Perang Irak dan Dampaknya

Presiden Amerika ketika itu George W. Bush membela keputusannya untuk berperang tahun 2003. Tetapi politisi terkenal dari Partai Republik dan Partai Demokrat yang berharap menjadi presiden mendatang mengatakan seandainya tahu bakal seperti sekarang, mereka tidak akan menginvasi Irak. Bahkan adik George W. Bush, Jeb Bush, yang mungkin akan mencalonkan diri menjadi presiden dari Partai Republik, mengatakan ia tidak akan maju perang karena ternyata Saddam Hussein tidak memiliki senjata pemusnah massal.

Hillary Rodham Clinton, yang mencalonkan diri menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat, memilih perang semasa menjadi senator. Kini ia mengatakan itu adalah keputusan salah. Politisi yang mencalonkan diri menjadi presiden jarang mendahului opini publik. Jajak pendapat menunjukkan, kebanyakan orang Amerika kini menilai perang Irak adalah kegagalan.

AS dan sekutunya, akhirnya menyerang Irak, Kamis (20/3/2003) dinihari. Presiden Amerika George W. Bush membuktikan ancamannya: jika Presiden Irak Saddam Hussein tak keluar dari negerinya dalam tempo 48 jam, Amerika akan memberikan “badai teluk” yang kedua.

Dan saat tenggat itu habis, sementara Saddam bertahan, badai pun dikirim. Sebanyak 40 rudal Tomahawk, senilai Rp 1,5 triliun, dibakar dan diluncurkan menghantam negeri Teluk itu. Sebuah perang yang dikutuk dunia pun dimulai.

Ultimatum AS ditolak karena dirasakan sebagai pelecehan terhadap kedaulatan, martabat, dan kehormatan bangsa Irak. Sekitar 90 menit setelah batas waktu ultimatum dilewati, AS melancarkan serangan udara dengan kombinasi serangan laut.

Rabu, 19 Maret 2003, sebanyak 250.000 tentara Amerika Serikat didukung hampir 45.000 tentara Inggris, 2000 tentara Australia dan 200 tentara Polandia, menggempur dan memasuki Irak lewat Kuwait. Suara-suara masyarakat dunia yang menentang perang sama sekali tidak didengarkan oleh Amerika Serikat. Demonstrasi sebagai ungkapan protes terhadap perang muncul dibanyak negara seperti Belgia, Rusia, Perancis, China, Jerman, Swiss, Vatikan, India, Indonesia, Malaysia, Brasil, Meksiko, negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab, negara-negara anggota Uni Afrika dan juga negara-negara lain.

Sementara itu selain serangan udara yang dilancarkan di kota Baghdad penyerangan darat terjadi di Ummu Qashr sebuah kota kecil yang berada di perbatasan Irak-Kuwait. Dimulai dari sinilah kekuatan militer Amerika Serikat melintasi perbatasan dan masuk ke Irak (‘Alauddin Al Mudarris, 2004: 72).
Irak pun tidak tinggal diam dan mulai melakukan perlawanan dengan menembakkan enam rudal Scud ke Kuwait, beberapa jam setelah serangan awal Amerika Serikat ke Irak dimulai.

Sebagian besar rudal scud Irak menghantam tempat-tempat di wilayah Kuwait utara. Serangan rudal scud Irak ke Kuwait ini merupakan aksi balasan Irak mengingat Kuwait menjadi tempat konsentrasi terbesar pasukan Amerika Serikat dan sekutunya (Kompas, 27 Maret 2003).
Sampai dengan Jum’at, 21 Maret 2003 malam, berita yang muncul dari medan perang di Irak adalah bahwa pasukan Amerika Serikat telah memasuki Irak sejauh 160 kilometer. Sementara dari udara, pesawat tempur Amerika Serikat dan Inggris terus mengebom berbagai sasaran penting di Ibukota Baghdad. Sasarannya adalah istana Presiden Saddam Hussein, markas besar partai Baath dan instalasi militer yang masih tersisa.
Di samping melakukan serangan militer, Amerika Serikat juga merusak sistem telekomunikasi untuk memutus rantai komando antara para petinggi Irak dan tingkatan-tingkatan dibawahnya. Namun listrik sengaja tidak dipadamkan karena baik Amerika Serikat maupun Irak sangat memerlukan radio atau televisi untuk mempengaruhi dan menggalang opini publik. Amerika Serikat memerlukan radio dan televisi untuk mengajak tentara dan rakyat Irak meninggalkan Saddam dan menyerahkan diri. Sedangkan Saddam memerlukan radio dan televisi untuk menjaga agar tentara dan rakyat tetap setiap padanya dan mau berjuang untuknya (Kompas, 23 Maret 2003).
Hingga 22 Maret 2003, serangan udara secara besar-besaran terus dilancarkan diatas Baghdad dan kota-kota lainnya termasuk kota-kota di wilayah utara seperti Kirkuk, Mosul dan Tikrit. Tiga kapal perang Amerika Serikat (USS John S McCain, USS Colombia dan USS Providence) dan dua kapal selam Inggris (HMS Turbulent dan HMS Splendid) yang ambil bagian dalam komponen maritim Pasukan Koalisi menembakkan rudal serangan darat Tomahawk.

Sebanyak 600 Rudal Cruise juga dilepaskan pasukan gabungan. Pesawat tempur yang dilibatkan antara lain pembom B-52, pembom stealth B-2, pembom tempur stealth F117 dan F-15 yang digunakan untuk kontra serangan udara.
Pada 23 Maret 2003. Selama 24 jam mulai pukul 09.00 pesawat tempur Amerika Serikat telah melakukan lebih dari 1500 serangan, sebanyak 170.000 tentara Amerika Serikat, Marinir Amerika Serikat dan personil pasukan gabungan sudah memasuki Irak.
Pada 24 Maret 2003, pasukan Amerika Serikat telah bergerak masuk Irak dan berada sekitar 60 mil dari Baghdad. Mereka menghadapi perlawanan sengit dari pasukan dan para pejuang militer Irak sepanjang jalan menuju Baghdad, terutama di kota Nassiriya dan Basra. Hari itu juga, angkatan laut Amerika Serikat menyatakan bahwa sejak perang dimulai mereka sudah menembakkan lebih dari
500 rudal Tomahawks.
Tanggal 25 Maret 2003, Angkatan Udara Amerika Serikat melakukan lebih dari 1500 serangan dengan 100 sasaran. Sasaran difokuskan pada unit-unit komando dan kontrol, serta unit-unit Garda Republik di dan sekitar Baghdad. Pertempuran sengit juga terjadi di dekat Najaf dan Nasiriah. Mereka menggempur markas partai Ba’ath di As-Samawah.
Pada tanggal 26 Maret 2003, sekitar 1000 pasukan mendarat di Irak bagian utara yang dikuasai suku Kurdi. Pembom tempur B-52 Spirit membombardir jaringan komunikasi nasional Irak. Sementara itu pertempuran masih terjadi di Najaf dan Nasiriyah.
Sementara itu, upaya-upaya bom bunuh diri juga sangat banyak. Akan tetapi karena lemahnya sarana yang dimiliki oleh pers Irak, maka sulit bagi mereka untuk mengungkap semuannya. Sebagai contoh adalah upaya bom bunuh diri yang dilakukan Ali Ja’far Musa an-Nu’man di kota Najaf yang menewaskan 11 tentara Amerika Serikat, menghancurkan 2 tank tentara Amerika Serikat dan 2 kendaraan pengangkut tentara.

Peristiwa ini terjadi pada awal operasi pasukan relawan, Sabtu 29 Maret, dimana Musa an-Nu’man membawa mobil dan meledakkannya di tengah pasukan musuh. Amerika Serikat pun mengakui perisitwa ini, yang kemudian disiarkan oleh beberapa pers internasional (‘Alauddin Al-Muddaris, 2004: 78).
Pada hari Sabtu, 29 Maret 2003 sebuah pusat perbelanjaan modern Sarqiyah di Kuwait yang merupakan negara dengan konsentrasi pasukan Amerika Serikat terbesar terkena serangan rudal Irak. Kuwait mengklaim telah mendapat serangan sedikitnya 17 rudal Irak selama dua pekan perang berjalan. Ini berarti hampir setiap hari Kuwait mendapat serangan rudal dari Irak (Kompas, 8 April 2003).
Pada 30 Maret 2003, Angkatan Darat dan Marinir Amerika Serikat untuk pertama kalinya menyerang Garda Republik, sekitar 65 mil di luar kota Baghdad. AU Amerika Serikat melakukan 1800 misi dan 800 diantaranya adalah misi serangan dengan 200 sasaran. Sisanya antara lain 400 missi pengisian bahan bakar, 225 misi mengangkat kargo dan pasukan dan 100 misi mata-mata. Mereka juga menjatuhkan 1200 bom termasuk 14 rudal Tomahawk.
Tanggal 31 Maret 2003-1 April 2003, Brigade lintas utara ke-173 Amerika Serikat menyelesaikan misinya mengirim pasukan ke Irak bagian utara. Serangan udara terhadap divisi Garda Republik di sekitar Baghdad dan Tikrit terus berlangsung. Dan perang pun sudah mulai pecah di Al-Hillah, Karbala dan As- Samawah. Di Karbala pasukan Amerika Serikat dihadang Divisi Medina dan Nebuchadnezzar Irak.
Pada 2 April 2003 Angkatan Utara pasukan gabungan menyerang sasaran di Baghdad dan seluruh negeri. Perlawanan pasukan Irak muncul dibeberapa wilayah. Sementara pasukan operasi khusus Amerika Serikat diberitakan menyelamatkan seorang tentara perempuan Amerika Serikat Jessica Lynch yang disebut-sebut di sandera tentara Irak di sebuah rumah sakit di Nasiriyah sejak 23
Maret 2003. Pada hari itu juga Angkatan Udara Amerika Serikat melakukan 1900 misi, diantaranya 900 misi serangan, 500 misi pengisian bahan bakar, 225 misi mengangkat kargo, dan 100 misi komando, mata-mata dan kontrol. Sasaran mereka adalah divisi-divisi Garda Republik yakni Medina, Baghdad dan Hammurabi.
Tanggal 3 April 2003, serangan udara terus dilancarkan Amerika Serikat. Dan pasukan gabungan terus berusaha mengamankan jalur antara Tikrit Baghdad. Berikutnya pada 4 April 2003, pasukan gabungan selama 24 jam terus membombardir markas komando dan divisi Garda Republik. Sasaran utama yang adalah melumpuhkan Angkatan Darat Irak. Hari itu, Amerika Serikat melakukan
1850 total misi penerbangan, diantaranya 700 misi penyerangan, 400 misi pengisian bahan bakar. 350 misi kargo dan 100 misi mata-mata, komando dan kontrol.
Pada 5 April 2003, Tank-tank Amerika Serikat bergerak menuju Baghdad dan terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Irak. Sementara kekuatan udara pasukan gabungan menggempur rumah Ali Hassan al-Majid sepupu presiden Saddam Hussein. Ali Hassan ini dikenal dengan sebutan “Chemical Ali” karena ia yang menjadi otak serangan kimia terhadap suku Kurdi. Sementara itu, pasukan Amerika Serikat juga berhasil menguasai Karbala, pintu masuk Baghdad dari arah timur.
Tanggal 6 April 2003, 10 anggota pasukan khusus Amerika Serikat diberitakan tewas akibat bom dalam insiden “friendly fire” yang melibatkan pesawat F-15 E Strike Eagle dan pasukan darat. Setelah pihak Amerika Serikat melakukan penyelidikan ternyata bom itu dijatuhkan teman pasukan Amerika Serikat sendiri dari pesawat F-15 E Strike Eagle yang seharusnya melindungi pasukan daratnya dalam keadaan bahaya (Kompas, 8 April 2003).
Fenomena friendly fire atau salah tembak teman sendiri sangat kental mewarnai pasukan Amerika Serikat dalam Perang Teluk III. Sistem senjata yang macet, antena patah dan kegagalan sistem komunikasi sangat berperan dalam membedakan kawan atau lawan. Apalagi dengan keletihan yang dialami para tentara Amerika Serikat ini sehingga kesalahan fatal tidak dapat dihindari (Kompas, 30 Maret 2003).
Pada 7 April 2003, pasukan Inggris berhasil menguasai Basra, kota terbesar kedua di Irak. Hari itu, dilakukan 1500 misi penerbangan , antara lain 500 misi serangan, 35 misi pengisian bahan bakar, 400 misi kargo, 175 misi pengawasan, kontrol, komando dan mata-mata.
Pada 9 April 2003, kota Baghdad jatuh dan pasukan Amerika Serikat pun berhasil menguasai kota. Meskipun begitu pertempuran sporadik masih berlanjut di seluruh pelosok kota. Setelah Baghdad dikuasai Amerika Serikat, Saddam Hussein dinyatakan menghilang dan tidak diketahui jejaknya.
Pada 14 April 2003, Pentagon menyatakan bahwa pertempuan besar di Irak selesai setelah pasukan Amerika Serikat merebut Tikrit kota kelahiran Saddam. Sementara itu, keberadaan Saddam Hussein tidak diketahui.
Tanggal 14 April 2003, Jenderal Jay Garner ditunjuk oleh Amerika Serikat untuk mengendalikan Irak sampai terbentuk pemerintah baru. Garner pun mengadakan pertemuan dengan sejumlah pemimpin Irak dan mulai merencanakan pembentukan pemerintahan federal Irak. Pertemuan itu dilaksanakan di Al Ur, dekat Nasiriya, Irak selatan dan berhasil mengeluarkan 13 keputusan signifikan yang menjadi pondasi bagi sistem negara dan pemerintah Irak pasca Saddam Hussein (Musthafa Abd. Rahman, 2003: 207).
Pada tanggal 1 Mei 2003, Presiden George W. Bush, di atas kapal USS Abraham Lincoln menyatakan bahwa perang telah selesai. Selanjutnya Presiden Bush menyatakan bahwa kemenangan berada di pihak pasukan gabungan pimpinan Amerika Serikat. Sejak saat itu pula maka dimulailah fase stabilitas dan rekonstruksi Irak pasca perang.
Pada 13 Desember 2003, Saddam Hussein berhasil ditangkap oleh Divisi Infanteri Ke-4 Amerika Serikat. Saddam ditemukan di sebuah lubang di Ad Dawr, sebelah tenggara Tikrit. Saddam disergap oleh pasukan Amerika Serikat di sebuah peternakan kambing dalam sebuah lubang berukuran 1 x 0,5 meter persegi yang disamarkan dengan kotoran dan batu bata (Tempo, 28 Desember 2003).

Meskipun banyak mendapat tentangan dan protes dari dunia internasional, Amerika Serikat tetap pada pendiriannya untuk menginvasi Irak. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh Amerika Serikat terhadap dunia internasional sangat lemah dan terkesan mengada-ada. Sikap kerasnya di tengah protes internasional ataupun regional dari negeri sendiri, justru mengindikasikan adanya tujuan tertentu dibalik sikap keras itu.
Banyak orang memandang serangan Amerika Serikat terhadap Irak merupakan cerminan dari politik standar ganda Amerika Serikat. Di satu sisi membiarkan Israel membangun reaktor nuklir dan memiliki senjata pemusnah massal, tetapi di sisi lain menjatuhkan hukuman kepada Irak yang dicurigai memiliki senjata pemusnah massal. Amerika Serikat dan Inggris membela diri dengan menyatakan bahwa serangan terhadap Irak tersebut sah dan pantas dilakukan karena Irak mengingkari ketentuan PBB. Didukung Polandia, Australia dan sejumlah negara Eropa termasuk Ceko, Denmark, Portugal, Italia, Hongaria dan Spanyol, Amerika Serikat dan Inggris menggempur Irak.

Upaya keras masyarakat global, termasuk pemerintah dan tokoh masyarakat Indonesia, untuk mencegah perang, tampak sia-sia. Di luar harapan masyarakat dunia, AS dengan dukungan kuat Inggris mengabaikan opini dunia.

Setelah gagal mencegah perang, dunia harus menyaksikan kenyataan, Irak sedang berada di bawah gempuran pasukan AS. Irak tentu saja memberikan perlawanan keras, tapi pertarungan akan berlangsung tidak seimbang.

Jika mau dibandingkan, Perang Teluk 1990-1991 berlangsung relatif singkat, selama 41 hari, karena pasukan Irak gampang dihalau dari Kuwait dengan gempuran udara tanpa harus mengoptimalkan serangan darat.

Sekiranya AS ingin menjatuhkan Presiden Saddam, perang darat menjadi keniscayaan. Perang darat akan sangat menentukan. Pertarungan riil akan berlangsung di darat yang lazimnya berlangsung lama dan alot.

Bukan saja sebagai negara berkembang yang memiliki banyak keterbatasan, Irak juga tidak berdaya karena sudah diremukkan dalam Perang Teluk tahun 1990-1991. Sempat terlontar pertanyaan, mengapa AS yang gagah perkasa ingin menggempur Irak yang sesungguhnya kurang berdaya.

Pertanyaan itu menjadi-jadi jika mengamati betapa AS begitu repotnya menggalang dukungan masyarakat internasional untuk menyerang Irak.

Berangkat dari tragedi 11 September 2001, Amerika Serikat menggariskan garis kebijakan luar negerinya dan membuat skema hubungannya dengan negara lain. Presiden Bush menanggapi serangan terhadap menara kembar WTC dan Pentagon itu dengan menyatakan “war on terrorism” dan menerapkan agenda kebijakan yang radikal.

Agenda kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang baru ialah bahwa hubungan internasional adalah hubungan kekuatan dan kekuasaan bukan hukum; kekuatan yang berlaku dan hukum melegitimasi yang berlaku yakni kekuatan. Mulai saat itu Amerika Serikat yang sebelumnya adalah korban dari aksi terorisme berubah menjadi pelaku terorisme yang secara membabi buta menggempur Irak atas nama perang melawan terorisme. Tragedi 11 September 2001 menjadi momentum bagi Presiden Bush dan kelompok hawkish untuk merealisasikan gagasan mereka, antara lain untuk mengubah rezim di Irak dan menyingkirkan Saddam Hussein.
Pada 17 September 2002, Presiden Bush mengeluarkan Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy / NSS) pemerintahannya. Konsep ini disebut NSS-2002 yang merupakan doktrin kebijakan keamanan terbaru Amerika Serikat dan sering pula disebut sebagai Doktrin Bush. Dapat dikatakan bahwa doktrin baru yang menjadi kebijakan resmi Amerika Serikat itu seakan-akan menyatakan bahwa pemerintah Bush akan memerangi terorisme menurut caranya sendiri dengan melanggar hukum internasional.

Isi Doktrin Bush ini juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak ingin cita-citanya menciptakan Tata Dunia Baru (The New World Order) yang seluruhnya mengandung nilai-nilai Americana mendapat tantangan. Disamping itu doktrin ini merupakan bagian dari langkah Amerika Serikat untuk mengekalkan gelar “The Sole Superpower” di muka bumi (Abdul Halim Mahally, 2003: 200).

Doktrin keamanan terbaru Amerika Serikat yang dijelaskan dalam NSS 2002 menggarisbawahi perubahan kebijakan keamanan Amerika Serikat secara menyeluruh. Akibat perubahan itu Amerika Serikat telah menerapkan kebijakan strategis global yang lebih radikal.Inti petikan dari isi National Security Strategy (NSS-2002) itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Dalam butir pertama, Amerika Serikat dengan tegas menyatakan bahwa kesuksesan nasional hanyalah dengan cara menerapkan kebebasan, demokrasi dan kebebasan dalam menjalankan usaha. Untuk itu Amerika akan berusaha keras “mengekspor” nilai-nilai yang dianutnya itu ke seluruh pelosok dunia. Pemerintah Bush berkeinginan untuk mengantarkan Amerika sebagai negara yang menjadi “kiblat ekonomi” seluruh bangsa. Pemerintah Bush juga mendambakan adanya sebuah era baru bagi Pertumbuhan Ekonomi Global yang diwujudkan melalui penciptaan pasar bebas dan perdagangan bebas.
  2. Pada butir kedua, Amerika Serikat menyatakan dengan jelas bahwa Amerika Serikat memiliki “hak” untuk menyingkirkan adanya ancaman-ancaman bagi keamanan nasionalnya dengan cara menggunakan kekerasan militer dan menyerang lebih dulu sebelum terjadi suatu serangan dari pihak musuh, baik ancaman itu benar-benar nyata ataupun belum pasti, secara multilateral atau unilateral.
  3. Dalam butir ketiga, dapat dipahami bahwa Amerika Serikat akan menanggulangi masalah terorisme dengan cara melakukan pengembangan kekuatan militer secara besar-besaran. Pemerintah Bush merasa perlu meningkatkan kemampuan teknologi militernya baik itu dengan cara mengembangkan sistem pertahanan rudal ataupun menguji coba kapabilitas senjata pemusnah massalnya.

Sejak awal, ketika Bush berniat melucuti Saddam, negara-negara dunia bersikap menolak sebuah serangan ke Irak. Jutaan orang di seluruh penjuru menggelar demo-demo anti perang, bahkan di kota-kota di Amerika Serikat sendiri. Banyak negara juga mendesakkan agar krisis Irak diselesaikan lewat jalur diplomasi. Dewan Keamanan (DK) PBB pun menelurkan resolusi yang menyetujui pelucutan senjata pemusnah massal melalui pengiriman sebuah tim inspeksi persenjataan.

Namun pelucutan senjata ternyata tak meruntuhkan keinginan Amerika untuk memerangi Irak. Duta Besar Irak untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Muhammad Al-Dauri, bahkan menyebut, ketika Amerika dan sekutunya bersedia menunggu realisasi resolusi pelucutan senjata dari PBB, alasan utamanya karena mereka yakin Irak tak akan menerima tim inspeksi. Tapi, menurut dia, negara adi daya itu kecele. Irak ternyata memilih bersikap kooperatif.

Perang terhadap Irak yang di tempuh Amerika Serikat sangat bernuansa ideologis dan jauh dari perang yang benar. Amerika Serikat menggunakan isu-isu internasional untuk mendukung dan melegitimasi aksinya. Dengan isu-isu terorisme, Amerika Serikat mempunyai alasan yang tepat untuk melakukan intervensi seperti apa yang telah dilakukannya terhadap Afganistan.

Intervensi ini kemudian dilanjutkan ke Irak sebagai sasaran selanjutnya. Irak merupakan sasaran selanjutnya karena Presiden Irak Saddam Hussein dianggap sebagai presiden yang diktator. Pemerintah Saddam juga dianggap Amerika Serikat sebagai penghambat kepentingan-kepentingan nasionalnya dan juga sebagai penghambat proses demokratisasi di Timur Tengah.
Presiden Saddam Hussein merupakan seorang diktator yang telah memerintah Irak dengan tangan besi. Tidak sedikit warga Irak baik yang ada pada strata bawah, tengah maupun atas yang telah menjadi korban otoritarianismenya. Dalam pandangan suku Kurdi dan sebagian warga Syiah atau masyarakat Irak lainnya Saddam Hussein dianggap sebagai penindas.

Dosa-dosa Saddam diantaranya adalah pembunuhan kaum Kurdi Irak pada 1988 dan juga pembantaian massal terhadap 30 ribu muslim Syiah dan Kurdi di Irak Utara dan Selatan yang memberontak terhadap Saddam saat terusir dari Kuwait. Saddam Hussein juga terlibat kejahatan dalam Perang Irak-Iran (Perang Teluk I) tahun 1980-1988 karena penggunaan senjata kimia. Saddam juga telah menginvasi Kuwait pada 1990-1991 sehingga terlibat dalam kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang. (Tempo, 28 Desember 2003).

Irak menginvasi Kuwait pada hari Kamis, 2 Agustus 1990 sekitar pukul 02.00 dini hari waktu Baghdad. Lebih dari 100 ribu tentara Irak yang didukung oleh tank, helikopter dan pesawat tempur melewati garis perbatasan menyerbu Kuwait dan bergerak ke arah selatan menuju Kuwait City (ibu kota Kuwait).

Bersama dengan itu Kementerian Pertahanan Kuwait melalui radio meminta kepada Irak untuk tidak melakukan serangannya tetapi permintaan itu tidak diperhatikan oleh Saddam Hussein. Kuwait yang memiliki kekuatan seperlima dari kekuatan Irak tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti. Istana Dasman, pusat perbankan, bandara dan kementerian Kuwait dengan segera dapat dikuasai Irak. Dalam waktu singkat Irak telah berhasil menguasai seluruh Kuwait.
Kuwait memang tidak mampu sama sekali untuk memberikan perlawanan. Jika dilihat dari segi kekuatan dua negara (Irak dan Kuwait) jelas sangat tidak sebanding. Menurut data The International Institute for Strategic Studies, jumlah personil militer Irak adalah satu juta orang (ditambah 850 ribu tentara cadangan), sementara Kuwait hanya memiliki 20.300 personil militer yang aktif. Belum lagi jika dilihat dari segi kemampuan dan pengalaman tempur mereka.

Angkatan Bersenjata Irak dilengkapi dengan sekitar 5600 tank yang pengalamannya sudah teruji dalam Perang Teluk I, sedangkan Angkatan Bersenjata Kuwait hanya dilengkapi 275 tank yang dapat dikatakan belum berpengalaman. Oleh karena itu Kuwait yang penduduknya hanya sekitar sepersembilan penduduk Irak jelas bukan tandingan atau lawan yang berarti bagi Irak. (M. Riza Sihbudi, 1991: 148).

Keadaan perekonomian Irak setelah berakhirnya perang delapan tahun antara Irak-Iran (Perang Teluk I) berada diambang kelumpuhan . Ini disebabkan oleh hancurnya infrastruktur Irak yang mencapai angka 67 milyar dolar Amerika Serikat. Jumlah tersebut belum termasuk dana yang harus dikeluarkan Baghdad untuk belanja berbagai jenis mesin perang. Menurut data yang dikeluarkan oleh IISS (The International Institute for Strategic Studies), utang luar negeri Irak yang sebagian besar dipakai untuk kebutuhan militer berkisar antara 75 milyar sampai 80 milyar dolar Amerika Serikat.

Jika dijumlahkan, nilai kerusakan infrastruktur ekonomi, utang luar negeri, serta kerugian akibat perang di sektor-sektor lainnya (seperti merosotnya GNP dan pendapatan dari sektor ekspor minyak) maka seluruh biaya ekonomi (economic cost) perang Irak dapat mencapai 452,6 milyar dolar Amerika Serikat. Padahal jika dilihat dari pendapatan tertinggi Irak yang dapat dicapai dari hasil produksi minyak, pendapatan Irak tidak lebih dari 12 milyar dolar Amerika Serikat pertahun. Hal ini berarti Irak membutuhkan waktu sedikitnya 40 tahun hanya untuk dapat merekonstruksi negaranya serta melunasi utang-utang luar negerinya. (M. Riza Sihbudi, 1991:151).
Saddam juga menuduh Kuwait telah mencuri minyak Irak di daerah Rumaillah yang tengah menjadi sengketa antara Irak-Kuwait sebanyak 2,4 milyar dolar Amerika Serikat. Selain itu Kuwait bersama dengan Uni Emirat Arab dianggap telah “menohok Irak dari belakang” yaitu dengan cara membanjiri dunia dengan minyak yang mengakibatkan harga minyak di pasaran internasional. Ini menyebabkan Irak yang mengandalkan minyak sebagai komoditas utamanya sangat terpukul karena Irak rugi sebesar 14 milyar dolar Amerika Serikat.

Apalagi saat itu Irak tengah memacu pembangunan ekonomi dan militernya usai Perang Teluk I yang telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian Irak.

Tampaknya dengan menyerbu Kuwait dan jika mungkin Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan negara-negara kaya minyak lainnya, Saddam berharap dapat menempuh jalan pintas guna memulihkan kondisi perekonomian negaranya. Apalagi setelah perundingan di Saudi Arabia, 31 Juli 1990,Kuwait secara tegas menolak membayar ganti rugi kepada Irak dan juga menghapuskan semua utang Irak pada Kuwait. Kuwait juga menolak untuk memberikan wilayah Rumaillah dan Pulau Babiyan yang kaya sumber minyaknya karena itulah maka Irak berambisi untuk menguasai Kuwait.
Hal itulah yang dianggap oleh Amerika Serikat sebagai salah satu motivasinya menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein. Pemerintah Saddam juga dianggap sebagai pemerintah yang tidak demokratis dan menghalangi proses demokrasi di Timur Tengah. Amerika Serikat juga menggunakan isu-isu terorisme dan kepemilikan senjata pemusnah massal untuk melegalkan aksinya menyerang Irak. Sebelumnya Amerika Serikat telah berusaha menyelesaikan masalah Irak ini melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB. Akan tetapi, Amerika Serikat menilai Irak tidak menaati resolusi itu dan dibentuklah tim inspeksi PBB untuk Irak yang bernama UNMOVIC (United Nations for Monitoring, Verification, and Inspection Comission) yang dipimpin oleh Hans Blix. Amerika Serikat kemudian melaporkan bahwa Irak terbukti memiliki senjata pemusnah massal sesuai dengan laporan dari UNMOVIC.
Menurut George W. Bush, Irak melanggar kesepakatan yang pernah ditanda tanganinya pada tahun 1991, yakni memusnahkan senjata kimia, senjata biologi dan senjata nuklir yang dimilikinya. Dalam pidato Bush disebutkan bahwa Irak masih tetap memiliki senjata pemusnah massal itu. Presiden Bush mengatakan bahwa Saddam memiliki senjata biologi yang cukup untuk memproduksi lebih dari 25.000 liter anthrax dan memiliki cukup material untuk memproduksi lebih dari 38.000 liter botulinum toxin yang mampu membuat jutaan orang menderita dan mati karena kesulitan bernapas.

Bush juga menambahkan bahwa Saddam Hussein memiliki program pengembangan senjata nuklir mutakhir, memiliki desain senjata nuklir dan bekerja berdasarkan lima metode berbeda-beda untuk memperkaya uranium menjadi sebuah bom. Kenyataannya Irak memang pernah mengembangkan senjata pemusnah massal sebagaimana disebutkan oleh George W. Bush, tetapi setelah Perang Teluk II tahun 1991 kemampuan itu telah dihancurkan oleh PBB.

Jadi isu senjata pemusnah massal itu hanyalah isu akal-akalan yang digunakan oleh Amerika Serikat untuk mencari pembenaran menyerang Irak dan kemudian menyingkirkan rezim Saddam Hussein. Sinyal tentang tekad Amerika Serikat akan kesungguhannya menyerang Irak, kemudian diperkuat oleh lawatan Wakil Presiden Dick Cheney ke Timur Tengah dengan mengunjungi sembilan negara Arab, serta Israel dan Turki pada bulan Maret 2002. Kunjungan ini bermaksud untuk konsultasi sekaligus klarifikasi langsung pendapat para pemimpin Arab tentang aksi serangan Amerika Serikat ke Irak (Kompas, 18 Agustus 2002).
Penyerangan Amerika Serikat dan Inggris terhadap Irak ini sama sekali tidak berdasar. Terbukti dari hasil serangkaian investigasi yang dilakukan oleh para agen dinas rahasia Amerika Serikat yang menyimpulkan bahwa Irak tidak terlibat dalam serangan 11 September 2001.

Kesimpulan para agen dinas rahasia Amerika Serikat ini dipertegas oleh laporan John Scarlet, Ketua Komite Intelijen Bersama Inggris yang menyatakan bahwa tidak ada bukti kaitan antara Baghdad dengan serangan 11 September 2001 atau jaringan Al Qaeda. Bahkan pada tahun 2004, komisi nasional tentang serangan teroris yang dikenal dengan komisi 9/11 menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa Saddam memberikan bantuan pada Al Qaeda dalam menyiapkan serangan 11 September 2001 terhadap Gedung World Trade Centre dan Pentagon. Tuduhan terhadap Irak yang diduga terlibat Al Qaeda dilakukan tanpa keadilan, kecuali demi ambisi politik global Amerika Serikat yang justru mengancam keseimbangan politik dan keamanan seluruh dunia.
Tidak adanya bukti-bukti yang mendukung keterlibatan Irak dengan serangan teroris dan Al qaeda itu sama sekali tak menyurutkan keinginan George W. Bush dan juga kaum hawkish untuk menyerang Irak. Ketiadaan bukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal juga tidak menjadi hal yang penting bagi pemerintahan Bush. Bush tetap berkeinginan untuk menggempur Irak meskipun mendapat tentangan dari regional dalam negeri Amerika Serikat dan dunia internasional.

Bush sudah menyatakan bahwa perang telah selesai sejak 1 Mei 2003, namun aksi perlawanan bersenjata rakyat Irak tak kunjung usai. Sepeninggal Saddam rakyat Irak menentang pendudukan yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Irak. Jadi meskipun perang sudah berakhir, tetapi perlawanan bersenjata masih sering terjadi.

Setidak-tidaknya 15 ribu warga tewas dan dua kali lipat lagi cedera dalam kemelut bersenjata di Irak sejak awal 2014, kata laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Misi PBB di Irak mengumumkan data tersebut dalam laporan terkininya, “Perlindungan Warga dalam Kemelut Bersenjata di Irak”. PBB mencatat setidak-tidaknya 44.136 warga (14.947 tewas dan 29.189 cidera) tewas akibat kemelut bersenjata di Irak. Laporan itu menyebutkan, data yang dicatat hingga akhir April 2015 itu hanya menghitung jumlah korban yang bisa diverifikasi dan mengakui bahwa jumlah korban yang sebenarnya kemungkinan lebih besar. Tidak ada data resmi namun ribuan petempur dari kelompok Negara Islam dan pasukan Irak juga tewas sepanjang periode tersebut.

Konflik itu pecah ketika kelompok IS mengambil alih sebagian provinsi Anbar pada awal 2014. Konflik menyebar ketika IS melancarkan serangan merusak pada 9 Juni 2014, mengambil alih kota terbesar kedua Irak, Mosul serta sebagian besar kawasan di negara itu. Menurut Organisasi Migrasi Dunia (IOM), lebih dari tiga juta warga Irak mengungsi sejak pecahnya konflik bersenjata tersebut, demikian AFP melaporkan.

Koalisi Nasional Irak memperkirakan kerugian akibat perang di Irak sejak 2011 lalu mencapai 300 miliar dolar AS, termasuk kerugian yang disebabkan milisi Syiah dalam serangan ke kota Anbar pada pekan kemarin.