Postur Pertahanan dan Ancaman Perang Dingin AS-Tiongkok

Langkah Tiongkok dengan menguji coba pesawat siluman hipersnok Wu-14 dinilai sebagai sinyal kemarahan Beijing terhadap Amerika Serikat (AS) yang melibatkan diri dalam konflik Laut Tiongkok Selatan. Pakar dari Australia bahkan berpendapat dua negara adidaya ini sejatinya sudah berada di jalur perang yang dipicu klaim Tiongkok atas Laut Tiongkok Selatan.

AS telah menganggap langkah Tiongkok yang menguji coba pesawat siluman hipersonik Wu-14 sebagai “manuver ekstrem” di tengah ketegangan dalam konflik Laut Tiongkok Selatan.

Menteri Pertahanan AS Ashton Carter sebelumnya telah memperingatkan Beijing bahwa Washington tidak akan menghindar untuk menghadapi ekspansi Beijing atas kawasan Laut Tiongkok Selatan. AS sendiri sejatinya tidak terlibat langsung dalam klaim kepulauan di Laut Tiongkok Selatan. Karena wilayah itu hanya diperebutkan Tiongkok, Filipina, Malaysia, Brunei, Vietnam dan Taiwan.

Namun, AS melibatkan diri dalam konflik setelah pesawat mata-matanya diusir Angkatan Laut Tiongkok saat manuver di kawasan yang dianggap Washington sebagai wilayah udara internasional. Selain karena insiden itu, AS melibatkan diri dalam konflik karena diduga memiliki kepentingan militer di negara-negara yang jadi “musuh” Tiongkok dalam sengketa itu.

Sejauh ini, penguatan berturut-turut pada perekonomian AS dan perlambatan laju pertumbuhan Tiongkok membuat warga AS memandang negara tersebut tak terlalu mengancam saat ini. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, kekuatan ekonomi Tiongkok membuat AS sempat ketar-ketir. Ancaman sekarang justru hadir dari negara seperti Rusia, Irak, Iran dan juga korea Timur.

Tahun lalu, ekonomi Tiongkok tumbuh 7,4 persen, dan merupakan level terlambatnya dalam 24 tahun terakhir. Sejak 1998, untuk pertama kalinya, target pertumbuhan ekonomi Tiongkok meleset.Proporsi warga AS yang merasa kekuatan ekonomi Tiongkok sebagai ancaman kritis menurun dari 52 persen tahun lalu menjadi 40 persen. Survei tersebut digelar selama empat hari awal bulan Februari 2015 dengan menggunakan sample acak dari 837 orang dewasa di seluruh penjuru negara

Pengamat hubungan internasional terkemuka, John Mearsheimer, mengatakan bahwa ada kemungkinan lebih besar dari AS dan Tiongkok berperang di masa depan daripada konflik Soviet dan NATO selama Perang Dingin.

Mearsheimer berkomentar dalam sebuah acara makan siang yang diadakan oleh Center for the National Interest di Washington DC, pada hari Senin. Acara makan siang itu diadakan khusus membahas artikel Mearsheimer baru-baru ini di The National Interest mengenai kebijkan luar negeri AS di Timur tengah. Namun, banyak percakapan selama sesi tanya jawab terfokus pada kebijakan AS di Asia terutama soal kebangkitan Tiongkok.

Berbeda dengan Timur Tengah, yang dinilai kurang begitu mengancam Amerika Serikat, Mearsheimer mengatakan bahwa AS akan menghadapi tantangan yang luar biasa dari Asia terutamaTiongkok yang ekonominya terus meningkat. Profesor Universitas Chicago ini mengatakan bahwa dalam skenario seperti itu, AS dan Tiongkok akan terlibat dalam kompetisi strategis yang intensif, seperti persaingan Soviet-Amerika selama Perang Dingin.

Sementara menekankan bahwa ia masih yakin perang sesungguhnya antara AS dan Tiongkok masih bisa dihindari, Mearsheimer mengatakan bahwa ia menilai perang dingin antara AS dan Tiongkok akan kurang stabil ketimbang Perang Dingin AS dan Soviet. Alasannya didasarkan pada geografi dan interaksi dengan senjata nuklir.

Dia mengatakan bahwa pusat gravitasi dari Perang Dingin AS-Soviet adalah di daratan Eropa tengah. Hal ini menciptakan situasi yang cukup stabil, menurut Mearsheimer, siapapun di seluruh Eropa Tengah akan paham bahwa Perang Dingin NATO-Warsawa akan cepat berubah menjadi perang nuklir yang akan menghancurkan semuanya. Hal ini memberikan kesadaran kuat pada kedua belah pihak untuk menghindari konflik nuklir di Eropa Tengah.

Berbeda dengan persaingan strategis AS-Tiongkok. Mearsheimer mengidentifikasi empat titik potensial di mana ia percaya kedua negara bisa terlibat perang: Semenanjung Korea, Selat Taiwan dan Laut Cina Timur dan Selatan. Lebih banyak dari titik potensial peperangan antara NATO dan Soviet. Namun menilai situasi saat ini, Mearsheimer menyiratkan bahwa ia percaya seandainya terjadi, perang antara AS dan Tiongkok tidak akan meningkat ke perang nuklir.

Ia mencontohkan sengketa Tiongkok-Jepang atas Kepulauan Senkaku/Diaoyu, yang menurutnya dalam lima tahun ke depan ada kemungkinan nyata Jepang dan Tiongkok akan berperang. Apabila pecah perang antara Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur, Mearsheimer mengatakan bahwa ia percaya AS akan memiliki dua opsi: pertama, bertindak sebagai wasit dan mencoba memisahkan kedua belah pihak dan kembali ke status quo, kedua, turut dalam perang dengan memihak Jepang.

Mearsheimer mengatakan bahwa ia lebih percaya bahwa AS akan memilih pilihan kedua karena apabila memilih pilihan pertama maka akan melemahkan kredibilitasnya di mata sekutu Asia. Jika Amerika berlaku sebagai mediator yang buruk, maka kepercayaan sekutu akan hilang. Karena AS tidak mengizinkan kedua sekutunya yaitu Jepang dan Korea Selatan untuk membangun senjata nuklir, mereka menaruh kepercayaan besar pada Amerika untuk berada di belakang mereka, mereka akan berharap Washington tidak ragu-ragu turut berperang di pihak Jepang seandainya terjadi perang antara Jepang dan Tiongkok.

Mearsheimer menambahkan bahwa AS saat ini baru berada di tahap awal ancaman Tiongkok, dan dia menilai ancaman serius China belum akan terwujud setidaknya hingga 10 tahun kedepan.

Di sisi lain, Mearsheimer mengatakan bahwa dia berharap kekuatan perekonomian ChinaTiongkok akan melemah atau runtuh, karena hal ini akan menghilangkan ancaman keamanan yang berpotensi besar bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Mearsheimer mengatakan bahwa ia cukup terperangah dengan beberapa sikap orang Amerika dan sekutu-sekutu Asianya yang ingin melihat ekonomi Tiongkok terus tumbuh. Dia mengingatkan bahwa puncak kekuatan Uni Soviet saat Perang Dingin terjadi ketika PDB nya jauh lebih kecil daripada Amerika Serikat. Sedangkan Tiongkok berbeda, raksasa ekonomi dunia ini akan menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat ketimbang apa yang sebelumnya AS hadapi.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok mendorong perbaikan terhaap kekuatan pertahanannya.Baru-baru ini Tiongkok meningkatkan anggaran pertahanan. Kebijakan itu dinilai sebagai persiapan Beijing atas konflik di Laut Tiongkok Selatan. Tiongkok sejak lama berambisi menguasai jalur dagang paling gemuk di dunia itu.

Tiongkok yang memiliki hampir dua juta serdadu tercatat sebagai kekuatan tempur terbesar di dunia. Ditambah dengan usia generasi muda yang mencapai usia wajib militer setiap tahun sebesar 19 juta orang, Beijing tidak pernah kekurangan serdadu. Kelemahan terbesar Tiongkok adalah pengalaman. Sebab itu Beijing kini mulai mengirimkan tentaranya ke berbagai misi PBB di seluruh dunia.

Di darat, Tiongkok memiliki banyak keunggulan. Negara ini memiliki 9.150 unit tank yang tersebar di seluruh dataran Tiongkok. Angka tersebut terbagi menjadi 7.950 unit Main Battle Tanks dan 1.200 unit tank ringan. Sedangkan kendaraan tempur lapis baja yang dimiliki Tiongkok mencapai 4.788 unit. Angka ini terdiri dari ranpur infantri sebanyak 1.490 unit dan ranpur angkut personel berjumlah 3.298 unit. Sementara, jumlah artileri mencapai 6.246 unit, artileri mobile 1.710 unit dan sistem peluncur roket (MLRS) sebanyak 1.770 unit. Serta misil anti-udara yang mencapai 1.531 unit.

Militer negeri panda itu dilengkapi dengan 1770 sistem peluncur roket dan sekitar 6000 meriam artileri. Tapi bukan itu yang membuat Tentara Pembebasan Rakyat  ditakuti, melainkan roket berhulu ledak nuklir yang dimilikinya. Dari sekitar 400 roket peluncur, Tiongkok memiliki 20 Peluru kendali balistik antar benua, Dongfeng 5, yang berdaya jelajah 13.000 kilometer. Setelah Rusia, Tiongkok adalah negara ke-dua di dunia yang paling banyak memiliki kendaraan tempur lapis baja. Saat ini jumlahnya sekitar 10.000 unit. Tidak jelas berapa yang masih layak tempur. Namun Main Battle Tank teranyar milik Tiongkok, yakni Tipe 99, diakui oleh berbagai pakar sebagai satu dari 12 tank tempur terbaik di dunia.

Personel Angkatan Udara Tiongkok

Saat ini sekitar 2500 pesawat tempur dimiliki oleh Angkatan Udara Tiongkok. Kebanyakan berasal dari produksi dalam negeri yang mencontoh jet tempur Rusia, seperti Sukhoi Su-27 dan Su-33 untuk Angakatan Laut. Tapi baru-baru ini Tiongkok menuntaskan produksi pesawat tempur siluman J-31. Kehadiran jet besi berwarna hitam ini membuat banyak negara Asia mempertimbangkan membeli pesawat siluman F-35 dari AS.

Pada tahun 1999, Angkatan Udara Tiongkok mengoperasikan lebih dari 3.500 pesawat tempur yang terdiri dari J-6 (sekelas MiG-19) dan J-7 (desain berdasarkan MiG-21). Kesepakatan dengan Rusia adalah induksi untuk 100 Sukhoi Su-27 fighter. Angkatan Udara Tiongkok juga memiliki armada pesawat bomber (pembom) H-6 (desain berdasarkan Tu-16).

Modernisasi Angkatan Udara Tiongkok didorong oleh pertumbuhan ekonomi  yang luar biasa. Di abad ke-21 ini, dunia telah menyaksikan akuisisi China atas 105 Sukhoi Su-30MKK (2000-2003) dan 100 upgrade Sukhoi Su-30MKK2 (2004). Tiongkok juga telah memproduksi lebih dari 200 pesawat tempur J-11s dari tahun 2002 dan hingga saat ini. Angkatan Udara Tiongkok juga membeli total 126 Sukhoi Su-27SK/UBK dalam tiga batch pengiriman. Produksi pesawat tempur J-10 dimulai pada tahun 2002 dan 1200 berada dalam order. Pesawat bomber H-6 (Tu-16 Badger) dikonversi menjadi pesawat terbang pengisian bahan bakar.

Pada tahun 2005, Angkatan Udara Tiongkok mengumumkan rencana untuk mengakuisisi 70 pesawat angkut (airlifter) Ilyushin Il-76 dan 30 pesawat tanker Ilyushin Il-78 yang secara signifikan akan meningkatkan kemampuan airlift strategis dan memberikan kemampuan tempur dalam waktu yang lama bagi Angkatan Udara China. Departemen Pertahanan AS telah melaporkan bahwa Su-27 SKS Tiongkok diupgrade menjadi Sukhoi Su-27 SMK multirole (multiperan).

Tiongkok telah berhasil menguji sistem pertahanan berupa senjata laser berkecepatan tinggi, untuk mengantisipasi serangan udara. Laser ini mampu menembak jatuh pesawat kecil dalam jarak radius 1,2 mil dalam waktu lima detik dari lokasi target. Senjata ini juga dirancang untuk menghancurkan objek berskala kecil di ketinggian 500 meter dan dengan kecepatan di bawah 50 meter per detik .

Seperti dilansir Reuters, Senin (3/11/2014), kantor berita resmi Xinhua seperti mengutip pernyataan oleh Akademi Teknik Fisika Tiongkok, sistem laser ini merupakan salah satu sistem pertahanan yang diciptakan oleh Drone.co, sebagai pengembang. Pengembangan ini terjadi sebagai bentuk kesiapan militer negara tersebut.

Di halaman depan surat kabar resmi militer pada bulan lalu di Tiongkok, disebutkan bahwa kelemahan dalam pelatihan militer dapat menjadi ancaman bagi kemampuan suatu negara untuk melawan dan memenangkan perang. Harian ini dalam laporan yang sama juga menulis bahwa pihak berwenang militer Tiongkok telah mengirimkan dokumen ke unit untuk merinci 40 kelemahan dalam metode pelatihan saat ini.

Presiden Xi Jinping telah mendorong untuk memperkuat kemampuan tempur sekitar 2,3 juta angkatan bersenjata Tiongkok, dalam rangkak memproyeksikan kekuatan di perairan sengketa di kawasan selatan dan timur Laut Cina Selatan. Tiogkok pun telah mengembangkan jet siluman dan telah membangun satu kapal induk .

Kemampuan Tionkok ini dimulai Sejak Presiden Tiongkok Xi Jinping memangku jabatannya tahun lalu. Dilaporkan  Presiden China Xi Jinping telah memerintahkan angkatan udara China untuk mempercepat integrasi kemampuan udara dan ruang angkasa. Selama lawatannya ke markas PLA Angkatan Udara pada bulan April 2013,  Presiden Tiongkok Xi Jinping berjanji pengembangan “kekuatan tempur tipe baru” yang dapat menangani keadaan darurat udara dan ruang angkasa dengan “cepat dan efektif.”

Uji coba rudal anti-satelit beberapa waktu yang lalu adalah yang kedua di masa pemerintahan Xi, yang sebelumnya sudah meluncurkan roket Tiongkok sebagai bagian dari tes sistem anti satelit pada Mei tahun lalu. Pada tahun 2007, Tiongkok dengan sengaja membinasakan salah satu dari satelit cuaca yang sudah tidak berfungsi (mati) menggunakan rudal balistik jarak menengah berhasis darat yang dimiliki militer Tiongkok, dimana tindakan ini dikecam secara luas oleh masyarakat internasional karena meninggalkan awan yang puing-puingnya berpotensi meninggalkan bahaya dalam sabuk orbit Bumi.

The People’s Liberation Army Navy (PLAN), begitulah nama Angkatan Laut Cina. Dari berbagai informasi yang dihimpun Tim Riset Global Future Institute, PLAN yang merupakan bagian integral dari People’s Liberation Army ini ternyata kekuatannya lumayan hebat juga.
Saat ini, PLAN memiliki 250.000 tentara yang didalamnya termasuk 35.000 tentara Coastal Defense Force (Pasukan Pertahanan Lepas Pantai). Sedangkan infantry mariner lautnya berjumlah 56.000 tentara. Belum lagi termasuk 56.000 Aviation Naval Air (Pasukan Unit Udara Angkatan Laut).

Bukan itu saja. Jumlah kapal selam milik PLAN pun boleh dibilang cukup fantastis. Saat ini Tiongkok memiliki 100 unit kapal selam. Kemajuan yang sangat pesat mengingat sebelummnya PLAN hanya memiliki 35 unit kapal selam. Sedangkan kapal pembawa rudal juga meningkat dari 20 menjadi 100 buah.

Pada 2008 lalu, anggaran pertahanan Tiongkok sebesar 60 miliar dolar AS. Dan dalam setiap enam sampai tujuh tahun ke depan, diprediksi akan meningkat dua kali lipat. Sehingga pada 2015 mendatang, Tiongkok diyakini akan memiliki anggaran militer sebesar 120 miliar dolar AS. Suatu fakta yang tentunya mencemaskan bagi Amerika dan Uni Eropa, apalagi bagi berbagai elemen yang meyakini prediksi Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization. Dalam bukunya tersebut, pakar politik Amerika dari Universitas Harvard tersebut memprediksi akan meletus perang terbuka AS-Tiongkok, dan melibatkan polarisasi baru antara AS-Uni Eropa versus Tiongkok-Negara-negara Islam.

Maka itu Tiongkok dalam mengembangkan postur angkatan lautnya tidak main-main. Informasi terkini  Tiongkok sedang mengembangkan nuclear-powered ballistic missile submarines (SSBN) dan nuclear-powered attack submarines (SSN).

Dalam merayakan ulang tahun PLAN yang ke-60 beberapa waktu lalu,  Tiongkok juga memamerkan kekuatan Angkatan Laut  dengan memperlihatkan kapal selam, kapal penghancur, Frigate, dan kapal yang memiliki fasilitas rumah sakit. Bukti bahwa transformasi angkatan laut  berhasil dengan gilang gemilang. Bahkan angkatan laut Tiongkok sudah mulai menitikberatkan modernisasi angkatan lautnya di bidang teknologi dan informasi.

Sejumlah analis memprediksi, anggaran pertahanan negara itu diprediksi akan mengejar Amerika Serikat dalam satu dekade mendatang, yang itu akan mempengaruhi postur kekuatan militer negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu.

Tahun 2013 saja, anggaran pertahanan Tiongkok naik cukup besar dibanding tahun lalu. Saat Kongres Rakyat Nasional 14 Maret 2013 lalu, Tiongkok mengumumkan kenaikannya anggaran pertahanannya sebesar 10,7 persen menjadi 720.168 miliar yuan (sekitar Rp 115,7 triliun). Tahun lalu anggarannya sekitar US$ 102 miliar.

International Institute for Strategic Studies (IISS), lembaga pemikir soal pertahanan yang berbasis di London yang memprediksi bahwa anggaran pertahanan Tiongkok bisa menyalip AS pada tahun 2022. Tentu saja itu dengan asumsi bahwa negara yang kini dipimpin Xi Jinping itu bisa mempertahankan rata-rata pertumbuhan tahunannya selama sepuluh tahun terakhir di angka 15,6 persen.

Sejumlah negara mengkhawatirkan kenaikan ini, terutama tetangga Indianya yang anggaran pengeluaran pertahanannya US$ 38,5 miliar atau kurang dari sepertiga Tiongkok. Apalagi, kata seorang pejabat militer India, anggaran pertahanan riil Tiongkok hampir 60 persen lebih tinggi dari nilai yang diumumkan. Pengeluaran sektor pertahanan Indonesia tahun 2011, menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), US$ 5,2 miliar

Selain alokasi anggarannya yang membesar, Cina juga kini masuk lima besar negara eksportir senjata. Data yang dilansir SIPRI, lembaga riset bidang senjata yang berbasis di Swedia, Senin 18 Maret 2013, menyatakan,  Tiongkok menjadi eksportir terbesar kelima senjata konvensional utama di seluruh dunia, setelah ‘mendepak’ Inggris yang sebelumnya menempati posisi itu. Ini pertama kalinya Tiongkok masuk lima besar sejak perang dingin berakhir.

Kelima pemasok terbesar senjata konvensional selama periode lima tahun 2008-12 adalah: Amerika Serikat (30%), Rusia (26%), Jerman (7 %), Perancis (6%) dan Tiongkok (5%). Secara keseluruhan, volume transfer senjata internasional konvensional utama mengalami pertumbuhan sebesar 17 persen antara 2003-2007 dan 2008-2012.

Namun sejumlah pejabat Tiongkok mengatakan, sebagian anggaran pertahanan akan lebih dialokasikan untuk keamanan dalam negeri. Pernyataan itu menggarisbawahi kewaspadaan Partai Komunis Cina tak hanya tentang sengketa wilayah dengan Jepang, hubungannya dengan Taiwan, dan kembalinya Amerika Serikat ke Asia, tetapi juga tentang meningkatnya ancaman dari dalam negeri.

Menurut beberapa studi yang didukung pemerintah, jumlah insiden protes dan kerusuhan di Cina bertambah banyak dari 8.700 pada tahun 1993 menjadi sekitar 90.000 pada tahun 2010. Namun Cina belum mengumumkan jumlah terbaru kasus protes dan kerusuhan di negara itu.

Dalam pidato saat Kongres Rakyat Nasional, Perdana Menteri Wen Jiabao –yang kini digantikan oleh Li Keqiang– mengatakan, menjaga harmoni sosial dan stabilitas merupakan salah satu prioritas pemerintah tahun ini. “Tujuannya adalah untuk menjaga hukum dan ketertiban serta mempromosikan harmoni sosial dan stabilitas. Namun Jiabao mengatakan, pemerintah juga “harus mempercepat modernisasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata … (dan) harus tegas menegakkan kedaulatan , keamanan, dan keutuhan wilayah, dan memastikan pembangunan yang damai”.

Namun Tiongkok  berulang kali meyakinkan dunia untuk tak takut atas meningkatnya pengeluaran anggaran militer negaranya karena itu untuk tujuan defensif. Anggaran pertahanan Tiongkok saat ini sekitar 5,4 % dari total pengeluarannya, dan sekitar seperlima dari pengeluaran Anggaran Pertahanan AS yang sekitar US$ 534 miliar.