Ketika Sang Pemimpin Tertidur

Operasi Overlord atau pendaratan sekutu di Pantai Normandia, Perancis 6 Juni 1944, dianggap menjadi sebuah operasi militer yang paling berpengaruh dalam menjatuhkan Jerman dan mengakhiri Perang Dunia II. Meski sudah berlalu lebih 70 tahun, selalu ada hal menarik yang bisa diungkap dari peristiwa bersejarah itu.

Beberapa kendaraan tempur turun dari kapal LST di Normandia, Perancis pada Juni 1944 silam

 

Bala bantuan pasukan Amerika mendarat di pantai Normandia, Perancis, (6/6/1944).

Pendudukan Jerman di Perancis selama Perang Dunia II terjadi pada periode antara Mei 1940 hingga Desember 1944. Sebagai akibat kekalahan Sekutu dalam Pertempuran Perancis, gencatan senjata ditandatangani pada 22 Juni 1940 di Compiègne. Dibawah persetujuan, Perancis barat dan utara diduduki Jerman, sementara sisa 1/3 negara dikuasai oleh pemerintah Perancis di Vichy dan dikepalai oleh Philippe Pétain. Dengan Sekutu menyerang Afrika Utara pada 8 November 1942, Jerman dan Italia segera menduduki sisa wilayah bebas Perancis.

Hal paling menarik dalam berbagai kajian sejarah strategi militer seputar D Day, adalah bagaimana Sekutu menyimpan secara ketat rahasia pelaksanaan Operasi Overlord, baik di bidang penyiapan satuan-satuan operasionalnya maupun taktik kontra spionasenya.

Selain itu, keberhasilan Sekutu dalam menghimpun dan mengorganisir berbagai elemen baharinya sungguh mengagumkan. Ribuan kapal sipil, seperti kapal tanker, angkut personil bahkan kapal penangkap ikan berhasil dimobilisasi dalam berbagai kegiatan militer. Hebatnya, semua itu tidak dilandasi faktor finasial, melainkan lebih kental sebuah “semangat membebaskan Eropa dari 100 Tahun Nazi Jerman”.

Karya inovatif pihak Sekutu yang turut mendukung kesuksesan Operasi Overlord, adalah penemuan pelabuhan apung buatan yang dikenal sebagai Mulberry Harbour, modifikasi tank tempur M4 Sherman menjadi tank amfibi alias Sherman Duplex Drive dan pembuatan pipa penyalur bahan bakar bawah laut PLUTO (pipe line under the ocean). Semua itu masih ditambah dengan serangkaian modifikasi berbagai kendaraan lapis baja yang “disulap” menjadi tank penyapu ranjau, pembuat jembatan, pembuat jalan hingga tank khusus penghancur beton.

Terlepas dari semua itu, prestasi terbesar Sekutu adalah kemampuannya menjaga rahasia tanggal dan tempat pendaratan, terutama dari unsur bangsa Inggris. Kehebatan bangsa Inggris menjaga kerahasiaan D Day tercermin dalam ungkapan Sejarawan Militer terkenal Liddel Hart, yaitu “Britain proved a barren island of spies” (P.K. Ojong, Perang Eropa jilid III, 2005: 29).

 

Panglima Tertinggi Tentara Sekutu, Jenderal Dwight D Eisenhower berbicara dengan pasukan Angkatan Darat AS dari Divisi Airborne ke-101 di Greenham Common Airfield, Inggris, 5 Juni 1944 atau sehari jelang D-Day.

Pada 6 Juni 1944, sebuah pendaratan militer terbesar dalam sepanjang sejarah akan menentukan arah sejarah dunia. Pendaratan pasukan sekutu di pantai Normandia, Perancis, dianggap sebagai salah satu operasi militer yang paling menentukan kejatuhan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler.

Kamis subuh tanggal 5 Juni 1944 pukul 04.15 Jenderal Dwight Eisenhower, Panglima Komando Gabungan Sekutu di Eropa memecah ketegangan di ruang sidang perwira Sekutu, dengan keputusan singkat: “Well, we’ll go!”. Sidang perwira Sekutu tersebut akan memutuskan kapan Operasi Amfibi Akbar Overlord mulai dilaksanakan. Operasi Overlord akan menentukan masa depan Eropa yang sejak 1940 berada di bawah pendudukan Nazi Jerman.

Keputusan Ike –demikian nama panggilan Jenderal Eisenhower- tersebut menghapus keraguan pihak Sekutu akan kepastian pelaksanaan Overlord, yang tengah dikacaukan oleh kondisi buruk cuaca di perairan Selat Channel. Dengan demikian, bagaimanapun buruknya cuaca, Operasi Overlord harus dilaksanakan.

Fakta sejarah yang menghilangkan keraguan pihak Sekutu, adalah keberhasilan seorang ahli meteorologi Inggris Dr. Stagg meyakinkan Ike, bahwa antara tanggal 5 hingga 6 Juni, tak lebih dari 24 jam, cuaca akan sedikit membaik. Itulah yang meyakinkan Ike, untuk mengeluarkan perintah penyerangan pada tanggal 5 Juni. Sejarah memang membuktikan bahwa pendapat tersebut benar, cuaca secara tiba-tiba membaik pada tanggal 6 Juni dini hari.


Kamis malam pukul 21.35 ratusan pesawat angkut C-47 dan DC-3 yang memuat ribuan penerjun serta menarik ratusan glider berisi ratusan prajurit dari Divisi Lintas Udara Amerika dan Inggris segera melesat menuju dropping zone di sekitar daerah barat Perancis. Pendaratan udara tersebut mengawali Operasi Overlord sekaligus membuka jalan bagi operasi pendaratan dari laut di esok harinya. Segera setelah pendaratan dari udara, pasukan Wehrmacht yang sempat “terkejut” terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Lintas Udara Sekutu.

Keterkejutan pihak Jerman tidak berhenti sampai disitu, karena pada esok harinya, tanggal 6 Juni 1944 pukul 03.09, satuan radar mereka mendeteksi gelombang besar pesawat pembom Sekutu yang melancarkan carpet bombing (pemboman permadani) di sekitar wilayah pesisir barat Perancis. Selanjutnya ketika fajar merekah yang diliputi kabut tebal, penjaga pertahanan pantai Jerman terkejut melihat hamparan ribuan kapal berbagai jenis telah berada di depan pantai Normandy, Perancis Barat.

Itulah 5 Divisi Gabungan Sekutu (2 Divisi Amerika, 2 Divisi Inggris, 1 Divisi Kanada) yang bersiap melancarkan pendaratan amfibi akbar di Normandy. Pendaratan di Normandy dilakukan di beberapa pantai yang harus direbut oleh kesatuan-kesatuan Sekutu secara terpisah dan masing-masing diberi kode sandi, seperti Omaha (daerah perebutan Korps 5 Amerika), Pointe du Hoc (Batalyon-2 Ranger, Amerika), Utah (Korps 7 Amerika), Gold (Korps 30 Inggris), Juno dan Sword (Korps 1 Inggris).

Sedetik kemudian dari mulut meriam kapal-kapal perang Sekutu memuntahkan ribuan proyektil peluru ke seluruh pesisir pantai Normandy, menyapu perimeter pertahanan pantai Jerman. Setelah preliminary bombing, ratusan kapal pendarat Sekutu meluncurkan ke pantai dan memuntahkan ribuan pasukan Sekutu yang langsung terlibat kontak senjata sengit dengan pasukan Jerman.

Namun, banyak yang berpendapat Jerman bisa saja memenangkan perang jika para pembantu Hitler saat itu berani membangunkan sang “Der Fuhrer” dari tidurnya. Sebagai pemimpin Jerman, Hitler adalah seorang yang karismatik dan memiliki kendali penuh atas militer Jerman saat itu. Dia juga adalah yang paling bertanggung jawab untuk menangkal invasi sekutu di Normandia. Sayangnya, Hitler juga dikenal sebagai seorang yang temperamental dan bisa marah meledak-ledak untuk sebuah kesalahan terkecil yang dilakukan bawahannya.

Adolf Hitler (Plhits.com)

 

Itulah sebabnya, saat kabar kemungkinan mendaratnya pasukan sekutu di pantai Normandia pada pukul 04.00 pagi tiba di markas besar Hitler pada 6 Juni 1944, tak seorang pun staf Hitler berani membangunkan sang pemimpin. Mungkin mereka berpikir, lebih baik membiarkan sang pemimpin tidur dulu sehingga saat dia terjaga semua informasi lengkap bisa disampaikan kepada dia.

Saat itu kebingungan memang melanda Jerman soal jadi atau tidaknya sekutu mendaratkan pasukannya di Normandia. Apalagi cuaca di perairan Normandia berkabut dengan ombak laut yang cukup tinggi.

Truk Angkatan Darat Amerika melakukan parade ke Champs-Elysees sehari setelah pembebasan Paris oleh Perancis dan pasukan Sekutu, Agustus 1944.

Kehidupan setelah ibukota Prancis dibebaskan pada Agustus 1944


Dengan kondisi cuaca semacam itu, banyak perwira tinggi Jerman yakin pendaratan sekutu akan berakhir dengan kegagalan. Selain itu, Jerman sudah menyiapkan penyambutan di pantai Calais, Perancis, titik terdekat pendaratan dari Inggris.

Ternyata, sekutu dan intelijennya berhasil melakukan tipuan dengan membuat Nazi percaya sekutu akan mendaratkan pasukannya di Calais padahal sekutu memilih pantai Normandia yang lebih jauh dalam cuaca yang buruk. Sebuah efek kejutan yang luar biasa.

Keraguan para perwira Nazi itu terbukti mengakibatkan Jerman harus membayar mahal. Sekutu memiliki keunggulan 12 jam yang sangat vital.Akibat tidak dibangunkannya Hitler dari tidurnya di Berlin, pasukan cadangan tank dan infanteri Jerman, yang seharusnya bisa merespons pendaratan itu dalam hitungan menit, duduk diam dan menunggu perintah. Sebanyak 10.000 personel pasukan perbatasan Jerman bersembunyi saja di parit-parit perlindungan dan membiarkan 175.000 personel pasukan Inggris, AS, Kanada, dan Perancis mendarat di pantai.

Kesialan Jerman tak berhenti di sana. Jenderal Erwin Rommel yang berjuluk Si Rubah Gurun, yang diberi tanggung jawab di pesisir Perancis itu, tengah berada di kediamannya di Jerman, memperingati ulang tahun ke-50 dirinya.

Panglima Komando Pertahanan Jerman di Perancis Marsekal Erwin Rommel tidak bersikap skeptis. Jenderal kampiun  dan mantan Komandan Deutsche Afrika Korps tersebut merancang sebuah sistem defensif di sepanjang pesisir pantai Perancis Barat, yang dikenal sebagai Atlantikwall (Tembok Atlantik).

Pengerjaan Tembok Atlantik sepenuhnya dikerjakan oleh grup insinyur dan zeni AD Jerman, yaitu Organisasi Todt pimpinan Fritz Todt, dengan mengerahkan ribuan pekerja paksa dari berbagai kamp konsentrasi. Rencananya, Tembok Atlantik akan dibangun menjadi super-fortress diperkuat meriam-meriam raksasa dan difortifikasi beton tebal tahan bom.

Alasan Rommel merancang Tembok Atlantik, yang pertama adalah jika pertahanan pantai Jerman “jebol” maka akan sulit menahan laju invasi Sekutu selanjutnya. Menurut perhitungannya, Jerman harus dapat menahan Sekutu di pantai tak lebih dari 24 jam, setelah itu maka seluruh perimeter akan hancur. Kedua, adalah pertimbangan realistis atas situasi militer di Front Barat, yaitu udara telah dikuasai oleh Sekutu. Dengan demikian, suatu konvoi di darat sangat rentan dimusnahkan pesawat-pesawat Sekutu sebelum tiba di tempat tujuan.


Namun, rencana Rommel tersebut terkendala oleh atasannya Marsekal Gerd von Rundstedt, Panglima Komando Eropa Barat. Rundstedt lebih menghendaki pertahanan mobil dan menghindari pertahanan defensif statis. Perseteruan politis ini berimbas berkurangnya dukungan bagi pembangunan Tembok Atlantik, penempatan pasukan yang tidak berkualitas dan divisi lapis-baja Jerman yang jauh dari Normandy. Di sisi lain, kendala Rommel adalah masalah komando pasukan.

Rommel memang seorang Komandan Pertahanan Perancis, namun tidak semua pasukan Jerman mematuhinya. Sebagai contoh, Divisi Panzer Lehr dan SS (Schutzstaffel) Hitlerjugend Panzer hanya patuh pada perintah Sang Fuhrer Adolf Hitler ketimbang Rommel, komandannya. Parahnya lagi, AU (Luftwaffe) Jerman lebih diprioritaskan untuk melindungi negeri induk dan AL (Kriegsmarine) tidak beroperasi di perairan Selat Channel.

Akibatnya, Rommel diibaratkan “macan tanpa gigi”. Satu-satunya kekuatannya, hanyalah Divisi 352 yang terlatih baik serta veteran perang di Front Timur, yang ditempatkan di sepanjang Pantai Sainte-Honorine-des-Pertes hingga Vierville-sur-Mer. Pantai ini ketika D Day dikenal sebagai Pantai Omaha, pantai pendaratan Divisi Infanteri 1 dan 29 Amerika, merupakan tempat paling banyak memakan korban di pihak Sekutu sehingga dijuluki “The Bloody Beach”.

Sementara Divisi Panzer 21 –berada langsung di bawah komando Rommel- justru ditempatkan di Kota Caen, beberapa kilometer jauhnya dari pantai pendaratan Sekutu. Singkatnya, Tembok Atlantik tidak memiliki perlindungan udara (air cover), dukungan darat dan tanpa perlindungan dari unsur-unsur AL, seperti kapal perang permukaan dan kapal selam. Ironisnya, Hitler dan tim propaganda Nazinya justru secara “takabur” membesar-besarkan kehebatan Tembok Atlantik sebagai “benteng Eropa barat yang tak mungkin ditembus”.

Mendengar sekutu sudah mendarat, Rommel bergegas kembali ke garis depan, tetapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa karena sebagian besar pasukan Jerman di Perancis hanya bisa digerakkan dengan perintah langsung Hitler. Rommel berusaha menghubungi Hitler di markasnya, tetapi hanya diminta menunggu. Pada pukul 07.00 atau satu jam setelah pendaratan sekutu, salah satu perwira tinggi Jerman, Gerd von Rundstedt, memberanikan diri melangkahi wewenangnya. Dia memerintahkan dua divisi tank cadangan untuk bergerak ke kota Caen untuk mencegat gerak maju pasukan sekutu. Namun, ketika mengetahui inisiatif Von Rundstedt ini, markas besar AB Jerman justru memerintahkannya untuk tak menyerang. “Von Rundstedt harus menunggu perintah Hitler,” demikian perintah markas besar.

Dua anggota tentara wanita Amerika sedang melihat peta yang disajikan oleh seorang Prancis berseragam pada Juli 1944, setelah Cherbourg, Perancis, dibebaskan oleh Angkatan Darat AS

 

Dan, saat Hitler sudah cukup segar untuk memahami apa yang terjadi di garis depan, pada pukul 16.00 dia merestui gerak maju Von Rundstedt ke Caen. Perintah Hitler itu terlambat hampir 12 jam, yang membuat sekutu telanjur memiliki pijakan kuat di Normandia dan sekitarnya. Saat itu tak hanya pasukan darat sekutu yang terus maju, pesawat-pesawat tempur Typhoon, Mustang, dan Mosquito sudah menguasai udara, menghancurkan apa pun yang bergerak di bawahnya.

Sementara itu, meski kacau-balau pada awal pendaratan, pasukan Sekutu berhasil mendesak pasukan Jerman yang bertahan di pantai dan mendaratkan berbagai peralatan berat seperi tank, artileri berat, dan berton-ton amunisi. Tak ada yang bisa dilakukan Jerman untuk menghentikan gerak maju sekutu saat itu. Semuanya hanya karena tak ada yang berani membangunkan Hitler dari tidurnya.

Supremasi udara dan laut oleh Sekutu berhasil merontokkan mesin perang Jerman hanya dalam tempo 24 jam. Konvoi bala bantuan baja Jerman dibabat habis-habisan oleh pesawat Sekutu, demikan pula depo logistik serta amunisi Jerman.
Strategi defensif yang dibangun Jerman di Normandy, terbukti gagal dan penyebabnya bukan karena superioritas mesin perang Sekutu, melainkan karena intrik di tubuh AB Jerman sendiri. Wehrmacht bagaikan gumpalan bola yang tampak luarnya rapat dan kuat, namun di dalamnya berongga-rongga serta tidak solid. Tembok Atlantik harus menahan gempuran Sekutu sendirian, iring-iringan bala bantuan berjalan tanpa perlindungan dan dukungan logistik yang memadai, serta kepatuhan berlebihan terhadap satu individu sehingga melupakan kepentingan negaranya

Mengapa pihak Jerman “kecolongan” di Front Normandy? Kesalahan utama pihak Jerman, ternyata terletak pada elemen intelijen mereka. Hitler adalah sosok pemimpin yang sangat otoriter, sehingga tidak dapat menerima informasi atau berita yang tidak menyenangkan hatinya.

Oleh sebab itu, banyak laporan intelijen -terutama tentang kemampuan Sekutu menggelar Operasi Overlord- yang dibuat “asal bapak senang”, tidak berdasarkan fakta. Akibatnya, pimpinan tertinggi Jerman –OKW (Oberkommando Wehrmacht) dan Hitler- memiliki persepsi yang keliru terhadap kemampuan Sekutu. Kesulitan terbesar lainnya, adalah ketiadaan komando yang padu dan terpusat.

Ketidak-kompakan antara Rommel dengan Rundstedt telah mengakibatkan proyek pembangunan Tembok Atlantik tidak jelas. Hak tersebut tampak pada ketebalan beton yang berbeda-beda, meriam pantai hanya ditempatkan di Sektor Pas de Calais, yang jauh dari Normandy (dan bukan target Sekutu), divisi panser yang berbasis jauh dari Normandy, penyaluran hingga penempatan prajurit yang tidak berkualitas di sebagian besar sektor.

Namun yang terparah, adalah adanya sebagian pasukan yang ditempatkan di bawah organisasi Rommel, namun hanya patuh pada Hitler. Pasukan ini ketika D Day tidak bersedia membantu Tembok Atlantik, hanya karena menunggu perintah Hitler yang masih terlelap tidur.

Kondisi cuaca yang sangat buruk memang kian meyakinkan pihak Jerman, bahwa Sekutu tidak mungkin mendarat di Normandy pada tanggal 6 Juni. Perasaan yang sesungguhnya juga sama-sama menghinggapi sebagian besar perwira Sekutu. Oleh sebab itulah, maka saat D Day Rommel pun tengah merayakan ulang tahun isterinya di Kota Ulm, Jerman.