Mengenang Kembali Persahabatan Indonesia-Rusia

Dari kiri ke kanan: kosmonot legendaris Uni Soviet Yuri Gagarin, Nikita Khruchev, Presiden RI Soekarno, dan Leonid Brezhnev di Kremlin, Moskow, Juni 1961.

Sejak resmi menjalin hubungan diplomatik di tahun 1950, barulah enam tahun kemudian Presiden RI Soekarno menginjakkan kaki di Uni Soviet. Sejak kunjungan itulah, hubungan persahabatan antara kedua negara terus berkembang. Namun, itu tak berarti bahwa hubungan antara kedua negara tidak pernah mengalami kemunduran.

Nama ”Indonesia” sudah dikenal di Uni Soviet lama sebelum Indonesia merdeka. Dalam buku karangan Aleksander Guber yang ditulis pada 1933, nama “Indonesia” sudah tercantum. Saat itu, Indonesia sebenarnya masih disebut Hindia Belanda, namun Uni Soviet memilih menyebut negara ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh para pejuang Indonesia.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Perjuangan menjaga kemerdekaan tidak otomatis selesai setelah proklamasi. Belanda dan pihak sekutu berusaha untuk merebut Indonesia dengan melancarkan agresi-agresi militer.

Di tengah tekanan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia, sejarah mencatat Uni Soviet, Ukraina, Belarus, dan sekutu-sekutu Uni Soviet di PBB secara konsisten mengecam keras agresi Belanda terhadap Indonesia.

Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Vyshinsky.

Pada 1948, Uni Soviet berupaya membuka hubungan diplomatik dengan pemerintah Republik Indonesia. Bahkan, perwakilan Indonesia dan Uni Soviet pernah menandatangani kesepakatan di Praha, Ceko. Namun, kesepakatan tersebut dibatalkan karena Indonesia mendapat tekanan kuat dari Belanda.

Pada 24 Desember 1949, Uni Soviet menerima informasi resmi mengenai kesepakatan hubungan Belanda dan Indonesia. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Vyshinsky langsung mengirimkan telegram kepada Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Mohammad Hatta yang berbunyi, “Atas nama pemerintah Uni Soviet, saya dengan hormat memberitahukan kepada Anda, sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda, pemerintah Uni Soviet memutuskan mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia dan bersedia membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia.”

Telegram tersebut kemudian dibalas oleh Hatta pada 3 Februari 1950 untuk mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia telah menerima pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan dari Uni Soviet dan siap membina hubungan dipolomatik dengan pihak Soviet. Tanggal telegram yang dikirim oleh Hatta itu kemudian dikenang sebagai tanggal bermulanya hubungan diplomatik Indonesia dan Soviet.

Pada akhir 1950-an, Indonesia hendak memodernisasi angkatan bersenjatanya. Saat itu, angkatan bersenjata Indonesia hanya memiliki sisa persenjataan dari Perang Dunia II. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas, kekuatan persenjataan Indonesia tidak memenuhi persyaratan untuk melindungi ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Saat itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution berkunjung ke Amerika Serikat dengan membawa proposal agar mendapat bantuan untuk mereformasi angkatan bersenjata Indonesia. Namun, AS menolak proposal tersebut dengan alasan Indonesia masih memiliki konflik yang belum terselesaikan dengan Belanda, yakni terkait masalah Irian Barat. AS menolak memberi bantuan persenjataan bagi Indonesia karena khawatir senjata tersebut akan digunakan untuk berperang melawan sekutu AS di NATO, yaitu Belanda.

Ditolak AS, Indonesia kemudian berpaling ke Uni Soviet. Ternyata, Indonesia tidak hanya mendapatkan apa yang dibutuhkan, tetapi dengan dukungan Uni Soviet, Indonesia mampu mengembangkan teknologi dan pengetahuannya di bidang militer.

Uni Soviet memasok banyak peralatan militer pada Indonesia, mulai dari tank, kapal perang, dan berbagai jenis pesawat tempur. Tentu saja semua itu tidak gratis. Pemberian tersebut merupakan bagian dari kredit sebesar satu miliar dolar AS. Namun, Indonesia telah membayar lunas semuanya pinjaman tersebut pada pertengahan 1990-an.

Selain memasok peralatan militer, Uni Soviet juga memberikan pelatihan teknis untuk para tentara Indonesia di akademi militer di Moskow, Sankt Petersburg, Sevastopol, dan Vladivostok. Rusia juga mengirim seribu instruktur ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Madiun untuk melatih tentara Indonesia. Rusia sadar bahwa sebagai negara baru, militer Indonesia memiliki pengalaman yang sangat terbatas, terutama terkait pengalaman teknis. Belanda tidak mewariskan budaya yang berkaitan kemampuan teknis pada rakyat Indonesia. Padahal, perlu beberapa generasi agar Indonesia dapat benar-benar menguasai hal tersebut.

Kunjungan Soekarno ke Uni Soviet

Sebagai penganut kuat sosialisme, Soekarno terinspirasi oleh Uni Soviet. Ini tampak dengan dibangunnya berbagai monumen megah bergaya Soviet dan kompleks olahraga besar di tengah kota yang digunakan untuk Asian Games 1962.

Pada 1956, Indonesia dan Soviet memulai kerja sama bilateral di bidang perdagangan. Presiden RI Soekarno mengunjungi Uni Soviet untuk pertama kalinya. Sejak itu, hubungan kedua negara terus berkembang.

Awalnya, perbedaan ideologi politik dan sistem ekonomi kedua negara sempat membuat hubungan kedua negara tidak berjalan mulus. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi halangan untuk memperkuat hubungan bilateral mereka.

Ketika itu, ketegangan terasa di seluruh belahan dunia akibat pertentangan ideologi antara Blok Barat dan Timur. Selain itu, revolusi sosialis tengah terjadi di beberapa negara, dan berdampak sangat luas.

Pemerintah Uni Soviet paham bahwa mereka tidak dapat memaksakan kehendak dalam hal ideologi negara atau mengklaim posisi dominan terhadap Indonesia. Baik Indonesia maupun Uni Soviet saling menyadari bahwa kedua negara dapat fokus menjalin kerja sama yang saling menguntungkan, tanpa mempermasalahkan ideologi politik.

Presiden Soekarno kembali mengunjungi Uni Soviet pada 12 April 1961.

Pada 12 April 1961, Soekarno kembali berkunjung ke Soviet. Meski kunjungan Soekarno ke Uni Soviet kala itu merupakan kunjungan yang bersifat simbolis, beberapa pakar berpendapat pemerintah Uni Soviet kala itu telah berharap Indonesia dapat menjadi sekutu, baik secara militer maupun ideologi. Kunjungan pada tahun 1961 tersebut semakin mengukuhkan kemesraan hubungan Uni Soviet dengan Indonesia.

Kunjungan ini merupakan acara yang sifatnya simbolis, baik Indonesia dan Uni Soviet saling berharap tentang masa depan hubungan yang lebih baik. Beberapa ahli kemudian mengeluarkan pandangan mereka tentang hubungan Indonesia dengan Uni Soviet. Pemerintah Uni Soviet saat itu memiliki harapan bahwa Indonesia dapat menjadi sekutu, baik secara militer maupun Ideologis.

Pada saat itu suasana di berbagai belahan dunia sedang terjadi ketegangan karena perebutan ideologi antara blok barat dan timur dan revolusi sosialis tengah terjadi di beberapa negara yang pengaruh dan dampaknya sangat luas. Wajar jika kemudian kedekatan Soekarno ini menimbulkan banyak spekulasi terutama di negara Barat.

Namun pemerintah Uni Soviet sangat memahami bahwa mereka tidak dapat memaksakan kehendak dalam hal ideologi negara atau mengklaim posisi dominan terhadap Indonesia. Baik Indonesia ataupun Uni Soviet saling menyadari bahwa mereka dapat berfokus untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.

Meskipun hubungan Soekarno dan Uni Soviet masih dapat menjadi hal yang diperdebatkan, namun dalam artikel ini kita ingin menggambarkan bagaimana pemerintah Soviet sangat menghormati kharisma dan kepribadian Soekarno. Beberapa bulan setelah Kosmonaut Soviet Yuri Gagarin menyelesaikan misi luar angkasa dan menjadi manusia pertama yang berhasil berada di ruang angkasa, seorang pahlawan Uni Soviet yang sangat dikagumi saat itu pun turut menghadiri acara perayaan ulang tahun Soekarno. Maka kemudian mereka saling bertemu dan mendokumentasikan peristiwa bersejarah ini dalam sebuah sesi foto.

Dari peristiwa ini dapat dilihat bagaimana Presiden Soekarno sangat dihormati oleh pemerintah Uni Soviet. Dalam acara tersebut Yuri Gagarin menerima medali kehormatan dari tangan Presiden Soekarno sendiri, yaitu Order of the Star, 2nd Class (Bintang Adipradana), sebuah penghormatan yang kemudian juga pernah diberikan kepada seorang pemimpin negara Soviet, Leonid Brezhnev.

Peristiwa ini hanyalah sebuah awal, kata-kata “Sputnik” dan “Gagarin” segera menjadi semboyan dari hubungan kedekatan Indonesia dan Uni Soviet yang dikenal tidak hanya di Indonesia, namun ke seluruh dunia.

Poster Misi Luar Angkasa Uni Soviet di Indonesia

Istri dari Mayor Jendral Ahmad Yani berfoto bersama dengan Kosmonaut Soviet (dari kiri ke kanan) Gherman Titov, Andrian Nikolaev, Pavel Popovich dan Yuri Gagarin.

Presiden Soekarno dalam sebuah acara di Kremlin Moscow pada tahun 1964. Dari kiri ke kanan: U.S.S.R. Kosmonaut Yuri Gagarin, Chairman of the U.S.S.R. Supreme Soviet Anastas Mikoyan dan U.S.S.R. Kosmonaut Valentina Tereshkova.

Lebih jauh lagi, hubungan kedekatan antara Uni Soviet mulai tampak pada kunjungan Kosmonaut Uni Soviet ke-2 Gherman Titov ke Indonesia pada bulan September 1962. Sejauh ini hanya ada 2 kosmonaut Uni Soviet yang sangat dihormati, yakni Yuri Gagarin dan Gherman Titov. Kunjungan kali ini atas undangan pribadi Presiden Soekarno.

Bersama dengan istrinya Valentina Tereshkova (wanita pertama Uni Soviet yang pernah melakukan perjalanan ke luar angkasa pada bulan Juni 1963) dan rekannya Valery Bykovsky (yang juga mencatat prestasi perjalanan luar angkasa) berkunjung ke Indonesia.

Saat itu adalah masa dimana Uni Soviet memiliki hubungan aktif dengan Indonesia dengan berbagai bantuannya (termasuk militer). Uni Soviet dikenal aktif memberikan bantuan, terutama setelah peristiwa penyerahan Irian Barat ke Indonesia dan periode moderinisasi peralatan militer skala besar Tentara Nasional Indonesia. Saat itu juga Indonesia memiliki pesawat jet tempur supersonic MIG-21 untuk pertama kalinya.

Beberapa dekade setelah 1950-an, hubungan Indonesia dan Uni Soviet berkembang secara signifikan. Namun, bukan berarti hubungan baik kedua negara hanya terkait hubungan militer semata. Uni Soviet juga banyak bekerja sama dengan Indonesia dalam membangun infrastruktur sipil, seperti Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta, stadion, dan reaktor nuklir percobaan di Serpong.

Sayangnya, kondisi dalam dan luar negeri Indonesia tidak mendukung kelancaran proyek-proyek ini. Beberapa proyek terpaksa ditinggalkan karena ketiadaan dana. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, hubungan kedua negara sempat mengalami kemunduran.

Namun, gejolak politik yang sempat terjadi pada masa itu bukan berarti hubungan kedua negara tidak terjaga. Kedua negara sadar akan perbedaan ideologinya, namun tetap menjaga hubungan dalam batas-batas yang wajar.

Jejak di Jakarta

Patung Pemuda di ibukota Indonesia ini adalah salah satu contoh terbaik realisme Soviet. Patung besar tersebut didirikan sebagai simbol sumbangsih keberanian pemuda dalam pembangunan negara, sangat mirip dengan peran para ‘Komsomol’ yang turut menjadi pilar berdirinya Uni Soviet. Monumen ini berupa patung seorang petani telanjang berbadan kekar membawa piring berisi api abadi, yang mencerminkan semangat abadi pemuda. Patung Pemuda yang begitu megah ini berdiri pada podium setinggi dua meter dan tampaknya mendapatkan lebih banyak perhatian dari warga Jakarta daripada yang diharapkan oleh Presiden Soekarno karena letaknya yang berada di jalan ramai. Kemacetan lalu lintas kota Jakarta yang mengerikan memaksa para pengguna jalan untuk memperhatikannya!

Seperti monumen era Soviet di Rusia yang sekarang sering dijadikan lelucon oleh beberapa pemudanya, simbol semangat abadi pemuda ini seringkali disebut “Patung Pizza” meski tanpa maksud melecehkan. Tak perlu dijelaskan lagi bahwa globalisasi dan perusahaan multinasional telah menjejakkan kakinya dengan kuat di negara ini.

Tugu Tani atau Patung Pahlawan, yang berwujud pejuang kemerdekaan Indonesia yang siap melawan penjajah Belanda untuk membebaskan negaranya, bersama ibunya yang mendukung, adalah hubungan terkuat Jakarta dengan Rusia. Monumen yang dekat dengan Stasiun Kereta Gambir ini mungkin adalah karya paling terkenal pematung masyhur Rusia Matvey Manizer di Asia.

Patung tersebut dibangun setelah Soekarno meminta Manizer dan anaknya Otto agar membangun sebuah monumen untuk memperingati perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keluarga Manizer mengunjungi Jawa di awal 1960-an, dan mendengar kisah tentang seorang ibu yang mendukung anaknya untuk berjuang demi negara, tetapi memintanya agar terus ingat kepada orang tua. Patung perunggu ini bergaya komunis (lengkap dengan petani yang memegang senapan) dan dikirimkan sebagai hadiah bagi Indonesia. Terdapat jejak-jejak Rusia bahkan di taman bunga di sekeliling patung ini sehingga di tengah hawa panas tropis Jakarta, orang bisa merasa seperti berada di dekat sebuah lapangan kecil di Rusia. Sebuah prasasti yang ditulis dalam bahasa Indonesia di podium monumen ini berbunyi: “Hanya bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya dapat menjadi bangsa besar.”

Soekarno juga mengagumi Uni Soviet karena berhasil unggul dalam Perlombaan Angkasa dan ia ingin agar Indonesia memiliki industri aeronautika yang maju. Patung perunggu Pancoran setinggi 11 meter di kawasan selatan Jakarta berbentuk seorang pria yang menunjuk ke arah utara tempat bandar udara pertama kota ini berada. Patung ini ingin menggambarkan kejayaan negara dalam bidang penerbangan.

Tengaran Jakarta yang paling terkenal, Monumen Nasional (Monas) setinggi 132 meter, yang disebut “pembangunan terakhir Soekarno” memiliki serangkaian relief di sekeliling dasar menaranya. Relief-relief yang terbuat dari cetakan semen ini memerikan perjuangan dan kemerdekaan Indonesia dan dirancang untuk menginspirasi warga, seperti karya seni publik di Uni Soviet yang mengilustrasikan sejarah dan menjelaskan sebuah narasi politik.

Monas dan area tempatnya berdiri, Lapangan Merdeka, pada dasarnya memiliki nilai yang sama bagi Indonesia sebagaimana halnya Kremlin dan Lapangan Merah bagi Rusia. Walaupun monumen Indonesia ini tidak kuno atau indah secara estetis, pusat kekuasaan di negara yang luas ini berjarak amat dekat dari sana. Seperti Lapangan Merah, yang biasanya lebih banyak dikunjungi turis dan pendatang daripada penduduk Moskow sendiri, Lapangan Merdeka adalah tempat yang bagus untuk sungguh-sungguh melihat kemajemukan Indonesia sembari mendengarkan dialek dan bahasa yang lebih jarang digunakan karena area ini adalah magnet bagi para pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia.

Bukti hubungan Rusia dan Soviet dengan Jakarta tidak hanya terdapat pada patung dan monumen besar di kota itu. Sebagian dana pembangunan Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, yang merupakan fasilitas olahraga terbesar dan tertua di Indonesia, berasal dari Uni Soviet. Kompleks ini dibangun untuk Asian Games 1962 dan stadion utamanya, yang awalnya memiliki kapasitas lebih dari 100.000, menyerupai Stadion Luzhniki di Moskow.

Soekarno berpidato di Luzhniki pada 1956 dan diyakini begitu terkesan dengan stadion ini sehingga ia memutuskan bahwa ibukota Indonesia memerlukan kompleks olahraga yang sejenis. Uni Soviet memberikan pinjaman khusus sebesar $12,5 juta. Arsitek dan insinyur Soviet  pun dikerahkan untuk pembangunan kompleks ini, yang masih merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Foto Nikita Khrushchev, kepala negara Uni Soviet saat itu bersama dengan Presiden Soekarno berada di depan maket Stadion Senayan, 1960.

Kini, 65 tahun telah berlalu sejak Hatta mengirimkan telegram ke Uni Soviet yang menandai dibukanya pintu kerja sama antara kedua negara. Hari ini semakin banyak warga negara Indonesia yang belajar di universitas-universitas di Rusia, begitu pula sebaliknya. Hubungan baik yang telah terbina ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia menjadi salah satu fokus perhatian Rusia.

Di masa depan, sangatlah penting bagi Indonesia untuk mencari format baru dalam hubungan internasional. Dalam kaitannya dengan kerja sama Rusia-Indonesia, hubungan kedua negara harus berkembang ke level yang lebih tinggi, tidak hanya terbatas pada hubungan antarpemerintah, tetapi juga pada tataran hubungan masyarakat sipil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s