Dilema Sanksi Eropa Kepada Rusia

Hari-hari ini isu kemitraan strategis Uni Eropa dan Rusia tergantung pada masalah pasokan gas. Sementara Moskow telah menerima permintaan Crimea untuk menggabungkan diri ke wilayahnya, yang menurut Uni Eropa ditempuh dengan mengabaikan hukum internasional dan mengiris wilayah Ukraina, sehingga Eropa memulai langkah untuk memberikan sanksi baru kepada Rusia.

Sejak awal sanksi ditujukan kepada sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, suatu hal yang baru dalam hubungan internasional karena sanksi biasanya ditujukan kepada negara. Belakangan mereka sesumbar untuk melepaskan diri dari ketergantungan energi kepada Rusia.

Pada pertemuan di Brussels Belgia akhir Maret lampau, pemuka Eropa menggelorakan suara bahwa mereka mengusahakan bermacam-macam cara untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan gas dari Rusia selama beberapa tahun ke depan. Sekitar sepertiga impor gas Uni Eropa berasal dari Rusia. Angka ini bahkan mencapai 100 persen untuk negara-negara Balkan. Moskow tetap mengendalikan pasokan tersebut dan semakin keras ancamannya jika hubungan dengan Rusia menimbulkan kasus seperti Ukraina.

Di masa lampau Kremlin tidak pernah menggunakan isu energi sebagai senjata pamungkas dalam hubungan politik. Semua ditentukan bursa penawaran dan permintaan atas harga sumber daya ini.

Rumusan sanksi baru Uni Eropa bertujuan untuk menjaga ekonomi mereka supaya jangan sampai termakan tekanan politik Moskow dan menampar pendapatan Rusia, untuk kemudian memojokkan dan memperlemah pemerintahan Putin.

Rencana itu dirumuskan dalam kondisi Eropa tertekan. Secara fundamental, orang-orang Eropa begitu frustasi  dalam 20 tahun stagnasi relasi dengan Moskow. Rusia dipandang sebagai lawan potensial dibandingkan mitra strategis. Tapi harapan sama sekali lenyap untuk adanya modernisasi progresif di bekas wilayah Soviet itu, apalagi harapan untuk mengintegrasikan Rusia dalam tata tertib Barat. Harapan itu semakin pudar untuk dewasa ini.

Sesumbar Eropa untuk melakukan diversifikasi energi juga menimbulkan masalah jangka pendek bahkan cenderung kontradiksi. Tak ada sumber energi pilihan yang memuaskan, selain pasokan Rusia.

Gas alam misalnya, dapat dikirim dari Aljazair, Qatar, Nigeria atau kombinasi sumber-sumber lain. Tetapi menjalin hubungan dengan mereka juga tidak lebih baik dibandingkan mempertahankan diri dengan Rusia. Bahkan, impor dari negara-negara tersebut akan membengkakkan harga dan kemudian akan merusak ekonomi yang baru pelan-pelan beranjak dari krisi dan lalu juga menciptakan pasar energi yang lebih mahal dibandingkan dengan AS. Sumber energi yang tersedia di kawasan Eropa, baik minyak maupun batu bara, terancam menghasilkan kerusakan lingkungan, yang bertentangan dengan aturan yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

Jika Eropa memiliki ketergantungan energi dengan Rusia, situasi ini pun tak terbantahkan. Hampir 80 persen ekspor migas Rusia ditujukan ke Eropa. Pengurangan permintaan Eropa akan mempengaruhi pendapatan Rusia. Kebanyakan jalur pipa merupakan jalur menuju Eropa dan tentu akan menyulitkan mencari pasar baru, setidaknya dalam jangka pendek.

Eropa dapat memaksa Rusia untuk membelokkan jalur penyaluran itu ke Asia baik untuk sebagian maupun keseluruhan. Ini masalah lama, tak akan pernah terlaksana karena pertentangan politik dan kekurangan pendanaan. Tetapi hal itu sangat mungkin diwujudkan sekarang.

Tiongkok, diikuti kekuatan ekonomi lain di Asia, mencukupi kebutuhan gas dari negara-negara di sekitarnya. Rusia telah membenamkan banyak investasi di kawasan timur negara itu, seperti di wilayah Siberia, sementara Tiongkok telah memperoleh konsesi minyak Rusia di Antartika.

Saat Putin melakukan lawatan resmi ke Tiongkok pada bulan Mei tahun lalu, dua kekuatan dunia itu telah menyepakati kontrak pasokan energi.

Ukraina tiba-tiba membawa peta baru bagi kemitraan Tiongkok-Rusia.

Persekutuan antara Beijing dan Moskow dibayar mahal dengan unjuk gigi Eropa. Persekutuan itu masih lemah hingga sekarang, tetapi secara potensial bisa berkembang menjadi relasi trans Atlantik (AS dan Eropa).

Jalinan energi antara Rusia dengan Eropa selalu menjadi garansi stabilitas regional. Dalam teori hubungan internasional, ketergantungan ekonomi yang mendalam antara dua negara relatif menyokong situasi untuk meredam konflik, karena kedua belah pihak saling membutuhkan. Di lain waktu, aneksasi Crimea dapat mendorong perang. Sekarang tak ada diplomasi, kecuali diplomasi kursif. Jika jalinan energi Rusia dan Eropa putus, akankah kita berharap berkurangnya ekskalasi konflik?

Kasus Ukraina memaksa Eropa untuk meninjau ulang kebijakan luar negeri, dan secara khusus sumbangan mereka terhadap keamanan kawasan. Pada satu sisi, kemitraan trans-Atlantik  akan menguat saat krisis muncul, sebagaimana dikonfirmasi kunjungan Obama ke Brussels belum lam aini. Di lain sisi, hubungan dengan Rusia harus ditinjau kembali tanpa harus menghasilkan keterputusan.

Rusia tetaplah mitra yang penting dalam banyak kepentingan internasional. Eropa juga harus berhati-hati dalam memafasilitasi poros baru Beijing-Moskow yang dapat bertentangan dengan kepentingan Eropa. Kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Brussels beberapa waktu lalu dapat menjadi pembuka kea rah fasilitasi yang lebih bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s