Obama dan Wilson: Keterbelahan dan Ancaman Perdamaian Dunia

Presiden Obama getol mengkampanyekan keinginan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran soal senjata nuklir. Nampaknya bukan jalan mulus yang akan dihadapi, mengingat tekanan politik dalam negeri cukup besar untuk dihadapi politisi Partai Demokrat. Bahkan, dikabarkan kalangan wakil rakyat rekan satu partai Presiden juga tiada bebas dari tekanan dari the American Isreal Public Affairs Committe (AIPAC), salah satu kelompok kepentingan yang berpengaruh di AS.

 

Senator Chuck Schumer dari New York (Partai Demokrat)

Keputusan Senator Chuck Schumer dari New York (Partai Demokrat) untuk menentang kesepakatan nuklir Iran telah mengguncang dan memicu gelombang kecaman dari kaum liberal untuk orang yang diharapkan menjadi pemimpin mayoritas Senat pada periode berikutnya itu.

Andaikata kesepakatan itu berhasil dituangkan dalam rancangan undang-undang, maka Presiden Obama akan menghadapi pertentangan sengit di Senat. Konstitusi AS menunjuk Senat sebagai badan yang harus memberikan persetujuan untuk keputusan eksekutif dalam menjalankan hubungan luar negeri. Pihak yang menentang kesepakatan nuklir Iran harus menggalang minimal 60 anggota Senator dan andaikata ini terjadi, maka rancangan undang-udnang itu akan dikembalikan kepada Presiden. Akan tetapi, Presiden juga memiliki kewennagan untuk memveto penolakan tersebut dan kalangan penentang harus menggalang 2/3 suara Senat untuk mempertahankan keputusannya.

Schummer, yang diharapkan memimpin fraksi Demokrat di Senat pada 2017 yang akan datang, menentang kesepakatan damai karena cemas terhadap 3 ketentuan yang ada di dalamnya yaitu soal inspeksi, penjatuhan sanksi, dan kemungkinan tercapainya kebebasan Iran untuk memproduksi nuklir di masa yang akan datang.

Kalangan DPR dari Partai Republik menggunakan keberatan Schummer itu untuk mempertegas protes mereka terhadap rencana Presiden Obama. Mayoritas wakil rakyat dari Partai Republik pada umumnya menentang kesepakatan tersebut, menyusul pernyataan keras Perdana Menteri Israel yang mengkhawatirkan situasi keamanan negaranya bila perjanjian itu diundangkan. Di kalangan Demokrat, pada umumnya keberatan diajukan oleh para wakil rakyat (Senat dan DPR) yang mewakili wilayah dengan populasi Yahudi besar seperti New York dan Florida Selatan.

Presiden Woodrow Wilson (masa jabatan 1913-1921)

Oleh karena kesepakatan hubungan luar negeri terdistribusi kewenangan konstitusionalnya antara Presiden dengan Kongres, maka manakala terjadi kebuntuan keputusan, sangat jarang kebijakan itu dibatalkan. Kongres selama ini tidak merekomendasikan pembatalan, kecuali dalam sejumlah kasus pada tahun 1919 dan 1920, yang menolak memberikan dukungan suara atas Perjanjian Versailes. Manakala Presiden gagal mempertahankan gagasannya, maka nasibnya bisa seperti Woodrow Wilson yang harus membuang jauh-jauh fantasinya untuk menciptakan perdamaian dunia.

Pembahasan Perjanjian Versailles oleh semua peserta konferensi di Prancis (1919)

Presiden Wodrow Wilson usai penandatanganan Perjanjain Versailles (1919)

Tampilnya Woodrow Wilson sebagai preisiden Amerika,. diawali dari kariemya sebagai guru besar ilmu politik di Princeton dan kemudian menjadi gubernur di New Yersey. la dengan cepat menjadi politikus yang disegani dan akhirnya membawanya untuk menempati White House (Gedung Putih) tahun 1913.

Kisah diawali dari Perang Dunia I (1914-1918). Saat pecah perang, Amerika Serikat mengambil kebijakan non-intervensi, yaitu menghindari konflik tetapi mencoba menciptakan perdamaian.

Di bawah kepemimpinan Presiden Woodrow Wilson, Amerika Serikat mempertahankan politik netralitas yang ketat pada awal Perang Dunia I, dan tidak bermaksud untuk campur tangan dalam peperangan di Eropa. Sebagai negara netral, Amerika mempunyai hak untuk itu yang secara historis dan meyakinkan berada dibawah hukum internasional, antara lain:

  1. Negara netral bisa menjual barang-barangnya dan berdagang persenjataan maupun barang-barang lainnya dengan negara yang sedang berperang.
  2. Negara yang sedang berperang dapat menekan perdagangan ini dengan saling blokade untuk menghentikan iriingan kapal yang membawa barang-barang tersebut, namun blokade harus efektif yakni dengan sejumlah kapal perang untuk patroli.
  3. Jika kapal dagang dari negara netral atau musuh berlayar dan tertangkap, maka boleh dimiliki dan diambilalih dalam keadaan tertentu namun tidak boleh ditenggelamkan atau dirusak sehingga membahayakan keamanan awak dan penumpangnya.

Ketika sebuah kapal-U Jerman menenggelamkan kapal pesiar Britania RMS Lusitania tanggal 7 Mei 1915 yang juga menewaskan 128 warga negara Amerika Serikat, Presiden Woodrow Wilson menegaskan bahwa “Amerika Serikat terlalu bangga untuk berperang”, tetapi menuntut berakhirnya serangan terhadap kapal penumpang. Jerman patuh.

Woodrow Wilson juga mengajukan damai kepada Jerman melalui Fourteen Points, yang mengajak setiap negara untuk mengurangi gencatan senjata dan bergabung dalam damai bersama Liga Bangsa-Bangsa. Di sisi lain, Woodrow Wilson sebagai presiden Amerika Serikat pada masa itu juga berperan dalam Armistice, yaitu gencatan senjata yang disepakati Jerman pada tanggal 11 Nopember 1918 untuk mengakhiri perang sebelum akhirnya Perjanjian Versailles disepakati

Wilson gagal mencoba memediasi penyelesaian. Akan tetapi, ia juga berkali-kali memperingatkan bahwa A.S. tidak akan menoleransi perang kapal selam tanpa batas karena melanggar hukum internasional. Mantan presiden Theodore Roosevelt menyebut aksi Jerman sebagai “pembajakan”.Wilson menang tipis dalam pemilu presiden 1916 karena para pendukungnya menyatakan bahwa “ia menjauhkan kami dari perang”.

Bulan Januari 1917, Jerman melanjutkan perang kapal selam tanpa batasnya, menyadari bahwa Amerika Serikat kelak ikut dalam perang. Menteri Luar Negeri Jerman, dalam Telegram Zimmermann, mengundang Meksiko bergabung sebagai sekutu Jerman melawan Amerika Serikat.

Sebagai imbalannya, Jerman akan mendanai perang Meksiko dan membantu mereka mencaplok kembali Texas, New Mexico, dan Arizona. Wilson merilis telegram Zimmerman ke publik, dan warga AS memandangnya sebagai “casus belli”—penyebab perang.

Wilson meminta elemen-elemen antiperang untuk mengakhiri semua perang dengan memenangkan yang satu ini dan menghapus militerisme dari dunia. Ia berpendapat bahwa perang begitu penting sehingga A.S. harus punya suara dalam konferensi perdamaian.

Setelah penenggelaman tujuh kapal dagang A.S. oleh kapal selam Jerman dan penerbitan telegram Zimmerman, Wilson menyatakan perang terhadap Jerman, yang dinyatakan pada tanggal 6 April 1917 oleh Kongres. Dalam pesan perangnya ia mengungkapkan bahwa Amerika terlibat dalam perang untuk menjadikan dunia lebih aman dan demokratis. Dengan keyakinan yang kuat bahwa corak pemerintahan demokratik yang didukungnya merupakan keanekaragaman Amerika yang sccara politis berdasarkan kebebasan pribadi, dan secara ekonomis atas kapitalisme laissez faire (ekomoni tanpa campur tangan pemerintah di bidang perdagangan).

Kekuatan Jerman semakin melemah dengan keputusan Italia untuk melepas aliansinya dengan Jerman dan bergabung dengan pihak sekutu melawan Jerman. Jerman hanya sedikit diuntungkan dengan keadaan internal Rusia pada saat Perang Dunia I.

Media massa mengumumkan kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I, 9 November 1918

Untuk mengakhiri perang besar dilakukan beberapa perjanjian perdamaian yang digelar selama tahun 1919. Kedatangan Woodrow Wilson pada bulan Desember di Paris disambut dengan gembira. Dalam perundingan-perundingan ia harus memperhatikan kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda dari sekutu-sekutunya. Dari beberapa perjanjian yang berhasil ditanda-tangani yang paling utama adalah Perjanjian Versailles tanggal 28 Juni 1919. Dalam perjanjian tersebut selain menentukan beberapa kententuan mengenai kewajiban Jerman, juga adanya rencana untuk pembentukan League of Nations (Liga Bangsa Bangsa).

Delegasi AS dalam perundingan Versailles Prancis. Presiden Wilson duduk di tengah.

Delegasi Jerman dalam Perjanjian Versailles: Professor Dr. Walther Schücking, Reichspostminister Johannes Giesberts, Menteri Kehakiman Dr. Otto Landsberg, Menteri Luar Negeri Ulrich Graf von Brockdorff-Rantzau, Presiden Negara Bagian Prussia Robert Leinert, dan penasehat keuangan Dr. Carl Melchior.

Perjanjian Versailles  adalah suatu perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu dan Kekaisaran Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya ditandatangani sebagai tindak lanjut dari perlucutan senjata yang ditandatangani pada bulan November 1918 di Compiègne Forest, yang mengakhiri perseturuan sesungguhnya.

Presiden Wilson meninggalkan Prancis usai penanatdanganan Perjanjian Versailles

Ketika tiba di New York usai perundingan Versailles, Presiden Wilson memperoleh kejutan dengan tersedianya kendaraan kepresidenan yang baru. Kendaraan ini begitu disukai oleh Wilson. Saat purna tugas, seorang sahabatnya mengusahakan untuk membeli dan diberikan kepada Wilson sebagai kenang-kenangan.

Naskah Perjanjian Versailles dalam versi Bahasa Inggris (1919)

Presiden Wilson dengan bersemangat mengkampanyekan Perjanjian Versailles dan kemungkinan bergabungnya AS dalam Liga Bangsa-Bangsa di Ohio, 9 September 1919

Salah satu hal paling penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah bahwa Jerman menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan, melalui aturan dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan-perbaikan pada negara-negara tertentu yang tergabung dalam Sekutu.

Negosiasi di antara negara-negara sekutu dimulai pada 7 Mei 1919, pada peringatan tenggelamnya RMS Lusitania. Aturan yang diterapkan terhadap Jerman pada perjanjian tersebut antara lain adalah penyerahan sebagian wilayah Jerman kepada beberapa negara tetangganya, pelepasan koloni seberang lautan dan Afrika milik Jerman, serta pembatasan pasukan militer Jerman yang diharapkan dapat menghambat Jerman untuk kembali memulai perang.

Karena Jerman tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam negosiasi, pemerintah Jerman mengirimkan protes terhadap hal yang dianggap mereka sebagai sesuatu yang tidak adil, dan selanjutnya menarik diri dari perundingan. Belakangan, menteri luar negeri baru Jerman, Hermann Müller, setuju untuk menandatangani perjanjian pada 28 Juni 1919. Perjanjian ini sendiri diratifikasi oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Januari 1920.

Salinan berita harian The New York Times yang memuat kedatangan Presiden Wilson dan membawa Perjanjian Versailles serta permohonan persetujuan Senat

Surat Pengantar Presiden Wilson kepada Senat untuk permohonan persetujuan ratifikasi Perjanjian Versailles

 

Akan tetapi, Senat AS menolak perjanjian itu, terutama soal rencana pembentukan Liga Bangsa-Bangsa. Pada tanggal 19 Maret 1920, Senat Amerika Serikat menolak untuk kedua kalinya Perjanjian Versailles, dengan suara 49-35, artinya masih kurang dukungan 7 suara untuk meratifikasi perjanjian itu.

Pada tahun 1921 Kongres meloloskan resolusi, yang dikenal sebagai Resolusi KnoxPorter, untuk secara resmi mengakhiri perang dengan Jerman. Amerika Serikat tidak pernah bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa. Liga Bangsa-Bangsa gagal dalam tujuannya untuk menjaga perdamaian, karena Perang Dunia II meletus hanya 20 tahun setelah pendiriannya.

Senator William Borah (mewakili negara bagian Idaho), tampak kiri, danSenator Henry Cabot Lodge (mewakili negara bagian Massachusetts), tampak tengah, yang merupakan pendukung utama penolakan Perjanjian Versailles yang diajukan oleh Presiden Wilson

Wilson ketika itu menghadapi situasi serupa dengan Obama, yaitu tekanan politik dalam negeri. Ia telah mengikuti pemilu kepresidenan sebanyak 2 kali (1913 dan 1917) akan tetapi kedua-duanya tidak dengan dukungan mayoritas. Pada pemilu Kongres tahun 1918 ia sengaja mengajak publik untuk memilih Partai Demokrat supaya dapat mengontrol lembaga perwakilan yang berarti berpeluang mendukung kebijakan pemerintah. Namun tetapi saja gagal dan Partai Republik menguasai mayoritas Kongres.

Sama halnya dengan Obama, Wilson begitu percaya diri dengan kapasitas intelektualnya, sehingga tidak begitu gigih menjalin komunikasi politik antara pemerintah dengan Partai Demokrat dan Partai Republik dalam Kongres. Di samping hendak bergerak cepat, Wilson juga enggan menanggapi sinyal ancaman oposisi Kongres terhadap Perjanjian Versailles tersebut. Pada akhirnya, Senat menolak untuk menyetujui perjanjian itu karena gagal mencapai dukungan 2/3 suara.

Akibatnya fatal. Prancis gagal memperoleh jaminan kepastian dukungan dari AS sehubungan dengan penyelesaian sengketa perbatasan dengan Jerman. Kemudian AS merasa tidak terikat dengan urusan-urusan Eropa pasca perang, kecuali utang-utang selama konflik berlangsung yang diharapkan dapat diupayakan pelunasannya.

Kepercayaan dunia terhadap AS memudar. Ketika pecah Perang Dunia II, AS masih jauh dari sikap mengambil kendali Eropa. Dunia terjebak kembali kepada tindakan-tindakan anarkis.

Dewasa ini, Obama menghadapi kesulitan yang jauh lebih kompleks dibandingkan Wilson. Kalangan Partai Republik tegas menolak kebijakan Obama dalam isu Iran, sementara Partai Demokrat terbelah pendapatnya.

Sangat mungkin Obama akan kehilangan momentum untuk menciptakan terobosan hubungan luar negeri. Kesempatan untuk mengajah musuh hidup berdampingan secara damai sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan terjebak dalam perang tiada ujung yang berakhir dengan kesia-siaan.

Secara global, PBB dan negara-negara lain, kecuali Israel, nampaknya akan setuju dengan terobosan Obama dalam isu Iran. Kegagalan dalam masalah itu, hanya akan membawa kepahitan seperti dialami Wilson yang pada akhirnya menyingkirkan AS untuk memberikan pengaruh terbaik dalam politik dunia. Iran mungkin akan semakin cepat mengusahakan produksi nuklir tanpa kontrol dan ancaman konflik akan menganga semakin mendalam.

Partai Demokrat juga hanya akan mendapatkan pepesan kosong andai membiarkan Presiden yang diusungnya dipermalukan oleh lembaga perwakilan. Seperti kisah di tahun 1920, ketika Partai Demokrat menghajar keinginan Wilson dalam ratifikasi Perjanjian Versailles, dalam pemilu kemudian Partai Republik menang telak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s