Fordisme:Pertemuan Negara dan Pasar

Arsitektur ekonomi-politik neoliberal saat ini ditandai dengan munculnya fase konsolidasi antara kekuatan negara (state) dan korporasi. Konsolidasi ini terutama berlangsung antara negara-negara yang termasuk ke dalam negara industri utama yang memiliki hubungan langsung dengan korporasi raksasa internasional. Bagi negara-negara ini, hubungan antara negara dan korporasi berlangsung secara harmonis. Sementara bagi negara- negara yang lemah dari sisi industry, hubungan negara dan rezim ekonomi internasional berlangsung secara tidak harmonis.

Saya ingin memaparkan bagaimana rezim neoliberal yang memberi ruang harmonis bagi relasi negara dan pasar di negara-negara industri utama mela- hirkan hubungan yang tidak harmonis di negara- negara berkembang. Lebih jauh, saya ini akan melihat munculnya fase pendiplinan negara-negara berkembang oleh rezim pasar internasional. Pendisiplinan itu tidak semata-mata dalam konteks ekonomi, namun juga berlangsung dalam espek politik. Agenda-agenda politik domestik seperti demokratisasi merupakan risiko dari pendiplinan tersebut.

Fase kolonialisme telah menumbuhkan kapitalisme di negara-negara Eropa melalui arus modal yang bergerak secara langsung melalui relasi state qua state. Pertumbuhan rejim kapitalis di negara-negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Inggris dan Prancis, Italia berlangsung dalam hubungan masing-masing negara tersebut dengan negara jajahan mereka di Asia maupun Afrika. Di kemudian hari, negara-negara Eropa yang disebutkan tersebut menjadi kampium negara kapitalis di dunia. Kolonialisme memompakkan pertumbuhan modal di dunia kapitalis. Transformasi kapitalisme pada level global berlangsung dalam transformasi negara-kolonial pada level domestik.

Artinya, ketika negara-negara kapitalis utama mulai menggeser ruang kedaulatan negara ke lanskap yang lebih luas dan melampaui teritori mereka, pada saat yang sama di negara pasca-kolonial berlangsung resurgensi peran negara untuk mengatasi hambatan modal. Peran negara diperluas di negara-negara yang kuat secara ekonomi, namun mengalami reduksi pada negara-negara yang ekonominya sangat lemah.Konsolidasi kapitalisme dibaca secara berbeda oleh sejumlah ahli. Imanuel Wallestein menyebut istilah kapitalisme yang menyejarah (historical capitalism) untuk melihat tahap konsolidasi ini.

Dengan menyebut kapitalisme sebagai “…the fisrt and foremost a historical social system”, Wallerstein melihat pengorganisasian kapitalisme sebagai struktur ekonomi yang semakin solid, menjadi sistem dunia (world system). Sistem dunia dibayangkan Wallersetein sebagai sistem ekonomi global yang memberi kemungkinan sirkulasi aktor dan pusat pertumbuhan ekonomi. Gagasan Wallerstein tentang sistem dunia secara teoritis ingin mencoba keluar dari gagasan dependensia yang melihat relasi negara pasca-kolonial dan rejim pasar dalam logika yang statis, terutama ketika mengajukan kategori center dan pheryphery atau metropolis dan satelit.

Bagi Wallerstein, status yang diberikan kalangan dependensia tidak menjelaskan apapun atas perkembangan dunia kapitalis, terutama pengabaiannya atas negara- negara yang pernah menjadi aktor kapitalisme yang pernah ada dalam sejarah. Dalam gagasan Wallerstein, sistem dunia adalah “a unit with a single division of labor and mul- tiple cultural system” Kapitalisme berkembang dari sistem mini, sistem kekaisaran dunia dan kemudian menjadi sistem ekonomi dunia. Inti dari perkembangan ini, menurut Wallerstein, adalah munculnya proses pembagian kerja (division of labor) yang terus menerus dan lebih canggih. Dalam perkembangan itulah Wallerstein melihat ruang bagi tampilnya negara berkembang atau pinggiran untuk terlibat dalam pembagian kerja dunia kapitalis.

Negara pinggiran atau pheryperi, jika berhasil terlibat dalam pembagian kerja itu, akan mengalami kenaikkan kelas menjadi negara semi- pheriperi, dan bukan tidak mungkin akan menjad negara center atau pusat. Itulah yang berlangsung dalam pembangunan kapitalis di negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan dan China dimana integrasi dengan rejim pasar global tidak selalu harus berakhir dengan eksploitasi, dominasi dan juga dependensi negara pasca-kolonial atas negara maju.

Sementara itu pandangan lain dikemukakan Robert W Cox yang melihat prosesstrukturisasi kapitalisme menjadi sangat solid setelah melewati tahap yang disebutnya competitive capitalism yang berlangsung pada pertengahan abad ke-19 dan berkembang menjadi fase monopoly capitalism sejak akhir abad ke-19. Perkembangan dunia kapitalis, bagi Cox, banyak ditentukan oleh apa yang disebut new modes of social relations of production.Setelah fase kolonialisme berakhir di negara-negara Asia-Afrika tahun 1950-an, pola konsolidasi modal mengalami perubahan penting.

Perubahan tersebut memberi jejak signifikan bagi transformasi dunia kapitalis yang semula sangat dipimpin oleh negara (state-led capitalism) menjadi kapitalisme yang terkooordiansi dalam kelahiran rejim ekonomi dunia (organized capitalism). Perlu ditambahkan, bahwa bersamaan dengan itu pusat kapitalisme mulai bergeser dari Eropa ke Amerika. Transformasi ini bukan semata-mata perubahan kiblat kapitalisme, namun juga membawa implikasi bagi proses regimentasi ekonomi dunia.

Para pengkaji ekonomi-politik dan studi pembangunan, menyebut fase konsolidasi pertama dunia kapitalis ini dengan istilah fordisme. Fordisme menandai konsolidasi kapitalisme sekaligus dianggap sebagai golden age of capitalism pasca perpindahannya dari Eropa ke Amerika. Istilah ini sekaligus menjadi awal dari logika kapitalisme baru dalam upaya melakukan akumulasi modal. Pada fase pra-fordisme, negara mencipta pasar – yang direpresentasikan oleh korporasi – sebagaimana sejarah kapitaisme Eropa.

Namun, fase fordisme menyajikan lanskap yang memutar logika itu, dimana korporasi lah yang membawa negara ke luar dari wilayahnya, melakukan ekspansi, dan dalam banyak hal, menggerakkan negara untuk memerankan dirinya sebagai regulatory power untuk menjaga pertumbuhan pasar atau akumulasi modal.Fordisme menjadi perhatian para pengkaji teori pembangunan internasional dan hubungan internasional karena memiliki dampak pada penciptaan arsitektur ekonomi di negara kapitalis, yang selanjutnya memberi dampak bagi perluasan pasar sebagai arena ekonomi-politik.

Setidaknya terdapat emat karakteristik fordisme yang dianggap menjadi panorama baru kapitalisme antara lain. Pertama, produksi bersifat masal yang didasarkan pada pembagian kerja yang rigid dan mengandalkan aliran produksi melalui jaringan distribusi (conveyor belt). Kedua, konsumsi tingkat tinggi yang didasarkan pada upah pekerja serta kehadiran organisasi pekerja sebagai bagian penting unit produksi. Ketiga, jaminan sosial (social security) sebagai bagian penting dari dunia korporasi. Dan keempat, scope perdagangan berada pada level yang lebih luas, perluasan arena ekonomi yang ditopang oleh kehadiran rejim perdagangan maupun regulasi oleh negara untuk memberi jaminan stabilitas moneter.

Fordisme dianggap merepresentasikan modernisasi Amerika, dan menjadi “blue print” bagi model pembangunan di banyak negara. Fordisme menjadi presentasi paling nyata dari gagasan Rostow tentang tahap paling puncak pembangunan, yakni konsumsi tingkat tinggi (high-mass consumption). Inilah tahap yang antara lain ditandai sectors of consumer durables and service take the lead.

Bagi para pengkritik kapitalisme, fordisme menjadi awal bagi proses penundukkan (subjection) yang dilakukan oleh kalangan pemilik modal atas kaum pekerja. Fordisme dianggap sebagai momentum dimana “pasar mencari negara” untuk keperluan ekspansi modal. Kaum neo-marxis seperti Antonio Gramci bahkan memandang fordisme sebagai sebuah formasi ekonomi dan perdagangan monopolistik, atau apa yang kemudian disebut Gramci sebagai hegemoni. Gramci, seperti yang dikutip Salamini, memandang Amerikanisasi dalam fordisme sebagai: “…..requires a particu- lar environment, a particular social structure (or least a determined intention to cre- ate it) and a certain type of State. This State is the liberal State, not in the sense of free-trade liberalism of of effective political liberty, but in the more fundamental sense of free initiative and economic individualism which, with its own means, on the level of ‘civil society’, through historical development, itself arrives at a regime of industrial concentration and monopoly10.

Hadirnya fordisme berlangsung bersamaan dengan mulai munculnya institusionalisasi ekonomi dunia. Seperti sudah disinggung di bagian awal bab ini, fordisme disebut-sebut sebagai penanda dari “the golden age capitalism” yang berlangsung kurang lebih selama tiga dasawarsa (1944-71). Pada saat yang bersamaan, proyek institusionalisasi pasar dan negara berlangsung dengan hadirnya sistem Bretton Wood. Kehadiran fordisme yang membuat perseberan kekuatan korporasi di satu sisi, dan proses institusionalisasi yang menjadi awal bagi proses internasionalisasi negara pada sisi yang lain, merupakan momentum baru bagi kapitalisme untuk mengem- bangkan jejaringnya dalam tatanan dunia. Robert W Cox, seorang neo-Gramcian dalam studi hubungan internasional, menyebut periode ini sebagai periode hegemonik (hegemonic period). Bagi Cox, hegemoni kapitalisme yang menggunakan pintu masuk dunia indsutri fordistik, semakin lama mendapat dukungan dari proses institusionalisasi pasar. Hegemoni berlangsung karena yang lahir dari proses ini adalah kepemimpinan moral dan intelektual, bukan semata-mata kepemimpinan ekonomi. Mulai periode ini jalur internasionalisasi bagi mode produksi fordisme diproyeksikan pada lembaga- lembaga internasional yang didirikan pada periode yang sama. Seperti ditulis Sussane Soederberg, periode ini menjadi: ….one way universal norms of a hegemonic state like the US are transmitted to other subordinat state it through international organizations, such as the United Nations, the IMF and the World Bank.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s