forces Treaty/INF), tidak hanya telah berhasil menarik perhatian terhadap perjanjian yang berumur hampir 30 tahun tersebut, tetapi juga berhasil memprovokasi reaksi balasan dari Pemerintah Rusia.

Perjanjian INF yang disepakati pada tahun 1987 ini mengatur likuidasi semua jenis roket dengan radius jangkauan dari 500 sampai 5.500 kilometer. Perjanjian tersebut menjadi peristiwa penting saat itu, ketika wilayah Eropa dinilai sebagai panggung utama dari kemungkinan berlangsungnya konflik senjata antara AS dan Uni Soviet.

Dengan memiliki waktu terbang mengenai sasaran yang cepat, roket-roket jenis ini dapat memberikan hasil krusial dalam peperangan. Roket ini ditugaskan untuk melakukan salah satu tugas terpenting dalam peperangan, yaitu menghancurkan sistem kontrol komando pasukan. Keputusan melikuidasi senjata tersebut tidak hanya menurunkan ketegangan konfrontasi militer di Eropa saja, tetapi juga menjadi dasar bagi pengurangan jumlah senjata-senjata konvensional di Eropa setelahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS kerap mengangkat isu seputar INF. Pada akhir tahun 2013 lalu, media massa AS untuk pertama kalinya memublikasikan informasi bahwa Washington mencurigai Rusia atas pelanggaran perjanjian INF. Rincian dari pretensi AS tersebut tidak diketahui. Para pakar memperkirakan bahwa pretensi tersebut berhubungan dengan dua senjata roket perspektif milik Rusia, yaitu roket balistik RS-26 Rubezh dan rudal jelajah R-500.

Namun demikian, Rubezh secara resmi tidak tercakup dalam INF karena jarak tempuh maksimum roket ini melebihi batas atas yang telah ditetapkan dalam INF. Akan tetapi, spesifikasi dari program uji coba (roket ini berhasil menjelajahi jarak di bawah 5.500 kilometer) memunculkan pendapat bahwa tujuan utama dari roket ini adalah pelumpuhan sasaran pada jarak menengah. Sementara, terkait R-500, jarak maksimal dari roket ini menjadi perdebatan apakah roket ini melampaui batas bawah dari perjanjian INF sejauh 500 kilometer.

Baik Moskow maupun Washington mengakui bahwa aktualitas dari penolakan kepemilikan senjata roket jarak pendek dan menengah terus menurun setiap harinya, terutama dari pihak Rusia. Ini terjadi khususnya setelah teknologi serupa secara aktif dikembangkan oleh negara-negara tetangganya, seperti Tiongkok, Iran, dan Korea Utara. Baru beberapa tahun lalu, di Rusia berjalan diskusi secara aktif membahas mengenai seberapa besar relevansi INF dengan kepentingan Rusia masa kini. Angkatan bersenjata Rusia pun secara langsung mengutarakan opsi untuk keluar dari perjanjian tersebut.

Selain itu, pihak Rusia perlu memahami bahwa setiap usaha untuk mengembalikan senjata roket jarak pendek dan menengah, walau mengikuti jalan formal sesuai dengan INF sekalipun, merupakan tindakan bermain-main dengan api. Meskipun perjanjian INF tidak memiliki batasan waktu pemberlakuan, Bab XV dalam perjanjian tersebut mengizinkan untuk keluar dari kesepakatan dalam kasus “kepentingan tertinggi” dari salah satu pihak berada dalam ancaman.

Setiap usaha Rusia dalam pembuatan kembali roket jarak pendek dan menengah, bahkan jika roket tersebut sesuai dengan yang diizinkan INF, tetap akan memancing jawaban balasan dari pihak AS, yang salah satunya adalah keluar dari perjanjian tersebut.

AS dan Rusia saat ini terlihat seperti saling unjuk gigi dalam pengembangan militer. Aksi pamer kedua negara itu mulai terjadi saat keduanya terlibat friksi soal konflik di Ukraina.Ketegangan antara Rusia dan AS meningkat terkait krisis Ukraina dan Washington. Situasi kian rumit, lantaran Moskow juga tidak sepakat atas berbagai hal lain. Pejabat Rusia memperingatkan Moskow akan membalas jika AS melaksanakan rencana untuk menyimpan perlengkapan berat militer di Eropa barat, termasuk di negara-negara Baltik yang dulunya merupakan bagian dari Uni Soviet.

AS dan NATO kemudian menuduh Rusia meletuskan perang hibrida di Ukraina dan Krimea. Dalam Konferensi Antarparlemen Uni Eropa terkait Kebijakan Luar Negeri dan Masalah Keamanan Bersama yang digelar di Riga pada 5 Maret 2015 lalu, Wakil Kepala NATO Alexander Vershbow mendeklarasikan kesiapan NATO untuk menghadapi ‘perang hibrida’ melawan Rusia. Menurut Vershbow, respon NATO dan Uni Eropa terkait ancaman semacam itu harus menyertakan instrumen “keras dan lunak” sekaligus.

Perang hibrida digunakan untuk menyebut serangkaian serangan infromasi yang mungkin berlangsung selama lima sampai sepuluh tahun. Pada tahap ini, kekuatan oposisi dibentuk di negara yang diserang dengan memanfaatkan kalangan anak muda yang mendukung nilai-nilai Barat. Kemudian, tekanan eksternal diberikan melalui instrumen ekonomi. Itulah cara mempersiapkan “revolusi warna” dan pergantian rezim. Penggunaan metode militer diminimalisir dan dilakukan dalam bentuk serangan jarak jauh tanpa melibatkan pasukan darat.

AS yang menuduh Rusia terlibat dalam konflik tersebut, terus mengirimkan senjata terbaru mereka ke Eropa dengan alasan untuk melindungi sekutu mereka agar tak bernasib sama dengan Ukraina. Sementara itu, Rusia turut menunjukan dan menempatkan senjata baru mereka di seluruh wilayah perbatasan, yang diduga sebagai bentuk upaya untuk mempertahankan kawasannya dari ancaman asing.

Lebarnya celah antara Washington dan Moskow soal teknologi rudal jelajah dan semakin beraninya patroli kapal selam Rusia yang berkemampuan nuklir mengancam akan mengakhiri era pengawasan senjata mematikan. Hal penting lainnya, ini akan membawa kembali kedua negara adikuasa itu pada persaingan berbahaya antara dua negara besar pemilik nuklir dunia.

Ketegangan keduanya mencapai tingkat yang baru setelah Amerika Amerika Serikat mengancam akan melakukan hal serupa karena melihat Rusia mengembangkan rudal jelajah baru. Washington menuduh Moskow melanggar salah satu perjanjian pengawasan senjata utama di era perang dingin yang ditandatangani keduanya dan ini akan meningkatkan kemungkinan Amerika Serikat untuk menempatkan rudal jelajahnya di Eropa setelah tak ada di sana selama sekitar 23 tahun.

Salah satu yang dianggap sebagai tanda paling terlihat dari kegelisahan AS itu adalah saat militer negara itu meluncurkan yang pertama dari dua percobaan “balon udara” di atas Washington. Sistem, yang dikenal sebagai JLENS, dirancang untuk mendeteksi rudal jelajah yang masuk ke negara itu.

Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (The North American Aerospace Command – Norad) tidak menyebutkan sifat ancaman yang akan mereka hadapi. Namun percobaan ini dilakukan sembilan bulan setelah Komandan Norad, Jenderal Charles Jacoby, mengatakan bahwa Departemen Pertahanan AS menghadapi “beberapa tantangan yang signifikan” menghadapi rudal jelajah, yang itu mengacu kepada ancaman serangan dari kapal selam Rusia.

Kapal selam Rusia itu menyelinap, melintasi Atlantik, secara rutin dan membawa rudal jelajah berkemampuan nuklir. Di tengah retorika agresif dari Pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap negara Barat dan berakhirnya pembatasan pengembangan senjata berdasarkan perjanjian antara dua negara adikuasa itu, ada ketidakpastian apakah rudal-rudal Rusia itu sekarang membawa hulu ledak nuklir atau tidak.

Naiknya ketegangan AS dan Rusia ini terjadi saat upaya pengawasan senjata yang dihasilkan pasca-perang dingin kehilangan momentum. Jumlah hulu ledak nuklir strategis yang digunakan oleh AS dan Rusia juga benar-benar meningkat tahun lalu, dan kedua negara menghabiskan miliaran dolar per tahun untuk memodernisasi persenjataan mereka.

Dengan latar belakang perang di Ukraina dan ekonomi dalam negerinya yang mulai goyah, Vladimir Putin menempatkan peningkatan kemampuan senjata nuklirnya sebagai penjamin dan simbol dari pengaruh Rusia terhadap dunia. Dalam pidato, terutama tentang konflik di Ukraina pada musim panas lalu, Putin secara tegas menyebut senjata nuklir negaranya dan menyatakan negara-negara lain “harus memahami lebih baik dan tidak main-main dengan kami”.

Pravda, yang sebelumnya kerap menjadi juru bicara pemerintah Uni Soviet, menerbitkan sebuah artikel November 2014 lalu berjudul “Rusia mempersiapkan kejutan nuklir untuk NATO.” Artikel itu membanggakan keunggulan Rusia atas Barat, khususnya dalam soal senjata nuklir taktis. “Orang Amerika sangat menyadari hal ini,” kata komentar dalam artikel itu. “Mereka yakin sebelumnya bahwa Rusia tidak akan pernah bangkit lagi. Sekarang sudah terlambat (bagi mereka menyadarinya).”

Menurut Julian Borger dalam The Guardian edisi 4 Januari 2015, beberapa retorika dari artikel itu tampaknya hanya sekadar menggertak. Versi baru dari doktrin militer Rusia, yang diterbitkan 25 Desember 2014, mengindikasikan bahwa kebijakan senjata nuklir negara itu tidak berubah dari empat tahun sebelumnya. Senjata mematikan itu akan digunakan hanya jika terjadi serangan menggunakan senjata pemusnah massal atau senjata serangan konvensional yang “dimasukkan ke dalam kategori membahayakan keberadaan negara”.

Namun, nada agresif baru pemerintah Rusia bertepatan dengan peningkatan secara luas kemampuan senjata nuklirnya. Ini sepertinya mencerminkan tekad baru Moskow untuk mengimbangi kemampuan persenjataannya dengan AS. Ini akan melibatkan peningkatan substansial dalam jumlah hulu ledak yang dimuat pada kapal selam, sebagai hasil dari pengembangan Bulava, rudal balistik multi-hulu ledak yang bisa diluncurkan dari laut.

Modernisasi ini juga melibatkan sistem pengiriman baru, atau dihidupkan kembali sistem yang sudah ada. Bulan lalu Rusia mengumumkan akan memperkenalkan kembali kereta rudal nuklir, yang memungkinkan rudal balistik antarbenua negaranya dipindahkan di dalam negara itu dengan kereta api sehingga mereka akan lebih sulit untuk jadi target serangan.

Rusia telah mengembangkan meriam terbaru yang beroperasi pada prinsip radiasi frekuensi tinggi. Sang pengembang meriam meyakini bahwa meriam ini mampu menembak pesawat elektronik tanpa awak dan roket dalam jarak 10 kilometer. Namun demikian, para ahli skeptis.

Rusia telah mengembangkan meriam baru yang mampu melumpuhkan pesawat musuh, pesawat tanpa awak, dan roket penjelajah presisi tinggi. Perusahaan Instrumen Gabungan (OPK) mengabarkan mengenai hal ini pada pertengahan bulan Juni lalu. Pengembangan teknologi baru tersebut disebut “Meriam Microwave” yang berkerja dengan prinsip radiasi frekuensi tinggi.

Meriam Microwave dibuat oleh Institut Teknik Radio Moskow yang merupakan bagian dari OPK. Perangkat ini dapat beroperasi pada kisaran melebihi 10 kilometer. Menurut pengembang, dengan jarak ini, meriam mampu menembak jatuh baik pesawat tak berawak maupun rudal penjelajah.

Prinsip pengoperasian senjata terbaru ini ada pada penekanan out-of-band peralatan radio eletronik pesawat tak berawak yang terbang rendah dan senjata presisi tinggi. Dengan kata lain, meriam ini—dengan radiasi yang sangat tinggi—mampu melumpuhkan “otak” elektronik pesawat tanpa awak, roket penjelajah, dan pesawat tempur yang menyerang.

Dalam sebuah wawancara dengan TASS, perwakilan dari OPK menyampaikan, “Senjata ini tidak memiliki persamaan lain di dunia.” Namun demikian, ia tak mengungkapkan karakter tersebut lebih detail. Meriam Microwave hanya ditunjukkan kepada spesialis militer di acara tertutup pada forum militer Army 2015 yang diselenggarakan pada pertengahan Juni lalu di Moskow.

Mantan Kepala Pasukan Roket Antipesawat Angkatan Udara Rusia Letnan Jenderal Aleksander Gorkov berpendapat dalam sebuah wawancara dengan Svobodnaya Pressa bahwa secara praktik, ide dari Meriam Microwave yang mampu menjangkau target pada jarak 10 kilometer ini cukup sulit. Ia mengingatkan bahwa selama periode Soviet dan pasca-Soviet juga pernah dilakukan pengembangan serupa. Namun, akhirnya pengembangan ini mereka hentikan karena mereka merasa senjata ini tidak bisa digunakan lebih lanjut.

Presiden Rusia, seiring dengan semakin panasnya krisis di Ukraina, untuk pertama kalinya berbicara soal kemampuan nuklir Moskow untuk menghadapi ancaman-ancaman Barat. Sepertinya, dalam konfrontasi Rusia-Barat terkait krisis Ukraina yang memicu ketegangan terluas pasca perang dingin, Moskow sedang berusaha memainkan kartu truf, yaitu kekuatan nuklirnya terutama rudal lintas benua, atas Amerika dan sekutu-sekutunya di NATO.

Memanasnya ketegangan antara Rusia dan NATO terkait krisis Ukraina dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan kedua pihak saling berlomba unjuk kekuatan. Dalam perlombaan ini, Rusia bersandar pada kekuatan nuklir dan penambahannya. Moskow ingin menyampaikan kepada Barat bahwa dirinya punya kemampuan nuklir yang tidak boleh dianggap remeh.

Sejak krisis di Ukraina dan Crimea dimulai, Rusia terus menunjukkan kekuatan militernya, baik di perbatasan Ukraina maupun di dalam wilayah Crimea sebagai dukungan terhadap wilayah yang baru saja melepaskan diri dari Ukraina itu. Di sisi lain, Amerika Serikat dan negara-negara NATO serta Uni Eropa secara terang-terangan mendukung Ukraina dengan mengecam referendum Crimea dan merencanakan sanksi untuk Rusia.

Tak hanya itu, meski tak semasif Rusia, kekuatan militer NATO, terutama negara-negara anggota yang berbatasan dengan Ukraina terus diperkuat. Sebagian besar negara tetangga Ukraina adalah anggota NATO seperti Polandia, Romania, Hongaria, dan Slowakia. Demikian pula negara-negara Baltik, Lituania, Latvia, dan Estonia. Jika salah satu dari negara-negara NATO itu membantu Ukraina dan terlibat perang dengan Rusia, Amerika Serikat harus mengintervensi.

Meski sejak Perang Dingin perlucutan senjata strategis mulai dilakukan, saat ini Amerika Serikat dan Rusia masih memiliki hulu ledak nuklir siap pakai dan jumlahnya ribuan. Sejumlah data menyebut, Amerika Serikat masih memiliki persediaan misil balistik antarbenua (ICBM) sebanyak 448 buah yang masih mengarah ke wilayah Rusia.

Total, Amerika Serikat diperkirakan masih memiliki 7.700 buah hulu ledak, termasuk 1.950 hulu ledak yang bisa diluncurkan lewat ICBM, kapal selam, dan pesawat udara. Sementara itu, Rusia diperkirakan memiliki 8.500 hulu ledak berbagai jenis, tetapi hanya sekitar 1.800 buah yang siap pakai.

Sementara itu, Rusia saat ini diperkirakan memiliki 845.000 personel militer aktif dengan sekitar 2,5 juta personel militer cadangan. Namun sejumlah pengamat menilai, pasukan Rusia tidak mampu mengatasi kemampuan pasukan NATO. Amerika Serikat sendiri memiliki 1,4 juta personel militer aktif dan 850.000 personel cadangan. Namun, Amerika Serikat tak bisa mengerahkan semuanya ke Rusia. Sebagian harus menjaga 598 pangkalan militer Amerika Serikat dan sebagian lainnya harus bersiaga di dalam negeri.

Sementara NATO memiliki Pasukan Reaksi Cepat NATO (NRF) yang akan langsung terlibat pertempuran pertama dengan Rusia. Unit ini memiliki 13.000 personel yang siaga dan ribuan lain sebagai cadangan.

Rusia memiliki keuntungan karena Armada Laut Hitam berpangkalan di Sevastopol, tetapi NATO dan Amerika Serikat memiliki keunggulan di udara, kemampuan radar yang lebih baik, misil, dan peralatan perang elektronik.

Rusia sebagai pewaris tahta Uni Soviet, memiliki sejumlah senjata strategis yang dapat digunakan sebagai kekuatan pemukul paling dahsyat. Rusia membaginya menjadi 3 kategori, Land-based, Sea-based, dan Air based yang seluruh arsenalnya dilengkapi dengan rudal nuklir. Tiga jenis senjata ini sangatlah berbahaya, dan Amerika mempunyai doktrin jika perang dengan Rusia terjadi, ketiga senjata ini yang harus dihancurkan terlebih dahulu.

Kapal selam kelas Yuri Dolgoruky, didesain oleh Rubin Design Bureau pada tahun 1996. Mampu mengangkut 16 rudal nuklir balistik Bulava, selain itu kapal ini dipersenjatai dengan 6 tabung torpedo kaliber 533mm. Mampu menyelam hingga kedalaman 450 meter, dengan kecepatan jelajah mencapai 29 knots. Kapal ini diawaki 107 pelaut, dan rencananya Rusia akan membangun 8 kapal selam jenis ini

Hal lain yang juga memicu kecemasan negara Barat adalah penjualan Rusia ke luar negeri atas rudal jelajah yang disebut Club-K. Rudal ini dapat disembunyikan, lengkap dengan peluncurnya, dalam sebuah kontainer pengiriman yang hanya tampak saat akan ditembakkan.

Namun, perkembangan yang paling mengkhawatirkan Washington adalah pengujian Rusia terhadap rudal jelajah jarak menengah yang oleh pemerintahan Obama dianggap sebagai pelanggaran nyata dari Kesepakatan Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) tahun 1987, perjanjian yang mengakhiri perselisihan berbahaya antara AS dan Rusia soal penempatan rudal jelajah di Eropa.

Dengan kontur yang seperti memeluk bumi, rudal jelajah Rusia itu dapat menghindari radar pertahanan dan mencapai target strategis dengan sedikit atau tanpa pemberitahuan.

Rusia memiliki sistem pertahanan yang dapat mengirimkan serangan nuklir balasan bahkan jika saluran komando dan komunikasi Pasukan Misil Strategis Rusia sepenuhnya rusak. Sistem ini disebut Perimeter. Amerika Serikat menyebutnya “Dead Hand”. Mungkin sistem ini yang menghalangi terjadinya Perang Dunia III.

Pada masa damai, Perimeter akan memasuki mode tidur namun akan terus menganalisis informasi yang datang.

Perimeter adalah sebuah sistem komando alternatif kekuatan nuklir Rusia. Sistem ini dirancang untuk mengendalikan serangan nuklir yang masif secara otomatis. Pengembangan sistem jaminan balasan ini dimulai di tengah Perang Dingin ketika sistem persenjataan elektronik yang terus-menerus diperbaiki jelas akan segera dapat memblokir saluran kendali biasa kekuatan nuklir strategis. Sebuah metode komunikasi cadangan diperlukan untuk menjamin bahwa komando akan sampai ke peluncur.

Saat itulah gagasan ini diwujudkan dengan sebuah misil yang dilengkapi pemancar radio yang kuat sebagai saluran komunikasi. Ketika terbang melintasi Uni Soviet, misil akan mengirimkan komando luncur tidak hanya ke pusat komando pasukan misil strategis, tetapi juga langsung ke peluncur. Pada 30 Agustus 1974, Dekrit Rahasia Uni Soviet No. 695-227 menginstruksikan Biro Desain Yuzhnoe, sebuah pabrik misil balistik antarbenua di Dnepropetrovsk, untuk membuat sistem ini.

UR-100UTTKh, yang diberi kode Spanker oleh NATO, digunakan sebagai dasar sistem. Uji terbang dimulai pada 1979 dan pada 26 Desember peluncuran dengan pemancar tersebut sukses untuk pertama kalinya. Berbagai tes yang dilakukan membuktikan bahwa semua komponen sistem Perimeter dapat berinteraksi dengan baik dan hulu ledak misil komando akan tetap melalui jalur yang diinginkan.

Pada November 1984, misil komando diluncurkan dari Polotsk dan memberi komando pada fasilitas peluncuran silo dari sebuah RS-20 ICBM (SS-18 Satan) di Baikonur. Peluru Setan itu diluncurkan. Setelah tiap-tiap tahap diuji, hulu ledaknya dipastikan mendarat pada kuadran yang tepat pada jangkauan uji Kura di Semenanjung Kamchatka. Pada Januari 1985, Perimeter mulai beroperasi. Sejak saat itu sistem tersebut telah diperbarui beberapa kali. Saat ini, Perimeter menggunakan misil ICBM modern sebagai misil komandonya.

Sistem ini terbuat dari misil balistik komando. Alih-alih terbang ke arah musuh, misil ini terbang melintasi Rusia, dan alih-alih berhulu ledak termonuklir, misil ini membawa pemancar yang dapat mengirimkan sebuah komando untuk meluncurkan semua misil tempur yang tersedia di silo, pesawat, kapal selam dan unit darat bergerak. Sistem ini sepenuhnya telah otomatis, peran manusia ditiadakan atau diminimalkan.

Keputusan untuk meluncurkan misil komando dibuat melalui sistem kendali dan komando otonom—sebuah sistem kecerdasan buatan yang kompleks. Sistem ini menerima dan menganalisis berbagai macam informasi tentang aktivitas dan radiasi seismik, tekanan atmosferik, serta intensitas pembicaraan dalam frekuensi radio militer. Ia memonitor telemetri dari pos pengamatan pasukan misil strategis dan data dari sistem peringatan dini (SPD).

Jika mendeteksi, misalnya, lebih dari satu titik sumber radiasi pengion dan elektromagnetik yang kuat, sistem ini akan membandingkan data tentang gangguan seismik di lokasi yang sama dan mengambil keputusan apakah ada serangan nuklir yang masif. Dalam kasus ini, Perimeter akan mengaktifkan serangan balasan dan bahkan dengan melewati Kazbek, komando dan kendali utama misil strategis Rusia yang dikenal dengan koper nuklirnya.

Skenario lain adalah jika menerima informasi dari SPD bahwa negara lain telah meluncurkan misil, pemimpin negara akan mengaktifkan Perimeter. Jika komando untuk mematikannya tidak datang dalam hitungan waktu tertentu, sistem akan meluncurkan misil. Ini menghilangkan kebutuhan peran manusia dan menjamin bahwa akan ada serangan balasan bahkan jika tim komando dan peluncur seluruhnya hancur.

Para pemimpin Rusia telah berulang kali meyakinkan pemerintah asing bahwa tidak ada risiko peluncuran misil yang bersifat kecelakaan atau pun yang tidak sah. Sebelum peluncuran, Perimeter memeriksa empat kondisi. Pertama, apakah ada serangan nuklir. Kemudian ia memeriksa saluran komunikasi dengan Staf Umum. Jika masih ada sambungan, sistem akan mati. Jika Staf Umum tidak menanggapi, Perimeter akan mengirimkan permintaan kepada Kazbek. Jika tidak ada tanggapan dari sana juga, kecerdasan buatannya akan memberi hak bagi siapa pun yang ada di bunker komando untuk mengambil keputusan. Setelah itu, barulah ia mulai beraksi.

Dalam sidang kongres pada 10 Desember 2014, Partai Republik mengkritik dua negosiator pengawasan senjata terkemuka pemerintahan Barack Obama, yaitu Gottemoeller dari Departemen Luar Negeri dan Brian McKeon dari Departemen Pertahanan. Keduanya dianggap tidak menanggapi secara dini dugaan pelanggaran kesepakatan pengawasan senjata itu oleh Rusia.

Gottemoeller mengatakan ia sudah menyampaikan kekhawatiran AS atas rudal baru Rusia itu “lusinan kali” kepada rekan-rekannya di Moskow dan Obama telah menulis surat kepada Vladimir Putin tentang masalah tersebut. Dia mengatakan bahwa rudal jelajah baru Rusia tampaknya siap untuk disebarkan.

Gottemoeller tidak menyebut jenis rudal jelajah itu, tetapi kemungkinan yang dimaksudnya adalah rudal Iskander-K, yang memiliki jangkauan 500-5,500 km –yang sebenarnya dilarang oleh perjanjian antara AS dan Rusia. Rusia sendiri membantah keberadaan rudal itu dan justru menuding Amerika yang justru melangar –tuduhan yang juga dibantah Washington.

McKeon mengatakan, Pentagon sedang mempertimbangkan berbagai tanggapan militer soal rudal Rusia, termasuk dengan penempatan senjata serupa milik Amerika. “Kami tidak memiliki rudal jelajah yang diluncurkan dari darat di Eropa sekarang, karena dilarang oleh perjanjian itu. Tapi itu jelas akan menjadi salah satu pilihan yang akan dieksplorasi.”

Menempatkan kembali rudal jelajah AS di Eropa memang akan memicu perdebatan tersendiri, namun politisi Republik di Kongres mendorong agar AS menanggapi serius ancaman rudal Rusia.

Militer AS juga dinilai was-was oleh kebangkitan armada kapal selam Rusia. Moskow embangun generasi baru kapal selam rudal balistik raksasa, yang dikenal sebagai “boomer”. Kapal selam jenis penyerang ini memiliki kemampuan sama, sama atau lebih unggul, dari rekan-rekan mereka di AS dalam soal kinerja dan kemampuan silumannya.

Ada laporan sporadis di media AS tentang kapal selam Rusia yang mencapai pantai timur Amerika, yang itu dibantah oleh militer AS. Tapi tahun lalu Jacoby, Kepala Norad dan Komandan Utara AS saat itu, mengakui kepeduliannya untuk menanggapi investasi baru Rusia dalam teknologi rudal jelajah dan kapal selam canggih. “Mereka baru saja mulai memproduksi kelas baru kapal selam nuklir siluman yang dirancang untuk mengangkut rudal jelajah,” kata Jacoby kepada Kongres AS.

Peter Roberts, pensiun AL Kerajaan Inggris tahun lalu mengatakan penyusupan kapal selam Rusia kelas penyerang, Akula, berlangsung rutin, setidaknya sekali atau dua kali setahun. Roberts, yang kini peneliti senior untuk studi maritim di Royal United Services Institute, mengatakan penampakan periskop di lepas pantai barat Skotlandia, yang memicu perburuan oleh kapal selam NATO bulan lalu, adalah tanda terbaru dari adanya kapal selam Rusia itu.

Kapal selam Akula kini digantikan oleh kapal selam yang lebih tak terlihat, yaitu Yasen. Keduanya serbaguna: pemburu-penghancur yang dirancang untuk melacak dan menghancurkan kapal selam musuh dan kelompok kapal tempur. Keduanya juga dipersenjatai dengan rudal jelajah penyerang daratan, yang jenis terbarunya adalah Granat, yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

AS dan Rusia menghapus rudal jelajah dari kapal selam mereka setelah adanya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (Start) 1991, tapi itu berakhir pada akhir tahun 2009. Penerusnya, New Start, yang ditandatangani oleh Obama dan Presiden Rusia mitry Medvedev tahun 2010 tidak mencakup pembatasan tersebut, juga bahkan tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertukaran informasi tentang nomor rudal jelajah.

Pavel Podvig, seorang peneliti senior di Institut PBB untuk Penelitian Perlucutan Senjata dan analis independen terkemuka kekuatan nuklir Rusia, mengatakan: “Intinya adalah bahwa kita tidak tahu. Tapi cukup aman untuk mengatakan bahwa sangat mungkin bahwa kapal selam Rusia membawa SLCMs nuklir (kapal selam berpeluncur rudal jelajah).

Jeffrey Lewis, seorang ahli pengendalian senjata di Monterey Institute of International Studies dan pendiri penerbit ArmsControlWonk.com, percaya balon udara JLENS terutama sebagai respon terhadap langkah Rusia untuk mulai mempersenjatai kembali kapal selam penyerangnya dengan senjata nuklir.

“Untuk waktu yang lama, Rusia telah mengatakan mereka akan melakukan ini dan sekarang sepertinya mereka milikinya,” kata Lewis. Dia menambahkan, fakta bahwa pertukaran data pada rudal jelajah dibiarkan berakhir di bawah perjanjian New Start tahun 2010 sebagai kegagalan utama dua negara yang meningkatkan ketidakpastian.

Dengan  Amerika Serikat dan Rusia memodernisasi persenjataan mereka dan Rusia berinvestasi pada penangkal nuklirnya, Hans Kristensen, direktur Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika, mengatakan, kita sedang menghadapi periode “mendalamnya kompetisi militer”. Dia menambahkan: “Ini akan membawa sedikit keamanan tambahan, tapi lebih banyak orang-orang yang gugup di kedua sisi.”

Dulu, Amerika Serikat lebih unggul dari Rusia dalam hal teknologi dan jumlah rudal. Namun, pada awal 1970-an ketika SS-18 mulai siap digunakan dalam jumlah besar, Moskow mengejar ketertinggalan itu dan langkah Moskow mulai tak terbendung. Pada 1990, Moskow memiliki sekitar 40.000 stok hulu ledak nuklir, dan AS hanya memiliki 28.000 buah. Hanya dengan menggunakan 3.000 hulu ledak SS-18, Rusia dapat memusnahkan semua manusia di daratan Amerika Serikat hanya dalam waktu 30 menit.

Sepanjang sejarah, belum ada senjata yang lebih merusak dibanding rudal balistik antarbenua SS-18 milik Rusia. Untuk memahami kekuatan sesungguhnya dari senjata maut ini, bandingkan dengan hulu ledak nuklir yang digunakan Amerika Serikat untuk meluluhlantakkan Hiroshima. Bom Hiroshima memiliki daya ledak ‘hanya’ 15 kilo ton (KT) atau setara 15.000 ton TNT. Bom tersebut mampu menghilangkan 70.000 nyawa. Sementara, sebuah SS-18 dapat membawa hingga sepuluh buah hulu ledak nuklir terpisah yang masing-masing berdaya ledak sekitar 750 KT. Beberapa rudal juga dilengkapi senjata hulu ledak raksasa 20.000 KT.

Rudal balistik SS-18 yang diberi nama kode Satan oleh NATO ini memiliki berat 209.000 kilogram dan panjang 31 meter. Rudal Rusia yang sangat akurat tersebut tidak hanya dapat menembus dan menghancurkan silo-silo rudal AS, yang diperkuat hingga 300 psi, tetapi silo-silonya sendiri diperkuat secara luar biasa hingga 6.000 psi. Hal itu membuat rudal-rudal tersebut tidak terkalahkan. Hebatnya, dengan ukuran seberat dan sepanjang itu, rudal ini dapat melakukan gerakan sidewinding, yakni serangkaian gerakan melengkung berbentuk S untuk menghindari pertahanan antirudal. Selain itu, peralatan elektronik mikronya bisa diperkuat sehingga dapat berfungsi bahkan ketika terkena serangan nuklir.

Keberadaan SS-18 memberi ancaman eksistensial bagi Amerika Serikat, sehingga rudal ini menjadi isu fokus dalam pembicaraan tentang persenjataan di antara dua negara adidaya. AS bersedia menyingkirkan rudal strategis mereka yang ditempatkan di Eropa jika Rusia setuju mengurangi kekuatan roketnya secara signifikan. Dari peluncuran SS-18 sebanyak 308 silo pada 1991, Moskow telah mengurangi jumlahnya hingga 154 buah untuk mematuhi perjanjian START I.

Perjanjian START II bertujuan mengeliminasi semua rudal SS-18, namun perjanjian itu tidak diberlakukan sehingga rudal-rudal itu tetap aktif. Dari sudut pandang Rusia, penundaan tersebut jelas menguntungkan. Seiring terus memburuknya hubungan Rusia dengan AS setelah NATO berekspansi hingga mendekati perbatasan Rusia, Moskow memutuskan untuk menyiapkan senjata supernya. Sekarang, setelah romansa palsu Rusia-AS tahun 1991 lama berlalu, jelas Kremlin merasa rudal balistik antarbenua yang ditempatkan di silo yang berlapisan keras wajib dimiliki untuk menjaga wibawa negara tersebut.

Kini mendadak SS-18 kembali ramai dibicarakan karena terjebak dalam perang sanksi. Terkait sanksi Barat yang diberlakukan untuk Rusia, Moskow hendak menghentikan penjualan mesin roket pada Amerika Serikat jika mesin itu digunakan untuk tujuan militer. Beberapa anggota Kongres AS pun mengusulkan langkah yang berbahaya. Para anggota legislatif AS menghendaki pemerintahan mereka memulai pembicaraan dengan pemerintah Ukraina untuk mengakhiri kerja sama antara Kiev dan Moskow yang telah lama terjalin terkait perawatan SS-18.

AS tampaknya harus menelan pil pahit. Rudal ini memang merupakan produk kompleks industrial militer yang berbasis di Biro Desain Yuzhnoye milik Ukraina, tetapi Federasi Ilmuwan AS menyatakan perusahaan-perusahaan Rusia memberi layanan perawatan untuk SS-18 yang saat ini berada di dalam inventaris mereka.

Sementara itu, 50 tahun setelah pertama kali dikerahkan, SS-18 tetap siap untuk digunakan. Persenjataan rudal strategis Rusia akan bertambah sebanyak 400 rudal baru dalam sepuluh tahun mendatang, tapi sang Setan tampaknya akan terus bertahan hingga periode 2040-an setelah di-upgrade.

Strategy Page melaporkan, sebagian besar penembakan uji coba selama dekade sukses, dan tes kendali mutu lain juga menunjukkan hasil positif. Meski militer Rusia telah runtuh pasca-Perang Dingin, anggaran dan personel berkualitas tetap dikerahkan untuk pengembangan persenjataan rudal, yang merupakan pertahanan terakhir dari sang negeri Beruang Merah.

Pada pertengahan Oktober 2014, layanan pers Kementerian Pertahanan Rusia mempublikasikan tulisan Sergey Shoigu mengenai potensi terciptanya konflik antara Rusia dengan NATO dan ancaman eksternal lain. “Saat ini, tak ada satu pun ketegangan di dunia yang tak melibatkan militer AS. Mereka menggunakan dalih promosi demokrasi di wilayah-wilayah tertentu untuk menciptakan kekacauan dan konflik berdarah, seperti di Irak, Libya, Afganistan, dan kini Suriah. Bahkan pasukan bersenjata AS juga turut berperan di balik tragedi di Ukraina,” tulis Shoigu.

Salah satu kunci Rusia menghadapi perang hibrida adalah kehadiran lembaga Pusat Manajemen Pertahanan Nasional (National Defense Management Center) yang didirikan pada 2014. Lembaga tersebut merupakan alat baru yang digunakan untuk memantau, menganalisis, serta merespon semua ancaman keamanan nasional secara efisien. Untuk ancaman militer, pemimpin negara dan semua cabang pemerintah dapat saling berkoordinasi dengan militer dan lembaga keamanan lain melalui wadah Pusat Manajemen Pertahanan Nasional.

Perangkat lunak yang dimiliki oleh lembaga tersebut dapat menstimulasi pencarian solusi untuk menghadapi berbagai situasi kritis, menghubungkan mereka dengan keamanan dan menentukan apakah hal tersebut ancaman bagi Rusia.

Rusia diam-diam telah mengembangkan sebuah senjata rahasia anti satelit yang diberi nama Krasukha-4. Sistem persenjataan Krasukha-4 itu diklaim sebagai sebuah teknologi elektronik peperangan yang benar-benar baru dan mampu melumpuhkan berbagai senjata yang terkoneksi dengan satelit dengan keakuratan tinggi. Luar biasanya, Krasukha-4 ternyata bisa ditempatkan mana saja, mulai kendaraan darat, kapal laut hingga pesawat.

Bisa disebut terobosan senjata baru Rusia itu adalah alat perang super. Dengan Krasukha-4, Rusia bisa dengan mudah mematikan sistem persenjataan musuh, seperti rudal dan misil. Krasukha-4 juga dibuat untuk memutus komunikasi dan pencarian lokasi target yang tergantung pada satelit.

Deputi CEO perusahaan teknologi radio Rusia, Yuri Mayevsky menyebut senjata itu bisa melumpuhkan komunikasi, navigasi dan pencarian lokasi target berbasis satelit.Rencananya, Krasuha-4 akan segera diuji coba dari darat untuk mencari tahu seberapa jauh jarak yang bisa ditempuh senjata super ini. Jika Krasukha-4 itu benar-benar jadi sempurna, maka ini adalah peringatan bagi negara-negara yang menggantungkan sistem persenjataannya kepada satelit, seperti Amerika Serikat.

Rusia memang terus berupaya memperkuat kekuatan militer mereka, baik untuk pertahanan ataupun penyerangan. Negeri Beruang Merah itu terus menerus mengembangkan senjata, alat tempur, dan sistem pertahanan baik udara maupun darat yang mereka miliki.