Kedermawanan Jerman dan Penolakan Arab terhadap Pengungsi Suriah

Arus imigran dari Suriah menuju Eropa kian besar. Jika para imigran cukup tangguh untuk mengarungi lautan Mediterania ketika kondisi cuaca tak bersahabat pada musim dingin, PBB memperkirakan sebanyak 850 ribu pengungsi Suriah akan membanjiri Eropa mulai tahun ini hingga 2016 mendatang.

Ketika Eropa mengalami banjir imigran dari Suriah, negara-negara Timur Tengah yang secara geografis dekat dan memiliki perekonomian kuat, justru kering pengungsi.  Menurut seorang pengamat Timur Tengah dari The Middle East Insitute, Zuhairi Misrawi, salah satu alasan utama “kekeringan” ini adalah konflik geopolitik yang terjadi di negara-negara Teluk sejak berabad-abad silam.

Merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa, di Suriah sendiri sebenarnya populasi dipadati oleh 88 persen kelompok Muslim Sunni. Namun, panggung politik dikuasai oleh kaum Syiah. Saat Arab Spring pada 2011, rakyat Suriah akhirnya bergerak, menggelar aksi-aksi damai untuk menurunkan rezim Presiden Bashar al-Assad dari panggung politik. Demonstrasi yang awalnya damai mulai digoyang aksi anarkis. Sejak saat itu, menjamurlah kelompok-kelompok bersenjata di Suriah, termasuk ISIS.

Selain konflik geopolitik, negara-negara Timur Tengah pun tidak siap membendung gelombang pengungsi. Mengacu pada data komisi pengungsi PBB, UNHCR, sekitar empat juta warga Suriah mengungsi ke lebih dari 100 negara di seluruh penjuru dunia.Ketidaksiapan negara-negara Arab ini, memiliki sejarah panjang. Sejak dulu, negara Arab memang tidak punya budaya menerima pengungsi. Dalam sejarah, mereka hanya pernah menerima pengungsi dari Palestina yang sampai jutaan. Data UNHCR juga menunjukkan bahwa pada 1991, ketika warga Kuwait lari dari konflik dengan Irak di bawah Saddam Hussein, Arab Saudi hanya menampung ratusan ribu pengungsi.

UNHCR menunjukkan sedikitnya 366 ribu imigran sudah menyeberangi laut mediterania ke Eropa. Mayoritas menuju Eropa Barat, seperti Jerman, negara penampung pengungsi terbanyak. Pada akhir pekan lalu saja,  Jerman menerima 18 ribu pengungsi.

Dilaporkan CNN, Jerman memiliki daya tarik sangat kuat bagi para pengungsi karena tiga pilar penting, yaitu demokrasi kuat, sejarah panjang penerimaan imigran, dan stabilitas ekonomi. Baru-baru ini, pemerintah Jerman memutuskan untuk menggelontorkan anggaran tambahan sebesar 3 miliar euro untuk negara bagian dan kota-kota dalam mengatasi pengungsi. Tak hanya itu, pemerintah juga berencana mengeluarkan tiga miliar euro lagi untuk tunjangan kesejahteraan pengungsi. Jerman diprediksi bakal menerima 800 ribu aplikasi permintaan suaka dari para pengungsi.

Tak hanya pemerintah, warga Jerman juga menyambut para pengungsi dengan tangan terbuka. Menurut sebuah penelitian yang digagas perusahaan penyiaran ARD, 88 persen warga Jerman mau menyumbangkan pakaian atau uang bagi pengungsi, sementara 67 persen lainnya bahkan ingin turun tangan langsung membantu secara sukarela.

Arus pengungsi dari Suriah dan negara-negara yang dikoyak perang menuju ke sebagian negara kaya di Eropa sebenarnya bisa menimbulkan dampak positif bagi ekonomi Jerman dan beberapa negara lain – demikian menurut seorang ilmuwan di Peterson Institute for International Economics.

Beberapa ekonom telah mempertanyakan apakah ekonomi Eropa bisa menopang dampak arus masuk pengungsi yang begitu cepat.

Jacob Kirkegaard mengatakan tahun lalu hampir satu juta migran tiba di Eropa dan tahun ini mungkin akan ada ratusan ribu migran baru. Kirkegaard menambahkan ada kebutuhan jangka pendek yang besar untuk membiayai makanan, perumahan dan pelajaran bahasa bagi para pendatang baru, tetapi banyak migran yang kini menuju ke Jerman, negara kaya yang mampu menampung beban tersebut.

Kirkegaard – yang meneliti isu ekonomi, strategis dan imigrasi di Washington – mengatakan Jerman dan beberapa negara lain di Eropa memiliki banyak penduduk lanjut usia dan membutuhkan angkatan kerja baru untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi.

Sebagian besar migran relatif muda dan sangat ingin punya pekerjaan, dan menurut Kirkegaard – pada akhirnya mereka akan membayar pajak kepada negara dimana mereka kini berada. “Menurut pendapat saya, secara keseluruhan jelas ini menguntungkan!”.

Dalam wawancara yang pertama kali dipasang di YouTube, Kirkegaard mengatakan ekonomi Jerman yang kuat telah menciptakan banyak lapangan kerja, dan tampaknya para pendatang baru ini akan mengisi lapangan pekerjaan di Jerman itu.

Pengamat internasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Dr. CPF Luhulima menilai alasan utama penerimaan Jerman terhadap imigran adalah karena para imigran berpotensi memperkuat sektor tenaga kerja Jerman, yang tentunya akan berujung pada penguatan ekonomi.

Merujuk dari data penuaan warga yang dirilis oleh Komisi Eropa tahun ini, populasi German akan menurun dari 81,3 juta orang pada 2013 menjadi 70,8 juta orang pada 2060. Dari jumlah tersebut, prediksi warga yang berusia 65 tahun ke atas akan meningkat dari 32 persen pada tahun ini, menjadi 59 persen pada 2060.  Jerman, karenanya, diprediksi akan kekurangan warga usia produktif, yang mengancam sektor ketenagakerjaan dalam negeri.

Dalam laporan Demografi Eropa 2010 yang dibuat atas pesanan Komisi Uni Eropa disebutkan, dalam beberapa tahun terakhir, tingkat kelahiran di negara-negara anggota Uni Eropa mengalami sedikit kenaikan. Rata-rata tingkat kelahiran 1,6 anak per ibu.

Di sisi lainnya, peta demografi Eropa ibaratnya menua. Umur harapan hidup rata-rata pria mencapai 78 tahun dan perempuan 82 tahun. Populasi manula terbanyak terdapat di Jerman, Italia dan Perancis. Semakin banyak manula, berarti semakin sedikit penduduk yang berusia produktif.

Dampaknya diungkapkan pimpinan bagian politik pendidikan dan lapangan kerja di Institut Ekonomi Jerman di kota Köln, Axel Plünnecke : “Secara umum kita dapat melihat, lewat perubahan demografi, perspektif pertumbuhan ekonomi di Eropa akan direduksi. Yang menentukan dalam ekonomi adalah, seberapa banyak kuota penduduk usia produktif pada keseluruhan populasi. Terlihat kuota warga yang bekerja terus menurun.”

Jerman memang memiliki sejarah sejarah panjang penerimaan imigran.  Menurut data dari Robinson, W. Courtland penulis buku Terms of Refugee terbitan UNHCR, sebanyak 46.348 warga Vietnam mengungsi di Perancis, sementara 28.916 warga Vietnam lainnya mengungsi ke Jerman. Luhulima juga menyebutkan bahwa setelah Tembok Berlin runtuh, Jerman menerima begitu banyak imigran yang datang mencari pekerjaan dari negara-negara Eropa Timur dan Tengah, seperti Hungaria dan Austria.  Namun, jika menengok sejarah, rasa bersalah Jerman atas era Nazi yang sempat menguasai beberapa negara Eropa, juga disinyalir menjadi alasan Jerman begitu terbuka terhadap imigran.

Isu xenofobia di negara-negara Eropa terkait arus imigran tahun ini belakangan memang mulai merebak. Florian Philippot, Wakil Presiden Partai Fron Nasional yang beraliran sayap kanan di Perancis menyindir sikap terbuka Merkel kepada imigran dengan menyatakan bahwa Jerman menampung imigran karena ingin memiliki banyak suplai “budak” untuk menggenjot industri. Di Jerman sendiri, kelompok konservatis Jerman telah menyerukan agar negara itu memperketat aturan soal pemberian suaka, jika perlu dengan mengubah konstitusi. Pasalnya, negara-negara Uni Eropa yang lain tidak siap untuk mengadopsi standar tinggi soal hak suaka seperti Jerman.

Sikap terbuka Jerman tidak diikuti Perancis dan Inggris. Negara Ratu Elisabeth tersebut melakukan pengawasan ketat di perbatasan terutama di selat antara Inggris dan Perancis.

Inggris malah balik menyerang mengapa tidak negara-negara Arab saja yang membantu pengungsi. Kalaupun tidak bisa memberi tempat, mengapa mereka dengan sumber daya alam dan pengaruh kekuasaan yang dimiliki, untuk menekan para pemimpin yang menghalalkan kekuasaan.Sikap pemerintah Inggris bertolak belakang dengan penggemar suporter Aston Villa dan Swindon Town. Seperti dikutip The Guardian, mereka menjadi kelompok awal suporter Inggris yang akan menghiasi stadion dengan banner yang terbuka pada pengungsi. Hal ini juga tidak dipermasalahkan oleh Premier League karena tidak ada aturan khusus menyangkut banner ucapan “selamat datang”.

Namun, ancaman jelas bukan jawaban. Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengecam aksi kelompok ultra-nasionalis Neo Nazi yang menentang kehadiran pengungsi. Merkel menyatakan kalau suaka politik adalah hak dasar yang dilindungi konstitusi Jerman. Bahkan, kalau ada yang mengganggu perihal suaka politik, mereka akan berhadapan dengan hukum yang berlaku di Jerman.

Sejumlah kelompok sosial di Jerman menyambut kedatangan para pengungsi termasuk memberi perlindungan dari ancaman Neo Nazi. Salah satunya adalah Joachim Leber yang merupakan anggota organisasi Integrationshilfe Sylt. Sukarelawan seperti Leber memberi dukungan moral.

Negara-negara Uni Eropa seolah ditekan untuk menerima para pengungsi. Padahal, pertanyaanya adalah mengapa tidak negara-negara Arab yang memfasilitasi para pengungsi untuk mendapatkan suaka di negara-negera Eropa tersebut?

Dengan segala sumber daya dan kekuatan yang ada, mengapa negara-negara Arab tidak menghabisi ISIS maupun menekan pemimpin yang dzalim, yang menciptakan kekacauan di Timur Tengah?

Negara-negara Teluk terutama enam negara yang tak menawarkan bantuan untuk tempat tinggal pengungsi Qatar, United Arab Emirates, Saudi Arabia, Kuwait dan Bahrain, sejatinya diberkahi dengan sumber daya yang luar biasa besar. Kalau mampu membangun gedung tinggi dan megah, mengakuisisi klub top Eropa, semestinya bantuan dengan mengirimkan transportasi ataupun melobi pemimpin Uni Eropa bisa juga dilakukan.

Dikutip dari Amnesti Internsional pada Desember 2014, 95 persen pengungsi Suriah ditampung di Turki (1,6 juta), Lebanon (1,1 juta), Yordania (618 ribu), Irak (225 ribu)dan Mesir (142 ribu).

Namun Michael Stephens, analis dari Middle East studies and Head of Rusi Qatar, menulis di BBC pada Senin (7/8/2015), bahwa negara-negara Teluk bukannya berdiam diri melihat arus pengungsi Suriah. Aliran dana organisasi maupun sumbangan individu yang ditujukan bagi krisis Suriah, menurut Stephens, bahkan mencapai angka sekitar US$900 juta. Stephen juga menekankan bahwa ketakutan akan instabilitaslah yang membuat negara-negara Teluk enggan mengeluarkan kebijakan eksplisit terkait imigran hingga sekarang.