Militer AS di Ukraina

Amerika Serikat (AS) akan memperluas program pelatihan bagi militer Ukraina dengan mengirimkan pasukan dan melaksanakan operasi khusus militer. Demikian keterangan yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, pada Jumat 24 Juli 2015 kemarin.
Program pelatihan itu akan mencakup pertolongan medis darurat dan tidak akan diperluas hingga penggunaan senjata yang mematikan. Program pelatihan bagi Ukraina telah dilaksanakan sejak 2014 ketika unit penanggulangan bahaya Kementerian Dalam Negeri dikirim untuk memperkuat kemampuan pasukan Ukraina menyusul ancaman keamanan yang dilancarkan oleh Rusia.
Ketika itu, pasukan AS itu ditargetkan akan memberikan pelatihan kepada 900 personil National Guard Ukraina yang akan dikirimkan ke Ukraina timur, meski perjanjian gencatan senjata Minsk memerintahkan penarikan pasukan dari tempat-tempat konflik. Pasukan AS itu akan melakukan misi pelatihan selama 6 bulan.
AS telah mengumumkan rencana pelatihan itu tahun lalu namun tertunda setelah adanya pertemuan di Minsk Februari lalu yang menghasilan kesepakatan gencatan senjata. Rusia mengecam pengiriman pasukan AS itu dan menyebutnya sebagai langkah yang akan membuat situasi di Ukraina semakin tidak stabil. Sejauh ini konflik di Ukraina timur telah menelan nyawa 6.000 orang lebih.
Konflik bersenjata di Ukraina dimulai pada April 2014 ketika Kiev melancarkan operasi militer terhadap pendukung kemerdekaan di tenggara negara itu. Hubungan antara Barat dan Rusia memburuk di tengah krisis Ukraina sebagai negara-negara Barat menuduh Rusia mencampuri urusan dalam negeri Ukraina. Moskow telah berulang kali membantah tuduhan tersebut.
Pada hari Rabu 23 April 2015, Departemen Luar Negeri AS menuduh Rusia melanggar perjanjian Minsk dengan mengirimkan senjata dan pasukan dan melakukan latihan bersama dengan pro-Rusia “separatis” di Ukraina timur.
Pada April yang lalu, Angkatan Darat AS mengumumkan bahwa sekitar 300 pasukan payung AS tiba di kota Ukraina barat Yavoriv untuk melatih pasukan Ukraina, dimana Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan adalah pelanggaran dari perjanjian Minsk.
Kemudian, Menteri Pertahanan Rusia menyatakan keprihatinan atas pelatihan Ukraina Garda Nasional AS instruktur militer di sepanjang garis pemisah antara pasukan Kiev dipimpin dan milisi bersenjata di timur Ukraina. Selain itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan pada hari Jumat kembali iterasi bahwa kedatangan pasukan AS bisa sinyal langkah pertama menuju memasok Ukraina dengan senjata canggih, dan dukungan dari elang perang Ukraina dapat menyebabkan pertumpahan darah baru.
Sebuah tender yang dipublikasikan pada Rabu, 4 Maret 2015 di situs resmi pemerintah AS menyatakan bahwa tentara AS berencana melakukan latihan militer gabungan dengan personel militer Ukraina antara 5 Maret-31 Oktober di International Peacekeeping and Security Centre (IPSC) di Yavorov, Lviv, Ukraina bagian barat.
Sebanyak 300 tentara AS dari Brigade Angkatan Udara 173 yang berbasis di Italia akan dikirim ke Yavarov. Para prajurit tersebut, menurut keterangan Lukashevich, akan melatih pasukan Ukraina mengenai ‘bagaimana menggunakan peralatan militer dari luar negeri’.
“Jadi dapat dikatakan saat ini militer AS sudah berada di Ukraina. Ini adalah bukti bahwa mereka tak mau menyelesaikan konflik Ukraina secara damai,” kata Lukashevich. Sang diplomat menegaskan bahwa pemerintah Kiev dan seluruh warga Ukraina harus memikirkan konsekuensi dari langkah ini. “Kita tak bisa memadamkan api perang sipil menggunakan senjata. Konflik ini hanya bisa diselesaikan melalui dialog politis antara pihak-pihak yang terlibat,” tambahnya. Lukashevich juga mengingatkan Washington bahwa hubungan Rusia-AS akan mengalami kerusakan parah jika ‘warga Donbass dibunuh menggunakan senjata AS’.
Pada Agustus 2014, juru bicara Pentagon John Kirby menyatakan bahwa AS akan mengalokasikan 19 juta dolar AS untuk keperluan pelatihan militer dan pasokan peralatan bagi pasukan Pertahanan Nasional Ukraina, termasuk anggota kelompok ekstremis Sektor Kanan.
Tahun lalu, Kongres AS mengeluarkan Ukraine Freedom Support Act yang di antaranya berisi pemberian sanksi terhadap Rusia dan pasokan senjata untuk Kiev. Pada pertengahan Desember 2014, Presiden AS Barack Obama menandatangani dokumen ini, namun menyebutkan bahwa pemerintah AS belum akan mengambil tindakan atas kebijakan baru tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s